We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Cemburu?



Malam harinya Elena telah bersiap-siap untuk pergi ke pasar malam. namun sedari tadi Mike belum datang-datang untuk menjemput nya. penjaga berkata Mike ada sedikit urusan, jadi tidak pulang dari tadi sore.


"huh" Elena menghela nafas berat. "lama sekali tuan sombong itu!" ucap Elena kesal. perempuan muda itu mengeluarkan benda pipih yang ada di tas Selempang nya dan memainkannya untuk menetralisir rasa bosan yang melanda.


Nick baru saja pulang dan mendapati Elena yang sedang memainkan ponselnya duduk didepan teras mansion itu. Karena merasa aneh dengan sikap Elena yang berubah belakangan ini. membuat Nick berinisiatif untuk bertanya langsung.


"kenapa tidak masuk? diluar dingin Elena" tanya Nick duduk disampingnya dan kejadian tak terduga terjadi Elena malah berdiri seolah-olah menyiratkan Nick untuk tidak dekat-dekat dengan nya. hal tersebut bertepatan dengan kedatangan mobil mewah Mike yang memasuki gerbang utama, itu bisa menjadi alasan Elena.


Mike turun dengan wajah datar andalannya, ditambah tampangnya yang bertambah dingin karena mendapati Elena berdekatan dengan Nick, hal tersebut membuat Mike beranggapan bahwa Elena masih mengajar cinta seorang Nick yang jelas-jelas sudah mencintai wanita lain.


"kau lama sekali, apa kau tidak bisa sedikit cepat sedikit!" seru Elena masuk kedalam mobil tanpa mempedulikan pertanyaan Nick


"cerewet!" ucap Mike acuh. Mike memandang Elena yang sudah masuk dan kini tatapan nya beralih ke Nick. "aku pergi dulu" ucap Mike yang mendapat anggukan kepala oleh Nick.


Mike masuk dan menyalakan mesin mobil setelah itu pergi dari sana.


'apa aku sudah menyakiti hatinya?' tanya Nick pada dirinya sendiri. setelah sekian lama pria itu berdiri akhirnya masuk.


****


"bagaimana dengan masalah yang ada di Amerika?" tanya Felix ketika mereka berada di ruang kerja.


"Mereka bergerak dengan cepat tuan, kabar terbaru nya mereka sudah membeli 5% saham dari tuan Cristo dan mereka juga sudah berhasil menyingkirkan nyonya Ziyi dari kantor pusat untuk melancarkan rencana mereka" jelas Dany mengotak-atik handphone nya meneliti kabar-kabar yang muncul dengan cepat ke permukaan


"Cristo bodoh!" maki Felix terkekeh sinis. Cristo adalah teman SMA Felix yang dia percayai, namun orang itu terlalu bodoh sehingga selalu dimanfaatkan kan oleh orang lain. "Bilang pada Daniel untuk mengurusnya juga dan--" ucap Felix memikirkan sesuatu.


"Ya, tuan?" tanya Dany memandang serius kearah Felix.


"cari nyonya Ziyi dan lindungi dia. aku yakin mereka akan membunuhnya jika kita menyerangnya. dia adalah orang yang tau segala kebusukan pria licik itu" jawab Felix memandang sebuah foto ditangannya. disana ada foto tiga anak laki-laki yang berpakaian SMA sedang memenangkan kejuaraan basket.


"baik tuan." ucap Dany. "anda membutuhkan sesuatu lagi?" tanya Dany.


"tidak, pergilah. aku akan istirahat, aku letih karena banyak sekali pertemuan hari ini" jawab Felix menyandarkan kepalanya di kursi sambil memejamkan mata.


karena Dany tak kunjung keluar membuat Felix membuka matanya lagi dan memandang Dany penuh tanda tanya. "kenapa masih disini? apa kau tuli?" tanya Felix dingin


"ada sesuatu yang mencurigakan dengan nona Audrey, tuan" jawab Dany langsung membuat Felix duduk tegap dan menyiapkan pendengaran dengan baik.


