We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
aku rindu kak:(



mereka pun pergi dari hotel pukul 3 sore, karena mereka makan siang dahulu sebab itulah lama. tiga mobil mewah memasuki gerbang utama mansion Felix, para penjaga menyambut kedatangan mereka dengan hormat. Maria yang baru pertama kali datang berkunjung di sini, tertegun melihat kemewahan mansion Felix yang kelihatan menyeramkan.



mereka turun dan perhatian mereka tertuju pada pria berperawakan tinggi memakai kemeja warna putih sedang tersenyum menyeringai melihat kedatangan Eric. Eric yang melihat nya pun terpancing emosi karena senyum Gabriel yang menurutnya menjengkelkan itu.


Eric turun dan tanpa basa-basi menghajar habis Gabriel saat itu, Gabriel yang sudah menduganya pun juga menyerang Eric walaupun badan nya masih lemah karena kemarin. Audrey yang melihat lagi kejadian itu pun panik dan ingin ikut campur namun langsung di halangi oleh Felix.


"Gabriel!" panggil Audrey yang maju ingin menolong Gabriel, tangannya langsung dicekam Felix.


"jangan ikut campur!" seru Felix menajamkan matanya


"kau gila! mereka bisa mati bodoh!" maki Audrey yang dari tadi menahan rasa kesalnya


"kau ingin lukamu tambah parah?" tanya Felix sinis, Audrey bungkam tapi tak mungkin dia membiarkan Gabriel terluka. "biar mereka yang menyelesaikan sendiri masalahnya" ucap Felix yang tatapannya kini beralih pada mereka yang bertengkar.


Sebuah mobil mewah tampak datang dan turunlah kini pria yang ditunggu-tunggu oleh Felix, Felix yang melihat itu tersenyum tipis


"Gabriel" gumam Nick sambil menurunkan kaca mata hitam yang dipakainya dan langsung lari menopang Maria yang hampir terjatuh perkelahian Eric.


tampak mata Maria sudah berkaca-kaca menahan tangisnya, Nick membantu nya berdiri dan mendudukkannya di tempat duduk yang baru saja dibawa salah satu maid disana. Nick jongkok dan menghapus air mata Maria yang tumpah, sambil tersenyum


"tenanglah, aku akan menyadarkan Eric dari kegilaannya" ucap Nick sambil mengacak-acak rambut Maria lembut, diapun bangkit dan menghampiri mereka berdua.


Bug..


satu pukulan mendarat telak di wajah tampan Gabriel, setelah memukulnya. dipun menghampiri Eric dan...


Bug..


pukulan telak juga didapatkan Eric. Nick tersenyum sinis dan melihat mereka yang sudah tak berdaya lagi.


"ingin melanjutkan nya?" tanya Nick sambil mengambil rokok di sakunya dan menghisap nya. mereka diam tak membalas apa yang dikatakan Nick.


"apa kau lakukan disini Gabriel!" bentak Nick yang sudah terlanjur emosi, diapun membuang rokok yang baru saja dihisapnya dan menginjak-injak nya.


"dan kau Eric, kenapa kau memukul adikku?" bentak Nick menatap tajam Eric yang kini tersenyum sinis. semua terkejut dengan pernyataan yang Nick katakan termasuk Mike. pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenak nya kini terjawab sudah.


"wah-wah ternyata si brengsek ini adalah adikmu ya" seru Eric sambil tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. itu membuat Elena ketakutan dengan tawa Eric dan bersembunyi dipunggung Mike sambil memegang erat tangan Mike.


"kau kenapa bersembunyi di belakang ku?" tanya Mike pelan, tak ingin merusak momen menegangkan ini karena bagi nya momen ini adalah momen yang menarik.


"lihat lah cara kak Eric tertawa, itu sangat seram" jawab Elena berbisik semakin membuat Mike ingin tertawa dengan keluguan Elena.


"kau ini Putri seorang mafia dan juga adik dari penguasa dunia hitam Asia. tapi kenapa mendengar tawa yang biasa-biasa saja takut. dasar gadis aneh" ejek Mike berbisik merendahkan Elena, perempuan itu pun langsung mencubit kuat-kuat pinggang Mike yang berbalut kaos tipis. Mike yang terkejut pun berteriak tanpa sadar


"aduh" satu kata keramat yang dapat menjatuhkan harga diri seorang Mike yang dingin kini membuat semua orang syok mendengar jeritan manusia Monster itu.


Elena yang mendengar nya tersenyum puas dan menjauhi Mike yang kini menatap nya dengan pandangan mematikan.


"hei-hei bung, aku sedang marah disini Mike. kenapa kau malah ingin membuat orang tertawa?" tanya Nick protes sambil mengacak-acak rambutnya. Felix hanya menggelengkan kepalanya menatap tajam Elena yang kini cengengesan sambil berlari ke dalam mansion. takut dimarahin kakaknya.


