
Sarah membuka mata dengan perlahan, lalu menatap ke samping, menatap malaikat kecilnya yang terlihat begitu cantik. Dia mengamati setiap jengkal wajah Ava, mulai dari kulitnya yang halus, bulu matanya yang lentik, alisnya yang lebat dan bibirnya yang mungil dan berwarna merah muda.
Anaknya benar-benar cantik, dia menyesal karena beberapa waktu yang lalu telah berbuat jahat. Andai waktu bisa di ulang, dia akan memperbaiki semuanya.
Sarah mendekatkan tubuhnya ke arah Ava, lalu mencium keningnya dengan sayang. Hal itu membuat Ava sedikit terganggu sehingga bergerak-gerak tak nyaman. Sarah tersenyum melihat itu, dia semakin ingin mengganggu Ava. Dia terus menciumi Ava hingga akhirnya Ava bangun.
Cukup lama Sarah dan Ava saling bertatapan, sampai akhirnya ucapan Ava membuat Sarah tersenyum.
“Selamat pagi, Bunda,” sapa Ava dengan senyum yang begitu manis.
“Pagi, sayang,” balas Sarah seraya mengelus kepala Ava dengan sayang. Hatinya begitu perih mendengar sapaan manis dari anaknya. Dia jadi teringat kesalahannya beberapa waktu lalu, ketika dia membentak dan memukul Ava. Lagi-lagi dia menyesal. Dia merasa belum bisa menjadi ibu yang baik.
“Maafin Bunda ya, sayang. Bunda selama ini udah jahat sama Ava,” kata Sarah dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia tak sanggup lagi menahan air matanya.
“Bunda kenapa?” tanya Ava yang tidak mengerti dengan maksud bundanya. Ava justru mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Sarah yang berhasil lolos. Adegan itu justru membuat Sarah bertambah sedih. Rasanya tak sanggup menanggung rasa bersalahnya lagi.
“Gak apa-apa, sayang. Bunda tadi kelilipan debu,” ujar Sarah berbohong. Tak mungkin juga dia menjelaskan kondisi yang sebenarnya.
“Hati-hati, Bunda. Sakit ya Bund? Sampe nangis gitu?” tanya Ava dengan polos. Tangannya masih mengelap air mata Sarah yang semakin lama semakin deras.
Sarah tersenyum dan menyeka air matanya sendiri. Dia duduk dan menatap Ava sambil tersenyum.
“Iya, sayang. Lain kali Bunda pasti hati-hati. Yuk, kita mandi,” ajak Sarah seraya menggendong Ava ke dalam kamar mandi.
Ava menurut saja. Meskipun masih terlalu pagi, tapi Ava tetap menurut untuk mandi. Dia tahu bahwa sebentar lagi bundanya akan berangkat bekerja. Dia juga tahu akan dititipkan ke tetangganya selama Sarah bekerja.
“Bunda, Ava pengen mandi sendiri. Biar Bunda gak capek mandiin Ava,” ujar Ava ketika Sarah sedang menyabuni tubuh Ava. Entah mendapat ide dari mana, tapi Ava benar-benar mengatakan itu di depan Sarah.
“Bunda seneng kok mandiin Ava, gak capek juga,” ujar Sarah seraya membilas tubuh Ava. Dia menggosok-gosok tubuh Ava hingga benar-benar bersih.
“Bunda, Ava pengen mandi air dingin,” ujar Ava lagi. Benar-benar anak yang banyak berbicara. Apalagi selama ini dia belum pernah mandi menggunakan air dingin, jadi dia ingin merasakannya, meskipun hanya sekali.
“Ava boleh mandi air dingin kalo udah gede.”
“Sekarang Ava udah gede, kok,” balas Ava lagi. Dia menatap Sarah dengan wajah polosnya. Matanya berkedip-kedip, membuat Sarah sangat gemas.
Sarah hanya geleng-geleng kepala sambil menggosok tubuh Ava dengan handuk. Dia kembali menggendong Ava ke dalam kamar, lalu memakaikan baju ganti. Setelah selesai mengurus Ava, dia segera ke dapur dan membuat sarapan.
Paginya benar-benar di sibukkan oleh pekerjaan rumah, tapi Sarah tetap senang. Kini dia sudah bisa menerima keadaanya. Kunci bahagia yang pertama yaitu bisa menerima keadaan diri sendiri.
