WHISPER

WHISPER
Permohonan Maaf Arzan



Sarah sedang mengistirahatkan punggungnya. Menulis dalam waktu lama membuat punggungnya terasa sakit. Dia tiduran dengan posisi kaki yang di ganjal bantal. Sementara itu, Ava sedang sibuk mencoret-coret buku sambil sesekali berteriak heboh.


Malam ini hanya ada mereka berdua, Isabela sedang ada di luar kota kerena ada pekerjaan. Tiga hari lagi barulah dia pulang.


“Bunda sama Ayah kok gak tinggal satu rumah?” tanya Ava tiba-tiba. Entah bagaimana caranya pertanyaan seperti itu keluar dari bibir mungil Ava. Selama ini dia tak pernah bertanya soal seperti itu.


“Kenapa Ava tanya gitu?” tanya Sarah sekenanya.


“Ayah tinggal di rumah sama Nenek, terus Bunda tinggal sama Tante Isabela. Kenapa gak tinggal bareng? Kalo tinggal bareng kan Ava jadi gak pusing kesana-kemari,” keluh Ava. Ternyata tinggal di rumah Arzan membuatnya jadi tahu bahwa orang tuanya sudah tak tinggal satu atap.


Sarah menggaruk keningnya yang tidak gatal. Anak seusia Ava rasa ingin tahunya benar-benar tinggi. Bahkan Sarah sampai di buat bingung sendiri.


Dengan posisi masih tiduran, Sarah menjawab, “Em, begini sayang. Bunda sama Ayah sudah bercerai. Jadi kita tidak bisa tinggal satu rumah.”


“Bercerai itu apa?” tanya Ava dengan polosnya.


Sarah menarik napas dalam-dalam, dia harus sabar menghadapi Ava yang memang ingin tahu segala sesuatu. “Bercerai itu terputusnya hubungan antara suami dan istri. Atau bisa di bilang berakhirnya sebuah pernikahan. Bunda sama Ayah udah gak saling cinta lagi, makanya kita bercerai,” terang Sarah. Meskipun dia sudah memberikan jawaban sejelas itu, pasti Ava tidak akan mengerti.


“Ava cinta sama Bunda, berarti kita gak akan bercerai?”


Sarah memijit keningnya. Pertanyaan anak kecil memang suka aneh-aneh.


“Perceraian itu hanya bisa di lakukan jika sudah menikah, Ava. Sudah, kamu main sendiri ya, Bunda mau kerja lagi,” ujar Sarah menyerah. Dia lebih baik merasakan punggung sakit tapi di paksa bekerja daripada harus mendengarkan pertanyaan Ava yang semakin lama semakin memusingkan.


“Bunda kerja terus, apa gak capek?”


Sarah mendudukkan diri, lalu menggeleng dan tersenyum. Dia segera bangkit menuju meja belajar. Dia akan lanjut menulis, lalu belajar untuk ujian tes masuk universitas.


“Bunda, Ava mau tidur di kamar ya,” ujar Ava ketika merasa mengantuk. Sudah beberapa hari ini dia tidur sendirian.


“Kamu mau tidur sendirian lagi?” tanya Sarah seraya menoleh dan menatap Ava tak yakin.


Ava mengangguk pasti, setelah itu sudah melesat pergi ke kamarnya. Sarah hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dia tak menyangka jika anaknya ternyata sudah besar. Rasanya baru kemarin Ava belajar berjalan, tapi kini sudah bisa berlarian.


Merasa tak yakin dengan Ava, Sarah memilih untuk beranjak menyusul anaknya. Dia ingin memastikan bahwa anaknya tidur dengan benar.


***


Selesai makan siang, Sarah kembali melanjutkan pekerjaannya. Kali ini dia menulis di teras rumah karena sambil mengawasi anaknya yang sedang bermain sepeda di halaman. Beberapa kali Sarah meminta Ava untuk menyudahi aktivitas bersepedanya karena matahari bersinar begitu terik. Tapi Ava tetap asik bersepeda. Dia mengabaikan peringatan Sarah.


Ketika Sarah sedang menyesap kopinya untuk kesekian kali, tiba-tiba dia mendengar suara yang membuatnya terlonjak kaget.


Bruk…


Awalnya Ava tak menangis, tapi ketika Sarah bertanya apakah sakit, Ava langsung menangis histeris.


