We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Eric vs Gabriel.



Seusai pembicaraan panjangnya dengan Audrey, Maria pun pulang menggunakan taksi. tapi belum sempat taksi lewat, ada sebuah mobil yang berhenti tiba-tiba tepat di samping Maria berdiri, Maria mengerutkan keningnya karena sama sekali tidak mengenal mobil tersebut.


Setelah seseorang membuka kaca mobilnya dan menatap Maria dengan senyuman manis dia pun berkata. "hai nona Maria, butuh tumpangan?" tanya Gabriel ramah


"aku bisa pulang sendiri tuan Gabriel, jadi aku tidak butuh tumpangan mu!" jawab Maria dengan ketusnya. karena dia harus berhati-hati dengan pria didepannya ini.


'kakaknya saja playboy, apalagi adiknya' batin Maria


"ayolah, tak usah segan-segan padaku, kita kan sudah menjadi seorang teman" paksa Gabriel yang kini turun dan menarik sedikit kasar tangan Maria agar masuk kedalam mobil nya.


"hei, siapa yang bilang kita berteman?" tanya Maria kesal


"aku" jawab Gabriel santai dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sadar atau tidak, kejadian tadi sudah disaksikan oleh Eric yang menatap dengan tatapan membunuh, tampak tangannya mencengkram erat stir kemudi dan dengan sengaja memukul nya. Saat ini sudah tidak tahu bagaimana kemarahan nya. diapun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


***


Citt...


ban mobil Gabriel berdecit, mengerem mendadak karena sebuah mobil tiba-tiba menghadang mobil nya. Gabriel yang melihat itu pun kesal, lain halnya dengan wanita disampingnya, kini mimik wajah Maria tidak terbaca. dia diam seribu bahasa, dia pun tahu bahwa mobil yang sedang menghadang mereka adalah mobil milik Eric.


Gabriel turun dengan wajah kesalnya, mendekat dan mengetuk kaca mobil, si empunya pun membukanya dengan wajah merah, mencoba menahan emosi yang menggebu.


"anda punya masalah tuan?" tanya Gabriel geram, ingin sekali memukul wajah Eric yang menyebalkan baginya.


'untunglah aku seorang dokter, jika aku mengikuti jejak papa sebagai pengusaha. akan ku ratakan habis wajahmu itu' batin Gabriel mengoceh tak jelas.


"bukan dengan mu, tapi dengan wanita yang ada didalam mobil mu" ucap Eric menatap dingin pada Gabriel yang setelah itu turun sambil membanting pintu nya. Eric berjalan penuh amarah ke arah mobil Gabriel, itu membuat Maria seketika takut.


"turun" ucap Eric dingin setelah membuka pintu mobil Gabriel kasar. Maria hanya memalingkan wajahnya, dia begitu enggan menatap Eric. itu membuat Eric semakin emosi.


"turun!" bentak Eric mencekam kuat tangan Maria, tampak Maria yang meringis kesakitan.


"hei, kau tidak boleh kasar pada wanita bung!" seru Gabriel, dia merasa kesal dengan tingkah kasar Eric. Eric yang mengubris perkataan Gabriel.


"apa kau tidak dengar perkataan ku, nona Maria Caroline Brianna?" tanya Eric lembut namun penuh ancaman. jika dia menyebutkan nama seseorang dengan lengkap, itu menandakan bahwa pria itu sedang marah tingkat tinggi.


"hei bung, kita bisa bicara kan baik-baik. tidak perlu berkata kasar pada seorang wanita" tutur Gabriel yang rasa kesalnya pun sudah membuncah.


"tutup mulutmu" seru Eric menatap Gabriel dengan amarah, itu membuat Gabriel makin jengkel dengan pria keras kepala yang ada di depan nya itu.


"turun atau kau akan terima konsekuensinya nanti" perintah Eric yang terakhir. Eric sudah tak tahan, dia menarik kasar tangan Maria hingga Maria mau tak mau keluar. Maria memberontak tapi Eric terus saja memaksanya untuk mengikuti nya. dia bahkan menyeret Maria dengan sadis. tak membiarkan wanita itu kabur. tampak bekas merah di tangan Maria, melihat bagaimana kuatnya Eric mencekam tangan kecil itu.


Gabriel yang melihat itu sudah tak tahan dan diapun menghalangi jalan Eric, itu membuat Eric makin murka. Gabriel yang ingin mengatakan sesuatu, langsung di hadiah kan sebuah pukulan menggunakan kaki telak diperutnya, hingga membuat Gabriel tersungkur kesakitan. Eric hanya tersenyum sinis, sedangkan Maria kaget hingga tak sadar dia berteriak pada Eric.


"Eric!" teriak Maria kaget, refleks mendorong kasar tubuh Eric dan langsung berlari mendekati Gabriel. Eric hanya mematung menatap punggung Maria yang kini dia sudah benar-benar marah hingga tak sadar dia mengungkapkan sesuatu yang kasar.


"hahaha, dasar murahan. berarti ini alasannya kau ingin mengakhiri hubungan kita, kau ingin menikah dengan kekasih gelap mu itu" bentak Eric sambil tertawa sinis.


Deg...


cairan bening itu menetes tampa sadar, Maria memejamkan matanya, mencekam lutut nya kuat hingga bergetar. Gabriel yang mendengarkan perkataan Eric pun ikut emosi, walaupun dia baru mengenal wanita yang ada di depannya itu, tapi ntah kenapa hatinya terasa sakit saat melihat wanita itu menangis.


"tapi kaulah yang datang ke kehidupan ku, tidak akan ku biarkan kau pergi tanpa seizin ku. tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali Kematian" seru Eric yang berjalan mendekati mereka, dan dengan lebih kasar menarik Maria dan menyeretnya berjalan cepat. tangisan Maria yang meringis kesakitan pun tak membuat laki-laki Thailand itu iba.


Gabriel bangkit, berlari mengejar Eric dan langsung memukul keras Eric di bagian wajahnya hingga membuat Eric terjatuh. hingga tampak darah segar mengalir di sudut bibirnya. Eric hanya tertawa kecil, Gabriel yang melihat tawa Eric pun heran. apakah Eric gila. itulah isi hati Gabriel saat ini.


Eric bangkit dan dengan wajah yang mencurigakan."hanya itu saja?" tanya nya. tanpa aba-aba Eric memukul Gabriel dengan membabi buta. Gabriel pun membalas nya dengan tak kalah marah.


Maria yang menangis pun panik tak karuan, dia terus berteriak meminta tolong tapi memang kebetulan atau tidak, jalanan sangat sepi bahkan tidak ada seorang pun disana kecuali mereka bertiga.


"hentikan Eric.. hiks...hiks... aku mohon" teriak Maria yang tambah ketakutan ketika Gabriel sudah babak belur.


tak punya cara lain, akhirnya Maria mendekati Eric dan memeluk nya erat dari belakang.


"hentikan.. hiks..hiks.. aku takut" ucap Maria. tubuhnya pun sudah gemetaran karena melihat kemarahan Eric untuk yang kedua kalinya.


Tanpa menghiraukan Maria yang lagi-lagi kesakitan, Eric pun berbalik. dia sudah melihat Gabriel yang terkapar tak berdaya, seringai muncul di wajahnya. mendekat dan ingin memijak perut Gabriel. baru saja kakinya berada di udara, tiba-tiba sebuah tangan memukul nya kuat hingga membuat nya jatuh pula.


Eric menoleh ke arah seseorang itu, terlihat Mike dengan wajah datarnya menatap tajam ke arah Eric.


"kau.." tunjuk Eric yang sudah bangun, dia mendekat dan ingin menghabisi Mike.


"saat ini iblis menguasai mu, kendalikan dirimu. kau tidak malu menghabisi bocah dibawah umur!" ucap Mike dingin melirik sebentar ke arah Gabriel yang terkapar tak berdaya.


