
keesokan harinya, seperti biasa. Audrey dan Elena pergi ke kampus, kali ini mereka diantar Mike karena Nick mempunyai urusan. ntah apa urusannya nya pun, hanya dia dan tuhan yang tahu. sepanjang perjalanan pun Audrey terhibur dengan tontonan gratis tentang pertengkaran lucu Antara Mike dan Elena.
Mike yang secara tidak langsung terus saja membuat gadis Asia itu terus saja mengoceh tak jelas.
"kenapa kau sangat kaku, apa ada nanti wanita yang mau menikah dengan mu!" ejek Elena membalas perkataan Mike yang membuatnya kesal tadi.
"seperti nya anda sangat penasaran dengan kehidupan saya nona Elena Devian" jawab Mike kesal bahkan dia sudah berkata formal sekarang.
"kalau iya memangnya kenapa, aku hanya khawatir kau nanti akan menjadi pria tua tanpa ada istri" ucap Elena yang tertawan penuh kemenangan, sedangkan Audrey hanya menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah Elena.
"apa kaca dikamar anda kurang besar nona? jika iya, maka akan saya kirimkan dua kali lipat nanti" Mike tersenyum puas melihat dari spion mobil, wajah wanita itu tampak memerah menahan amarahnya.
"kau.." tunjuk Elena geram, dia maju sedikit ke depan ingin mencekik leher Mike. namun tiba-tiba Audrey menarik nya kasar.
"kau gila!, jika kau mencekiknya. bukan hanya dia yang mati tapi kita akan mati!. ini jalan raya" seru Audrey
"dia membuat ku kesal adik ipar, kenapa kau malah membela nya?" tanya Elena kesal menepis tangan Audrey yang ingin menyentuh nya.
"aku bukan membelanya Elena. coba kau pikirkan, jika dia mati maka akan jadi apa kita didalam mobil yang masih melaju di jalan raya" ucap Audrey malas meladeni sifat kekanak-kanakan Elena.
"huh" Elena menatap sebal laki-laki yang kini tersenyum tipis didepannya, ingin sekali dia menghancurkan wajah menyebalkan itu.
"kali ini kau selamat manusia Monster" seru Elena membuang muka ke arah jendela.
Setelah kejadian itu, hanya ada kesenyapan didalam mobil. ketiga anak manusia itu tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Audrey kini memikirkan perkataan Felix kemarin. jika kau berani kabur dari ku, bukan hanya temanmu itu yang hancur tapi aku juga akan menghancurkan reputasi mu, dasar sampah!. itulah yang di katakan Felix pada Audrey.
'apa yang harus aku lakukan sekarang? apakah aku harus meneruskan balas dendam ini atau apakah aku harus meyakinkan mu bahwa aku sama sekali tidak melakukan apa-apa dengan Antonio?.' batin Audrey bertanya-tanya.
tak terasa akhirnya mereka sampai juga didepan kampus, tanpa diminta Audrey turun sendiri nya dengan wajah muram. dia hanya diam dan menatap kosong ke sembarang arah hingga membuat Mike penasaran apa yang sedang dipikirkan wanita itu. tak ingin ambil pusing dengan mengurus hidup orang lain, diapun langsung melanjutkan perjalanan nya ke cabang perusahaan yang terkena masalah.
saat berjalan pun Audrey tak sadar ada seseorang yang meneriaki namanya, karena kesal Maria pun mendekat dan menepuk bahu Audrey kuat hingga Audrey kaget bukan main.
"astaga" Audrey berbalik menatap Maria yang kini menatapnya dengan tatapan mematikan,
"hai, ada apa mar?" tanya Audrey cengengesan, dia tahu temannya kini sedang kesal.
"ada apa, ada apa. kau yang kenapa? dari tadi melamun saja!" seru Maria memukul pelan kepala Audrey.
"hehehe, tadi aku kurang tidur jadi aku sedang memikirkan bagaimana setelah pulang kuliah nanti aku akan tidur hingga pagi" bohong Audrey yang tidak masuk akal sehat seorang Maria.
"kau ini sakit atau apa?" memeriksa kepala Audrey yang tidak panas dan setelah itu, plak.
pukulan lebih keras lagi mendarat di kepala Audrey.
