
Terasa lega mendengar nya. Elena sudah mau makan walaupun dengan sedikit paksaan Mike. kini mereka berdua berada diruang Presdir milik Felix.
"mau sampai kapan kita berada di Inggris, kau tahu kan kantor pusat berada di Amerika. dan aku dengar tikus-tikus itu sudah muncul ke permukaan dan bermain-main dengan bebas" ucap Mike yang datang dengan berkas ditangan nya mengenai perusahaan utama yang mengalami keguncangan akibat sang Presdir dan CEO yang paling ditakuti pergi begitu lama.
Felix memberhentikan jemarinya yang sedang mengotak-atik keyboard laptop mahal itu. Felix menatap dingin kearah Mike, memang benar dia harus kembali, namun bagaimana dengan urusan nya yang ada disini. belum lagi Serena yang selalu membuat onar dengan mengatasnamakan dirinya untuk membuat siapa saja takut.
"akan ku suruh Daniel untuk memegang perusahaan yang di Amerika, sementara" ucap Felix dingin. Mike mendesah kecil, pria tampan itu melangkahkan kakinya kerah sofa dan duduk dengan melipat kedua tangannya di dada.
"mau sampai kapan kau akan mengurus hidupnya?" tanya Mike yang mulai bosan menghadapi Felix yang keras kepala.
"siapa?" tanya Felix acuh.
"kau tahu siapa yang ku maksud! sebaiknya kau hentikan semuanya, dia selalu dipermalukan di depan umum karena mu!" seru Mike kesal. "dan aku dengar juga, ada seseorang yang menyatakan cintanya pada nona Audrey" ucap Mike tersenyum smirk melihat perubahan wajah Felix, tampak dia lebih dingin lagi. hal tersebut membuat Mike lebih yakin Felix masih mencintainya, namun enggan mengatakan nya.
"lepas saja dia jika kau sudah tidak mencintai nya lagi" ucap Mike lagi. Felix menoleh kearah Mike dengan tatapan membunuh.
"kau menyuruhku melepaskan orang yang selama ini aku benci?" tanya Felix tersenyum iblis.
"kau mencintai nya dan jangan mengelak!" seru Mike sebelum pergi dari sana, dia kesal setengah mati melihat kemunafikan Felix yang akan berdampak padanya juga. huh, sangat merepotkan!
Felix mematung mendengar nya, sahabat serta bawahannya kini sudah berani menentang nya dan membela wanita itu. apa dia sudah salah selama ini?
Felix menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir prasangka-prasangka yang akan membuat nya pusing. pria itu mulai melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. namun, bayangan-bayangan Audrey yang tersenyum ketika bersama dengan pria lain, membuat nya marah.
cara melampiaskan kemarahannya yaitu dengan cara marah-marah pada Audrey sendiri dan menyiksa perempuan itu dengan kalimat-kalimat yang menyakitkan.
Disaat masih memikirkan carnya agar membuat Audrey tetap disisinya. tiba-tiba ketukan pintu membuat Felix tersadar. Ketika baru saja Felix menyaut, pintu terbuka dengan lebarnya dan menampakan Dany yang datang.
"apa?" tanya Felix dingin.
"nona Serena memaksa masuk tuan, dia bahkan memukul para petugas keamanan yang berjaga" jawab Dany khawatir dengan respon majikannya. namun, tak diduga Felix malah menjawab...
"suruh dia masuk dan jangan buat keributan!" ucap Felix melanjutkan ketikan demi ketikan di keyboard laptop itu. Dany cukup terkejut namun dengan cepat keluar untuk memanggil Serena.
KREAT....
pintu terbuka lebar tanpa diminta dan menampakan sosok Serena yang kini tersenyum manis dan sengaja membuka kancing atas kemejanya guna merayu Felix. melihat itu Felix tersenyum miring.
"baby" panggil Serena berlari kecil dan duduk tepat di pangkuan Felix seraya mengalungkan tangannya ke leher Felix.
"ada apa kau kemari?" tanya Felix dengan dinginnya.
"aku ingin menghabiskan waktu terakhir ku di Inggris sebelum pulang ke Jerman, baby" jawab Serena manja. mendengar perkataan Serena membuat wajah Felix terlihat sedikit senang
"benarkah?" tanya Felix memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"iya, tiga jam lagi aku akan terbang ke Jerman" jawab Serena mengecup pipi Felix dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Felix.
"kenapa tidak pergi ke bendahara?" tanya Felix sedikit lembut namun penuh dengan penekanan.
"masih lama lagi baby, jadi aku akan bermain-main sebentar denganmu" jawab Serena mencium leher Felix hingga membuat bekas memerah disana. Felix memejamkan matanya menikmati apa yang akan dilakukan Serena kali ini.
Bohong jika dikatakan Felix tak pernah melakukan hal lebih pada Serena. Serena adalah wanita pertama bagi Felix yang pernah dia tiduri, namun tidak bagi Serena. Felix adalah orang kesekian baginya.
