
“Aku akan selalu datang, dengan atau tanpa persetujuanmu”
Aroma kopi yang masih mengepul begitu menggugah semangat. Jari-jemari Sarah dengan lincah mengetikkan beberapa kata dan menjadi kalimat. Dia berada di ruang santai bersama Ava. Ketika dirinya sedang sibuk membuat cerpen, Ava terlihat sedang bermain sendiri. Sesekali Sarah mengajak Ava mengobrol agar Ava tak cepat merasa bosan.
Ava sangat sibuk dengan mainannya. Dia mengeluarkan semua mainan dan menaruhnya di atas lantai. Seluruh penjuru ruangan itu penuh dengan mainan Ava. Sarah sampai pusing ketika melihatnya.
Sarah menyeruput kopinya, lalu menghirup aromanya dalam-dalam. Aroma kopi selalu membuat candu. Dengan kopi, dia jadi lebih bersemangat untuk menuangkan ide-idenya.
Kali ini Sarah membuat cerpen yang akan dia kirim ke media koran. Dia membuat kisah antara semut dan belalang. Kisah fiktif hasil khayalannya sendiri. Akhir-akhir ini dia sering membuat cerpen ataupun artikel yang dia kirim ke koran ataupun website-website besar.
Tiba-tiba ada suara pintu yang di buka, sebuah suara yang memanggil nama Ava membuat Ava segera beranjak dan berlari ke luar. Hanya Libra yang bisa keluar dan masuk rumah Sarah sesuka hati. Hanya Libra juga yang bisa membuat Ava meninggalkan mainan dan menyusul dirinya.
“Om Ibraaa,” teriak Ava dengan wajah sumringah.
“Halo, sayang,” Libra berjongkok dan mencium pipi kanan dan kiri Ava dengan gemas.
“Om Ibra bawa apa?” tanya Ava seraya melihat sebuah kantong plastik yang ada di tangan kanan Libra.
Libra tersenyum, lalu menyodorkan kantong plastik itu kepada Ava. Ketika di jalan tadi, dia sengaja berhenti di toko mainan dan membeli sebuah boneka untuk Ava. Dia sering sekali membelikan sesuatu untuk Ava.
Ava melompat-lompat dengan bahagia. Dia menerima boneka itu sambil mengucapkan terimakasih kepada Libra. Setelah itu dia berlari ke dalam dan kembali duduk di atas karpet bulu sambil membuka bingkisan plastik itu. Dia berdecak kagum melihat boneka barunya. Anak kecil memang selalu kagum dengan mainan barunya, meskipun rasa kagumnya hanya bertahan beberapa menit dan setelah itu justru lupa dengan mainannya.
Melihat Ava yang begitu gembira, Libra tak dapat menahan senyumnya. Dia sangat bersyukur melihat Ava yang sudah kembali ceria.
Libra berjalan menuju ruang keluarga. Begitu sampai di ruang keluarga, dia geleng-geleng kepala melihat mainan Ava yang berserakan di lantai. Tidak hanya sattu dua, tapi puluhan mainan.
“Lo beliin apa lagi buat Ava? Lo gak liat mainan dia udah banyak gitu?” tanya Sarah sambil terus mengetik di keyboardnya. Dia masih belum menyelesaikan cerpennya, masih kurang sekitar lima ratus kata lagi.
Libra tertawa lirih, memang benar mainan Ava sangatlah banyak. Tapi dia tak peduli.
“Baru segini doang, kalo penuh serumah baru deh gue gak beliin dia mainan lagi,” jawab Libra enteng. Dia berjalan mendekati Sarah, sementara Ava sudah asyik dengan boneka barunya.
Sarah hanya berdecak, lalu kembali fokus.
“Sar,” panggil Libra yang sudah duduk di samping Sarah.
“Gue laper, nih,” tambahnya.
Sarah menghentikan aktivitas mengetiknya, lalu menatap Libra dengan heran.
“Lo kan abis jalan sama cewe, emang gak makan?” tanya Sarah masih dengan tatapan heran.
“Kata siapa jalan?”
Sarah mengerutkan dahinya, tak mungkin juga dia salah dengar. Jelas-jelas tadi sore Libra yang mengatakannya sendiri. Apa Libra berbohong?