Sarah pergi ke kantor menggunakan mobil mamanya. Untung saja dia sudah belajar mengendari mobil sejak setahun yang lalu, jadi kini sudah mahir dalam mengendarainya.
Hari ini Sarah bekerja dengan suasana hati yang begitu gembira. Sesekali dia mengedit naskah sambil bersenandung riang. Rasanya seperti hidup kembali.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Sarah segera pulang ke rumah. Sebelum sampai di rumah, dia menyempatkan membeli es krim untuk Ava. Dia mampir di sebuah mini market. Ketika sedang memilih-milih es krim, tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.
Sarah sedikit terlonjak dan segera menoleh ke arah Libra. Dia tersenyum tipis, senyum yang begitu sederhana.
“Ibra, lo ngapain disini?” tanya Sarah dengan mata yang melirik kesana-kemari, mencari tahu Libra datang bersama siapa.
“Gue sendirian,” ucap Libra yang seolah tahu apa maksud Sarah.
“Gue ke sini beli rokok. Lo beli es krim buat Ava?” tanya Libra balik. Dia berusaha untuk bersikap biasa saja, seolah-olah kejadian kemarin tidak ada.
“Rokok mulu, kapan sih lo mau berhenti dari rokok? Iya nih, beli buat Ava,” jawab Sarah sambil mengambil sekotak es krim, lalu berjalan ke kasir dan membayarnya. Dia pun sama seperti Libra, bersikap biasa saja seolah kejadian kemarin tidak ada.
Libra tersenyum simpul, lalu berjalan mengekori Sarah ke kasir. Dia juga membayar rokok miliknya.
“Biar gue sekalian aja yang bayar,” ujar Libra seraya menyerahkan uang seratus ribuan kepada petugas kasir.
“Gak usah, gue aja,” tolak Sarah sambil mengeluarkan uang dari dompetnya. Dia mengambil uang lima puluhan dan hendak menyerahkannya kepada petugas kasir.
Namun Libra segera menghentikan aksi Sarah, dia bersikukuh untuk tetap membayarkan. Selesai membayar, mereka berjalan beriringan ke parkiran sambil sesekali mengobrol.
“Mampir rumah gue, yuk,” ajak Sarah ketika dia sudah dekat dengan mobilnya.
“Kalo sekarang gue gak bisa, tar malem aja ya. Sekarang gue ada urusan,” kata Libra sambil tersenyum penuh arti.
“Bilang aja lo mau ketemu pacar lo yang ada disini, pake bilang ada urusan,” celetuk Sarah dengan sinis. Dia sudah paham, tak mungkin juga Libra mampu bertahan dengan satu wanita.Sejak dulu memang seperti itu.
“Hahaha, bukan pacar,kok. Tapi simpanan, kan pacarnya di kota yang satunya,” kata Libra sambil berjalan ke mobilnya sendiri. “Sampai ketemu nanti,” tambahnya sambil melambaikan tangan. Setelah itu masuk ke dalam mobil dan melesat pergi.
“Dasar fuckboy,” cibir Sarah. Dia juga segera berjalan ke mobilnya. Dia tak mau membuat Ava lama menunggu. Biasanya ketika dia pulang bekerja, Ava sudah menunggu di depan rumah di temani oleh tetangganya.
Jalanan di sore begitu padat, membuat Sarah mendesah beberapa kali karena harus terjebak kemacetan. Banyak orang-orang yang pulang dari kantor, apalagi rata-rata menggunakan mobil pribadi. Hal itu yang menyebabkan terjadinya kemacetan yang cukup panjang.
Setelah bergelut dengan kemacetan di sore hari, akhirnya Sarah sampai juga di rumahnya. Dan benar saja, Ava sudah menunggunya di teras rumah. Dia langsung berlari menyusul Sarah meskipun Sarah belum turun dari mobil.
“Bundaaa...” teriak Ava riang.
Sarah segera turun dari mobil dan memeluk Ava dengan sayang. Setelah mencium kedua pipi Ava, dia menyerahkan es krim yang di belinya tadi. Dia juga mengucapkan rasa terimakasih kepada tetangganya yang sudah mau menjaga Ava.
“Bunda capek, ya?” tanya Ava ketika mereka berdua berjalan memasuki rumah.
“Enggak kok,” jawab Sarah berbohong. Meskipun sangat lelah, dia akan berkata tidak di depan Ava. Dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan Ava, dia harus kuat.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️