We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Kenyataan Pahit ( part Elena )



"KADANG EKSPETASI TAK SEIDAH REALITA"


-YEFTA APRILIA


🥀🥀🥀


Tak ada yang berani mempertanyakan mengapa Felix pulang dengan keadaan marah. semua para penjaga ataupun para maid menjadi sasaran amukannya. Dany pun hanya diam ketika ditanya oleh Eric. isi mansion pun kacau balau. seakan-akan terlihat seperti baru saja diterjang angin ****** beliung yang hebat.


Apalagi Audrey. Felix hilang kendali!


dia mencaci-maki Audrey didepan semuanya, termasuk didepan Nick yang kini menahan emosi nya. Audrey bahkan dipukul hingga mengeluarkan darah segar di bibir nya.


Serena yang melihatnya pun tertawa dalam hati, tapi tak berani secara langsung. wanita cantik itu tentu tau akan keadaan. Elena tampak diam tak berkutik. melihat kemarahan sang kakak membuat nya tak berani menolong Audrey. pasti ada yang salah dengan kakaknya.


"kakak" panggil Elena mengetuk pintu kamar dengan hati-hati. sudah beberapa menit ini dia berdiri didepan pintu itu. mendengar tak ada jawaban juga, akhirnya Elena memberanikan diri untuk masuk.


kreattt..


Pintu terbuka dan tertutup kembali. Elena berjalan pelan menghampiri Felix yang kini tertidur ditempat tidur.


"kak" panggil Elena mengguncang punggung Felix yang tidur membelakangi. mendengar tak ada jawaban. akhirnya satu ide jahil terlintas di otak nya.


Elena naik diatas tempat tidur dan mengambil ancang-ancang untuk menimpa sang kakak. saat Elena melompat, secepat kilat Felix menyingkir dan alhasil Elena terjatuh kelantai.


"aduh" ucap Elena mengelus-elus bokongnya yang sakit. Elena menatap tajam Felix yang kini tersenyum mengejek seraya memeluk tangannya di dada. "ini sakit kak" rengek Elena mengerucutkan bibirnya.


"suruh siapa masuk tanpa izin" ucap Felix dingin. dia berbalik dan melangkahkan kakinya kearah sofa dan duduk disana.


"aku sudah mengetuk pintu kamar kakak berkali-kali tapi tidak ada jawabannya, sebabnya aku masuk begitu saja" seru Elena kesal. dia melangkah lebar mendekati sang kakak dan memberikan kunci mobil Felix, itu membuat pria itu bingung.


"apa?" tanya Felix yang masih memperhatikan kunci mobil itu, tidak ada niat untuk mengambil nya.


"ayo kita jalan-jalan, kak" rayu Elena mengedipkan matanya. namun, Felix masih tak bergeming. "aku bosan selalu didalam rumah." ucapnya lagi.


"bukankah setiap pagi kau pergi ke kampus?" tanya Felix yang sebenarnya malas pergi.


"itu beda lagi kak. ayolah, aku ingin jalan-jalan denganmu malam ini. apa kau tidak mau menuruti kemauan ku yang sederhana ini?" tanya Elena merubah raut wajahnya terlihat sedih. Felix yang melihat itu menghela nafas nya. memang jarang sekali, dia dan Elena pergi jalan-jalan. bahkan hampir tidak pernah.


"baiklah" pasrah Felix meraih kunci mobil itu. dia bangkit dan pergi keluar. Elena pun berlompat-lompat kegirangan.


"jadi tidak?" teriak Felix yang langsung membuat Elena berlari keluar.


***


Tak seperti wanita pada umumnya. Elena mengajak sang kakak untuk pergi ke pasar malam. sangat ramai pengunjung yang datang hingga membuat Felix membawa beberapa bodyguard nya untuk menyamar menjadi pengunjung disana, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.


"kak, aku mau naik itu" ucap Elena menarik-narik jaket kulit yang dikenakan Felix menunjuk jarinya kearah salah satu wahana permainan.


"tidak boleh, itu terlalu berbahaya untuk mu" seru Felix menolah secara terang-terangan wahana permainan yang menurutnya tidak menjamin keselamatan adiknya. itu membuat Elena kesal. dari tadi mereka hanya berkeliling, itu membuat Elena bosan.


