
Seorang pria kini terbaring tak berdaya di sebuah brangkar markas the bloodthirsty yang disulap menjadi rumah sakit. jika didalam markas itu seperti ruang perawatan, maka diluar seperti gedung kumuh.Mark, kini berbaring tak berdaya. meskipun dia masih tak sadarkan diri, tapi kaki dan tangannya terikat seperti seorang penjahat.
Semakin hari kondisi nya semakin membaik, kemungkinan beberapa bulan lagi kondisi nya sudah pulih kembali. ajaib, kini tangan Mark bergerak. hanya bergerak seperti hari-hari sebelumnya, seperti nya dia bersikeras untuk bangun.
Sebuah keajaiban kini, tepat pukul 06:38 pagi. Mark siuman dari tidur panjangnya, matanya membuka pelan menyesuaikan cahaya untuk masuk ke kornea pengusaha itu. memutar bola matanya memperhatikan ruangan itu. sunyi, seperti tak ada kehidupan.
'apakah aku sudah di akhirat? tidak mungkin, aku pasti belum mati. tapi kenapa sangat sunyi? dan apa ini, tali?. pasti aku tertangkap. oh sial!' batin Mark mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, namun usahanya sia-sia. ikatan itu sangat kencang.
Kreakk...
bunyi pintu terbuka menandakan ada seseorang yang datang, secepat kilat Mark menutup matanya lagi untuk melihat siapa yang sudah berani mengikat pria teka-teki itu.
seseorang itu kini mendekat dan duduk di sampingnya.
"tak usah pura-pura tidur, senior" suara itu langsung membuat Mark membuka matanya.
dilihatnya pria itu tersenyum smirk, mata sipitnya membuat Mark mengingat-ingat siapa yang pernah menjadi murid Mark dulunya.
Ketika sepintas ingatan itu menghampiri nya, bola mata Mark hampir menggelinding tak percaya bahwa dia adalah salah satu saingan Mark waktu lomba antar negara bertahun-tahun yang lalu.
'tidak mungkin' batin Mark menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir prasangka buruk nya.
"apa yang tidak mungkin senior?" tanya nya seolah-olah tahu apa isi hati Mark. Mark menatap nya tajam, ingin memukul bocah ingusan didepannya tersebut namun apa daya, kaki dan tangannya sangat lemah sekarang.
"jadi kau ada di pihak mereka, Tor?" tanya Mark pelan. ya, pria itu adalah Eric. Eric tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan langsung di sambut pelototan dari Mark.
"seperti nya sang hacker dunia kalah kali ini" ucap Eric pelan yang juga diselingi ejekan meremehkan, sontak membuat Mark marah, tampak dari matanya yang menggelap ingin menghabisi pria yang meremehkannya.
"tutup mulutmu, bocah!" maki Mark mengatur nafasnya, tak ingin buang-buang tenaga untuk berdebat dengan saingan itu. mendengar itu, bukannya takut. Eric malah tertawa renyah sambil berdiri.
"istirahat lah dulu, nanti aku akan mampir lagi" ucap Eric sopan sambil membungkukkan badannya dan pergi dari sana. Mark menatap punggung Eric yang menjauh dengan pikiran yang campur aduk.
Ingat itu muncul kembali...
Beberapa tahun lalu pertemuan Eric dan Mark.
Japan. 10:30.
hari ini adalah hari dimana pertandingan ahli teknologi bersaing memperebutkan gelar hacker dunia. banyak peserta dari berbagai negara ikut andil dalam pertandingan ini. tak terkecuali Eric dan Mark.
Beberapa Nagara bertanding dengan sportif, tak ada yang curang selama pertandingan berlangsung. pada babak sesi terakhir. hanya tinggal tiga negara saja yang bertahan.
"pada babak terakhir hanya tinggal tiga negara saja yang bertahan" ucap MC pembawa acara yang berbicara dipanggung.
"pertama kita panggilkan, Mark Melvin Joseph, peserta dari Inggris." panggil MC tersebut, Mark pun naik ke panggung. tepuk tangan dan sorak-sorai dari penonton pun mengalun merdu di telinga Mark.
"kedua, ada Tor Fredrick Tanapon. peserta dari Thailand" ucap MC itu memanggil Eric, sama halnya dengan Mark. tepuk tangan pun juga terdengar.
