We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Mata-mata 1



Amsterdam, Belanda


Pagi itu setelah dari Inggris Felix pun tiba di kota Amsterdam. dia langsung pergi ke kantor cabang perusahaannya untuk mengurus masalah.


Felix datang dengan didampingi asisten pribadi nya, semua mata tertuju pada Felix yang datang dengan kewibawaan. apalagi Dimata kaum hawa, pria itu memiliki ketampanan yang membuat siapapun kagum akan ciptaan Tuhan yang sempurna itu.


"ada jadwal?" tanya felix dingin


"ada tuan, 30 menit lagi ada meeting dengan para investor luar negeri langsung" kata asisten pribadi Felix yang bernama Dany


"panggil Daniel sekarang" perintah Felix


"baik tuan, permisi" pamit Dany


"hem"


Daniel Ivander Devian adalah anak angkat dari keluarga Devian. Daniel sudah diangkat dari sajak dia berumur empat bulan. meski Daniel hanya anak angkat, Felix tidak pernah membeda-bedakan Daniel dengan adik kandung Felix sendiri.


"kakak memanggil ku?" tanya Daniel


"formal lah saat kerja Daniel" peringatan Felix


"baiklah, apa tuan Felix memanggil saya" tanya Daniel ulang


"kau sudah selesaikan masalah yang kemarin" tanya Felix dingin


"sudah tuan" jawab Daniel singkat


"bagus, karena besok aku ingin meminta bantuan mu" kata Felix


"bantuan apa?" tanya Daniel bingung


"kau tau mata-mata yang mengintai markas" tanya Felix dan langsung diangguki oleh Daniel


"baiklah nanti malam kita akan bertemu di markas" ucap Felix


"oke"


"permisi tuan, para investor tersebut sudah berada dibawah" ucap Dany yang baru saja datang


"baiklah, ayo" ajak Felix pada Daniel yang langsung mengekor dibelakang kakaknya itu


Felix, Daniel dan Dany masuk keruangan rapat.


"mari kita mulai rapatnya" tutur Dany


rapat pun dimulai dengan sempurna dan diakhiri dengan kepuasan dimasing-masing pihak.


"senang bekerja sama dengan anda tuan Felix" ucap salah satu dari mereka


"senang juga bekerja sama dengan anda" kata Felix dingin


Diruang rapat tinggal tersisa tiga orang yaitu Felix, Daniel dan Dany.


"untuk apa dia mencari ku?" tanya Felix


"entahlah, apakah hubungan kalian sudah berakhir?" tanya Daniel antusias karena memang Daniel tak menyukai Serena karena dia adalah wanita yang angkuh.


"hmm, hubungan kami sudah berakhir dari sebelum aku ke Inggris" jawab Felix


"baguslah, aku tak suka dengan sifatnya yang selalu merendahkan orang lain" kata Daniel yang mulai terpancing emosi, melihat itu Felix tersenyum tipis


"yasudah, lanjutan pekerjaan mu disini, kakak akan kemarkas sekarang" perintah Felix


"siap" jawab Daniel.


Di markas Belanda


semua anggota mafia disana terkejut akan kedatangan sang penguasa Asia, mereka langsung menunduk hormat karena mereka tahu bahwa Felix adalah kakak dari Daniel


"ada apa gerangan tuan Felix datang kemari?" tanya salah satu dari mereka


"saya ingin menemui mata-mata yang menyerang markas ini" kata Felix dingin


"baiklah, mari ikut saya tuan" katanya


"hmm"


mereka berdua tiba dipenjara bawah tanah, mata Felix langsung menangkap seorang yang sedang di cambuk dan keadaannya sudah sekarat


"dia tak ingin bicara?" tanya Felix yang menatap tajam kearah orang yang dicambuk itu


"belum tuan" jawab mereka


"huh, menyusahkan saja. seharusnya aku bawa Nick kemari" kata Felix


"tinggalkan kami berdua" perintah Felix


"baik tuan" Jawab mereka


tinggallah mereka berdua disini


"katakan siapa yang menyuruhmu" perintah Felix sambil mengasah pisau kecil yang dia bawa tadi, merasa tak ada jawaban diapun langsung menjambak rambut wanita itu


yang membuat wanita itu merintih kesakitan


"masih tak ingin bicara" bentak Felix yang emosi


"ahk, sialan. dasar manusia gila." tantang wanita itu


"hahha, sudah tahu aku gila. tapi kenapa malah mau bermain-main denganku. dasar wanita bodoh!" tawa Felix menggelar di ruangan yang pengap itu


sreekkk..