"jadi aku naik yang mana? dari tadi kakak bilang, tidak boleh itulah, tidak boleh inilah. buat apa kita kesini, kalau tidak bermain permainan" ketus Elena pergi meninggalkan Felix begitu saja.


"Elena!" panggil Felix yang sama sekali tidak diindahkan oleh nya. salah satu pengunjung yang dari tadi mendengar pertengkaran mereka pun mendekati Felix.


"kenapa anda melarang adik anda yang ingin menaiki permainan itu" tanya pria itu tersenyum ramah pada Felix.


"saya tidak bisa memastikan keselamatan nya, bagaimana jika wahan permainan itu berbahaya. pasti akan membuat celaka" ucap Felix dingin dan datar.


"turuti saja kemauan adik anda tuan, lagipula banyak orang yang telah mencoba wahan itu, tapi tidak ada yang sampai mati" ucap pria itu menepuk pundak Felix dan meninggalkan Felix ditempat itu.


***


Sementara itu, Elena yang masih kesal akhirnya membeli gulali. hingga sesosok orang tertangkap Indra pengelihatan nya. Elena terus memperhatikan nya sampai penjual itu memberikan gulali miliknya.


"terimakasih" ucap Elena tersenyum manis sambil memberikan uang untuk membayar.


"sama-sama nona, datang lagi" ucap penjual itu ramah.


Elena hanya mengangguk. Elena mendekati Nick yang saat ini bersama dengan wanita yang tidak dia kenal. sudah pemandangan biasa jika melihat Nick selalu bergonta-ganti pasangan.


Namun yang ini berbeda, Nick terlihat baik dan ramah pada wanita itu berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya membuat dada Elena sesak, seakan ada ribuan batu yang menimpanya. bahkan mereka tertawa bersama-sama. untuk memastikan sesuatu yang mengganjal hatinya, Elena pun mendekat dan membuat perhatian Nick dan wanita itu teralihkan.


"Elena" ucap Nick pelan. beberapa detik kemudian dia tersenyum menyeringai, yang tadi tangannya menggenggam erat tangan wanita itu, kini sudah beralih. memeluk pinggang ramping nya.


"ehm, kak Nick. kebetulan sekali ya. kita bertemu disini" ucap Elena melihat tangan Nick melingkar di pinggang nya.


"eh, iya" ucap Nick terkekeh dibuat-buat. kini tatapan hangatnya beralih kearah wanita itu.


"kalian belum saling kenal kan, sayang?" pertanyaan Nick berhasil membuat Elena menggenggam erat tangkai gulali miliknya.


wanita itu hanya tersenyum manis dan menggeleng-gelengkan kepalanya. bahkan tatapan hangat itu tak pernah ditunjukkan nya pada Elena.


kini tatapan Nick beralih ke arah Elena yang masih berdiri "dan Elena, ini Mey. CALON ISTERI KU" ucap Nick penuh penekanan.


JEDERRRRR....


Rasanya petir menyambar Elena saat ini. mendengar kata CALON ISTERI KU, membuat nya tak berkutik. samar-samar air matanya itu menetes, tapi dengan cepat Elena menepisnya dan membuat senyum palsu pada Nick dan Mey.


"ooh, senang berkenalan dengan anda, nona Mey" ucap Elena menyodorkan tangannya yang kini sudah bergetar. dengan cepat Mey meraihnya dan tersenyum lembut.


"kenapa tangan anda bergetar nona Elena?" tanya Mey mengelusi punggung tangan Elena. cepat-cepat Elena menariknya kasar dan tersenyum palsu.


"ahh, mungkin aku kedinginan. oh ya, kalau begitu aku pamit pulang dulu. selamat menikmati waktu kebersamaan kalian" ucap Elena yang pergi berlari tanpa mendengar sahutan dari kedua orang tersebut.


***


Tangisan pilu itu membuat siapa saja ngilu, Elena kacau saat ini!


bahkan dia pergi meninggalkan Felix yang kini mencarinya. Elena menangis di taman kota sendirian. jam tangannya sudah menunjukkan pukul 21:18 malam.


"kenapa? kenapa kak nick melakukan semua ini padaku?" ucap Elena disela-sela tangisannya.