"yang ketiga ada, Minami Nakano. peserta dari Jepang" ucap MC memanggil peserta perempuan satu-satunya. berbeda dengan Eric dan Mark. ketika perempuan itu naik, tepuk tangan nya lebih riuh, itu membuat Mark penasaran dengan wanita itu.
Pertandingan sesi terakhir pun berlangsung, pertandingan di akhiri dengan pemenang pertama adalah Mark, kedua adalah Eric dan ketiga adalah wanita Jepang itu.
Eric yang sudah biasa dengan mendapat juara satu disetiap pertandingan hacker di negara nya, kini penasaran dengan seseorang yang sudah mengalahkan nya. karena penasaran Eric selalu mencari informasi tentang Mark, bukan Mark namanya jika tidak tahu siapa yang selama ini menguntitnya.
suatu hari Mark menangkap basah Eric yang sedang memata-matai nya ketika Mark ingin ke kampus waktu itu. karena tak suka, akhirnya Mark mengusir Eric, tapi karena keras kepala. Eric selalu mengikuti Mark dan ingin belajar dengan Mark agar menjadi seorang hacker paling handal di dunia.
Karena tidak mau menyerah, akhirnya Mark mengajar kan nya segala sesuatu yang ada pada Mark. bukan hanya tentang masalah hacker namun juga masalah perusahaan.
Seketika lamunan itu berhenti, Mark memandangi langit-langit kamar itu.
'aku harus bagaimana?' tanya nya dalam hati sambil memejamkan matanya diikuti helaan nafas berat.
***
Audrey kini sedang memasak atas perintah dari Serena, para koki sengaja di liburkan hari ini atas perintah tamu yang tidak tahu diri itu.
"ikuti semua yang diperintahkan oleh Serena, karena aku tidak mau tamu ku merasa tak nyaman ada di kediaman ku" perkataan Felix bagaikan sebuah Boomerang di pikiran Audrey, dia selalu mengulang-ulang nya.
"heh, akhirnya selesai juga" ucap Audrey bangga setelah memasak sarapan sekaligus makan pagi untuk penghuni mansion itu.
"wah-wah, seperti nya ini enak kak" puji Gabriel yang baru saja datang dan langsung duduk di meja makan.
"makanlah yang banyak" perintah Audrey sambil menyiapkan piring.
"siap, komandan" jawab Gabriel meniru gaya seorang tentara menjawab atasannya. Audrey hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"oh ya, kak. aku ingin tanya" ucap Gabriel menarik tangan Audrey menuju dapur, Audrey mengerutkan keningnya, tak mengerti. "apa?" tanya Audrey ketika mereka sudah sampai di dapur.
"nenek lampir itu siapa?" tanya Gabriel mengecilkan suaranya, takut ada yang dengar.
"nenek lampir?" tanya Audrey tak mengerti
"iya, wanita berpakaian seksi kemarin" mendengar jawaban Gabriel sontak membuat Audrey tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul-mukul meja dapur hingga di sudut matanya keluar cairan bening.
Gabriel yang tidak mengerti hanya angkat bahu, sedangkan Audrey masih asik tertawa. Mike yang lewat pun, menggelengkan kepalanya melihat tawa Audrey.
'kenapa dia tertawa, apa yang lucu?' tanya Mike dalam batinnya, sebenarnya dia ingin mengambil sesuatu di dapur tapi mendengar tawa Audrey membuatnya mengurungkan niatnya.
"kenapa kau tahu julukannya?" tanya Audrey setelah tawa nya terhenti
"aku mengetahuinya dari teman mu itu, ehm.. Elena yang mengatakan nya" jawab Gabriel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"astaga, jaga ucapan mu Gabriel. jangan menghina seseorang dan satu lagi namanya itu bukan nenek lampir, namanya Serena" tutur Audrey serius
"maaf, aku kan tidak tahu" ucap Gabriel
"yasudah, ayo makan" ajak Audrey menggandeng tangan Gabriel, Gabriel pun mengiyakan.
***
***Nenek lampir?. oh God, ck,, ck,, ck,, dasar Elena..
gimana ceritanya..
Rupanya Eric itu muridnya Mark, hem, dunia emang sempit..
jangan lupa like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya ya 🤣
ditunggu loh 😊
thanks 😘***