
Jantung Sarah berdebar cepat ketika matanya menyapu ke seluruh penjuru kampus. Gedung-gedung yang menjulang tinggi tampak indah. Anak-anak yang berlalu lalang membuatnya semakin bersemangat.
Sarah masih tak menyangka jika akhirnya dia bisa melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ternyata waktu berlalu dengan begitu cepat. Pernikahan, perceraian, kehilahan, rasa sakit, bahkan cacian telat dia lewati. Dan kini akhirnya dia masuk ke dalam dunia baru, dunia yang masih sangat asing baginya.
Hari ini adalah hari pertama kuliah. Dengan percaya diri, dia berjalan menuju kelasnya. Dia berharap bisa menemukan kehidupan yang lebih baik di sini.
Sarah masuk ke dalam lift, lalu memencet angka empat. Kelas pertamanya berada di lantai empat. Di dalam lift itu ada ada enam orang termasuk dirinya. Melihat pakaian mereka yang sangat fashionable, dia jadi sedikit berkecil hati. Apalagi beberapa dari mereka memakai barang-barang branded.
“Berasa gembel, gue,” kata Sarah dalam hati. Tapi dia tetap percaya diri, karena dirinya tak kalah cantik dan menarik. Janda semakin di depan!
Setelah lift terbuka, Sarah segera keluar. Dia masuk ke dalam kelasnya dengan perasaan yang berdebar-debar. Dia duduk di kursi paling belakang. Beberapa orang tampak asik mengobrol dengan temannya, ada juga yang asik memperbaiki riasannya, dan ada pula yang sibuk membuat instastory.
Tidak ada satupun yang menyapa Sarah!
Tapi Sarah tak ambil pusing, dia memilih untuk mengambil ipad dari dalam tasnya, lalu mengecek aplikasi menulisnya. Dia membaca komentar dari para pembacanya, sesekali dia membalasnya. Sekitar lima menit kemudian, dosen datang membuat semua anak menghentikn aktivitasnya. Ini benar-benar dunia baru bagi Sarah.
Awal perkuliahan hanya tentang perkenalan dan kontrak belajar. Sarah berkenalan dengan dua orang yang ada di samping kanan dak kirinnya. Di dalam kelas, ternyata tak semua orang fashionable dan memakai barang branded. Ada juga yang tampil sederhana dan biasa-biasa saja.
Selesai kelas, ada seseorang yang memanggil nama Sarah.
“Hai, lo Sarah kan?” tanya sorang wanita mamakai kaca mata tebal. Di tangannya ada beberapa buku bacaan. Sepertinya dia anak yang ambisisus.
“Halo, iya gue Sarah,” balas Sarah sambil tersenyum. Dia masih duduk di kursinya.
Wanita itu duduk di sebelah Sarah, lalu meletakkna buku ke atas meja. Setelah membenahi kaca matanya, dia menatap Sarah dengan senyuman lebar.
“Lo penulis novel kan?”
Sarah sedikit terkejut, dia heran bagaimana wanita di sampingnya itu tahu bahwa dirinya seorang penulis.
“Emm, iya. Kok lo tahu?”
“Gue pembaca setia lo! Gue baca novel lo yang di aplikasi, terus gue juga beli novel lo yang udah terbit,” katanya dengan antusias.
Sarah terbelalak tak percaya, “Beneran?” tanya Sarah tak kalah antusias.
Wanita itu mengangguk dengan semangat. Dia mengambil ponselnya dan menujukan sebuah aplikasi di mana dia membaca novel milik Sarah.
“Wah, makasih banget, ya.” Sarah terus tersenyum senang. Ternyata rasanya seperti ini ketika bertemu langsung dengan pembaca setianya. Dia benar-benar bahagia dan bangga.
Dia berkenalan dan mengobrol banyak hal dengan teman barunya itu. Namanya Florisa, umutnya pun tak selisih banyak dengan Sarah. pembicaraannya begitu nyambung dan menyenangkan.
***
Libra menatap Sarah dengan penuh kekaguman. Siapapun pasti mengira bahwa Sarah benar-benar baru lulus SMA dan masuk kuliah. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang indah membuat dia terlihat begitu muda dan murni. Tapi siapa sangka, Sarah yang sebenarnya adalah janda anak satu.
