We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Penyamaran Felix



Saat baru saja tiba di mansion Mark, Audrey langsung menuju kamar nya, tetapi baru membuka pintu kamar tiba-tiba terdengar suara ledakan yang begitu besar. Audrey yang mendengar nya pun langsung turun kebawah dan melihat apa yang terjadi.


saat melihat hal itu, rupanya pada musuh menerobos masuk karena tak bisa sebab itulah mereka menggunakan bahan peledak untuk membuat gerbang utama hancur, dan benar saja mereka masuk. sangat banyak jumlahnya, kira-kira ada sekitar 100 orang yang mengepung mansion tersebut.


Audrey bingung bagaimana cara menghabisi mereka karena didalam mansion itu hanya ada Audrey dan beberapa pelayan wanita karena penjaga masih berada di markas utama dan para pelayan lainya diperintahkan untuk menjalankan pelatihan rutin di luar ruangan.


"kalian semua sembunyi lah, aku yang akan menghadapi mereka" perintah Audrey pada para pelayan itu


"tapi nona, kami tidak bisa meninggalkan anda begitu saja" kata salah seorang dari mereka


"hari ini aku tidak ingin melihat korban lagi, jadi biar aku yang akan menghadapi mereka" ucap Audrey dingin sambil merakit pistol yang tadi sempat diambilnya dari ruang khusus senjata api.


"tapi nona..." ucapan pelayan itu langsung di potong.


"pergi atau kau yang akan ku habisi" ucap Audrey menondongkan pistol itu kearah pelayanan yang membantah perintah nya.


"baik nona" ucap mereka gemetaran karena ketakutan. mereka pun langsung pergi dan bersembunyi di ruang bawah tanah.


"keluarlah nona AES" teriakan itu berasal dari luar. tak menunggu lama Audrey pun keluar tak lupa memakai topeng agar wajahnya tidak terlihat.


"wah-wah, ini dia bintang utamanya" ucap dari mereka bertepuk tangan dan tertawa sinis. melihat itu yang lain juga ikut tertawa sinis.


"apa mau kalian?" tanya Audrey dingin dan langsung disambut tawa merendahkan dari mereka.


"tentu saja membunuh mu!" seru salah satu dari mereka yang duduk di kursi yang telah disediakan oleh bawahannya.


'sepertinya itu pimpinan nya' batin Audrey melihat intens orang itu.


"hanya datang disaat aku sendiri?. cihh, menyedihkan!" ejek Audrey sengaja memancing amarah orang itu.


"kau..." langsung bangkit dan menunjuk jarinya kearah Audrey


"apa?. yang ku katakan itu benar kan!." seru Audrey tak mau kalah.


"bos tenanglah, dia hanya memancing amarah mu" ucap bawahannya itu. tampak dia mulai duduk dan mengatur nafasnya yang tadi sempat terpancing emosi.


"hah, begitu saja sudah marah, bagaimana jika kita bertarung tapi tanpa menggunakan senjata?" tanya Audrey antusias


"kau menjebak ku?" tanya nya curiga.


"mana mungkin aku menjebakmu. aku tidak akan berani" jawab Audrey enteng


"aku tidak percaya, aku dengar kau adalah wanita yang licik" tolak pria itu


"bagaimana jika yang menang akan mendapatkan hadiah dan yang kalah akan mendapatkan hukuman, apa kau mau?. jika kau menolak berarti kau adalah pria lemah. masa, sama perempuan aja kalah, dasar pengecut" ucapan Audrey membuat pria itu marah.


"baiklah aku terima, tapi jika aku yang menang. kau harus menjadi wanita ku" ucap pria itu tersenyum menggoda


"oke tapi jika aku yang menang kau harus menjadi makanan peliharaan kesayangan ku" ucap Audrey tersenyum menyeringai. itu membuat semua orang disana meneguk ludah nya kasar karena telah melihat senyuman Audrey yang mencurigakan.


"bos, sebaiknya jangan lakukan itu. dia adalah wanita yang licik" bisik bawahan pria itu


"jadi kau mengira aku adalah pria yang lemah" ucap pria itu menatap tajam kearah bawahannya itu.


"bukan begitu bos, tetapi..."


"diamlah jika kau masih ingat hidup" potong pria itu


"mari ikut aku ke taman belakang, karena ada disana area bertarung yang luas" ucap Audrey tersenyum devil


"baiklah"


mereka semua ada disana


'kenapa Joshua lama sekali, aku tidak mungkin membunuhnya.' batin Audrey


"kita mulai" kata Audrey. "oke"


Mereka pun bertarung adu tinju dan kekuatan.


pria itu sangat kuat bahkan kekuatan nya lebih dominan dibandingkan Audrey, tetapi karena Audrey sangat lincah maka dia bisa selalu menghindar akan serangan pria itu.