"belakangan ini nona Audrey dekat dengan seorang pria yang belum diketahui identitasnya, kami mencoba menelisik asal usul nya tapi tak ditemukan sama sekali." ucap Dany membuat Felix mengetatkan rahangnya.


"kemungkinan.... orang itu bukan orang yang biasa" ucap Dany. Felix segera berdiri dan menatap datar Dany.


"apa dia mendirikan organisasi lain dibalik kelompok mafia nya, untuk menjatuhkan kita?" tanya Felix tenang.


Dany tampak berfikir. "seperti nya tidak tuan, karena setiap hari tidak ada gerakan yang mencurigakan sedikit pun dari nona Audrey" jawab Dany berspekulasi bahwa laki-laki itu adalah orang yang menjalin hubungan dengan Audrey dan ingin membuat nya bebas dari Felix.


Felix tersenyum menyeringai, dia paham maksud Dany "istirahat lah Dany, kau sudah cukup lelah dengan urusan kantor" perintah Felix. Dany pun mengangguk dan pergi meninggalkan Felix.


Dany yang pergi membuat aura gelap menutupi pikiran Felix. "kau ingin pergi dariku nona Smith? jangan bermimpi!" ucap Felix melangkah lebar ke pintu ruangan itu dan pergi untuk mencari keberadaan Audrey.


Para maid dibuat terkejut dengan datangnya sang tuan ke rumah belakang dengan tampang sangar, aura gelap menyelimuti tempat itu seketika membuat mereka semua panik.


Kepala koki yang melihat nya segera mendekat dan membungkukkan badannya sebentar. "ada yang anda inginkan, tuan?" tanyanya sopan namun menunduk saat Felix menatapnya tajam.


"dimana kamar Audrey?" tanya Felix to the poin membuat kepala koki itu memikirkan apa yang sudah dilakukan Audrey sehingga membuat Felix marah.


"biar saya antar, tuan" jawab salah satu maid yang berdiri dibelakang kepala koki itu. wanita muda itu maju dan membungkukkan badannya "saya teman nona Audrey" ucapnya lagi. Felix segera mengangguk dan mengikuti langkah maid itu.


Sampai di suatu kamar yang berada diujung koridor. "ini kamarnya, tuan" ucap maid itu membungkuk


"pergilah!" perintah Felix. maid itu segera pergi tergesa-gesa mendapat perintah Felix.


Semula Felix diam, tidak ada suara disana. sampai jari tangan itu menekuk dan mengetuk pintu tiga kali. Persekian detik terdengar sahutan dari dalam dan sampai pintu terbuka membuat Audrey terpaku melihat wajah Felix yang kelihatan marah.


Tanpa bicara Felix mendorong kasar Audrey untuk masuk hingga membuat perempuan itu hampir saja terjatuh namun masih berpegangan dengan pinggir ranjangnya.


Felix masuk dan memperhatikan dengan detail setiap sudut ruangan kecil itu.


Pandangan Felix jatuh pada tumpukan buku yang berantakan, kini dia tahu apa yang dilakukan Audrey setelah melakukan pekerjaan nya sebagai budak. Felix menghampiri buku-buku itu dan melihat-lihat.


Audrey menghampiri nya dan merampas buku yang kini sedang ditangan Felix. "jangan bertindak tidak sopan dengan memegangi barang-barang pribadi milikku!" seru Audrey merapikan buku-buku nya.


"kau budakku, jadi aku bisa lakukan apapun padamu dan pada barang-barang mu" ucap Felix santai. dia duduk ditepi ranjang yang selama ini ditiduri Audrey selama ditahan oleh Felix.


Audrey tampak menghela nafasnya mencoba untuk tidak terpancing perkataan Felix yang selalu saja membuat nya marah. dengan cepat Audrey membereskan buku-bukunya dan berbalik menatap dingin Felix.


