
“Lagi ada tamu ya?”
Sarah langsung ingat bahwa Libra masih ada di rumahnya. Dia bingung harus bagaimana. Dia tak mau Arzan melihat Libra dan berprasangka buruk. Kenapa? Kenapa Sarah berpikir seperti itu? Harusnya dia bersikap biasa saja, toh Arzan bukan siapa-siapanya lagi.
Sarah mengangguk dengan canggung, lalu di menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Arzan masuk. Dalam hati dia sangat berharap jika malam ini tak terjadi apa-apa.
Arzan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sarah sangat bersyukur karena ruang tamu dan ruang TV berada di ruangan yang berbeda. Namun naas, beberapa detik kemudian Libra muncul.
Untuk sesaat Libra dan Arzan saling berpandangan, entah apa yang ada di dalam pikiran masing-masing, namun Sarah sangat berharap semuanya akan baik-baik saja.
“Udah lama, Ib?” tanya Arzan memecah keheningan.
Libra duduk di seberang Arzan, “Belum, tumben ke sini?”
“Mau liat Ava. Udah lama gak ketemu,” ujar Arzan yang lagi-lagi di sertai senyum manisnya.
Untuk sesaat Sarah terdiam melihat adegan itu, tapi kemudian dia berlalu ke dapur untuk membuatkan minum. Ketika tiba di dapur, Sarah tak langsung membuat minum. Dia justru berdiri sambil mengatur napas. Dia berjalan mondar-mandir sambil melemaskan otot-ototnya.
“Gila, bisa-bisanya dia dateng ke sini?” lirih Sarah sambil terus berjalan mondar-mandir.
“Apa tadi? Mau liat Ava?”
“Dasar sinting! Mati-matian gue ngelupain dia, eh sekarang muncul kek setan,” dumel Sarah yang masih saja berjalan mondar-mandir.
Sarah menghentikan langkah kakinya. Dia menghela napas panjang dan menepuk dahinya beberapa kali. Dia sedikit tak siap menghadapi situasi yang seperti sekarang ini. Jika memungkinkan, Sarah memilih kabur sambil membawa Ava. Entah kabur ke mana, yang jelas keluar dari rumah ini.
Setelah cukup tenang, Sarah membuat secangkir kopi untuk Arzan, dan secangkir matcha untuk Libra. Ketika menuangkan air panas, tangan Sarah masih sedikit bergetar. Tapi untungnya dia bisa mengontrol diri.
Sarah kembali sambil membawa dua cangkir minuman. Menaruh di atas meja dan mempersilahkan keduanya untuk minum.
“Makasih,” kata Arzan yang lagi-lagi sambil tersenyum dengan sangat manis.
Sarah hanya mengangguk sekilas. Dia memilih duduk di samping Libra. Awalnya dia ingin masuk ke dalam, tapi Arzan menyuruhnya untuk duduk.
Libra menangkap perbedaan pada diri Sarah. Dia menduga perubahan Sarah karena Arzan. Ya, Sarah mendadak menjadi wanita pendiam, anggun, dan jaim. Ingin rasanya dia memukul kepala Sarah dan berteriak agar Sarah bersikap seperti biasanya.
“Ava kemana?” tanya Arzan sambil menatap sekeliling, mencari sosok anak semata wayangnya.
“Dia lagi tidur,” jawab Sarah singkat.
Mendengar obrolan Sarah dan Arzan yang begitu kaku, Libra berinisiatif untuk menyingkir sejenak. Mungkin keduanya butuh privasi.
“Gue ke dalem dulu ya, kalian berdua ngobrol aja,” ujar Libra seraya meraih cangkirnya dan beranjak berdiri. Baru saja berdiri, Sarah menahannya dengan memegangi ujung kaosnya. Dia paham jika Sarah tak mau di tinggal sendiri, tapi bodo amat.
Arzan tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Entah ucapan terimakasih itu untuk apa, Sarah tak paham.
“Sarah, gue minta maaf kalo selama ini gue banyak salah. Jujur, gue emang main belakang. Tapi lo harus percaya bahwa lo satu-satunya cewek yang gue cinta,” ujar Arzan dengan tatapan tulus.
“Lo ke sini mau ketemu Ava kan?” tanya Sarah mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau mendengar lebih dari mulut manis Arzan. Ucapan Arzan selalu seperti bunga belladona, indah namun beracun.