"sudahlah, ayo masuk kita selesaikan masalah kalian, jangan seperti anak-anak" ucap Felix dingin dan melangkahkan kakinya menuju ke Mansion diikuti oleh mereka semua.


***


Kini mereka semua sudah berkumpul, tak ada percakapan semua bungkam sampai Nick berkata.


"jadi apa masalah nya?" tanya Nick yang melempar pertanyaan pada Maria. Maria yang ingin menjawab langsung dipotong oleh Gabriel.


"biar aku yang jelaskan" ucap Gabriel yang kini pandangan nya berpusat pada Eric yang menatap nya tajam


"laki-laki ini terlalu cemburuan" ucap Gabriel enteng sambil melipat kedua tangannya di dada.


"hei, jangan asal bicara kau bocah ingusan" seru Eric tak terima


"aku ingin pulang Audrey" ucap Maria menatap Audrey yang berdiri di belakang Maria.


"sebaiknya kita selesaikan dulu permasalahan ini sebelum semuanya menjadi lebih rumit nantinya" saran Mike yang sedari tadi memperhatikan Nick dan Gabriel.


"iya-iya, Mike benar jadi cerita kan siapa yang salah disini" ucap Nick membenarkan ucapan Mike.


"aku hanya mengantarkan Maria untuk pulang, tetapi belum juga sampai. jalan kami sudah dihalangi olehnya" ucap Gabriel menunjuk Eric


"bukankah Maria sudah menolak ajakan mu kemarin? lantas, kenapa kau malah memaksanya?" tanya Eric


"kau ingin tahu maksud ku?" tanya Gabriel menaikan sebelah alisnya, dia menghela nafasnya. "baiklah, akan aku beritahu. aku mengantarkan Maria pulang karena ingin tahu dimana tempat tinggal kakakku dan kak Audrey. karena saat pulang dari kampus aku tidak menemukan keberadaan kak Audrey, sebab itulah aku memaksa nya untuk ikut denganku. dan satu lagi yang harus kau tahu, aku sudah memiliki kekasih. jadi hilangkan pikiran tentang aku merebut pacar orang karena itu tidak akan pernah terjadi" penjelasan Gabriel membuat Eric tambah bersalah, dia menatap Maria yang kini membuang mukanya.


"sudah jelaskan? jadi ikut aku Gabriel" perintah Nick keluar dari mansion dan menuju ke taman. Gabriel mengikuti perintah nya.


"aku ikut, ayo Maria" ajak Audrey


"biarkan aku berbicara dengan nya" ucap Eric menghalangi Audrey. Audrey melirik Maria sebentar, dan Maria menganggukkan kepalanya.


"baiklah" ucap Audrey meninggalkan semua orang disana.


***


Taman belakang...


"jadi, kenapa kau sekarang jadi anak yang membangkang?" tanya Nick melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam Gabriel.


"bukankah kau juga seperti itu kak, aku hanya mengikuti apa yang kau lakukan. bukankah itu kebiasaan ku" jawab Gabriel menatap tajam Nick


"jangan ikuti aku, aku ini berandalan Gabriel" ucap Nick mengalihkan pandangannya


"punya hak apa kau melarang ku" ketus Gabriel


"pulanglah ke Italia" ucap Nick meninggalkan tempat itu tapi tiba-tiba terdengar suara Isak tangis adik laki-lakinya.


"Gabriel" panggil Audrey pelan menghampiri Gabriel dan memeluknya, Nick masih tak berbalik.


"jadi benar, kau pergi dari rumah karena aku" lirih Gabriel di sela-sela tangis nya


"buka..." ucapan Nick langsung dipotong Gabriel


"aku rindu kak" ucap Gabriel memberhentikan tangis nya, Audrey hanya mengelus-elus pucuk rambutnya. Nick menghampiri Gabriel dan memeluknya, Audrey yang melihat itu tersenyum dan menjauh. membiarkan kedua kakak beradik itu melepas rindu. ahh, dia jadi teringat pada Leon. kakaknya yang selalu menjahilinya dalam segalanya, Audrey menatap nanar kedua orang yang berpelukan itu.


"hapus air matamu, kau ini laki-laki atau perempuan" seru Nick memukul pelan bahu Gabriel. beberapa detik kemudian, terdengar suara tawa dari mereka berdua.


inilah kebiasaan mereka berdua, setelah berpelukan. mereka pun tertawa renyah sambil memukul pelan satu sama lain.


'andai kakak ada disini, aku pasti akan melakukan hal yang sama.' batin Audrey tersenyum getir.


dari kejauhan Felix menatap dingin mereka semuanya,,,


***


Halo semuanya ๐Ÿ–๏ธ


gimana ceritanya?


jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya ya..


love you all๐Ÿคฃ


thanks ๐Ÿ˜˜