"apa yang kau inginkan?" tanya Audrey sinis.


"banyak" jawab Felix singkat. Felix masih memandangi Audrey hingga membuat nya salah tingkah.


"aku serius tuan Devian, mau apa sebenarnya kau kemari malam-malam? apa kau tidak puas selalu menyiksaku dengan peraturan-peraturan mu yang melebihi batas pikir manusia biasa?" tanya Audrey sinis.


Audrey memakai piyama lengan dan celana pendek hingga membuat pahanya yang mulus dan putih terpampang bebas hingga membuat pikiran liar terlintas dipikiran Felix.


"kau berniat menggoda ku?" tanya Felix santai. Audrey mencoba mencerna perkataan Felix


"ap-a?" tanya Audrey tak percaya, tatapan mata Audrey kini menunduk menatap pahanya. gadis itu baru sadar memakai celana yang pendeknya diatas lutut.


"kau berpakaian seperti itu untuk menggodaku kan?" tanya Felix tersenyum menyeringai.


"apa yang kau pik-- ahkk.." teriak Audrey ketika Felix menarik pergelangan tangannya dan melemparkannya ke ranjang. secepat kilat, Felix menindihnya tapi masih bertumpu pada kedua lutut dan tangan nya.


"Apa yang kau lakukan, Sialan" maki Audrey menggerak-gerakkan tubuhnya untuk lolos dari Felix. "menyingkir!" seru Audrey mempelototi Felix namun tak membuat laki-laki itu takut, justru dia tersenyum devil.


"kau tidak tahu apa itu artinya budak?" tanya Felix meletakkan kedua tangan Audrey diatas kepala dan mengurungnya hanya dengan satu tangan dan tangan lainnya mencekam dagu Audrey. "budak harus melayani tuannya" ucap Felix lagi


Dia mengulurkan kepalanya mendekati telinga Audrey. "dan kau harus melayani tuan mu ini" bisik Felix. bola mata Audrey membesar diikuti dengan tubuhnya menegang seperti terkena sengatan listrik.


"ap-- mmhpp..." teriak Audrey ketika Felix mencium bibir nya dan ******* nya dengan kasar. mata Audrey membulat penuh, perempuan itu menggerak-gerakkan kepalanya berharap bibir itu bisa lepas.


Kepala Audrey yang bergerak-gerak berhasil membuat bibir merah jambu itu terlepas. namun Sialnya, bibir itu malah berpindah ke leher Audrey tambah membuat nya panik.


Tak punya cara lain agar mempertahankan keperawanan nya kalau Felix benar-benar melakukan nya hingga Audrey melakukan hal ini. "hiks...hiks... a-pa yang kau inginkan dariku lagi, hah!" teriak Audrey menangis membuat beberapa persen pikiran jernih Felix datang.


"k-kau sudah hiks... menjatuhkan harga diri ku didepan hiks...hiks se-semua orang dan sekarang kau akan mem- buat aku hamil dan membuang ku be-gitu saja!" ucap Audrey pelan. tak ada cara lain agar dirinya lepas.


"ka-kau tidak mencintai ku lagi bukan? jadi bu-buat hiks...hiks apa kau melakukan semua ini?" tanya Audrey mampu membuat Felix menghentikan aksi bejadnya pada perempuan itu.


"kau boleh membenciku, ta-pi jangan berbuat hal yang bisa membuat mu menyesal nantinya" ucap Audrey lagi. Felix pun berdiri dan merapikan pakaiannya.


"kau pikir aku mau meniduri wanita ****** seperti mu?" tanya Felix santai membuat Audrey marah besar. "aku hanya bermain-main saja, tapi kau sudah ketakutan" ucap Felix diselingi tawa hambar.


"apa yang sebenarnya kau mau?" teriak Audrey marah. dia menghapus kasar air matanya sambil menatap membunuh kearah Felix.