“Iya, tapi itu bukan tujuan utama. Gue ke sini karena gue kangen sama lo. Gue pengen ngasih tau kalo gue nyesel dan-”
Arzan tak melanjutkan kalimatnya, dia menatap Sarah begitu dalam. Bahkan dia meneliti kecantikan Sarah yang kini terlihat semakin cantik. Entahlah, mantan memang terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
“Dan?” tanya Sarah penasaran. Dia gelisah, dia tak mau terbuai dengan kalimat indah Arzan.
“Dan gue gak bisa hidup tanpa lo,” ujarnya dengan tatapan sendu.
Tenggorokan Sarah tercekat, matanya tepat menatap retina Arzan. Suara itu begitu lembut dan memabukkan. Dia ingin mendengar suara Arzan di samping telinganya seperti dulu. Tapi tidak mungkin. Kini keduanya sudah bukan siapa-siapa lagi.
”Sarah, gue butuh lo,” kata Arzan lagi. Suaranya semakin memabukkan, membuat Sarah benar-benar terhipnotis.
Tiba-tiba suara Ava mengagetkan keduanya. Sarah segera berlari menuju kamar, dia bersyukur karena suara Ava menyelamatkannya. Jika Ava tak bangun, mungkin kini Sarah sedang duduk seperti orang bodoh yang terus memandangi Arzan.
“Sayang, kamu udah bangun?” tanya Sarah sambil menggendong Ava. Hari sudah semakin gelap, namun dia belum memandikan Ava karena sejak sore Ava tertidur.
“Mandi dulu yuk, abis itu makan,” ujar Sarah. Dia segera menuju kamar mandi untuk memandikan Ava dengan air hangat. Dia bergerak cepat karena tak mau Arzan menunggu. Lagi-lagi Arzan. Kenapa Arzan selalu menjadi alasan banyak hal? Entahlah.
Dengan sabar Sarah memandikan Ava dan memakaikan baju. Gerakannya begitu cepat, dia tak mau menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Selesai memandikan Ava, Sarah keluar untuk mempertemukan Ava dengan ayahnya. Ketika berjalan ke luar, dia menuju ruang TV terlebih dahulu untuk meminta tolong kepada Libra.
“Ibra, tolong pesenin makanan dong,” pinta Sarah sambil menggandeng tangan Ava.
Libra yang sedang menyeruput matchanya segera menaruh cangkirnya. Lalu mengangguk sekilas ke arah Sarah.
“Om Ibra udah lama disini?” tanya Ava dengan wajah ceria seperti biasanya.
“Udah, sayang,” jawab Libra seraya menoleh ke arah Ava, kemudian kembali sibuk dengan ponselnya. Dia memilih-milih menu apa yang akan di makannya. Ya, dia hanya memilih untuk dirinya sendiri, sementara Sarah dan Arzan akan menyesuaikan dengan dirinya. Dia juga mencari menu untuk Ava.
“Makasih ya, gue keluar dulu,” ujar Sarah seraya berlalu meninggalkan Libra sambil menuntun Ava. Ketika baru saja sampai, Ava langsung berteriak menyebut ayah sambil berlari menghampiri Arzan.
“Ayah baru pulang? Ayah bawa apa? Kok lama banget pulangnya? Ava kangen. Ayah kangen gak sama Ava?” Ava memberondong banyak pertanyaan.
Arzan tersenyum dan menggendong Ava. Dia menciumi pipi Ava dengan gemas. Rasanya sudah bertahun-tahun tak bertemu dengan anak kesayangannya itu.
“Iya, Ayah baru pulang. Tapi Ayah bentar doang, nanti harus kerja lagi,” ujarnya dengan hati yang sedikit perih. Dia tak tega harus meninggalkan Ava lagi.
“Kok Ayah sendirian? Gak sama Nenek?” tanya Ava yang membuat Sarah terhenyak, begitupun dengan Arzan yang bingung harus menjawab apa.
Arzan menatap Sarah meminta bantuan. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Biasanya dia mahir berbohong, tapi kali ini dia sama sekali tak mampu berbohong kepada anak semata wayangnya. Apalagi tatapannya penuh harap.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, TAMBAHKAN FAVORIT, DAN BERI HADIAH UNTUK NOVEL INI ❤️