“Tadi sore kan lo bilang sendiri, lo mau ketemu sama simpenan lo itu.”
“Kan ketemu, bukan jalan,” elak Libra.
“Maksudnya?” tanya Sarah, masih memasang wajah heran.
Libra tersenyum penuh arti, lalu berkata dengan tenang.
“Ketemu doang Sarah, gak jalan kemana-mana.”
“Jangan bilang lo ketemu dia di hotel, terus-”
“Hmm,” potong Libra sambil menyandarkan punggungnya di sofa. Ekspresi wajahnya begitu datar, meskipun di sampingnya Sarah sedang terkejut.
Seketika Sarah melongo, menatap Libra dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia tak ingin percaya dengan ucapan sahabatnya itu, tapi mustahil. Jelas-jelas ini Libra yang mengatakannya secara langsung.
“Ibra, gue tau lo fuckboy. Tapi gue gak tau kalo lo-”
“Sarah, bikinin gue makanan dulu ya, gue laper banget sumpah,” potong Libra tak sabaran.
“Jawab dulu pertanyaan gue! Sejak kapan lo jadi nakal gitu?” tanya Sarah galak. Tatapan matanya berubah menjadi tajam.
“Semester lima,” jawab Libra enteng.
“What?” Lagi-lagi Sarah di kejutkan oleh Libra. Dulu Libra memang nakal, tapi tidak pernah sampai melakukan hal di luar batas. Tapi sekarang? Ada apa dengan Libra?
Sebelum Sarah kembali mengajukan pertanyaan, Libra sudah menarik Sarah terlebih dahulu untuk beranjak berdiri. Dia juga mendorong Sarah ke dapur untuk segera membuatkan makan malam. Ya, dia benar-benar merasa lapar.
“Ibra, gue belum selesai tanya,” protes Sarah yang tentu saja di abaikan oleh Libra. Dia justru mengambil remote dan menyalakan TV. Benar-benar seperti di rumah sendiri.
Sarah terpaksa menuruti permintaan Libra. Sepanjang memasak, Sarah masih saja mengomel perihal kelakuan Libra sekarang. Dia masih belum percaya jika sahabatnya menjadi liar seperti sekarang.
“Dasar, orang gila,” gerutu Sarah. Dia membuat nasi goreng untuk Libra. Dia sengaja membuat nasi goreng karena mudah dan cepat. Ya, dia ingin bertanya beberapa hal kepada Libra. Lebih tepatnya dia kepo.
“Terimakasih, Tuan Puteri,” ujar Libra ketika Sarah sudah kembali sambil membawa sepiring nasi goreng. Masakan Sarah tidak pernah mengecewakan, selalu saja nikmat. Libra segera melahapnya tanpa banyak bicara. Dia jadi ingat ketika SMA dulu, Sarah sering memasak untuk dirinya. Dulu, ketika pulang sekolah, Libra sering main ke rumah Sarah hanya untuk makan siang. Ibunya yang begitu sibuk membuat Libra jarang makan masakan rumahan.
Sarah menatap Libra dengan senang, dalam hati dia bangga dengan masakannya yang selalu di sukai oleh Libra. Tapi seketika rasa senang itu sirna, tergantikan oleh rasa penasaran yang begitu memuncak.
“Ibra, gue penasaran kenapa lo jadi gini. Dulu lo gak-”
“Gue belum selesai makan Sarah. Setelah gue selesai makan, baru deh lo wawancara gue,” protes Libra sambil terus mengunyah nasi gorengnya. Di piring hanya tersisa beberapa suap lagi.
Sarah langsung menutup mulut, mau tak mau dia harus menunggu Libra selesai. Karena merasa bosan menunggu, akhirnya Sarah mendekati Ava dan bermain dengannya. Ava yang tak mau di ganggu justru mengusir Sarah.
“Bunda jangan ganggu, deh. Ava lagi sibuk nih,” celetuk Ava sambil menidurkan boneka pemberian Libra. Dia sedang bermain anak-anakan. Dimana Ava berperan sebagai ibu sementara bonekanya berperan sebagai anak. Dia menggendong bonekanya, memberi makan, dan menidurkan layaknya seperti sungguhan.
Sarah hanya berdecak, lalu kembali mendekati Libra.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️