We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Harus Pergi



JEDER....


Petir terdengar sangat kuat hingga akhirnya membuat kesadaran wanita yang ada dalam selimut itu. Hina. itulah kata yang patut orang-orang lemparkan padanya. Felix tak memberi ampun padanya, antara nafsu dan amarah, semuanya bercampur jadi satu.


Audrey duduk dan memperhatikan seluruh ruangan itu, tidak ada kenampakan Felix disana, entah kemana ******** itu pun Audrey tidak tahu. pandangan nya kosong, matanya sembab karena kebanyakan menangis, tubuh nya penuh dengan tanda merah yang hina, belum lagi bagian bawahnya yang terasa sangat sakit.


Dilihatnya jam mewah berwarna emas yang mengantung didinding kamar itu, menunjukan pukul 02:47 dini hari. masih sangat pagi untuk bangun. kini tatapan sipit itu beralih pada bercak darah segar yang ada disisi ranjang nya. Seketika tangis Audrey kembali pecah. Harga dirinya sudah diinjak-injak, tidak ada lagi alasannya untuk mengharapkan orang yang disayangi nya kembali. kini hanya ada kebencian membunuh untuk Felix.


Dengan menahan rasa sakit yang teramat, kaki jenjang itu turun dari ranjang dan menyeret tubuhnya ke kamar mandi. walaupun tubuhnya sudah terbalut pakaian yang kebesaran, tapi rasanya tetap sama, sama-sama hina.


Dihidupkan nya Shower untuk membersihkan tubuh hina itu, namun ingatan Sialan itu tetap masih ada saja. Tangis pilu itu memenuhi kamar mandi mewah, Audrey menjambak rambutnya geram. Percuma saja dibersihkan.


Kini tekat nya sudah bulat. dia akan pergi dan tidak akan kembali lagi apapun yang terjadi. Audrey keluar dari kamar mandi dan pergi dari kamar utama Felix dengan masih dibaluti pakaian yang basah. Cepat-cepat Audrey berlari dan masuk ke kamar yang selama ini dia tempati.


Diganti nya pakaiannya dengan pakaian biasa. Audrey menatap dirinya di cermin dan air matanya kembali menetes. "aku harus pergi" ucap Audrey menghapus air mata sialan itu.


kini dia pergi keluar dengan tergesa-gesa. dia akan pergi sebelum Felix menemukan dan kembali menyiksanya. tapi tidak semudah itu, penjaga didepan menjaga dan menatap tajam kearah Audrey.


Salah satu dari kelima penjaga itu mendekati Audrey. "Silahkan masuk kembali nona, tuan Felix tidak mengizinkan anda unt--"


BUK


Audrey menendang keras dadanya menggunakan kaki dengan kuat hingga penjaga itu terlempar. tanpa banyak bicara Audrey melawan mereka melampiaskan semua emosi yang dia pendam. Rasa sakit beberapa jam yang lalu pun hanya angin lalu sekarang. benar-benar anak seorang mafia sejati.


Semuanya tumbang hanya dengan beberapa gerakan gesit dan lincah. Audrey menatap membunuh kepada mereka semua. Audrey mengeluarkan pistol dari balik jaket nya dan mengerahkan pada mereka..


***DOR..


DOR..


DOR..


DOR..


DOR***..


Semuanya meringis kesakitan. "pergi sebelum aku benar-benar membunuh kalian!" ucap Audrey tersenyum manis, mereka semua merinding melihat senyum itu. Sangat manis, namun mengerikan.


Audrey pun pergi menggunakan mobil yang sempat dia rebut kuncinya tadi. Tidak ingin membuat masalah lebih rumit, akhirnya merekapun menelepon Felix.


"Katakan"


"Maaf tuan, kami tidak bisa menghentikan nona Audrey"


"Maksud mu dia pergi?"


"i-iya tuan, ma--"


"Cepat kejar dia, jika tidak ditemukan maka nyawa kalian yang akan melayang!".


TUT...


"ada apa tuan?" tanya Dany menghampiri Felix yang menelepon seseorang keluar dari ruangan Elena. setelah ditemukannya gadis itu, Mike membawa nya ke rumah sakit untuk memeriksa apa saja yang dilakukan oleh penculik itu. wajah Felix tampak gusar, ada penyesalan, amarah, dan kecemasan dari raut wajahnya.


"kirimkan semua anggota kita untuk mencari Audrey!" perintah Felix tegas. Dany pun mengangguk mengerti dan pergi untuk ikut mencari Audrey.


"dia mau kemana?" tanya Mike memberikan segelas air putih pada Felix. pria itu menerimanya dan meneguknya kasar.


"mencari Audrey" jawab Felix singkat.


Mike mematung masih mencerna kata-kata yang dilontarkannya Felix. ketika sadar Mike pun menyipit kan matanya. "kau melakukan sesuatu padanya?" Tebak Mike membuat Felix mengangguk malas. "apa yang kau lakukan?" tanya Mike penasaran.


Felix menatap kosong kedepannya, mengingat kesalahan fatal yang dibuat nya karena emosi. Felix memejamkan matanya saat ingatan paling membekas itu menusuk jantung nya. darah itu mengalir segar, pun dengan Audrey yang berteriak kencang. tapi dengan gilanya Felix seakan tuli, tidak memikirkan apapun kecuali nafsu nya.


Setelah lama diam, akhirnya Felix memandang datar Mike. "aku Menyetubuhi nya" Jawaban temannya itu dapat membuat Mike membulatkan matanya tidak percaya.


***


Dengan santai nya Audrey mengambil granat yang sempat dia ambil di ruangan tersembunyi di mansion Felix.


