WHISPER

WHISPER
Victoria Tigen



Sore ini tampak begitu cerah, Sarah sudah siap hendak pergi. Dia mengenakan celana highwaist baggy jeans berwarna cream. Sedangkan atasannya dia mengenakan crop top berwarna putih. Rambut cokelatnya dia biarkan tergerai. Dia juga melengkapi penampilannya dengan sepatu kets.


Ava tampil cantik dengan dress berwarna putih dengan corak bunga-bunga warna soft. Rambut yang panjangnya sepunggung di kuncir kuda.


“Kalian kemana?” tanya Libra yang sedang asik menggambar.


“Ke salon sama Isabela,” jawab Sarah seraya meraih kunci mobilnya yang ada di samping TV.


“Lo mau ngapain ke salon?” tanya Libra dengan heran.


“Ganti warna rambut.” Sontak Libra langsung mematikan laptop, lalu melesat mendahului Sarah menuju pintu keluar.


“Gue ikut,” ucapnya.


Sarah hanya melongo tak percaya, namun dia tak banyak bertanya dan segera keluar. Dia memencet bel unit milik Isabela, tak berapa lama Isabela keluar dengan penampilan seksinya. Sampai-sampai Libra berdiri sambil memandang Isabela tanpa berkedip.


Isabela memang begitu cantik dan seksi.


“Buset, dua janda ini emang gak ada obat,” batin Libra sambil geleng-geleng kepala. lama-lama Victoria tak ada apa-apanya di bandingkan Sarah dan Isabela.


Mereka berdua masuk ke dalam lift, lalu turun ke bawah menuju parkiran. Mereka pergi menggunakan mobil Sarah, namun Libra yang mengemudikannya.


Sepanjang jalan, Sarah sibuk mencari inspirasi warna rambut di internet, sedangkan Isabela dan Ava asik bernyanyi.


“Lo mau ganti warna apa?” tanya Libra sambil terus fokus menyetir.


“Warna honey,” sahut Sarah mantap. Dia memilih warna itu karena melihat di internet dan kelihatannya cocok untuk warna kulitnya yang putih.


“Gue juga mau ganti warna rambut.”


“Hah? Serius?” tanya Sarah seraya menatap Libra.


“Mau ganti warna apa?” tanyanya lagi.


“Warna cinnamon brown.” Warna cinnamon brown merupakan warna cokelat yang lebih terang dengan sentuhan warna tembaga. Dia mendapat ide warna itu secara mendadak.


Setelah beberapa lama, akhirnya mobil yang mereka kendarai sampai di sebuah salon yang cukup besar. Perawatan di sana sangat lengkap, dan ini merupakan salon yang sering Isabela kunjungi. Dia juga mengenal pemilik salon tersebut.


Mereka berempat masuk, Libra menggendong Ava agar ia tak mengganggu orang yang sedang berlalu lalang. Cukup banyak orang yang sedang perawatan di sana, Ava mulai banyak bertanya tentang apa yang di lihatnya. Dengan telaten Libra menjelaskan setiap pertanyaan Ava.


“Lo jagain Ava dulu ya, nanti gantian,” pinta Sarah kepada Libra.


Libra mengangguk, lalu berjalan menuju tempat yang menyediakan beberapa sofa. Tempat itu di sediakan sebagai tempat untuk menunggu. Ada beberapa pria yang duduk di sana, mereka tampak sedang menunggu kekasihnya.


“Libra,” panggil seorang wanita yang kini berdiri di sampingnya.


Libra yang sedang asik berbincang dengan Ava seketika menoleh dan sangat terkejut mendapati kekasihnya sedang berdiri sambil menatapnya heran.


“Sayang, kok lo disini?” tanya Libra. Sedangkan Ava hanya menatap Victoria dengan rasa ingin tahu.


“Seharusnya gue yang tanya, kenapa lo ada di sini?”


“Sepupu gue lagi perawatan, jadi gue harus jaga anaknya,” jawab Libra berbohong. Tak mungkin dia mengatakan sedang menunggu temannya, bisa-bisa Victoria curiga dan marah besar.


“Sepupu?” ulang Victoria tak percaya.


“Iya, dia baru pindah ke sini.”


Bertepatan dengan itu, Sabrina datang seorang diri. Ketika melihat Libra dan Ava, dia langsung menghampirinya.


