
Sarah menghentikan mobilnya di halaman rumah, di sampingnya ada Ava yang sedang tertidur pulas. Meskipun beberapa kali Ava menangis, tapi dia bisa menanganinya. Bekerja membawa anak ternyata lebih melelahkan dari biasanya.
Ketika baru saja turun dari mobil, Sarah melihat mobil seseorang masuk ke halaman rumahnya. Dia sangat mengenali mobil tersebut. Mobil itu berhenti di samping mobilnya.
Sarah berusaha menggendong Ava dan membawanya masuk, tapi Libra segera datang dan mengambil alih Ava.
“Biar gue aja yang gendong Ava,” ujar Libra seraya menggeser Sarah untuk menyingkir.
Pemandangan itu tak luput dari pandangan warga sekitar yang semakin mengira bahwa Sarah adalah janda gatel. Ya, hal-hal seperti itu sudah terbiasa terjadi. Namun Sarah tetap berusaha biasa saja. Dia tak mau terpengaruh oleh omongan tetangga.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Dari teras sampai ke dalam rumah, Sarah tak mengucapkan sepatah katapun, begitu pula dengan Libra yang justru sibuk dengan Ava. barulah keduanya berbicara setelah Libra menidurkan Ava di kamarnya.
“Kenapa lo bawa Ava ke kantor?” tanya Libra seraya duduk di kursi yang ada di ruang makan. Sementara Sarah sibuk membuat minuman untuk dirinya dan Libra
“Bu Lasih lagi sibuk, makanya gue bawa dia.”
“Kenapa gak bilang ke gue?” tanya Libra seraya menatap Sarah.
“Lupa,” sahut Sarah enteng. Sebenarnya dia tak mau merepotkan Libra, apalagi soal Ava.
Libra hanya berdecak sebal. Dia menyandarkan punggungnya di kursi, lalu mengeluarkan ponselnya. Untuk beberapa saat Libra sibuk dengan ponselnya.
Sarah mendekati Libra, lalu meletakkan segelas matcha hangat. Dari dulu Libra sangat menyukai minuman itu. Untuk beberapa saat Libra masih sibuk dengan ponselnya. Sarah hanya memandanginya tanpa ekspresi.
Rambut Libra yang di highligt warna dark grey terlihat begitu lembut. Kulitnya yang putih membuatnya seolah-olah bersinar, apalagi saat ini mengenakan kaos putih polos. Pantas saja dia playboy, secara penampilan dia sangat menarik, mana mungkin ada yang menolaknya.
“Lo sibuk ngapain sih?” tanya Sarah yang mulai bosan melihat Libra sibuk dengan ponselnya.
“Gue ada gebetan baru,” kata Libra seraya meletakkan ponselnya di samping gelas matchanya. Kemudian meraih gelas itu dan menyesapnya dengan perlahan.
“Gila, lo punya pacar kan? Terus selingkuhan lo berapa?” tanya Sarah dengan sinis.
Libra tampak berpikir, dia menghitung berapa wanita yang sedang dekat dengannya menggunakan jari.
“Em, lima,” jawabnya sambil masih berpikir, mengingat-ingat wanita mana saja yang berhubungan dengannya.
Sarah hanya melongo tak percaya. Sahabat satunya ini benar-benar kelewatan.
“Si brengsek emang.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Sarah. Entahlah, tapi dia masih betah bersahabat dengan Libra meskipun kelakuan Libra seperti. Sejauh ini, Libra masih bersikap baik terhadapnya. Bahkan sangat baik.
Libra tersenyum miring, “Mumpung gue belum nikah, kalo udah nikah kan gak bisa lirik sana-sini.”
“Kata siapa? Tukang selingkuh mah tukang selingkuh aja,” sindir Sarah dengan pedas. Dia tak percaya jika setelah menikah laki-laki tak akan mendua.
“Gue bisa. Kalo udah nikah gue bakal setia. Main-main juga ada masa habisnya.” Libra tampak kembali menyeruput matcha hangatnya.
“Terserah lo, gue mau mandi!” ujar Sarah seraya beranjak berdiri. Dia menuju kamarnya dan membersihkan diri. Hari sudah semakin gelap, dia menyalakan beberapa lampu di rumahnya.