"Katakan siapa pria Culun itu?" tanya balik Felix dingin.


"culun?" gumam Audrey pelan mengingat-ingat siapa yang dimaksud oleh Felix. "dia temanku" jawab Audrey mengingat sosok Joe yang berpakaian seperti anak kecil berbeda dengan usianya yang berada diatas Audrey beberapa tahun.


"Jangan mencoba menipu ku dengan akal busuk mu. cepat katakan!" bentak Felix melempar gelas yang berisi air putih hingga membuat pecahan gelas kaca itu berhamburan dilantai.


"Sudah kukatakan kalau dia itu temanku, Brengsek!" maki Audrey marah. "kalaupun dia kekasih ku ataupun suamiku, memangnya apa yang ingin kau lakukan, hah?" bentak Audrey balik. dia marah, dirinya tidak tahu apa-apa dan Felix datang dengan bertanya begitu.


Tak puas dengan jawaban Audrey yang membuat nya emosi, pria itu mendekati Audrey dan mencekik leher gadis itu dengan kuat. Audrey mencoba melepaskan nya dengan memukul-mukul lengan Felix tapi tak berpengaruh sama sekali.


"jika sekali lagi aku mendapatimu mendekati nya ataupun dia yang mendekati mu, aku tidak akan menjamin hidupnya akan bertahan lama" bisik Felix dingin. Dilihatnya wajah Audrey yang mulai memucat dan tidak mengeluarkan kata-kata membuat Felix segera melepaskan nya hingga jatuh ke lantai. karena ada beberapa kaca gelas yang menancap di siku lengan Audrey dan mengeluarkan darah membuat Felix segera pergi dan menutup pintu dengan kuat hingga membuat para maid yang kebetulan lewat, kaget.


"selamat malam, tuan" sapa mereka berdua tapi sama sekali tidak di gubris oleh Felix. Felix melewati mereka begitu saja dan pergi dari mansion tanpa mengatakan apapun.


Sementara didalam kamar, Audrey menangis tanpa mengeluarkan suara. tatapannya kosong memandang pintu, pikirannya berkecamuk tentang bisikan Felix yang baru saja laki-laki itu lontarkan.


"apa yang sebenarnya terjadi?" monolog Audrey yang kini pandangan nya beralih pada sikunya yang tertancap pecahan kaca. Audrey berdiri dan mengeluarkan kaca yang menancap itu dan mengobati lukanya setelah itu barulah membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai.dan dibuangnya keluar.


Tak peduli tatapan yang ingin tahu orang lain karena kedatangan sang tuan ke kamar Audrey dan mendapati luka yang masih basah ditambah dengan beberapa tanda-tanda merah yang berada dileher Audrey membuat mereka semua menatap jijik kearahnya. Audrey melewati mereka dengan wajah datar dan masuk lalu mengunci pintu kamarnya.


Gadis cantik itu berjalan keranjang dan berbaring "kapan siksaan ini akan berakhir?" tanya Audrey pada dirinya sendiri. beberapa menit kemudian diapun tertidur pulas karena lelahnya.


***


Mike mendesah kesal mendengar suara-suara ribut dari pasar malam yang membuat telinga nya seakan mau pecah saja. belum lagi tatapan para pengunjung yang terpaku padanya hingga membuat nya malu bukan kepalang karena membawa dua boneka besar Elena, dari permainan yang dimainkan nya.


"seharusnya aku tidak memenangkan permainan tadi, mungkin saja boneka-boneka Sialan ini tidak ada" gumam Mike pelan sambil meremas-remas boneka sangking kesalnya.


"hei tuan sombong, cepatlah! aku ingin menaiki wahana itu" teriak Elena yang berjalan jauh didepan Mike.