Kini tidak lagi tangan yang menyetir melainkan kaki. Audrey menarik benda seperti jarum yang menandakan granat itu aktif dan dilemparkan nya keluar.


DUAR ...


Ledakan besar itu membakar ketiga mobil mewah itu. Audrey semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari pada sebelumnya. dini hari membuat jalanan agak sepi, jadi lebih mudah untuk nya kabur. tiga halangan sudah pergi kini dua sepeda motor besar menembaki Audrey.


dan aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakan pun terjadi.


"Sial!" teriak Audrey kesal.


***


32 Orang berotot mampu tepar tak berdaya dengan serangan licik dan seorang gadis manis seperti Audrey, Mike menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Semua anggota bloodthirsty yang mengejar Audrey, luka-luka. terpaksa sang pemimpin besar lah yang turun tangan. jika Nick dan Eric tahu tentang apa yang telah diperbuat Felix pada Audrey, maka sudah pasti nyawa Felix akan dalam bahaya. untunglah kedua pria itu masih sibuk untuk membunuh orang-orang yang menculik Elena. Mike pun tidak bisa berbuat apa-apa. setelah mendengar apa yang telah Felix lakukan, dia hanya dia menatap kosong kearah Elena yang tertidur layaknya bayi di brangkar rumah sakit.


CIT...


"Aw!" pekik Audrey mengelus-elus keningnya yang terpelantuk di stir mobil. Mobil sport berhenti didepannya dengan tiba-tiba. oh, gadis ini tahu siapa itu. Felix turun dengan aura yang ingin membunuhnya.


Entahlah, tapi saat ini Audrey dikuasai oleh ketakutan mengingat perlakuan yang dibuat Felix padanya. diambilnya pistol dan disembunyikan nya di balik jaket nya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.


***TOK..


TOK..


TOK***..


Felix menundukkan kepalanya dan menekuk jari-jari tangan kanannya dan mengetuk kaca mobil dengan kuat. "Turun!" ucap Felix dingin. Audrey diam saja mengalihkan pandangannya. "kau yang memilihnya!" ucap Felix setelah nya tersenyum menyeringai.


***BRAK...


CTAR***...


"Ahk.." teriak Audrey ketika melihat dengan kepala matanya sendiri Felix memukul dan memecahkan kaca mobilnya dengan tangan nya sendiri. gadis licik itu tidak kehabisan akal. saat tangan Felix ingin membuka pintu, cepat-cepat keluar dengan pintu yang ada disampingnya dan berlari kencang.


Felix tersenyum miring, entah apa yang dia maksud dari senyum itu. "kau yang menginginkan aku berbuat kasar!" Kata Felix berlari ke sisi lain .


Audrey berlari seperti orang kesetanan. lorong gelap yang membuat nya sedikit takut, tapi tidak ada pilihan lain. tubuhnya rasanya remuk ditimpa oleh ratusan bebatuan besar.


nafasnya memburu karena berlari. Audrey duduk sebentar sambil bersembunyi untuk memulihkan energi. "aku tidak boleh tertangkap! ayolah Audrey kenapa kau jadi takut saat melihatnya" gumam Audrey.


Baru saja ingin berdiri terdengar suara langkah kaki yang sangat nyaring. Audrey bersembunyi lagi untuk memastikan siapa yang datang. lorong gelap itu memiliki banyak jalan, membuat Audrey kebingungan dari mana asal suara itu. lama semakin lama suara itu terdengar semakin mendekat.


bulu kuduk nya berdiri, menyakini itu adalah manusia bukanlah setan, namun jika manusia pasti wujud nya pasti terlihat, tapi yang tidak terlihat?


"kau ketahuan, sayang!" bisikan itu refleks membuat Audrey berdiri dan menendang keras perut Felix. Felix mundur dua langkah sebelum terkekeh. "terkejut?" tanya Felix tersenyum miring.


Audrey mundur melihat Felix mendekati nya. "selangkah lagi kau maju, akan ku pastikan kau akan menyesal, Sialan!" teriak Audrey menutupi ketakutan nya. tangannya mulai gemetaran, apalagi hari yang gelam semakin membuat Audrey tidak bisa mengontrol rasa takutnya.


"apa kau takut? kemari lah, mendekat padaku" ucap Felix lembut


Audrey akhirnya berlari, namun naas ada batu yang membuat nya tersandung hingga jatuh tidak jauh dari posisi Felix. Felix semakin mendekat, dan ditangan kanannya sekarang sudah ada tongkat Baseball kesayangannya, yang kemarin dipakainya untuk membunuh. Audrey semakin ketakutan saja rasanya.


"pergi kau ********! dasar tidak tahu diri! aku bersumpah mengutuk mu kau tidak akan pernah bahagia lagi!" teriak Audrey memancing amarah Felix.


Tatapan Felix menggelap mendengarnya. mukanya yang semula lembut, kini berubah menjadi iblis berbentuk manusia tampan. "kutukan hanya omong kosong belaka, asal kau tahu itu!' bentak Felix mengayunkan tongkat Baseball nya dan mengarahkan pada kaki kanan Audrey.


"akhh..!" teriak Audrey sebelum tergeletak pingsan. Felix membuang tongkat Baseball nya kesembarang arah. dia berjongkok dan menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik Audrey yang dibanjiri air mata. setelah itu terdengar tawa keras sambil menepuk-nepuk pipi chubby Audrey.


"kau yang memulai nya, jadi jangan harap kau bisa pergi dari hidupku lagi. kau akan terikat bersama ku selamanya. sebelum malaikat pencabut nyawa yang menghampiri kita" ucap Felix menggendong Audrey dan membawanya pergi dari sana.


****


IKUTI TERUS YAKK:)