
"TAK ADA YANG TAU, RASA ITU ADA SEJAK KAPAN, NAMUN YANG PASTI. RASA ITU ADA"
-YEFTA APRILIA
***
"dari mana saja kau, kak?!" seruan Audrey dapat menghentikan langkah Nick yang baru saja ingin masuk ke kamarnya setelah membuka pintu. Nick berbalik cepat dan mendapati Audrey yang kini tampak kesal, terlihat dari tingkahnya yang berkacak pinggang.
"aku baru saja menemui CALON IPARMU" jawab Nick santai, dan langsung mendapat cubitan perih ditangannya.
"Aw--, ini sakit ily. apa yang kau lakukan pada ku" ucap Nick mengelus-elus tangannya yang merah.
"apa kau tidak tau kekacauan yang terjadi di sini?" tanya Audrey menunjuk jarinya kearah muka Nick. "aku hampir saja mati!" seru Audrey menahan tangisnya ketika mengingat bagaimana Felix untuk yang kedua kalinya menamparnya, untung saja tidak ada orang disana. jika ada orang, maka Audrey akan malu.
hati Nick terasa sakit melihat adiknya itu. kini penampilan Audrey tampak lebih lusuh dan seperti tak bernyawa. bagaimana tidak? jika setiap hari nya selalu mendapat perlakukan dan tindakan yang tidak senonoh dari Felix dan Serena, yang seolah-olah tak puas menyiksanya.
"maaf, maafkan kakak" ucap Nick pelan, membawa Audrey dalam pelukannya. tangis Audrey pecah, dia menangis tersedu-sedu. dia tertekan batin jika terus-menerus mendapatkan perlakuan begitu. Eric yang tak sengaja mendengar percakapan mereka pun hanya bisa menghela nafasnya. dia sendiri menyesal, tidak bisa melindungi sahabatnya itu. tapi didalam dunia hitam, dia harus bersikap profesional.
"ak-aku tidak tahan kak" keluh Audrey memukul pelan punggung Nick yang masih memeluknya. "ak-aku rindu mami, aku ingin pulang" ucap Audrey pelan tapi masih bisa didengar oleh Nick.
tubuh Nick dibuat mati rasa mendengar keinginan Audrey. haruskah mereka berhenti ditengah jalan? tapi bukankah itu terlihat seperti seorang pengecut!.
ntah lah, yang pasti Nick sedikit lega mendengar Audrey yang masih mau pulang ke Italia, tapi apakah bisa?
"kita akan pulang" ucap Nick menjeda sebentar ucapannya. "kita akan pulang setelah kau lulus" ucap Nick melepaskan pelukan nya dan menghapus air mata Audrey yang masih mengalir. "bukankah sebentar lagi, adikku akan lulus menjadi sarjana manajement?" tanya Nick tersenyum manis mencoba menghibur Audrey.
Audrey mengangguk pertanda setuju. tidak mungkin dia meninggalkan ilmu yang selama ini dia tuntut dengan kerja keras. "janji" ucap Audrey menunjukkan jari telunjuknya ke arah Nick. Nick hanya tersenyum sambil mengaitkan kedua kelingking mereka, setelah itu tertawa bersama-sama.
"baiklah, besok kau harus kuliah kan? tidurlah. besok kakak akan mengantarmu, oke" ucap Nick mengacak-acak rambut panjang Audrey
"oke" ucap Audrey menepis tangan Nick dari kepalanya sambil memperbaiki tataan rambutnya yang acak-acakan. Nick yang melihat Audrey kesal hanya terkekeh geli.
tak ada yang berubah, Audrey tetaplah Audrey
mau sebesar apa umurnya? tingkahnya tetap akan selalu sama.
"baiklah, aku mau ke kamar belakang untuk tidur, bye." pamit Audrey pergi dari sana, Nick hanya bisa melihat nya dengan sendu. benar kata Jonathan, dia sama sekali tidak pantas menjadi kakak yang baik.
"sudah selesai meratapi nasibmu yang penuh dengan kesialan?" tanya Eric tersenyum meledek melihat Nick yang hanya fokus pada Audrey.
"tutup mulutmu, dasar manusia pecinta" ketus Nick yang hendak masuk ke dalam kamarnya tapi dihalangi oleh Eric yang seperti nya ingin memastikan sesuatu. "apa?" tanya Nick menghela nafas panjang
"apa benar yang baru saja kau katakan? kau ingin menikah?" tanya Eric menatap Nick dengan tatapan tak percaya sama sekali. Nick hanya bisa tersenyum menyeringai "apa kau pikir aku sebajingan yang kau pikir, bung" ucap Nick menepuk pundak Eric menggeram kesal.