“Gimana hari pertama lo kuliah?” tanya Davian. Seperti biasa, apartemen Libra menjadi markas bagi teman-temannya. Mereka mengerjakan skripsi bersama.
“Lumayan. Gue tadi ketemu sama pembaca setia gue.”
Sarah menceritakan pertemuannya dengan Florisa, dia sangat bangga bisa bertemu dengan pembaca setianya itu yang kini menjadi teman satu kelasnya. Semua yang mendengarkan terlihat begitu antusias, bahkan Sabrina tampak mengajukan beberapa pertanyaan.
“Gila, lo keren banget,” komentar Davian sambil mengunyah keripik kentang. Di depannya ada sebuah laptop yang sudah satu jam dia anggurkan.
Sarah hanya menanggapi dengan senyuman. Dia merasa beruntung karena memiliki teman untuk berbagi. Setidaknya ada pendengar untuk setiap kisahnya.
Ketika mereka sedang asik bercanda, tiba-tiba bel terdengar begitu nyaring membuat Arga langsung berlari menuju pintu.
“Dih, tu bocah ngapain?” tanya Davian terheran-heran. Arga yang super cuek dan dingin, tiba-tiba berlari untuk membukakan pintu. Semua teman-temannya pasti heran, tak terkecuali Sarah dan Libra.
“Buka pintu buat Ayang, lah!” Sarah menimpali. Dia sangat yakin jika yang datang adalah Isabela. Tak ada yang bisa membuat Arga bertingkah seperti itu kecuali Isabela.
“Arga pacaran sama Isabela?” tanya Vivi tak percaya. Melihat Sarah mengangguk, Vivi semakin tak percaya. Arga yang pendiam, super cuek dan dingin berpacaran dengan Isabela?
Davian, Sabrina, dan Vivi saling berpandangan. Selama ini Arga tak pernah menceritakan apapun.
“Gila, gue gak nyangka si Isabela mau sama Arga. Manusia kulkas kek gitu, bisa bucin juga ternyata,” kata Davian sambil tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini dia melihat Arga seperti itu.
Arga datang sambil menggandeng Isabela. Mereka duduk bersebelahan dengan tangan yang masih bergandengan.
“Buset! Ga, kok lo gak cerita kalo lo pacarab sama Isabela?” sembur Sabrina.
“Lo semua juga bakal tau sendiri,” balas Arga sambil mengedikkan bahunya.
“Kulkas gak mungkin cerita hal begitu, makanya lo harus introgasi dia,” kata Isabela setengah tertawa.
Ucapan Isabela di sambut tawa oleh yang lainnya. Mereka semua memang memaklumi jika Arga tak pernah cerita. Melihat Arga yang begitu tertutup, hal sepeti itu pastilah dia pendam sendiri.
“Gila, Kulkas dapet selebgram,” ucap Davian sambil geleng-geleng kepala. Ucapan itu di sambut tawa oleh teman-teman yang lain. Mereka semua benar-benar di kejutkan oleh Arga.
“Bel, emang lo tiap hari gak kedinginan?” canda Vivi.
“Kedinginan,sih. Tapi gue maksa biar di kasih sedikit kehangatan,” balas Isabela sambil tertawa. Matanya melirik ke arah Arga dengan penuh arti. Lagi-lagi semua teman-temnnya hanya tertawa terbahak-bahak. Arga hanya tersenyum tipis mendengar candaan pacarnya itu.
Canda tawa mereka berlanjut beberapa lama kemudian. Sampai akhirnya mereka semua sibuk dengan masing-masing aktivitasnya. Davian, Vibi, dan Sabrina sibuk mengerjakan skripsi. Arga dan Isabela sibuk berpacaran. Sedangkan Sarah dan Libra mengobrol tentang seputar dunia menulis.
“Ib, temenin gue, yuk,” ajak Sarah setelah keduanya terdiam beberapa saat.
“Kemana?”
“Makam.”
Libra mengangguk setuju. Minggu ini mereka memang belum mengunjungi Ava. Dan hari ini menjadi hari yang pas untuk mengunjungi Ava. Apalagi hari ini menjadi hari pertama bagi Sarah masuk kuliah. Dia ingin memberi tahu kepada Ava perihal kuliahnya. Segala sesuatu yang dia lakukan, pasti dia memberi tahu kepada Ava dan Naura.
“Kita pergi dulu, ya,” kata Libra kepada teman-temannya.