WHISPER

WHISPER
Rasa yang Sulit



Sarah bangun lebih awal dari biasanya. Dia tersenyum lebar melihat Ava sedang tidur pulas di sampingnya. Setelah beberapa lama, akhirnya momen seperti itu terjadi lagi. Dia berjanji tidak akan membiarkan Ava berada jauh darinya untuk yang kedua kalinya.


Untuk beberapa saat Sarah hanya diam sambil memandangi anaknya. Setelah itu barulah dia beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur. Sebelum memasak, Sarah keluar dari rumahnya menuju tukang sayur yang tak jauh dari tempat tinggalnya.


Dia berjalan sorang diri, menatap sekeliling sambil sesekali tersenyum kepada warga sekitar. Ketika sampai di tempat penjual sayur, dia langsung memilih beberapa sayur hijau dan daging.


Selesai membeli sayur, Sarah kembali ke rumahnya. Ketika akan memasuki pintu gerbang, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.


“Sarah,” panggil Tiara seraya berjalan cepat ke arahnya.


Sarah menoleh dan tersenyum, “Tiara, ada apa?”


“Kemaren gue liat ada anak kecil, dia siapa? Ponakan lo?” tanya Tiara penasaran. Ketika dia melewati depan rumah Sarah, dia melihat dari sela-sela pagar besi ada seorang anak kecil yang berdiri di balkon bersama Sarah.


“Oh, dia anak gue,” sahut Sarah. Senyumnya tak pernah luntur.


“Hah? Anak?” tanya Tiara tak percaya. Melihat Sarah yang masih sangat muda, dia tak akan percaya begitu saja.


“Iya, namanya Ava. Tahun ini dia hampir empat tahun,” terang Sarah. Dia berdiri tepat di pintu gerbang, dengan dua tangan yang masih menjinjing kantong plastik.


Wajah Tiara terlihat terkejut, tiba-tiba rasa ingin tahunya muncul begitu saja. Dia ingin bertanya lagi, tapi Sarah langsung pamit masuk ke dalam rumah.


“Gue duluan ya, mau masak,” kata Sarah seraya hendak membalikkan badan.


“Em, iya, ya udah gak apa-apa,” ujar Tiara sedikit kecewa. Dari awal dia menyangka jika Sarah dan Isabela masih sama-sama single. Tapi ternyata dugaannya salah. Dia jadi semakin tertarik dengan Sarah ataupun Isabela.


Setelah masuk ke dalam rumah, dia melihat Isabela sedang duduk di mini bar. Di depannya ada secangkir teh panas, sedangkan di tangannya ada ponsel yang tak pernah lepas darinya.


“Lo darimana?” tanya Isabela yang menyadari Sarah sedang berjalan ke arahnya. Tapi tatapan mata Isabela masih pada ponselnya.


“Beli sayur di depan.” Kini Sarah sudah mulai berkutat dengan alat masaknya. Dia akan memasak banyak, selain untuk Ava dan Isabela, dia juga inging mengundang Libra untuk sarapan di rumahnya.


“Gue sarapan di luar ya, sekarang gue harus pergi,” ujar Isabela seraya beranjak dari tempat duduknya. Cangkir teh di depannya masih tersisa banyak.


“Lo mau kemana?”


“Shooting video gitu,” sahut Isabela yang sudah berjalan menuju kamarnya.


Sarah hanya ber-oh ria. Dia memaklumi Isabela yang begitu sibuk dengan pekerjaannya. Dia bersyukur karena Isabela sudah tak larut dalam kesedihan. Dia jadi termotivasi untuk bekerja lebih keras lagi.


Setelah selesai memasak nanti, dia akan mengirim naskah novelnya kepada penerbit Bintang Media Utama. Dia berharap novelnya bisa di terbitkan dan anak menjadi best seller.


***


Libra datang dengan penampilan yang sangat rapi. Dia mengenakan celana denim dengan di padukan kemeja putih. Aroma tubuhnya begitu wangi, membuat Sarah beberapa kali menghirup aroma itu dalam-dalam.


“Lo rapi banget, mau kemana?” tanya Sarah seraya menyajikan makanan di atas meja. Mereka hanya sarapan berdua saja, sedangkan Ava justru sibuk mewarnai di ruang TV.


