
Sudah beberapa hari ini Sarah hidup tanpa Ava. Rasanya benar-benar hampa. Dia duduk sambil menatap layar laptopnya, meskipun hatinya kacau, tapi dia tetap professional dalam menulis. Dia tak mau pekerjaannya terbengkalai karena masalah ini.
Sesekali tangan kanan Sarah meraih cangkir kopi, lalu menyesapnya perlahan. Dia menuangkan segala idenya ke dalam tulisan.
“Huft…” Sarah menghela napas berat, lalu bersandar ke kursinya. Dia mengalihkan pandangannya dari layar laptop menuju sebuah boneka kecil milik Ava. Benaknya berkecambuk. Dia memikirkan apakah Ava bisa tidur? Makan dengan teratur? Mandi dengan baik? Dan masih banyak lagi.
Ketika dia sedang melamun, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia meraih ponselnya dan menatap layar dengan sedikit heran.
“Om Amar,” lirihnya. Sudah lama dia tak bertemu dengan Amar, tapi kenapa mendadak meneleponnya?
“Halo,” sapa Sarah setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
[Halo, Sarah. Apa kabar?] sapa Amar dengan suara beratnya.
“Baik. Om Amar apa kabar?” Sarah balik bertanya. Dia mematikan laptop dan berdiri mendekati jendela.
[Baik juga. Lagi di rumah ya? Bisa ketemu?]
Sarah mengernyitkan dahinya, dia bertanya-tanya kenapa Amar meneleponnya. Pasti ada sesuatu yang penting. Apa mengenai mendiang ibunya? Atau pekerjaan?
“Iya, Om. Bisa kok bisa. Kabarin aja di mana dan waktunya kapan.”
[Baik, nanti saya hubungi lagi]
Setelah telepon terputus, Sarah masih berdiri di dekat jendela. Dia memandang keluar sambil terus bertanya-tanya. Dahinya sampai berkerut-kerut karena berpikir.
Ketika sedang sibuk berpikir, tiba-tiba dia mendengar suara mobil di halaman rumahnya. Wajah yang tadinya serius berpikir, kini tergantikan dengan wajah sumringah. Dia mengira itu adalah mobil Arzan yang mengantarkan Ava.
Dengan sedikit berlari, dia menuju pintu dan segera membukanya.
Namun dia harus menelan kekecewaan karena yang di lihatnya bukanlah Arzan dan Ava, melainkan Libra. Wajah yang tadinya sumringah langsung memberengut. Bahkan bahunya melorot ke bawah.
“Sarah, lo kenapa? Kok mukanya gitu? Lo gak seneng gue dateng?” tanya Libra sekonyong-konyong saat sudah berada di depan Sarah.
Sarah menggeleng, kemudian masuk ke dalam dengan langkah gontai. Persis seperti orang yang tidak makan berhari-hari.
“Kok, sepi. Ava mana?” tanya Libra lagi sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dia juga menajamkan pendengarannya.
“Ava di bawa Arzan.”
“Oh, lagi main ya?” tebak Libra seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
“Enggak. Ava tinggal di rumah Arzan,” sahut Sarah yang juga mendaratkan bokongnya di sofa. Wajahnya masih saja lesu.
“Maksudnya gimana sih? Ava tinggal sama Arzan sampai kapan?”
“Gak tau.”
“Dia maksa buat bawa Ava?” tanya Libra yang secara tak langsung mencampuri urusan Sarah. Harusnya dia tak bertanya-tanya, karena itu menjadi urusan antara Sarah dan Arzan. Tapi entah kenapa dari beberapa hari yang lalu firasatnya buruk. Dia menduga terjadi sesuatu dengan Sarah, dan memang itu benar.
“Gitu, deh. Sulit di jelaskan,” jawab Sarah apa adanya. Dia tak mau menjelaskan pertengkarannya dengan Arzan.
***
Ketika melewati segerombolan anak muda, Sarah menjadi pusat perhatian mereka. Tapi dia tak menghiraukannya. Dia tetap berjalan lurus ke depan sambil mencari-cari keberadaan Amar.
Mereka janjian di sebuah kafe yang cukup ramai pengunjung. Amar yang memilih kafe itu karena dekat dengan kantornya.