"ternyata tak ku sangka, nona AES terlalu lemah jika dibandingkan dengan hamba" ejek pria itu tertawa merendahkan, mereka pun juga ikut tertawa


"ini baru permulaan badebah'" seru Audrey kesal


"oh ya, tapi kulihat nona AES mulai letih dengan semua seranganku. bagaimana jika anda meyerah saja" kata pria itu


"di dalam kamus ku, tidak ada kata menyerah" saut Audrey dingin.


karena kesal Audrey pun langsung menghajarnya tanpa henti, pria itu pun terkejut saat audrey menyerangnya tanpa aba-aba. Audrey sudah dipenuhi amarah karena ucapan pria itu alhasil pria itu kalah dengan wajah yang berlumuran darah.


orang-orang disana hanya diam dan menyaksikan kejadian itu, mereka tidak berani ikut-ikutan. Audrey langsung mengeluarkan pistol nya dan mengarahkannya tepat berada di kepala pria itu.


"hahahaha, tembaklah aku karena sebentar lagi kau juga akan kalah di tangan bos kami!" ucap pria itu pelan tak lupa dia juga tertawa


"disaat seperti ini, kau masih bisa tertawa?,


sungguh gila" kata Audrey heran pada orang yang sudah sekarat ini dan tiba-tiba


Dor


Dor


Dor


Dor


buk...


buk...


buk..


Joshua datang tepat waktu bersamaan dengan para penjaga dan terjadi lah baku hantam yang sampai melibatkan nyawa. diantara semua musuh hanya tinggal lima orang yang tersisa dari mereka, itupun sudah sangat sekarat


"apa anda baik-baik saja nona?" tanya Joshua panik


"aku tidak apa-apa Josh" menepuk pelan pundak Joshua


"maaf nona kami terlambat karena kami juga tadi sempat diserang dan nona Mey juga tadi sempat diserang oleh mereka" ucap Joshua


"Mey,, jadi bagaimana keadaannya?" tanya Audrey cemas


"anda tidak perlu khawatir nona, saat ini nona Mey ataupun tuan Mark baik-baik saja" jawab Joshua


"syukurlah,, aku masuk dulu dan bereskan mereka" titah Audrey sambil melirik sebentar kearah nyawa-nyawa yang sudah melayang itu


"baik nona, selamat sore" ucap Joshua.


Audrey langsung masuk ke kamarnya dan menjatuhkan kasar badan nya ke ranjang.


"kira-kira siapa yang mengirim mereka kemarin?" tanya Audrey pada dirinya sendiri.


"huuh, banyak sekali teka-teki yang harus ku temukan. belum lagi pemimpin sebenarnya the lotusha black. kira-kira siapa wanita itu dan dendam apa yang dia punya terhadap ku."


Audrey sibuk dengan pemikirannya sendiri dan tak beberapa lama diapun terlelap karena kelelahan.


Tidak ada yang sadar bahwa dari tadi mereka sudah diawasi Felix, ya dia adalah orang yang mengirim orang-orang itu untuk menyerang Audrey, Joshua dan Mey.


"permainan masih baru dimulai sayang" ucap Felix yang memang sengaja menyamar menjadi salah satu penjaga mansion itu.


Audrey terbangun karena mendengar suara dering ponsel, diapun mengangkatnya dan ternyata itu dari Mey. Mey mengatakan bahwa operasi Mark berjalan baik dan kemungkinan Mark akan sadar besok pagi, tapi dia tidak boleh pulang dulu karena lukanya masih belum benar-benar pulih.


Audrey ingin menyusul ke sana tetapi Mey melarang nya dan mengatakan agar datang besok setelah selesai kuliah. Audrey pasrah dan mengiyakan permintaan Mey.


setelah itu Audrey bersih-bersih dan turun dan makan malam, makan malam saat ini sangat sepi karena Mey dan Mark tidak ada.


saat tiba dibawah, entah mengapa jantung Audrey berpacu dengan cepat.


'ada apa dengan ku' batin Audrey


kejadian itu tak luput dari pandangan Felix yang saat ini masih menyamar. Felix terus memperhatikan nya dan membuat Joshua tak senang melihat nya


"kau lihat apa?" tanya Joshua tak senang


'sepertinya laki-laki ini menyimpan rasa padanya' batin Felix yang masih melihat Joshua


"jawab!" seru Joshua yang mulai kesal


"maaf tuan, tapi sepertinya nona AES sedang tidak enak badan" jawab Felix yang agak merubah gaya bicara nya agar tidak mudah dikenali.


"bukan urusan mu!" ketus Joshua yang menghampiri Audrey


"anda baik-baik saja nona?" tanya Joshua khawatir


"aku baik Josh, tak usah khawatir" jawab Audrey tersenyum


"jika ada apa-apa tolong beri tahu saya" ucap Joshua


"baiklah" ucap Audrey


melihat kedekatan Audrey dan Joshua, entah mengapa membuat Felix ingin marah saja, seketika dia ingat dengan Antonio.


'kenapa denganku' batin Felix yang langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah