We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Haruskah aku melanjutkan nya?



Aura dingin terasa menyelimuti ruangan kerja Felix. ditengah Elena duduk menundukkan kepalanya seperti seorang narapidana yang ingin dijatuhkan hukumman mati. Elena tak berani menatap wajah sang-kakak yang tengah menahan emosi. tampak dari guratan-guratan didahi nya menandakan ketua mafia itu sedang marah besar.


"kau tidak ingin menjelaskan yang terjadi kemarin?" tanya Felix yang mulai jengah karena tak ada suara dari Elena.


Elena memberanikan diri menatap Felix, "k-kak, ma-maaf.." ucap Elena terbata-bata. keringat dingin mulai mendominasi tubuhnya, pun terlihat tangannya juga meremas satu sama lain.


"untuk apa kau minta maaf?" bentak Felix mengebrak meja yang membuat Elena meneteskan air mata namun tak ada isakan dari bibirnya. "Mike bilang, dia menemukan mu di club malam. apa itu benar?" bentak Felix melempar kan gelas yang berisi kopi yang ada di mejanya kearah Elena.


Keterdiaman Elena menjawab semuanya!


itu membuat Felix tambah murka. "apa aku pernah mengajarkan untuk pergi ke tempat seperti itu padamu?" tanya Felix yang kini lembut, namun penuh penekanan.


"maaf.." ucap Elena. kini sudah terdengar Isak tangis yang memilukan. membuat Eric yang sedari tadi hanya jadi penonton pun tak tega melihat nya. Eric mengisyaratkan Felix untuk tenang dan dia juga memberikan tisu agar Elena menghapus air matanya.


Felix menurut dan kini duduk di kursi kebesarannya sambil mengatur emosi nya. Mike yang disamping Eric hanya diam, menatap dingin Elena yang seolah-olah meminta bantuan pada Mike untuk menenangkan kakaknya.


Melihat itu Mike hanya tersenyum sinis sambil menaikkan sebelah alisnya. hal tersebut membuat Elena kesal.


"pilih!, kau akan kembali ke rumah atau menetap di Belanda dengan Daniel!" ucap Felix dingin. Elena menatap Felix dengan tatapan tak terbaca.


"kakak mengusirku ?" tanya Elena tersenyum miris. dia kecewa dengan kakaknya yang selalu menganggapnya seperti sebagai serangga yang menggangu pekerjaan nya.


Felix tampak menghela nafasnya "bukan itu maksudku!" seru Felix kesal. "aku sudah memberikan sedikit kebebasan padamu dengan membiarkan mu bersekolah di Singapura, tapi semakin kau bebas, semakin kau hancur! jadi jangan membantah karena ini perintah!" ucap Felix yang membuat Elena murka. dia pun pergi dari sana tanpa menghiraukan Felix yang dari tadi meneriakinya.


"Sialan!" maki Felix memukul dinding hingga membuat tangannya mengeluarkan darah segar. "apa sebenarnya mau nya ? aku sungguh tidak mengerti!" ucap Felix menjambak rambutnya sendiri. Felix menyandarkan tubuhnya didinding sambil menghela nafas.


"cobalah berbicara baik-baik padanya. bujuk dia agar mengerti, jangan kau menyuruhnya seolah-olah kau tidak menginginkan kehadirannya disini" tutur Eric sebelum meninggal kan ruangan itu.


Mike pun mengangguk pertanda setuju akan perunturan yang diucapkan Eric. "benar apa yang dikatakan oleh Eric. sekasar-kasar nya aku pada perempuan, aku tidak pernah menyakiti hati adikku dengan perkataan ku sendiri" ucap Mike yang kini mengikuti Eric melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Mendengar perkataan kedua sahabatnya itu membuat hati Felix terasa tercubit. "apa aku sudah keterlaluan?" tanyanya pada dirinya sendiri. "tapi, jika aku tidak keras, dia akan melakukan hal-hal bodoh nantinya" ucap Felix. hatinya nampak tambah gundah ketika mendengar dari mata-mata nya yang dia suruh untuk mengikuti Audrey. ada seorang laki-laki yang menyatakan cintanya pada Audrey, hingga membuat Felix rasanya ingin bunuh diri saja.