"aduh" ringis Audrey memegang kepalanya yang sakit "kau ini apa-apaan? memukul kepala orang sembarangan!" seru Audrey kesal
"banyak omong" ketus Maria seraya menarik tangan Audrey memasuki kelas.
memang begitulah pertemanan Audrey dan Maria, meskipun ada masalah dalam pertemanan mereka, mereka selalu saling memaafkan satu sama lain.
***
Apa kalian tahu apa yang sedang Nick lakukan sekarang?. Nick yang kini tak henti-hentinya memata-matai toko kue Mey berharap sang nona penembak nya itu keluar dari tempat persembunyiannya.
ehh, sejak kapan Mey menjadi nona penembak nya Nick?. entahlah, hanya Nick seorang yang tahu.
berjam-jam berlalu tapi seperti kemarin tak ada tanda-tanda bahwa Mey datang. itu membuat Nick kesal dan menghubungi seseorang dari telepon nya.
"halo?"
"cepat cari keberadaan wanita penembak itu, jika sampai malam kau tidak tahu. rasakan akibatnya"
telepon diputuskan begitu saja oleh Nick, orang yang menerima perintah itu pun langsung bergerak cepat memenuhi permintaan konyol tuannya itu. jika tidak, maka gaji nya akan dipotong hingga setengah.
"kita akan bertemu nanti malam nona penembak" gumam Nick yang langsung pergi dari sana.
***
Jam kuliah pun berakhir, kini Audrey dan Maria sedang berbincang seperti biasanya di taman. tiba-tiba ada seseorang yang menarik kasar tangan Maria hingga membuat keduanya wanita itu kaget.
"ikut aku" ucap Eric dingin menatap Audrey dan berkata "aku pinjam temanmu sebentar" kata Eric yang langsung menarik tangan Maria menjauhi Audrey. Audrey menatap mereka aneh, seperti ada yang disembunyikan Maria darinya. saat itu juga Elena datang dan juga sempat melihat kedatangan Eric.
"bukankah itu kak Eric?" tanya Elena memicingkan matanya
"seperti nya ada yang tidak beres, ayo kita ikuti mereka" ajak Audrey yang penasaran
"ayo" ucap Elena bersemangat. mereka pun mengikuti Eric dan Maria diam-diam. dari penglihatan mereka, Maria yang tidak nyaman digandeng Eric. sedangkan Eric yang terus menarik kasar Maria bahkan tak segan untuk menyeretnya.
hingga Eric yang kesal karena dari tadi Maria mencoba untuk melepaskan tangan nya, kini melemparkannya ke tanah hingga membuat Maria meringis kesakitan. Audrey dan Elena terkejut bukan main dengan perlakuan Eric.
Maria bangkit dan menatap tajam Eric.
"bukankah kemarin sudah kukatakan jangan ganggu aku lagi Eric, hubungan kita sudah berakhir" teriak Maria marah, matanya pun kini sudah berkaca-kaca.
"hahha, harus ku katakan berapa kali padamu. kau yang datang sendiri di kehidupan ku nona Maria tidak akan kubiarkan kau pergi tanpa seizin ku. tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali Kematian" tawa Eric yang membuat siapa saja bergidik ngeri tak kecuali Elena namun tidak dengan Audrey.
"aku membenci mu Eric" teriak Maria yang kini sudah menangis dan mundur beberapa langkah ingin lari namun secepat kilat tangan Eric sudah menarik nya kuat hingga kepala gadis itu terbentur dengan dada bidang Eric.
"apa aku terlihat peduli?" tanya Eric tersenyum sinis, sambil mencekam kuat dagu Maria setelah itu mendorong nya lagi ke tanah. Maria hanya menangis, menatap benci ke arah Eric yang kini tersenyum sinis padanya. tidak ada lagi senyum, tatapan, dan pelukan hangat lagi dari pria Thailand itu.
Karena tempat itu sunyi, tanpa ada rasa kemanusiaan nya. Eric menyeret Maria menuju mobilnya, Audrey yang tidak tahan lagi dengan perilaku Eric pun mendekati mereka dan mendorong kasar Eric hingga dia mundur beberapa langkah.
"apa kau sudah gila?" bentak Audrey marah. melihat ekspresi Audrey, Eric pun lagi-lagi tersenyum sinis.
"apa?" tanya Eric santai mendekati Maria dengan tatapan aneh. Maria ketakutan, tubuhnya gemetar.
"jangan konyol Eric, kenapa kau menyeretnya. dia itu perempuan" seru Audrey menghalangi langkah Eric. Eric terhenti dan. Bugh, satu pukulan telak di wajah Audrey hingga membuat wanita itu tersungkur.
