
Mereka berdua sampai di mansion pukul 22:3 malam. Elena turun dari mobil diikuti oleh Mike yang memberikan kunci mobilnya pada salah satu penjaga yang menjaga malam ini.
Elena memandang Mike yang berjalan masuk duluan tanpa menunggu Elena. karena jujur, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, belum lagi besok dia harus mengerjakan tugas yang memakan waktu yang lama.
"terimakasih untuk hari ini tuan sombong" ucap Elena tersenyum manis. Mike meliriknya sebentar, tapi tak membuat nya menghentikan langkahnya, justru dia pergi ke kamar nya, tanpa mempedulikan Elena yang sudah menggerutu kesal karena diacuhkan.
"huh, dasar sombong!" seru Elena mendengus kesal dan pergi ke dapur untuk mencari makanan. soalnya dari tadi Mike tidak mengajak nya makan malam.
Disaat sedang mengacak-acak lemari es, tiba-tiba suasana dingin membuat Elena terdiam, seperti ada yang salah tapi apa?
Elena berbalik dan menatap dapur yang sunyi tak ada seorang pun kecuali dia.
Dirasa aman Elena pun berbalik, namun tiba-tiba saja dekapan kain yang sudah ditetesi obat bius itu membekap mulutnya membuat Elena kesusahan bernafas
"Mmpphhh..." teriak Elena ketika dengan mata kepala nya sendiri melihat orang itu menembak kepala salah satu maid yang ingin menolongnya. darah yang berceceran dia lantai ditambah obat bius itu mampu membuat Elena kehilangan kesadarannya.
***
Suasana mansion menjadi tegang melihat dua orang yang tergeletak tak bernyawa di kaki Felix, pun diikuti beberapa penjaga yang babak belur membuat kesan malam ini bertambah mengerikan.
Satu ada seorang maid yang tergeletak di lantai dengan darah yang mulai membeku, nyawanya sudah hilang. dan yang satu lagi seorang wanita berpakaian serba hitam tertembak di bagian dada nya, bisa dipastikan peluru tersebut menembus langsung ke jantung.
para maid yang melihat itu gemetaran, namun tidak dengan Audrey yang sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. dia mengerutkan keningnya melihat seperti nya wanita berpakaian serba hitam itu pernah dia temui tapi dimana?
Felix menatap satu persatu pelayan yang mencurigakan. "kalian menghianati ku rupanya" ucap Felix dingin, tapi senyum yang tercetak di kulit putih mulus itu yang membuatnya siapa saja bergidik ngeri.
"apa perlu aku membunuh kalian satu persatu?" tanya Felix menondongkan pistol kearah Audrey. bukannya takut, Audrey malah menatapnya menantang. membuat iblis dari dalam dirinya bangkit seketika.
"Dany" panggil Felix. Dany mendekati Felix dan paham akan isyarat Felix. Dany pun membubarkan semua orang disana kecuali Felix dan Audrey.
Setelah semuanya pergi, hanya ada suasana diam. Audrey menghela nafas nya. "apa kau pikir akulah yang menculik adikmu?" tanya Audrey tenang.
"oh, jadi bukan kau yang menculiknya. hmm, jadi siapa kira-kira yang menculiknya?" tanya Felix berjalan mengelilingi Audrey sambil berfikir.
"aku tidak berbohong!" seru Audrey
"tidak berbohong katamu" bentak Felix menendang keras punggung belakang Audrey hingga Audrey tersungkur tepat di depan dua mayat wanita tadi.
"jelas-jelas semua bukti sudah mengarah padamu" bentak Felix menjambak kuat rambut Audrey hingga cairan bening itu keluar tanpa izin. "dan kau masih mengelak?" tanya Felix sinis. dengan tidak ada perasaan nya Felix membenturkan kepala Audrey kelantai dan menjambak nya lagi. keluarlah darah dari hidung mancung tersebut tapi tak membuat Felix iba.
tak sampai di situ diseretnya dengan kasar menuju kamar Audrey dirumah belakang, Audrey menggigit kuat-kuat bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara kesakitan saat tangan itu rasanya ingin putus saja.
BRAK....
pintu kamar mandi terbuka dengan kasar hingga membuat suara yang berisik. ditarik nya tangan Audrey kearah bak kamar mandi dan kejadian tak terduga terjadi. dijambaknya rambut hitam itu dan memasukan kepala Audrey kedalam bak tersebut yang tergenang banyak air.
"matilah kau ******!" teriak Felix gila sebelum tawa setan itu menggelegar. sudah satu menit lewat barulah ditariknya kepala Audrey untuk kepermukaan namun tangan dingin itu masih setia dengan jambakan.
"Uhuk-uhuk... Uhuk-uhuk" Audrey terbatuk-batuk karena kekurangan oksigen.
"kenapa? kau kehabisan nafas? bagaimana jika kita gandakan durasinya" ucap Felix melakukan kembali hal yang sama namun lebih lama.
tubuhnya sudah nampak kaku dan tangannya memutih karena pucat, barulah diangkat Felix lagi kepala itu dan ternyata perempuan malang itu sudah pingsan.