Elena hilang kendali!


sadar atau tidak, dia berjalan dari taman sampai didepan sebuah club malam di London. Elena masuk untuk pertama kalinya, tak peduli banyak laki-laki yang kini melihatnya dengan tatapan nafsu. Elena memesan banyak sekali minuman dan meneguknya. berharap semua kenyataan yang baru saja dia hadapi itu hanya mimpi.


Saat kesadaran sudah mulai terbang, seorang laki-laki asing kini mendatangi Elena dan duduk disampingnya.


"hai" sapa laki-laki itu yang mencoba memegang tangan Elena, tapi ditepis kasar oleh Elena.


"pergi lah" ketus Elena marah. laki-laki itu tidak menyerah. dia lebih mendekatkan dirinya dengan Elena, mencoba mencium bibir perempuan itu. namun baru saja menarik pinggang Elena, sebuah tangan kekar menangkap tangan laki-laki itu.


laki-laki itu melihat kearah siapa yang kini menahan tangannya. "apa masalahmu, bung?" tanya laki-laki asing itu marah.


"kau masalahku" jawab nya yang tiba-tiba mendaratkan pukulan telak diwajah laki-laki asing itu. tak terima, laki-laki yang menyentuh Elena tadi pun menghajarnya. perkelahian diantara mereka pun terjadi hingga membuat sang manager club malam itu datang.


betapa terkejutnya manager club malam itu melihat siapa pria didepannya itu "Tu-tuan Mike?" ucapnya terbata-bata. ketakutan melanda manager club malam itu.


Ya, Mike lah yang datang. dia baru saja tiba di Inggris, dan langsung pergi ke club malam itu untuk menghadiri pertemuan para petinggi perusahaan besar keluarga Devian menggantikan Felix yang malas pergi. semua orang mengenal Mike adalah sebagai CEO Devian Group dan Presdir nya adalah Felix.


orang yang ditakutkan kedua setelah Felix adalah Mike.


Mike yang mengubris perkataan manager club malam yang diketahui bernama Ashley.


Mike berbalik menghadap Elena yang kini sudah tak sadarkan diri akibat efek minuman beralkohol itu. Mike mendekat dan menyingkirkan beberapa anak rambut dan menatap mata sembab Elena, diyakini Elena baru saja menangis.


Pias-lah muka Ashley, ketika melihat Mike menggendong Elena. dia yakin bahwa wanita itu adalah kekasih nya Mike. tapi yang lebih menakutkan setelah nya.


"apa kau tidak tahu siapa siapa wanita ini?" tanya Mike dingin, Ashley hanya menundukkan kepalanya dan menggeleng.


"dia adalah putri satu-satunya dari tuan besar Devian" perkataan Mike berhasil membuat Ashley hampir saja mati berdiri. Devian, nama itu juga membuat beberapa orang disana terkejut bukan main. beberapa dari mereka langsung berhamburan keluar dan pergi meninggalkan tempat itu.


"apa kau tidak takut mati ditangan Felix?" tanyanya tersenyum mengejek. Mike pergi meninggalkan tempat itu dengan amarah. entah kenapa dia begitu marah, melihat Elena yang hampir saja ternodai oleh laki-laki yang sudah babak belur tadi.


Mike menggendong Elena sampai ke parkiran dan membawanya duduk di kursi depan mobil sport nya. dipandanginya wajah wanita itu dari dekat.


"gadis bodoh" makinya sambil menekan jarinya kearah kepala Elena hingga memerah. dia begitu marah dan kesal, tapi tidak tahu kanapa. Mike menarik tubuh nya hingga tegap dan menutup pintu mobilnya dengan kasar.


saat ingin melangkah, tiba-tiba ada seseorang berpakaian serba hitam mendekati nya.


"tuan" ucap orang itu yang sebelumnya membungkukkan badannya sebentar.


"ada apa?" tanya Mike dingin.


"pemuda yang ingin mencelakakan nona Elena sudah ditangkap" jawabnya


"bawa kemarkas, siksa dia semalaman, tapi jangan sampai tewas. aku sendiri yang akan membunuhnya" perintah Mike. pria itupun langsung pergi melaksanakan tugasnya.


Mike mengambil gadgetnya dan menelepon seseorang,


". . . . ."


"ratakan tempat ini" ucap Mike yang langsung mematikan ponselnya dan menyimpan nya ditempat sebelumnya.


"tak akan kubiarkan kau lolos" sumpah Mike menatap Elena tajam.


****


IKUTI TERUS YAKKK