"ayo pulang! aku muak melihat semua ini" ucap Mike bosan dari tadi dia menemani Elena bermain permainan, ini sudah wahana yang ke-lima dan masih banyak lagi wahana yang ingin dimainkan.


"tapi kau berjanji padaku untuk menemani ku bermain semua permainan ini" ucap Elena kesal.


"aku lelah dengan urusan kantor, belum lagi menemani mu berada di keramaian ini! ayolah aku ingin istirahat" bujuk Mike sudah menyerah dengan semua nya.


"tapi kan--"


"akhir pekan kita akan kemari lagi" potong Mike


dengan mata yang berbinar. " kau janji, kan?" ucap Elena tersenyum manis.


"iya-iya, yasudah ayo!" ketus Mike menarik tangan Elena ke parkiran.


Kini mereka sudah berada didalam mobil. boneka-boneka tadi sudah berada di belakang. Elena memicingkan matanya mencari kebohongan dari ucapan Mike tadi.


"apa yang kau lihat, gadis bodoh?" tanya Mike tanpa memandang kearah Elena


"kau tidak bohong kan dengan janji mu tadi?" tanya Elena ragu.


Mike menarik salah satu sudah bibirnya menahan senyuman miring. "entahlah" jawab Mike acuh.


"turunkan aku!" seru Elena memukul lengan Mike. "turunkan aku dasar tuan sombong yang pembohong!" teriak Elena kesal, sudah berharap namun ternyata itu semua adalah omong kosong semata.


"diamlah!" bentak Mike yang telanjur emosi. seketika Elena terdiam dan dan duduk dengan tenang. tapi air matanya yang meluncur bebas menjawab semuanya, dia tentu saja kecewa. melihat nya membuat Mike tak tega, hingga terpikir ide jahil dari benaknya.


Melewati kawasan yang sepi membuat Mike menepikan mobilnya dan turun. Elena tentu saja terkejut karena Mike membukakan pintu untuk nya dan menarik tangan nya.


"apa yang kau lakukan? lepaskan!" teriak Elena takut memandang kanan kiri sepi.


"bukankah kau bilang tadi turunkan aku? jadi apa yang kau tunggu? cepat turun dari mobil ku!" seru Mike yang masih menarik-narik tangan Elena.


"aku tidak mau!" ketus Elena


"turun!" bentak Mike menggertak


"hiks...hiks a-aku hanya bercanda tadinya, kenapa kau sangat ambil hati tuan sombong" ucap Elena yang tangisnya sudah pecah. "a-aku tidak akan melawan mu hiks..hiks.. lagi, aku janji tapi jangan biarkan aku disini, kau ingin aku diculik dan dibunuh" ucap Elena memeluk pinggang Mike sambil menagis tersedu-sedu hingga membuat Mike tersenyum puas. tak payah mengendalikan Elena rupanya!


"baiklah lepaskan aku!" perintah Mike melepaskan diri dari pelukan Elena, namun Elena tak mau melepaskan nya.


"jangan!, kumohon jangan tinggalkan aku sendiri disini" ucap Elena yang kini tangisnya makin kuat


"jika kau tidak melepaskan ku, aku akan benar-benar meninggalkan mu disini!" seru Mike. seketika Elena pun melepaskan pelukan nya dan menghapus air matanya.


"jangan menagis karena itu sangat jengkel bagiku" seru Mike mendapat anggukan kepala dari Elena. "masuklah" ucap Mike lembut tapi nadanya datar.


Mike melangkah lebar dan masuk ke sisi mobil lainnya tapi belum menjalankan mobilnya. "kita akan pergi lagi lusa" ucap Mike mulai menginjak pedal gas.


"kau bercanda?" tanya Elena hati-hati, karena sejujurnya dia takut dengan kejadian yang baru saja dialaminya.


"aku tidak pernah main-main dengan ucapanku" ketus Mike. Elena tersenyum mendengar nya, akhir pekan akan terjadi hal yang menyenangkan lagi, pikir nya.