
Felix menyayat pisau itu ke pipi si wanita hingga membuat pola-pola abstrak yang bercampur warna merah segarnya darah.
"wajah mu cantik, tapi kenapa kau ingin menjemput mautmu sendiri hah" bentak Felix
merasa masih tak ada jawaban itu membuat Felix murka dan langsung menendang wanita itu sampai darah bersimbah dimana-mana, wanita itu hanya menangis tanpa mengeluarkan suara menahan rasa sakit
"hahah," tawa Felix ketika mendengar wanita itu merintih kesakitan. dia seperti orang kesetanan yang haus akan darah.
"Dany" teriak Felix lagi memanggil asistennya itu, Dany segera datang dengan wajah datar.
"iya tuan" ucap Dany yang sebelumnya membungkukkan badannya
"berikan suntikan yang diberikan Eric pada wanita ini" perintah Felix dingin, Felix berjalan ke arah pengawal nya dan mengambil sapu tangan
"baik tuan" ucap Dany yang menyelesaikan perintah tuannya itu, sebenarnya dany tak tega melakukan itu namun apa boleh buat wanita tersebut tidak mau mengaku.
setelah menyuntikkan cairan warna merah itu, wanita itu merasakan panas dan sakit didalam tubuhnya, dalam hitungan detik saja wanita itu menghembuskan nafas terakhir nya. ketika Dany ingin menyingkirkan mayat wanita itu Felix menghentikan langkahnya
"ada apa tuan?" tanya Dany heran
"lihat punggungnya bukankah itu tato" ucap Felix memicingkan matanya menatap tajam gambar yang ada di punggung terbuka wanita itu
"benar tuan, seperti nya saya pernah melihat ini di suatu tempat" kata Dany mengingat-ingat dimana dia pernah melihat tato itu
"cari tahu siapa yang mengirimnya" perintah Felix pada bawahan nya itu, setelah itu Felix keluar ruangan itu tanpa mendengar balasan dari Dany
"baik tuan" Jawab Dany memerintahkan beberapa pengawal untuk membawa jasad itu.
Keesokan harinya
Di Inggris
bruukk...
"hei nona kalau jalan hati-hati!" peringatan Nick yang kesal karena menabrak seorang wanita. merasa tak ada jawaban Nick pun tambah kesal
"kalau jalan pakai mata dong!" umpat Nick membersihkan pakainya yang terkena sedikit kotoran
"fungsi mata untuk melihat sedangkan jalan itu pakai kaki" jawab wanita itu yang tak lain adalah Mey.
"CK, kau ini sudah tahu salah masih juga mau minta maaf" kata Nick yang tambah kesal menatap tajam
"maaf saya tidak meminta maaf jikalau bukan kesalahan saya, jelas-jelas tadi anda yang menabrak saya" kata Mey tak mau kalah menatap tajam
"kau.." belum sempat Nick berkata Mey sudah pergi.
'hm, baru kali ini aku melihat ada wanita yang tak terpesona dengan wajah tampan ku. lihat saja akan ku buat dia bertekuk lutut di hadapan ku' batin Nick tersenyum tipis
Mey berjalan dengan muka masam karena kesal dengan kejadian yang tadi, bahkan disepanjang perjalanan dia terus-menerus mengumpat Nick.
"menyebalkan, awas saja jika aku ketemu lagi dengannya. akan ku tembak mati mukamu yang menyebalkan itu. sial" cerocos Mey yang masih saja geram sampai-sampai dia tidak jadi ke toko kue.
"kenapa Mey, kok muka jelek amat" canda Mark ketika dia sudah tiba di depan mansion.
Mey menghela nafas panjang. "gak papa" ucap Mey dingin mengalihkan pandangannya.
"gak percaya" kata Mark memicingkan matanya menemukan sebuah kebohongan Dimata Mey.
"yasudah" kata Mey yang ingin beranjak dari sana karena malas meladeni Mark.
"eh tunggu, bukanya kamu mau ketoko kue?" tanya Mark heran
"huh, tadi itu aku gak sengaja ketabrak orang pas lagi jalan di trotoar, eh, dia yang nabrak aku pula yang harus minta maaf. ya, gak mau lah" jawab mey yang masih kesal, tanpa sadar mengatakan Mark sengaja memancing nya.
"jadi gara-gara itu kesal dan gak jadi ketoko kue?" tanya Mark, Mey hanya mengangguk
"ada-ada saja kamu ini, yasudah aku mau ke kantor mau ikut gak?" tanya Mark
"gak" jawab Mey dingin
"yasudah, aku pergi" pamit Mark
"hmm" Mey berdehem setelah itu pergi dari sana.
Di mansion Felix
"udah ketemu informasi nya?" tanya Mike
"udah, oh ya, anyway katanya hari ini Nick pulang loh" jawab Eric menatap serius
"cepat sekali" kata Mike mengerutkan keningnya
"entahlah, katanya setelah sampai di Austria rupanya urusannya sudah diselesaikan oleh Maya" kata Eric mengangkat kedua bahunya acuh
Maya adalah orang kepercayaan Felix untuk memimpin markas di Austria ketika mereka tidak ada.
"jadi dia langsung pulang?" tanya Mike
"iya, dia hanya tiga jam di Austria" jawab Eric
"kenapa kembali kemari lagi kalau sudah sampai sana. huh, menyusahkan saja" umpat Mike sedangkan Eric hanya mengangkat bahu nya pertanda tak tahu.