“Bunda, sakit,” ujarnya di sela isak tangisnya. Dia terus memandangi luka yang ada di lutut dan sikunya.


“Ava tunggu di sini ya,” kata Sarah sambil mendudukkan Ava di kursi. “Bunda mau ambil obat dulu,” sambungnya.


Ava mengangguk patuh, dia menatap kepergian Sarah sambil menangis sesenggukan. Setelah Sarah kembali, Ava sudah tak menangis lagi. Dia justru bertanya obat apa yang akan di gunakan oleh Sarah.


Dengan sangat hati-hati, Sarah mengobati luka Ava. Dia bahkan meniupnya beberapa kali agar cepat sembuh.


“Udah ya, jangan nangis lagi. Ava kan kuat,” bujuk Sarah sambil tersenyum menguatkan. Dia mengecup pipi Ava sekilas, lalu kembali masuk ke dalam untuk menaruh kotak obat. Tapi entah kenapa perasaan Sarah sungguh gelisah. Dia merasa khawatir dan takut, tapi tidak tahu khawatir akan apa dan takut pada apa.


Sarah menggeleng, dia merasa berlebihan. Mungkin rasa khawatirnya di sebabkan oleh Ava yang jatuh beberapa menit yang lalu. Tapi dia tak yakin. Dari semalam dia sudah merasakan hal itu. Tiba-tiba dia takut sendirian, takut di tinggalkan, dan takut akan kesepian. Apa yang terjadi?


“Gak!” Sarah menggeleng, kemudian berjalan keluar, menyusul Ava yang kini sudah kembali bersepeda.


“Sayang, kok kamu main sepeda lagi? Kan lukanya belum sembuh,” teriak Sarah dengan wajah panik.


“Lukanya udah sembuh kok, Bun,” elak Ava. Sepeda itu adalah pemberian dari Isabela. Ava sangat senang menerima sepeda itu. Dia berterimakasih, bahkan memeluk Isabela dengan senang. Setiap hari, dia pasti latihan naik sepeda bersama Isabela, dan akhirnya sekarang sudah bisa mengendarai sepada itu sendiri.


“Hati-hati ya, jangan sampe jatuh lagi,” pesan Sarah seraya kembali duduk. Dia akan lanjut bekerja sampai sore nanti.


“Siap, Bunda!” teriak Ava sambil terus mengayuh sepedanya.


Tak terasa, mentari sudah bergeser sedikit ke barat. Panas yang tadinya begitu menyengat, kini sudah tak terlalu. Sarah menggerakkan otot lehernya beberapa kali, lalu berdiri dan merenggangkan seluruh otot-ototnya.


Kini Ava sudah tak main sepeda, dia justru duduk di tanah sambil mencabuti rumput. Sesekali dia memetik bunga yang baru saja mekar. Sarah hanya membiarkan saja. Dia membiarkan Ava untuk belajar hal baru.


Tiba-tiba dari arah gerbang muncul sebuah mobil yang sangat di kenali Sarah. Dia memasang wajah sebal, dalam hati dia mengumpat kesal karena yang datang adalah mantan suaminya.


Mobil itu berhenti tak jauh dari Ava, lalu Arzan keluar dari mobil. Dia masih tampan seperti biasanya, dan masih mengenakan topi sebagai pelengkap penampilannya. Mata indah Sarah masih bisa melihat ketampanan itu, tapi rasa benci mampu menutup mata Sarah.


“Hai, sayang,” sapa Arzan kepada Ava. Dia menyusul Ava, lalu memeluknya dengan erat. Mereka mengobrol sedikit, lalu Arzan mengacungkan jempol di depan wajah Ava. Sarah hanya menatap itu semua dalam diam. Dia tak memiliki minat untuk berkomentar.


“Sarah,” panggil Arzan ketika sudah berdiri tak jauh dari Sarah. “Maafin gue,” tambahnya. Kalimat itu sudah keluar dari mulut Arzan berpuluh-puluh kali. Sarah sampai muak.


“Maaf untuk apa?” tanya Sarah dingin. Dia hanya menatap Arzan sekilas, lalu kembali mengawasi Ava yang kini sedang sibuk memetik dedaunan.


“Semuanya.”


DON'T FORGET TO LIKE, COMMENT, VOTE, ADD TO FAVORITES AND GIVE A GIFT FOR THIS NOVEL ❤️❤️❤️