****


CIT.....


ban mobil itu berdecit nyaring hingga membuat Audrey yang hampir saja terlempar ke dasbor mobil, pun sama dengan Nick yang menyumpahi segala umpatan kepada seseorang yang baru saja menghentikan mobilnya tepat didepan mereka.


Jonathan tampaknya turun dengan amarah. hal tersebut membuat Nick menghela nafas nya. dia akan mendapatkan pukulan lagi jika menghadapi Jonathan. Nick melirik Audrey dan mengisyaratkan sesuatu, Audrey yang mengerti pun mengangguk pertanda mengerti dan turun mendatangi Jonathan.


Jonathan yang melihat Audrey yang turun langsung mempercepat langkahnya


"ayo pergi dari sini" ucap Jonathan menarik tangan Audrey tapi perempuan itu malah melepaskan paksa tangan Jonathan. Jonathan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tajam Audrey.


"aku akan pulang dengan kak Nick akhir tahun ini ke Italia, kak" ucap Audrey tersenyum manis. Jonathan terperangah mendengar ucapan Audrey yang ingin pergi. pria itu pikir akan sulit membujuk Audrey, namun seperti nya Audrey yang akan pulang sendiri.


"kau tidak berbohong, kan?" tanya Jonathan memastikan. "tidak kak, aku sungguh-sungguh. aku akan pulang, tunggulah aku di Italia." jawab Audrey dengan nada meyakinkan.


Jonathan memicingkan matanya mencari kebohongan Audrey, namun tidak mendapat kan nya. dengan berat hati pun Jonathan mengijinkan nya untuk tetap menetap disinj.


"baiklah, aku akan membiarkan mu disini. tapi ingat jika dia berbuat sesuatu yang menyakiti mu. bicaralah pada kakak, disana aku akan datang dan menghajar nya sampai mati" tutur Jonathan mengelus rambut Audrey sayang.


Audrey pun mengangguk dan melangkah lebar untuk memeluk Jonathan sebagai ucapan terima kasih. dengan senang hati Jonathan membalasnya sambil sesekali mengecup pucuk kepala perempuan yang dipanggil nya adik itu.


"jaga diri mu baik-baik, kakak akan pulang ke Prancis karena ada sedikit masalah yang terjadi disana" bisik Jonathan. Audrey pun mengangguk dan melepaskan pelukan nya.


"oh ya kak, aku punya satu permintaan padamu" ucap Audrey menunjukkan senyum manis. mendengar perkataan Audrey membuat jantung Jonathan berdetak kencang.


"a-apa?" tanya Jonathan gugup. dalam hati dia memohon agar tidak mengatakan hal yang aneh.


"bukankah waktu itu kakak bilang kak Gordon dijodohkan?" tanya Audrey. Jonathan pun mengangguk canggung. "baiklah, sekarang kakak yang harus menikah" ucapan Audrey yang langsung mendapat pelototan dari Jonathan


"bagaimana mungkin begitu! Nick lebih tua dariku, sebab itulah dia yang akan lebih dulu menikah!" seru Jonathan. tanpa diduga Nick yang baru saja turun dari mobil pun tertawa renyah. Jonathan menoleh kebelakang dengan tatapan heran. apa Nick sudah gila, kenapa dia tertawa?


"hentikan tawamu! apa kau gila? tidak ada yang lucu dengan hal itu, semuanya fakta bahwa kau lebih tua dariku, walaupun wajahmu terlihat seperti anak SMA" ketus Jonathan membuang muka. Audrey yang mendengar nya pun tersenyum, memang benar wajah Nick tampak lebih muda dari Gabriel.


"hei-hei, tidak ada hubungannya dengan hal itu!" seru Nick memukul pundak Jonathan hingga membuat nya hampir jatuh.


