We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Rencana Nick



"oh ya, tadi kau bilang ily berteman dengan kekasih mu itu?" tanya Nick


"iya, waktu di cefe Maria mengajak nona Audrey menemani nya untuk bertemu dengan ku" jawab Eric


"bagus, kalau begitu aku bisa memata-matainya dimana selama ini dia tinggal" ucap Nick


"bukannya besok kau akan mengantarkan Elena ke kampus?" tanya Eric


"oh iya ya, jadi gimana?" tanya nick


Seketika pandangan mereka berdua beralih pada Mike yang hanya diam menjadi pendengar setia. seolah mengerti dengan tatapan mereka Mike pun angkat suara


"malas" kata Mike


"ayolah Mike, ini demi masa depan adikku" pinta Nick


"dia benar Mike, kau tidak kasihan dengan psikopat gila ini?" tanya Eric dengan wajah memelas


Mike menghela nafas panjang sambil bersandar di sofa dan memejamkan matanya.


hening, satu kata itulah yang terjadi dia antara mereka bertiga sampai kurang lebih 15 menit baru lah Mike angkat bicara.


"baiklah" satu kata yang ingin didengar kedua manusia didepan nya yang sedari tadi menunggu


"terimakasih" ucap Nick dan Eric.


sangking bahagia nya Nick dan Eric memeluk Mike yang membuat Mike emosi dengan tingkah laku kedua sahabat nya yang aneh.


"lepaskan aku bodoh, kalian ini apa-apaan kenapa main peluk-peluk, aku ini masih waras. dasar aneh" umpat Mike yang melepaskan pelukan hangat dari kedua temannya itu dengan kasar. Mike keluar dari ruangan itu dan tak henti-hentinya mengumpat kesal yang akhirnya membuat Nick dan Eric tertawa terbahak-bahak.


"hahah, jika melihat dia jadi cerewet lucu juga yaa?" tanya Eric yang masih tertawa


"haha, kau benar. dia yang pendiam jadi cerewet begini menjadi hiburan tersendiri" jawab Nick yang akhirnya menghentikan tawanya


'ily semoga jalan yang kuambil ini bisa sedikit meringankan beban mu' batin Nick


"apa yang kau pikirkan?" tanya Eric


"gak ada" jawab Nick tersenyum


"jangan tersenyum seperti itu kau kelihatan seperti orang aneh" kata Eric


"maksud mu?"


"lupakan, aku mau tidur" kata Eric pergi meninggalkan Nick sendiri


"hey, tunggu" teriak Nick mengejar Eric


sesudah makan malam Mey menghampiri Audrey yang tampak gelisah mondar-mandir didalam kamar nya


"kau kenapa?" tanya Mey duduk di sisi ranjang Audrey


"kenapa perasaan ku tak enak ya?, aku khawatir dengan kak Mark. aku takut terjadi sesuatu yang.." ucapan Audrey terpotong


"berhenti bicara yang tidak-tidak Audrey" perintah Mey


"tapi kan..", ucapan Audrey lagi-lagi terpotong


"sudah lah jangan pikirin kan lagi, aku tahu kak mark. pasti dia bisa mengatasi masalah disana. jadi jangan bicara yang tidak-tidak" peringatan Mey.


Mey pun sama khawatir nya dengan Audrey, tetapi dia tak ingin menunjukkan wajah khawatir nya itu pada Audrey, karena jikalau dia pun ikut-ikutan khawatir yang ada malah membuat Audrey nekat menyusul Mark ke Belanda.


Audrey menghela nafas berat, benar apa yang dikatakan Mey. semakin dia khawatir semakin panjang juga urusannya nanti.


"baiklah" ucap Audrey lesu


"tidur lah, besok kau ada jam kuliah kan?" tanya Mey


"hmm" Audrey mengangguk


"aku keluar" pamit Mey yang pergi dari kamar audrey


'semoga saja apa yang dikatakan Mey benar' batin Audrey


markas Belanda


"kak seperti nya aku curiga, seperti nya ada yang janggal dengan dengan ini semua" ucap Daniel


"kau juga merasakan nya rupanya" kata Felix


"iya, aku aneh saja sih. kau bilang masalah di Austria lumayan besar tapi kenapa cepat sekali selesai nya?, baru saja beberapa jam lalu kak Nick tiba disana dan urusannya sudah selesai yang lebih aneh nya lagi kak, aku dengar dari mata-mata ku kak Nick itu seperti diusir dari Austria" jelas Daniel


"kau benar" jawab Felix singkat yang membuat Daniel kesal


"ck, lalu apa rencana mu" tanya Daniel


"kita tunggu sampai dia merasa dirinya itu pintar dan kita bodoh, baru setelah itu aku akan menjadi malaikat pencabut nyawa nya" kata Felix dingin


"terserah kau saja, tapi ku peringatan kan kau harus hati-hati" katus Daniel


"pasti" Jawab Felix angkuh