Tubuhnya yang lemah membuat sang penyiksa kembali kedalam pikiran sadar. iblis dalam dirinya perlahan menyurut karena mengigat sosok gadis kecil berkacamata yang mengisi hari-harinya dengan tawa yang lepas.
genggaman itu mengendur dan kembali menguat mengingat sang adik juga ada didalam bahaya dan wanita didepannya inilah penyebabnya. diseretnya keluar untuk menuju penjara bawah tanah. menuruni tangga membuat tubuh tanpa celah itu tergores. siapapun yang melihatnya pasti ngilu, sungguh kasihan tapi apa daya ketika kebencian lebih mendominasi dari pada cinta.
***
Dany menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya, sudah satu jam sang tuan berada didalam mansion dengan gadis itu. membuat Dany merasa ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada Audrey. akhirnya memutuskan pria itu untuk masuk memastikan sendiri. baru saja dua langkah, Felix sudah keluar dengan wajah memerah penuh amarah.
"ada apa tuan?" tanya Dany khawatir.
"dia tidak mengaku" jawab Felix gusar. "sudah jelas-jelas tanda bunga mawar berduri adalah simbol kelompok mafia miliknya dan dia masih tidak mau mengaku!" seru Felix kesal.
"apa yang anda lakukan padanya, tuan?" tanya Dany hati-hati. "apa dia mati?" lanjut Dany yang mengerti kemarahan Felix.
"entahlah, mungkin sekarat" jawab Felix memasuki mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk pergi ke markas mereka.
Dany menggelengkan kepalanya melihat kepergian Felix. "bagaimana bisa nona Audrey yang melakukan semua ini, sudah jelas-jelas ketiga pimpinan besar mereka sedang ditahan dan ck, tuan Felix tidak mau mendengar penjelasan dari wanita itu" ucap Dany pusing. rasanya masalah belakang ini disebabkan oleh Elena membuat nya sedikit tidak suka dengan adik perempuan tuannya itu.
***
Sakit
hal itu yang dirasakan nya ketika membuka mata. rasa silau menyiratkan berapa lama dia menutup mata. ruangan kumuh itu membuat Elena tak nyaman, didepannya sudah duduk seorang pria asing yang tampan menurut Elena. haruskah dia memuji ketampanan pria itu walaupun dia sadar bahwa pria itulah yang menculiknya?
"oh, kau sudah sadar rupanya" katanya dengan suara berat. pria itu tersenyum manis?
apa manis? seolah-olah tak tahu apa yang telah dia buat ini. menculik putri dari mafia terkejam di Amerika dan adik dari penguasa Asia? cih, jangan harap kau bisa lepas, pikir Elena.
Sedetik setelah tersenyum manis, Elena melihat pria itu memasang wajah menyeramkan, membuat Elena takut. pria itu membuka penutup mulut Elena agar Elena dapat bicara.
"kau" ucap Elena geram. "lepaskan aku , kau siapa, hah" bentak Elena mencoba melepaskan diri dari ikatan-ikatan yang membuat tangan dan kakinya sakit.
"benar-benar mirip dengan Felix" ucap pria itu membuang air liur nya jijik, menyebutkan nama Felix dengan bibinya.
"apa masalahmu tuan penculik! aku tidak punya urusan denganmu!" teriak Elena marah melihat pria itu tersenyum menyeringai.
"jangan teriak!" ucapan nya pelan. "kau tidak perlu tahu apa masalah ku" ucapanya lagi dengan nada yang lebih dingin.
"kalau begitu lepaskan aku, dasar bodoh!" maki Elena langsung mendapat kan tamparan keras di pipi kirinya hingga mengeluarkan darah segar pada salah satu sudut bibirnya.
"diam atau kau akan mati!" bentak pria itu menyayat pergelangan tangan Elena yang akhirnya mengeluarkan darah segar. sangat sakit, namun Elena tidak boleh meringis kesakitan demi menjunjung tinggi nama Daddy dan Kakaknya.
"bagaimana? apa rasanya?" tanya pria itu tersenyum miring. pria itu mengulurkan kepalanya ke lengan Elena yang mengeluarkan darah dan tanpa diduga menjilat nya membuat Elena membuka mulutnya.
"lepaskan aku psyko!" bentak Elena menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara ketika pria itu mengarah kan pisau lipat nya di rahang bawah Elena.
"aku tidak pernah melepaskan mangsa ku begitu saja!" ucapanya santai. pisau itu masih menari-nari di wajah Elena dengan lincahnya.
"hentikan Jo!" seruan dari belakang membuat laki-laki itu berhenti. "ini sudah pagi menjelang siang, apa kau tidak ingin pergi bekerja?" tanya wanita seksi berpakaian terbuka itu. dia melangkahkan kakinya mendekati mereka berdua dan mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu yang masih duduk membelakangi nya.
"aku sampai lupa karena terlalu semangat untuk menyiksa wanita ini" ucap pria itu datar. "berikan suntikan nya" ucap pria itu sebelum pergi dari sana.
Elena mentap tajam wanita yang mendekati nya sambil memegang suntikan yang isinya cairan berwarna merah. "lepaskan aku wanita aneh!" teriak Elena tak menyerah.
"nikmatilah penyiksaan ini" ucap wanita itu menyuntikan cairan tersebut di lengan satu nya yang tidak ada sayatan. "ini masih permulaan saja, bodoh!" ucapnya lagi tertawa sinis dan meninggalkan Elena yang merasakan panas dari dalam dirinya sebelum kembali terlelap.
***
IKUTI TERUS YAK:)