“Lo ngapain dateng-dateng langsung nyosor?” kesal Victoria sambil menarik tangan Sabrina.


Sabrina menoleh dan menatapnya tajam. “Lo buta ya? Gue nyamperin Ava, bukan Libra!”


“Tapi posisi lo deket banget sama cowok gue! Lagian lo ngapain sih deket-deket sama cowok gue?” tanya Victoria dengan nada penuh penekanan.


“Udah, kalian berdua jangan berantem. Ini di tempat umum loh!” peringat Libra menengahi. Dia tak mau melihat Victoria berkelahi dengan Sabrina untuk yang kedua kalinya.


“Tante Sabina kenapa?” tanya Ava seraya menarik-narik ujung baju Sabrina.


Sabrina yang tadinya sedang emosi, mendadak tersenyum manis ke arah Ava.


“Gak apa-apa sayang, mau ikut Tante gak?” tanya Sabrina seraya mengulurkan tangannya untuk menggendong Ava.


Ava mengangguk dan menyambut uluran tangan Sabrina. “Lo urus aja Mak Lampir ini!” desis Sabrina kepada Libra.


Libra mengangguk, “Nanti gue bilang ke Sarah kalo Ava sama lo.”


Sabrina tak merespon. Dia berlalu pergi begitu saja. Ketika melewati Victoria, dia sengaja menabrak bahu Victoria dengan cukup keras. Hal itu membuat Victoria melotot kesal.


Sabrina acuh tak acuh, dia berjalan keluar berniat membawa Ava untuk membeli es krim.


“Lo kenapa selalu belain Sabrina sih?” tanya Victoria dengan sebal. Dari dulu dia selalu tak suka dengan Sabrina.


Libra menghela napas panjang, “Sabrina itu temen baik gue, sama seperti Vivi, Davian dan Arga. Lo jangan terlalu sensi sama dia.”


“Maksud lo?” tanya Victoria dengan alis yang terangkat sebelah.


“Yang nyebelin itu Sabrina! Dia selalu deket-deket sama lo!”


“Gue sama Sabrina gak ada apa-apa!”


“Lo yakin? Kalo Sabrina suka sama lo gimana?” tanya Victoria. Kedua tangannya di lipat depan dada. Tatapannya begitu tajam. Dia kesal karena Libra selalu membela Sabrina.


Libra beranjak berdiri, lalu menatap Victoria tak kalah tajam.


“Vic, lo gak usah mikir berlebihan! Sabrina sama gue gak ada apa-apa!”


“Terus aja lo belain Sabrina!”


Libra memalingkan wajah, lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Pacarnya itu benar-benar pencemburu. Setiap kali dia mengobrol dengan teman perempuannya, pasti Victoria selalu menuduhnya selingkuh. Ya, meskipun Libra memang selingkuh, tapi Victoria tidak pernah menangkap basah dirinya ketika sedang berselingkuh sungguhan.


“Setiap gue ngobrol sama temen cewe, lo selalu cemburu. Setiap kali gue ketemu sama temen cewe, lo juga cemburu. Gue harus gimana? Apa gue harus mengasingkan diri?”


Victoria berdehem, lalu mengangkat wajahnya tinggi-tinggi.


“Lo sadar gak sih, setiap cewek yang ngobrol sama lo itu diem-diem suka sa-”


“Lo tau darimana kalo mereka suka sama gue?” potong Libra cepat. Tanpa sadar, ucapannya itu menarik perhatian sekitar. Beberapa orang menoleh dengan heran. Karena tak mau menjadi pusat perhatian, akhirnya dia menarik Victoria agar keluar dari salon.


“Gue bisa liat dari mata mereka! Tatapan mereka menunjukan bahwa mereka suka sama lo.”


“Oke, terserah lo mau nuduh gue gimana! Yang jelas gue setia!” kata Libra dengan nada penuh penekanan. Kini dia sudah tak takut akan kehilangan Victoria. Lama-lama dia tak kuat dengan sikap pacarnya itu yang terlalu posesif.


Untuk beberapa saat mereka masih berdebat, pembicaraan mereka berakhir setelah Libra kembali masuk ke dalam salon dan meninggalkan Victoria seorang diri.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️