Ketika melihat Amar, Sarah tersenyum dan segera menyusulnya
“Selamat siang, Om,” sapa Sarah seraya menjabat tangan Amar. Kemudian dia duduk di depan Amar, tas selempangnya dia taruh di atas meja.
“Siang,” balas Amar sambil tersenyum. Perawakannya yang tinggi dan tegap membuktikan bahwa Amar sering berolah raga. Rambutnya yang selalu rapi sangat mendukung penampilannya.
Setelah keduanya memesan makanan dan minuman, Amar mulai menyampaikan niatnya kepada Sarah. Dia memberi tahu kepada Sarah bahwa dia akan membeli rumah Sarah.
“Om Amar tahu dari siapa saya akan menjual rumah?” tanya Sarah heran. Selama ini dia belum pernah memasarkan rumahnya, tapi Amar justru akan membelinya.
“Dari Libra, kita sempet ngobrol-ngobrol,” terang Amar.
Sarah manggut-manggut. Dia justru senang jika Amar akan membeli rumahnya. Apalagi Amar merupakan teman dekat ibunya. Selesai berdiskusi, Amar pamit pergi karena harus menghadiri rapat.
Kini Sarah duduk sambil mengaduk-aduk minumannya. Matanya meneliti setiap pengunjung yang datang. Ada yang datang bersama pasangan, teman, ataupun keluarganya. Mereka semua memiliki seseorang yang berarti di hidupnya.
Ketika sedang asik menatap pengunjung lain, mata Sarah menangkap sosok yang begitu di kenalnya. Tak salah lagi, yang di lihatnya sekarang adalah Arzan. Tapi kemana Ava? Kenapa Arzan justru dengan wanita cantik, bukannya dengan Ava?
Arzan dan wanita barunya duduk cukup jauh dari Sarah, namun Sarah masih tetap bisa mengawasinya. Mereka berdua terlihat sangat mesra. Sejak datang hingga duduk di kursi, wanita di sampingnya terus bergelayut manja di lengan Arzan.
“Kesempatan kedua? Ck, laki-laki berandal kok minta kesempatan kedua,” cibir Sarah ketika mengingat ucapan Arzan kemarin. Meskipun dia sudah taka da hubungan apa-apa, tapi melihat Arzan dengan wanita lain seperti ini rasanya menyesakkan.
Sarah beranjak berdiri, lalu berjalan menghampiri Arzan. Dia ingin bertanya tentang Ava.
“Ekhm,” Sarah berdehem cukup keras membuat Arzan dan wanita di depannya menoleh. Raut wajah Arzan seketika berubah, entahlah, raut wajah itu tak bisa di tebak.
“Sarah,” lirih Arzan sambil menoleh bergantian ke arah Sarah dan wanita barunya.
“Gue ke sini mau tanya Ava. Kok lo gak sama dia? Terus dia sama siapa? Lo biarin dia sama orang asing? Gimana mau jadi Ayah yang baik kalo Sukanya ninggalin anaknya sendiri!” cecar Sarah dengan raut wajah sinis.
Arzan berdiri dan menghadap Sarah. “Ava di rumah sama pengasuhnya. Lo gak usah khawatir karena pengasuhnya udah professional. Dan lo jangan salah sangka, gue tadi abis rapat sama klien,” terangnya. Dia menatap Sarah dengan tatapan tajam dan dalam, sampai-sampai Sarah bisa merasakan bahwa mata itu menembus jantungnya.
Sarah mengalihkan pandangannya, “Kapan Ava pulang?”
“Dia belum mau pulang. Dia masih betah di rumah gue karena ada Mama sama Papa.”
Sarah kembali menatap Arzan dengan jenuh, “Gak usah bohong!”
“Gue gak bohong! Emang gitu kenyataannya!”
Belum sempat Sarah menjawab, wanita baru Arzan bertanya, “Sayang, dia siap?”
Mendengar wanita itu memanggil Arzan dengan sebutan sayang membuat darah Sarah berdesir. Dia melirik sekilas ke arah wanita itu. Cantik dan seksi. Tapi dia yakin bahwa Arzan tak akan menikahi wanita itu. Entah kenapa feelingnya mengatakan bahwa wanita itu hanya pelarian Arzan saja.
DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL 🤍🤍🤍