"Audrey!" teriak Elena keras dan berlari ke arah Audrey lalu membantunya berdiri.
"jangan ikut campur!" ucap Eric dingin dan setelah itu menyeret Maria lagi
"hiks..hiks. kumohon lepaskan aku Eric hiks..hiks.." pinta Maria ketakutan
"jangan menangis!" bentak Eric membantu Maria bangun dan mendorongnya kasar masuk kedalam mobil. Eric pun masuk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"sial, mereka sudah pergi" maki Audrey yang tadinya sudah berlari mengejar mobil Eric.
"kau becanda? dia itu temanku, bagaimana bisa aku membiarkannya terluka begitu" seru Audrey kesal
"jadi kau ingin melakukan apa sekarang?" tanya Elena
"aku akan mengikuti mereka" ucap Audrey memanggil taksi dan pergi menggunakan taksi, tanpa menghiraukan Elena yang panik karena Audrey yang nekat.
Elena pun langsung memanggil taksi dan menuju ke kantor Felix, karena Felix lah yang bisa menghalangi Eric yang saat ini gila.
Setibanya di sana, dia langsung berlari masuk tanpa bertanya pada resepsionis dimanakah ruangan Felix. resepsionis yang tidak mengenal Elena langsung memanggil petugas keamanan untuk menangkap Elena.
"apa-apa kalian ini. lepaskan aku sialan" maki Elena yang kesal ada yang menahannya untuk bertemu dengan kakaknya sendiri.
"maaf nona, apa anda kehabisan obat?" tanya salah seorang resepsionis itu menatap sinis ke arah Elena yang menurutnya aneh.
"heh, mulut sampah. aku ingin bertemu kakakku bodoh!" lagi-lagi Elena dibuat emosi dengan perkataan orang di depannya ini.
"hahha, memangnya kau siapa hah?" bentak nya mencekam dagu Elena kuat.
"Elena Alexa Devian, satu-satunya nona Devian" jawab seseorang yang baru saja datang dari lift, menatap dengan tatapan membunuh ke semua orang disana. mereka semua tanpak terkejut dengan siapa yang datang dan lebih terkejut nya lagi mendengar bahwa orang yang sedang mereka ejek itu adalah nona muda Devian.
"huh, untunglah kau datang kak Mike. lihat lah para serangga yang menjijikkan ini, aku tidak mau melihat mereka lagi" ucap Elena yang sengaja mengeraskan suara nya. orang-orang disana langsung takut, wajah mereka sudah berubah 180°.
"maaf kan kami nona, karena tidak mengenali Anda" ucap seseorang petugas keamanan yang tadi memegang tangan Elena.
"pergi" ucap Mike dingin, mereka pun langsung membungkuk kan badan dan pergi dari sana.
"apa yang membuat mu kesini" tanya nya pergi dari sana dan Elena pun mengekor.
"ini gawat, aku harus bertemu dengan kakak" ucap Elena yang kembali panik.
Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan tanpa permisi pada sekretaris Felix, Elena langsung masuk tanpa mengetuk pula.
"tidak sopan!" seru Felix yang sebenarnya juga terkejut dengan suara pintu terbuka menimbulkan suara keras.
"kak gawat, ini sangat gawat" ucap Elena dengan nafas tersengal-sengal
"bicara yang jelas" ketus Felix menatap tajam Elena
"Audrey..." belum sempat menyelesaikan perkataannya langsung dipotong oleh Felix.
"kenapa dengan nya?" tanya Felix yang langsung berdiri dari tempat duduknya. ntah kenapa ada rasa ketakutan dalam dirinya, yang memang dari tadi hatinya tak tenang.
Mike yang menyadari itu kini benar-benar yakin bahwa Felix masih mencintai Audrey.
Elena pun langsung menceritakan semua kejadian dari kedatangan Eric tadi, membuat Felix terkejut apalagi Mike.
"Eric sudah gila, ikut aku Mike." ucap Felix keluar tergesa-gesa dari ruangan nya.
"kak aku ikut!" teriak Elena mengejar kedua laki-laki yang kini sudah berlari.
***
Beberapa saat sebelumnya, Audrey membelalakkan matanya melihat mobil Eric yang berhenti disebuah hotel. pikirannya sudah kemana-mana. Audrey berlari masuk dan bertanya kepada resepsionis dimanakah kamar Eric. setelah tahu, diapun berlari seperti orang kesetanan dan setelah sampai dia menggedor-gedor pintu kamar tapi tak ada jawaban.