"jadi apa maksudnya aku yang harus menikah dulu dari padamu?" tanya Jonathan kesal..


melihat raut wajah Jonathan kesal, membuat Nick tersenyum miring "aku sudah dapat gandengan, jadi giliramu" ucap Nick mengingat wajah Mey yang selalu terbayang di pikiran nya akhir-akhir ini


Hampir saja bola mata Jonathan menggelinding keluar dari tempat nya. mendengar perkataan Nick membuat nya seketika mati kutu. kedua matanya berkedip-kedip memastikan bahwa ini bukan mimpi.


"kau bercanda?" tanya Jonathan dengan raut wajah masih tidak percaya.


"well, semua tergantung iman bukan? kau yang paling tampan, kau juga yang akan mendapatkan hadiah tak terduga" ucap Nick tertawa renyah. Seketika tatapan Jonathan terjatuh pada Audrey, Audrey mengangguk membenarkan ucapan nick.


"sungguh tidak bisa dipercaya, pria pemain wanita seperti mu mendapatkan calon istri. apa dia salah satu wanita malam yang pernah kau tiduri?" tanya Jonathan santai. mendengar nya wajah Nick berubah menjadi dingin.


"kau menyebut wanita ku, sebagai seorang *******?" tanya Nick dingin. lagi-lagi Jonathan tak percaya, bisa juga sikap Nick dingin seperti ini. " jika kau tidak percaya ucapanku, maka akan ku bawa dia ke Italia bersamaan dengan acara pertunangan ku" ucap Nick. Jonathan dan Audrey pun membelalakkan matanya.


"kau bercanda, kak?" tanya Audrey penasaran.


"tidak, akan ku buktikan pada dokter ini, aku bukanlah pembohong" jawab Nick percaya diri. "yasudah, ayo pergi, nanti kau akan terlambat!" seru Nick melangkah lebar kearah mobil mewahnya.


"kak, aku akan kuliah, kau kapan akan pulang?" tanya Audrey melihat jam yang melekat di pergelangan tangan nya.


"setelah ini?" tanya Audrey terkejut


"iya, yasudah pergilah menuntut ilmu agar kau lebih berguna nantinya" ucap Jonathan tertawa renyah. Audrey hanya menggeleng dan pergi masuk ke dalam mobil.


"jangan lupa permintaan ku tadi! bawa calon kakak ipar ku ke Italia, oke" teriak Audrey setelah mobil Nick tampak jauh. Jonathan tak membalas, dia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. wajahnya yang bahagia sudah tidak ada, kini berganti menjadi wajah yang tampak sendu.


"harus kah aku melanjutkan drama itu?" tanya Jonathan menatap foto Ayara yang tersenyum manis di galeri handphone mahalnya.


****


Isak tangis terdengar nyaring dikamar mandi luas tersebut. sudah beberapa jam ini dia menangis terisak-isak. panggilan demi panggilan pun diabaikan nya. matahari sudah berada diatas kepala, namun belum juga membuat perempuan Asia itu bosan menangis terus.


"kenapa kakak selalu menganggap ku sebagai pengganggu?" tanya Elena disela-sela tangisannya "kakak selalu menyalahkan ku jika berbuat sesuatu yang tidak kakak inginkan, dan ketika aku berbuat hal yang membanggakan, kakak hanya diam, seolah-olah mengatakan diriku tidak berguna" teriak Elena.


"hanya kak Daniel lah yang bangga padaku" ucap Elena menghapus air matanya.


***TOK


TOK


TOK***


Elena menatap tajam pintu yang berbunyi menandakan ada seseorang yang sudah masuk ke kamar nya, padahal dia sudah mengunci kamar nya.


"Siapa yang berani masuk ke kamarku tanpa izin?" tanya Elena kesal. gadis itu berdiri dan melangkah lebar kearah pintu dan membukanya. dilihatnya Mike yang sedang menatap nya tajam, tanpa berkata Mike menarik kasar tangan Elena dan menyeretnya keluar kamar mandi


"lepaskan tanganku, apa kau gila" teriak Elena yang mencoba menarik tangan nya kembali, namun naas. karena kesal, Mike pun melempakan tubuh Elena ke ranjang dan dengan cepat menindihnya, tapi Mike masih bertumpu pada kedua lengan dan lututnya.


