
"Tak ada manusia yang bisa mengerti skenario Tuhan"
-Yefta Aprilia
Di****universitas ternama di Inggris
Seperti hari-hari sebelumnya, Audrey melewati nya dengan senyuman manis yang membuat siapa saja terpesona. kini pelajaran kampus baru saja selesai beberapa menit yang lalu dan kini gadis keturunan Asia itu ingin pulang. ketika baru saja mencapai gerbang utama, tiba-tiba suara perempuan yang dapat memekakkan telinga siapa saja meneriaki nama Audrey. hingga sang empunya berbalik dan menatap wanita yang sudah beberapa tahun itu menjadi teman dekatnya
"Audrey..." teriak gadis itu yang bernama Maria
Audrey pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang dan tersenyum hangat
"ada apa mar?" jawab Audrey menghampiri Maria yang masih ngos-ngosan. Maria berjongkok dan mencoba mengatur nafasnya, setelah beberapa saat diapun bangkit
"apakah kau punya waktu malam ini soalnya aku mau kenalin kau ke kekasih aku" jawab Maria yang sekaligus bertanya. Audrey yang ingin menolak, tapi tak tega melihat sang-sahabat yang menatapnya penuh harap.
"apa kau mau pamer padaku nona Maria" katus Audrey menatap tajam ke arah Maria.
"hehehe, sekalian" jawabnya tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesalnya Audrey yang menurut Maria itu lucu.
Audrey yang mau meng-iyakan pun tampak berfikir sejenak, dia lupa kalau ada janji dengan Mey ditoko kue nya. "maaf mar, aku tidak bisa soalnya aku harus ke toko kakakku" ucap Audrey tersenyum tipis membalas perkataan Maria secara tidak langsung.
"selalu saja pergi ke toko kak Mey, apa tidak bisa kau luangkan waktu mu sedikit dengan sahabat mu yang pecemburuan ini" cibir Maria kesal, Audrey hanya memutar bola matanya malas meladeni drama Maria
"iya deh, lain kali ya Maria sayang. aku akan menemanimu bertemu dengan kekasih yang kau banggakan itu" ucap Audrey lembut sambil memegang tangan Maria.
"hei, dia itu tampan tahu. dia itu sangat mencintaiku, dia bilang 'Maria sayang, satu bulan lagi aku akan menemuimu kembali di Inggris, tunggu aku ya. aku masih memiliki pekerjaan di Jepang. aku mencintaimu' aahh, bukankah itu sangat manis" Maria berteriak senang sambil melompat-lompat seperti orang gila hingga membuat orang disekitar mereka menatap aneh ke arah Maria.
"iya-iya tidak usah lompat-lompat begitu bodoh. yasudah aku pergi dulu" pamit Audrey pada Maria yang Kini sudah senyum-senyum sendiri.
"hem, pergilah sana" ucap Maria
***
Audrey pun pulang menggunakan kendaraan umum hingga tiba di the sweet cake, toko kue milik Mey. seperti biasanya, toko itu tak pernah sepi dari pengunjung.
"kakak.." teriak Audrey dari luar toko kue hingga menjadikan nya pusat perhatian pengunjung toko tersebut
"jangan teriak didepan tokoku bodoh dan satu lagi jangan memanggilku kakak, aku belum tua" jawab mey yang langsung keluar dari ruangannya
"tapikan kita beda umur. umurmu 24 tahun sedangkan aku 23 tahun" ucap Audrey yang memang memancing emosi Mey
"jangan sampai pistolku yang membungkam mulut busukmu itu" jawabnya berbisik tepat ditelinga Audrey sambil mencengkram bahunya kuat
"iya iya, gitu aja marah. yasudah ayo masuk keruangan mu" ajakannya sambil masuk tanpa izin dari siempunya ruangan
'huuh, sebenarnya yang punya ruangan dia atau aku sih' batin Mey, merekapun masuk
"jikalau mereka tahu kau adalah ketua mafia PRR ( the prickly red rose ) pasti mereka tak akan percaya" kata Mey sambil duduk di kursi kebesarannya
"heh, kau perlu bukti nona?" tanya Audrey
"tidak" jawab nya dingin
"yasudah" ucap Audrey acuh
"ada perlu apa kau kesini?" tanya Mey
"apakah rencana untuk meratakan markas mata-mata yang ditangkap kak Mark jadi?" tanya Audrey serius
"tentu saja, aku sudah menyiapkan pistol terbaru untuk kau gunakan" jawab mey tak kalah serius
"nanti malam" jawab mey enteng
"jadi kenapa kau masih disini?, bukanya istirahat untuk berperang malam ini?" tanya Audrey geram pada Mey
"aku baru saja ketoko masa langsung pulang" jawabnya malas
"oohh, ku pikir kau datang sejak tadi pagi" ucap Audrey
"yasudah kau pulanglah" ucap Mey mengibaskan tangannya, memperagakan seseorang yang tengah mengusir.
"kau mengusir ku nona?" tanya Audrey sedih
yang membuat Mey memutar bola matanya malas
"tidak usah drama disini karena tak laku" katus Mey yang malas menghadapi tingkah laku sahabatnya itu
"hehehe, baiklah nona aku pergi tapi jangan rindu yaa. bye" pamit Audrey melambaikan tangannya
"pergi lah dan tak usah kembali lagi" ucap Mey pelan setelah Audrey pergi. Mey mengambil handphone nya yang sejak tadi berdering di tasnya dan nama Mark lah yang tertera di layar handphone tersebut
mey: "halo"
Mark: "Mey apakah kau melihat gadis nakal itu?"
Mey: "ya, dia baru saja mampir dan menyusahkan ku"
Mark: "sekarang?"
Mey: "sudah pergi"
Mark: "kemana?"
Mey:"entahlah, dia tidak memberitahuku. coba saja lihat di markas, mungkin disana"
Mark:"baiklah, terima kasih"
Mey:"hmm" telepon langsung diputus oleh Mey
Di markas utama
aura dingin kini menyeruak kemana-mana, sudah biasa bagi seorang Audrey merasakan semua ini.
kini Audrey baru tiba di markas utama tak lupa menggunakan topeng dan tanda pengenal kerena jika tidak menggunakan tanda pengenal maka dia langsung dikepung oleh anggota PRR.
"nona AES" sapa seorang anggota PRR seraya membungkukkan badan
"hmm" jawab Audrey dingin. AES merupakan nama panggilan Audrey yang artinya Audrey Emily Smith.
"kumpulan semua mafia" perintah Audrey
***
hai kakak-kakak semua. maaf kalau tulisan nya kurang rapi ya soalnya ini cerita pertama aku.
mohon dukungannya ya:)
jangan lupa vote sebanyak-banyaknya:)
Merci😘