***
Setibanya di kamar, Eric melemparkannya Maria ke ranjang. matanya kini sudah menggelap, tatapan penuh amarah dan nafsu kini sudah menjadi satu.
"hiks.. hiks aku membenci mu Eric!" suara Maria kini sudah mulai habis karena sedari tadi hanya menangis.
"oh ya, kita lihat apakah kau akan membenci ku setelah ini" ucap Eric menatap penuh arti, dan tiba-tiba mencium kasar bibir Maria. Maria yang diperlakukan begitu, memukul keras Eric. namun usaha nya gagal karena kini tangannya sudah terkunci oleh tangan Eric. Maria terus dan terus memberontak tapi lagi-lagi usaha nya sia-sia. kini Eric sudah menindihnya.
Eric pun terus menciumi nya kasar, bukan hanya bibir, melainkan leher dan bahkan dada bagian atas yang sudah dibuka oleh Eric. Maria memakai baju kemeja, itu membuat Eric semakin mudah untuk melucuti pakaian Maria.
"hentikan Eric.. hiks..hiks..aku mohon... jangan lakukan ini... hiks..hiks.. aku takut" tangis Maria kini pecah. Eric seolah tuli dengan perkataan Maria, tak membuat nya berhenti.
"akh.." teriak Maria saat Eric menggigit telinga nya hingga merah.
"kau ingin pergi dariku kan, maka ayo kita lihat. apakah setelah ini kau akan pergi setelah mengandung anakku" bisik Eric sambil sebelah tangannya mengelus perut datar Maria sedangkan tangan yang satunya lagi memegang kedua tangan Maria diatas kepala.
"kau jahat Eric.. aku membenci mu sangat membenci mu" ucap Maria yang sudah ketakutan setengah mati ketika Eric melepaskan bajunya dan tampaklah tubuh sempurna tanpa celah itu. Maria langsung memalingkan wajahnya melihat dada bidang Eric yang terekspos didepan matanya.
"kau suka honey?" tanyanya dengan suara yang menggoda. dia kembali mencium bibir Maria tapi kini sudah lebih lembut dari sebelumnya. pikiran dan nafsu pun berperang, tak dipungkiri Maria ikut terbuai dengan perlakuan lembut Eric. Maria menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara yang nantinya akan membuat Eric menggila.
"keluarkan saja honey, tak usah ditahan" ucap Eric yang ingin membuka kancing baju Maria yang hanya tinggal beberapa saja tapi tiba-tiba ada sebuah gedoran yang keras hingga membuat Eric kesal.
diapun bangkit dan menyelimuti tubuh Maria dengan selimut, tak lupa memakai bajunya lagi dan keluar dari kamar.
ketika membuka pintu Eric langsung mendapat pukulan telak diwajahnya oleh Felix yang terlihat emosi. tanpa aba-aba Audrey langsung menerobos masuk dan melihat Maria yang kini ketakutan sambil menangis. Audrey mendekati nya dan memeluk nya erat.
"urus dia Mike" tak ingin tambah emosi dengan melihat wajah Eric. Felix langsung masuk memastikan sesuatu. dirinya begitu tersikap dengan Maria yang kini menangis dengan baju yang acak-acakan sedang memeluk Audrey.
"tenanglah aku disini" ucap Audrey menenangkan Maria.
"aku tunggu di bawah" ucap Felix yang mendapat anggukan kepala oleh Audrey.
***
Beberapa saat yang lalu,,
"Audrey!" teriak Elena berlari bersama kedua pria yang panik juga
"to,, long, Maria,, Eric,," ucap Audrey terbata-bata sambil menggenggam tangan Felix tanpa sadar. Felix pun tersikap melihat wajah Audrey yang membiru seperti bekas pukulan seseorang pikirannya. itu membuat Felix murka dan menggedor pintu kamar hotel itu.
Mike langsung pergi ke ruang CCTV dan mematikan seluruh CCTV disana agar tidak menimbulkan masalah nantinya. Elena mengikuti Mike, karena diapun sudah bingung ingin kemana.
***
Hai semuanya 🖐️
Jangan lupa like, komen and vote sebanyak-banyaknya ya..
maaf, kalau tulisan nya masih acak-acakan
mohon dukungannya:)