DEG..


jantung Elena berpacu dengan cepat. dia takut dengan tindakan Mike, apalagi tatapan tajam dan muka datar itu mampu membuat Elena menelan ludah nya kasar.


"a-apa yang k-kau lakukan? me-menyingkir lah" ucap Elena terbata-bata. tubuhnya gemetaran hebat, Mike yang melihat nya pun tersenyum sinis.


"kau kenapa?" tanya Mike dengan suara seksi, hal tersebut tambah membuat Elena pucat. percuma saja berteriak, kamarnya kedap suara dan sekarang Mike mengunci pintu kamar Elena.


"apa mau mu?" tanya Elena memberanikan diri menatap mata Mike tajam.


Mike tersenyum smirk "seharusnya aku yang bertanya begitu padamu, mau apa kau sebenarnya ke club malam?" tanya Mike dingin


"bukan urusan mu!" seru Elena membuang wajah nya


"oh, ya?" tanya Mike yang mendekatkan wajahnya ke wajah Elena. Bahkan Elena mampu merasakan deru nafas hangat yang menimpa wajahnya. bulu kuduk nya merinding.


Matanya membulat, rasanya jantung nya akan berhenti berdetak karena merasakan benda kenyal itu menempel di bibir nya.


Mike mengecupnya!


walaupun bukan ciuman tapi masih membuat Elena kesal setengah mati.


dengan santainya Mike bangkit dan membiarkan Elena terduduk dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus. walau ada rasa benci, namun rasa malunya mendominasi. Mike mengeluarkan borgol dan tanpa banyak bicara diapun memborgol tangan Elena ke tangannya.


"kau" kata Elena yang hampir saja menampar pipi Mike, tapi Mike duluan menangkap tangannya dan mencekam nya dengan kuat, hal itu membuat Elena meringis.


Mike segera melepaskan nya dan mendudukkan Elena kembali. Elena pun patuh karena tatapan membunuh dari Mike yang sangat seram. Mike ikut duduk dan mengambil piring yang berisi makan pagi dan siang untuk Elena yang terdapat di nakas.


Mike menyodorkan piring itu ke Elena. "makan!" perintah Mike namun sama sekali tidak diindahkan oleh Elena. kerena kesal Mike pun meraih rahang Elena dan mendekatkan wajahnya ke Elena.


"apa perlu aku melakukan nya lagi" bisik Mike yang sengaja menggoda gadis itu. Elena pun segera menepis kasar tangan Mike yang saat ini ada dibibir nya.


"tidak perlu!" seru Elena yang langsung makan dengan cepat hingga membuat salah satu sudut bibir Mike terangkat, namun tak dilihat oleh Elena.


"pelan-pelan!" ucap Mike mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. dengan sebelah tangannya dia mengotak-atik ponsel tersebut dan menyodorkan suatu foto diponselnya.


"ingin kemari?" tanya Mike memperlihatkan gambar salah satu wahana yang dari dulu ingin sekali ia naiki.


dengan mata berbinar-binar seperti mendapat harta Karun Elena berkata "kau mengajakku?" tanya Elena sedikit takut.


"tidak" jawab Mike datar.


"jika tidak ingin mengajakku, kenapa bertanya?" seru Elena kesal.


"bersiaplah malam ini, kita akan pergi. aku sudah meminta izin dari kakak mu. jangan lama! dan habiskan makanan mu!" ucap Mike melepaskan borgol itu dan langsung pergi keluar kamar Elena.


Mendengar perkataan Mike tentu saja membuat Elena bahagia


dia akan menaiki permainan yang dari dulu dia inginkan dan sekarang seorang Mike datang dan mengajaknya.


"asyikkk,, aku akan bersenang-senang di taman bermain!" teriak Elena berlompatan di atas ranjang nya karena sangking bahagia nya.


****


IKUTI TERUS YAK..