Setelah kepergian Audrey, rasa hampa dan frustasi menghantui dirinya setiap saat. dia mencintai Audrey namun Audrey telah pergi meninggalkan sejuta luka di masa itu. Dengan demikian Felix jadi sering mendatangi club malam untuk mencari kesenangan dunia, namun tak ada yang membuat nya terpancing.
Cinta nya membuat nya gila dengan semua hal!
tak ada yang salah atau pun baik bagi hidupnya. ****, pembunuhan dan penyiksaan, itulah yang selalu dia kerjakan disela-sela kesibukannya menjadi Presdir kerajaan keluarga Devian.
Di ruangan itu hanya terdengar suara orang yang sedang bersetubuh. tak ada yang berani masuk, maupun itu Mike. dia tahu Felix sedang berusaha melupakan rasa nya yang membuat nya mati.
***
KREAT...
pintu itu terbuka dengan lebarnya. berdiri lah Eric dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk seniornya dulu.
Mark melihat Eric datang dengan raut wajah datar.
"makanan anda senior" ucap Eric yang menundukkan kepalanya sebentar lalu meletakkan makanan tersebut dimeja lipat depan Mark.
"kenapa harus selalu bubur dan bubur?" tanya Mark kesal. namun pria bermata biru itu memakannya juga hingga membuat Eric terkekeh kecil.
"jangan lupa umur senior!" seru Eric tersenyum mengejek. Mark memberhentikan makannya dan melempar tatapan mematikan pada Eric.
"tutup mulutmu, karena aku masih muda! dan ingat aku bukan lagi senior mu!" ketus Mark melanjutkan makannya.
"hehehe, mau bagaimana pun anda lah yang mengajarkan ku tentang segalanya di dunia ini. jadi mau anda membenci ku ataupun membunuh ku, aku sama sekali tidak peduli karena kau tetaplah senior yang aku banggakan!" tutur Eric tagas, tak ada jeda dari ucapannya tersenyum hingga membuat Mark bangga pada Eric yang terlihat dewasa. namun tetap saja, Mark tidak akan mau menunjukkan perasaan nya sebenarnya pada mantan muridnya itu.
"terserah" ketus Mark membuang muka. Eric hanya tersenyum tipis dan mengangkat kedua bahunya acuh. "bagaimana dengan kedua adik perempuan ku?" tanya Mark mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Eric menurunkan ponsel yang dimainkan dan menatap sang senior. "aku menjaga ily dengan baik" jawab Eric mantap.
"ily?" tanya Mark mengerutkan keningnya. asing dengan nama itu.
"Audrey Emily Smith, nama panggilan sebenarnya adalah ily." jawab Eric tersenyum
"oh ya, aku lupa. kau kan sahabat kecilnya bukan?" tanya Mark . Eric hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Mark. "dan Mey?" tanya Mark kembali.
"rekan ku mencintai nya, aku dengar Nick akan menjadi kan Mey istrinya. tak ada yang perlu dikhawatirkan" jawab Eric mengingat pengakuan Nick kepadanya dan Mike. bahwa Nick mencintai Mey, namun pria itu tidak tahu apa yang dirasakan Mey saat ini padanya. sungguh prihatin!
"baguslah, jika kalian menyakiti salah satu dari mereka, aku tidak akan menjamin kalian akan mendapat kontrakkan hidup dari Tuhan lebih lama lagi!" ucap Mark tegas. Eric dapat melihat sebuah ketakutan yang meyerang diri Mark ketika membicarakan Audrey dan Mey.
"kau sudah mengganggap mereka sebagai adikmu sendiri ya senior" ucap Eric tersenyum
"tentu, karena mereka yang aku punya selama ini." jawab Mark menyimpan piring nya dan menghabiskan air minum hingga tandas.
"baiklah, aku akan keluar. istirahat yang banyak senior, karena lukamu masih belum benar-benar pulih sepenuhnya" ucap Eric menundukkan kepalanya sebentar sambil membawa nampan yang sudah habis makanannya.
"Tor" panggil Mark hingga membuat Eric memberhentikan langkahnya yang nyaris keluar pintu. laki-laki itu berbalik menatap Mark yang kini menatapnya dalam.
"terimakasih dan maaf tentang semuanya" ucap Mark sedikit ketus tapi Eric melihat ketulusan dari mata Mark.
"sama-sama senior, tak usah segan untuk meminta bantuan ku. karena Tor tetaplah Tor, walaupun orang lain memanggil ku Eric" ucap Eric yang pergi setelah mengatakan itu.
Mark hanya diam tak membalas. setelah ini dia harus memikirkan luka-luka nya yang masih belum sembuh untuk membuat the prickly red rose kembali lagi ke tangannya meskipun nanti akan melawan bahkan membunuh Eric, karena mafia tetaplah mafia yang akan tetap mempertahankan kelompok nya walaupun apa yang terjadi dimasa yang akan datang.
"maafkan aku Tor" gumam Mark pelan sambil menghela nafasnya berat. pun diikuti dengan tertutup nya kelopak mata itu.