Eric yang mengerti lewat tatapan mata tajam Nick pun tersenyum miring.
bodoh! itulah kata yang tepat bagi wanita yang tak pandai bersembunyi itu.
bagaimana tidak? saat ini dia bersembunyi di balik tembok yang dekat dengan cermin, tentu saja Eric dan Nick seolah-olah ingin menertawakan kebodohan wanita itu.
"tak punya kerjaan sekali anda, nona Serena yang terhormat. sehingga mampu menguping pembicaraan orang lain" ketus Eric menatap tajam. Serena pun terlihat kaget melihat tatapan tajam mereka.
Nick mendekat dan berdiri dihadapannya Serena dengan wajah yang tak bersahabat. dia mencekam tangan Serena dan menyeretnya ke kamar Nick. Serena yang kesakitan pun meronta, tapi apa boleh buat Nick lebih kuat darinya. Eric pun menyusul keduanya, takut terjadi hal-hal yang tidak seharusnya.
Nick dengan santai melempar Serena kelantai dengan kasarnya dan terkekeh sinis. Serena pun bangkit dengan amarah. dia melangkahkan kakinya menuju Nick berniat untuk menamparnya, namun baru saja tangan pucat itu diudara, Nick lebih dulu menampar Serena hingga jatuh. lagi-lagi Nick hanya terkekeh sinis, sambil melipat kedua tangannya di depan.
"Jika aku mau, aku bisa memisahkan tangan dari tubuh mu, sekarang juga" ucap Nick dingin. dia melangkahkan kakinya kearah Serena yang masih diposisi nya. Nick berjongkok menyesuaikan tinggi nya dengan Serena dan memegang pipi Serena yang telah memerah akibat tamparan keras Nick.
"apa sakit?" tanya Nick meledek, Serena segera menepis kasar tangan Nick yang hendak menyentuh bibir nya.
"kenapa kau sangat jahat Nick? kau bilang, kau mencintaiku. tapi apa ini, kau bahkan menampar ku" ucap Serena dengan suara serak menahan tangisnya. entah tangis atau cuma drama, hanya tuhan yang tahu.
"cinta?" ulang Nick menaikan sebelah alisnya, kemudian tertawa terbahak-bahak dan berdiri.
"aku sudah menjadi mesin pembunuh yang bisa membunuh siapa saja, jika orang yang aku sayangi terluka" ucap Nick memberhentikan tawa gilanya. "dan aku juga bisa membunuh mu" ucap Nick memukul dinding hingga jari-jari tangan nya mengeluarkan darah segar. dia emosi saat ini.
dia benci Serena, tapi ntah kenapa saat Serena menangis, hatinya tak terima.
"Pergi dari sini" ucap Nick setelah beberapa menit hening diantara mereka bertiga. Serena menggelengkan kepalanya, dia menghampiri Nick dan mencoba meraih tangan Nick yang masih mengeluarkan darah. "pergi" bentak Nick mendorong Serena, untung saja Eric membantu nya agar tidak jatuh.
"pergilah dari sini, nona Serena. kau akan menambah masalahku" ucap Eric memberi peringatan. Serena tak punya pilihan lain, diapun pergi dengan wajah yang masih di genangi air mata.
setelah melihat Serena benar-benar pergi, Eric pun menghampiri Nick sebelumnya dia mengambil kotak P3K. dia menyodorkan pada Nick dan pergi dari sana tanpa mengatakan apapun. Nick melirik sebentar kotak P3K tersebut dan menghela nafasnya. dia pun mengambil nya dan mengobati lukanya sendiri.
****
Audrey masuk kedalam kamarnya dengan lesu, satu harian dia melakukan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, belum lagi amarah Felix, yang nyaris membuat Audrey gila. Audrey menjatuhkan kasar dirinya diatas kasur sambil memejamkan matanya. meski kasur ini tidak senyaman dan selembut ranjang miliknya, tapi Audrey bersyukur masih bisa tidur dengan nyaman.
"kira-kira seperti apa keadaan kak Mark? apakah dia masih koma?" tanya Audrey pada dirinya sendiri."hufh, aku ingin pergi dari sini, rasanya seperti hidup di neraka" monolog nya seraya menghela nafas.
"kuharap besok akan baik-baik saja" ucap Audrey memejamkan matanya dan terjun ke dunia bawah sadar .
****
IKUTI TERUS YAKK