“Kampus,” jawab Libra singkat. Matanya mengamati Sarah yang begitu cekatan menyiapkan sarapan. Dia juga kagum dengan kecantikan Sarah meskipun hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Rambutnya yang berwarna honey di cepol secara sembarangan. Sedikit acak-acakan namun terlihat seksi.


“Ib, gue mau kuliah,” ujar Sarah seraya duduk di seberang Libra.


Sarah mengangguk pasti. Dia sudah mantap akan melanjutkan pendidikannya. Dia ingin menjadi wanita hebat. Cantik, pekerja keras, dan berpendidikan.


“Ava gimana?”


“Kalo gue berangkat, Isabela yang akan jaga Ava.”


Libra tampak mengangguk sekilas. Dia akan menghargai setiap pilihan Sarah. Dia hanya bisa membantu sebisanya. Satu hal yang dia pegang sampai sekarang, dia tak akan meninggalkan Sarah dalam keadaan apapun.


Libra memiliki rahasia besar yang orang lain tak tahu, bahkan Sarah pun tidak tahu. Dia menyimpan rahasia itu baik-baik. Tapi suatu hari nanti, dia akan membongkar rahasia itu. untuk saat ini dia masih bisa menahannya.


“Ib, lo sama Victoria gimana?” tanya Sarah di sela suapan nasinya.


“Enggak gimana-gimana,” jawab Libra sambil mengedikan bahu. Dia sudah tak peduli dengan Victoria, toh simpanannya masih banyak. Mati satu tumbuh seribu.


“Putus atau terus?” tanya Sarah seraya tersenyum. Dia jadi ingat dengan lagu milik Judika.


Libra terkekeh lirih, lalu menjawab, “Putus.”


“Ck, lo mah putus sama dia gak ada galau-galaunya,” cibir Sarah.


“Gue galaunya kalo pisah sama lo,” ujar Libra sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya, membuat Sarah menatapnya muak.


Sarapan berlangsung hening, keduanya menghabiskan makanan masing-masing. Sesekali terdengar suara Ava menyanyi ataupun berbicara sendiri. Setelah sekian lama, kini Sarah kembali merasakan sarapan bersama Libra.


“Bundaaaa, Ava mau renang,” ujar Ava sambil berlari menuju Sarah. Dia memasang wajah memohon kepada Sarah.


“Kamu udah mandi sayang, nanti siang ya renangnya,” ujar Sarah.


“Sekarang Bunda, Ava gak akan lama kok.”


Sekali lagi Sarah menggeleng, tapi tatapan memohon Ava membuat Sarah mengalah.


“Gue duluan ya. Kalo udah selesai bilang aja, tar gue beresin,” kata Sarah seraya bangkit dari kursi, lalu menuntun Ava menuju kamar untuk berganti baju. Hari ini pun dia akan menata kamar Ava agar anaknya itu belajar tidur sendiri.


Sarah memilih hotpans berwarna putih, atasan tanktop berwarna senada untuk menemani Ava berenang. Sedangkan Ava mengenakan baju renang yang di belinya dua hari lalu.


Ketika turun ke lantai bawah, Sarah melihat Libra sedang membereskan meja makan. Dia menghampiri Libra dan membantunya.


“Kan gue udah bilang, gue aja yang beresin,” ujar Sarah tiba-tiba membuat Libra seketika menengok. Dia terkejut melihat penampilan Sarah. Tubuh mulusnya terekspos begitu saja. Dengan susah payah dia menelan ludahnya, lalu kembali memalingkan wajah.


“Gak apa-apa. Em, gue berangkat dulu, ya,” ujar Libra dengan gugup. Sebelum keluar, dia berjongkok dan mencium pipi Ava terlebih dahulu. Setelah itu barulah melesat pergi.


“Hati-hati di jalan,” teriak Sarah.


“Nanti ke sini lagi ya, Om,” teriak Ava pula.


Libra mendengar teriakan Sarah dan Ava, dia hanya tersenyum tipis. Melihat Sarah mengenakan pakaian seperti itu, membuat perasaannya semakin tak karuan. Padahal dia sudah biasa melihat wanita cantik berpakaian seksi, tapi melihat Sarah seperti itu, rasanya benar-benar tak bisa di definisikan.


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️