Sedangkan Libra beralih menuju ruang TV. Dia menonton TV sementara Sarah mandi. Dia sudah menganggap rumah Sarah seperti rumahnya, jadi dia bebas melakukan apa saja. Tak ada acara yang menarik baginya, beberapa kali pindah chanel tetap saja.
Cukup lama dia menatap TV dengan berbagai macam pikiran. Dia memikirkan hubungannya dengan Sarah, hubungan yang mereka akui sebagai sahabat. Rasanya lucu ketika memikirkan Sarah yang kini statusnya menjanda.
Ketika sedang sibuk dengan pikirannya, Sarah datang dan duduk di sampingnya. Aroma khas orang mandi begitu menyeruak di indra penciuman Libra. Sangat harum. Sarah mengenakan piyama pendek berwarna merah muda.
Untuk sesaat Libra terpesona, apalagi rambut Sarah masih basah membuatnya terlihat begitu segar dan tentu saja menggoda. Tapi Libra segera mengembalikan kesadarannya, dia tak mau terus terbuai dengan penampilan Sarah setelah mandi.
“Ib, lo mau makan apa?” tanya Sarah seraya merebut remote dari tangan Libra dan mengganti chanel TV. Dia memilih sinetron yang akhir-akhir ini sedang di tontonnya.
“Lo mau masak atau beli?” tanya Libra seraya menoleh ke arah Sarah. Dia mengamati wajah Sarah yang kini sudah kembali berseri-seri.
“Beli, gue mager.” Sarah menyandarkan punggungnya di sofa, asik dengan sinetron yang sedang di tonton.
Libra hanya tersenyum miring, lalu ikut menonton sinetron yang menurutnya sangat tidak menarik. Sarah sangat fokus menikmati setiap adegan di depan matanya, sementara Libra sesekali melirik Sarah.
Tok...tok..tok...
Suara pintu di ketuk membuat mereka berdua terkejut. Sontak Sarah langsung menatap Libra dengan penuh tanda tanya. Sedangkan Libra hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. Awalnya Sarah menduga bahwa itu tetangganya yang datang lalu memaki-maki karena membiarkan Libra di rumahnya. Tapi dia segera menepis pikiran itu jauh-jauh.
Sarah beranjak berdiri, berjalan menuju pintu dengan langkah sedikit tergesa. Sepanjang jalan menuju pintu dia menebak-nebak siapa yang datang. Tak mungkin juga teman kantornya. Apa benar tetangganya? Bisa gawat jika itu memang tetangganya.
Sarah meraih gagang pintu, menariknya dengan perlahan. Namun tubuhnya seketika menegang saat melihat sosok tamu yang sedang berdiri di depan pintu. Jantungnya seketika berdetak lebih cepat dari biasanya. Ingin rasanya dia menampar sosok laki-laki yang ada di depannya itu.
“Hai,” sapa Arzan sambil tersenyum manis. Mungkin wanita di luar sana akan terpesona begitu melihat senyum itu, tapi tidak dengan Sarah. Dia justru muak dan ingin memakinya. Bisa-bisanya Arzan menyapa dan tersenyum ke arahnya dengan santai.
Arzan tampak lebih tampan sekarang. Seperti biasa, dia mengenakan topi berwarna hitam, lalu kaos polos dan bawahannya menggunakan celana pendek berwarna hitam pula.
Sarah bergeming, tak tahu harus berkata apa. Lidahnya mendadak kelu, bahkan tubuhnya susah untuk di gerakkan.
“Boleh masuk?” tanya Arzan lembut. Suaranya begitu memabukkan, membuat Sarah sedikit terlena. Dia masih saja berdiri sambil memegangi gagang pintu.
“Sarah, are you okay?” tanya Arzan lagi sambil menyentuh bahu Sarah. Sentuhan itu bagai sengatan listrik yang membuat tubuh Sarah semakin tegang.
“Oh, ya, aku-em-gue-gue-ya i’m okay,” jawab Sarah dengan gugup. Dalam hati dia merutuki kegugupannya. Harusnya dia bersikap santai, tapi ini justru gugup luar biasa. Dia harusnya menunjukkan bahwa kini hidupnya menjadi lebih baik, tapi ini justru seperti orang sinting yang kehilangan akal.
“Lagi ada tamu ya?”
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️