"tutup mulutmu!. aku tidak peduli siapa dia" bentak Eric mendekati Gabriel, rasanya dia belum puas menghabisi Gabriel.


Bug...


pukulan telak lagi-lagi mendarat di perut Eric, kali ini bukan Mike yang melakukan nya, melainkan Felix yang baru saja turun dari mobil. Eric sudah meringis kesakitan.


Dengan santainya Felix mendekati Gabriel dan membantu nya berdiri. setelah itu tatapan membunuh tertentu pada Maria.


"bawa kekasih gelap mu ini pergi sebelum dia mati karena kegilaan Eric" sarkas Felix pada Maria. saat itu Maria sudah tidak bisa berfikir jernih, diapun dengan cepat mendekati Gabriel dan membantu nya menopang tubuh.


"bawa dia" perintah Felix pada bodyguard nya menunjuk ke arah Eric yang mencoba untuk melawan lagi.


"hati-hatilah dengan nya, saat ini dia marah. kalian saja bisa dihabisi nya dengan mudah, jadi untuk kali ini kasar lah pada nya" saran Mike pada bodyguard itu, mereka berempat pun mengangguk pertanda mengerti.


Mereka pun memasuki mobilnya masing-masing dan mobil melaju meninggalkan kedua orang yang kini kesakitan. Maria menopang tubuh Gabriel hingga masuk kedalam mobil. Maria mencari-cari kotak P3K dan setelah menemukannya, diapun mengobati Gabriel dengan hati-hati. sesekali Gabriel meringis kesakitan, hal itu membuat Maria semakin merasa bersalah.


"maafkan aku Gabriel" ucap Maria yang kini menagis lagi.


"hei, kenapa menangis lagi. ayolah, kita ini sudah jadi teman. kau tidak perlu merasa bersalah begitu, teman harus saling membantu" bujuk Gabriel menenangkan Maria.


"kau begini karena aku" ucap Maria di sela-sela tangis nya.


"hei, ini bukan apa-apa bagiku. aku sudah sering di pukuli orang karena menggoda banyak wanita" ucap Gabriel tertawa terbahak-bahak dan karena lukanya, Gabriel pun meringis kesakitan lagi. itu membuat Maria sedikit terhibur dengan kekonyolan Gabriel.


"tertawa lah lagi, biar lukamu tambah sakit" celoteh Maria yang menyusun kotak P3K tersebut.


"kau ini senang sekali membuat orang kesakitan"cebik Gabriel yang membuat Maria tersenyum dan sesudah itu merekapun pulang dengan Maria yang mengemudi.


Kenyataannya, kata-kata tadi hanya sebuah omong kosong semata. Gabriel tidak seperti Nick yang suka menggoda wanita, tapi Gabriel adalah orang yang ramah dan jahil. sebab itulah banyak yang ingin berteman dengan nya. diapun dijuluki sebagai si pengacau oleh temannya karena kejahilannya.


***


Kembali pada yang ada didalam mobil Felix, kesenyapan terjadi hingga akhirnya Mike bertanya yang membuatnya sangat penasaran.


"kenapa kau tidak biarkan saja Eric membunuh bocah ingusan itu?" tanya Mike pada Felix yang sedari tadi terlihat melamun memikirkan sesuatu. pertanyaan Mike berhasil membuat lamunan Felix buyar dan dia pun menatap sebentar Mike dan tersenyum tipis.


"jika dia terbunuh, akan semakin runyam masalahnya!" jawab Felix


"kau mengenalnya?" tebak Mike


"menurut mu?" tanya balik Felix.


"wajah nya.... seperti nya dia mirip seseorang" jawab Mike ragu


"kau akan tahu nanti" ucapan Felix semakin membuat Mike penasaran dengan orang yang dia sebut bocah ingusan tadi.


'kira-kira, dia siapa ya' batin Mike menerka-nerka sosok Gabriel.


***


Jangan lupa like, komen, and vote ya kak.


maaf, kalo tulisan nya masih acak-acakan.


makasih:)