We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Isi Hati Sebenarnya!



Langkah kaki itu terdengar semakin keras, Dany yang semula menyipitkan matanya melihat siapa sosok yang berjalan dari kegelapan, kini membulatkan matanya melihat Audrey yang sudah pingsan berada di gendongan Felix. aura pembunuh masih terasa kuat, seperti bukan Felix yang ada didalam tubuh itu, melainkan iblis. Para bawahan yang ikut bersama Dany pun tak dapat bergerak satu inci pun, merasakan kasihan pada gadis itu, tapi apa boleh buat, jika mereka membela Audrey maka nyawa mereka akan melayang.


Tak banyak berkata, Dany berlari cepat kearah mobilnya, dan menyalakan mesin mobil itu. Felix masuk dan duduk dibelakang kemudi bersama Audrey yang ditidurkan nya di paha nya. Dany dapat melirik dari spion mobil nya, bagaimana raut wajah Felix berubah drastis, wajah nya datar namun matanya menunjukkan semua, kalau laki-laki itu merasa sangat menyesal dengan apa yang diperbuatnya, bahkan Dany begitu terkejut karena air mata Felix jatuh dan mengenai dahi Audrey.


Felix tersenyum miris setelah nya, wajahnya mendekat dan memberikan sebuah kecupan singkat didahi yang ada air asin tersebut. "Maaf!" bisikan Felix yang terlalu keras atau telinga si supir yang terlalu tajam, tapi itulah bisikan yang terdengar.


'Maaf jika aku terlalu kasar, tapi entah bagaimana rasa benci ini berubah menjadi rasa takut kehilanganmu. Maaf kalau nanti nya aku semakin menyakiti mu, tapi inilah yang akan aku lakukan untuk tetap mempertahankan dirimu di sisiku. kau senang atau tidak, tapi aku benar-benar akan gila jika kehilanganmu kedua kalinya' Batin Felix meletakan tangan dingin itu di dahinya dan dikecupnya berulang kali sampai mereka sampai di mansion mewah milik nya.


****


Mata cantik dengan bulu mata lentik itu terbuka, belum juga terbuka sempurna, tertutup lagi karena cahaya yang begitu menyilaukan. badannya rasanya sakit semua, bahkan nafasnya sesak. Setelah beberapa detik kemudian Audrey mencoba menggerakkan tangannya, tapi satu bisa dan satunya lagi sangat berat untuk digerakkan. dahinya mengernyit heran, apa yang sedang menimpa tangan kanannya.


'Apa aku sudah dialam baka? kenapa sangat silau ketika membuka mata? dan apa lagi ini, kenapa tanganku berat digerakkan?' batin Audrey bertanya-tanya. Kini mata itu terbuka lebar-lebar menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea mata yang berwarna coklat tua itu. digerakkan nya ke kanan dan kiri memperhatikan sekitarnya. ah, teryata dia masih hidup. dan yang lebih ingin membuat wanita itu menangis lagi karena dilihatnya ruang dimana dia kehilangan mahkota nya dengan kejamnya.


Kini tatapannya beralih pada Felix yang tertidur pulas dengan posisi duduk di kursi sambil ranjang king size itu. Air matanya meluncur seketika! tidak, dia tidak boleh luluh untuk kali ini. dia membenci Felix dan itulah kenyataannya.


'ingat Audrey! dia hanyalah iblis berbentuk manusia, jangan pernah percaya pada wajah tanpa dosa itu. kau membenci nya dan ingat itu!' batin Audrey mengepalkan tangannya. yang semula lemah, kini kembali bertenaga karena rasa amarah, sedih dan sakit hati menjadi satu.


Merasa ada gerakan pada wajah nya, akhirnya laki-laki yang semula malas membuka matanya kini, mata itu berbuka lebar. wajah bantal yang masih mengantuk itu terangkat, pun dengan punggungnya yang tegap. ada rasa senang saat yang ditunggu-tunggu nya akhirnya sadar. tapi wajah itu dingin kembali melihat Audrey yang membuang muka nya dan terpejam kembali.


Felix berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan terdengar suara percikan air menandakan saat ini dia sedang mandi.


Audrey menghembuskan nafas berat, dia berusaha duduk perlahan ingin pergi dari kamar Sialan itu! tapi badannya begitu tak bertenaga meliputi jarum suntik yang menancap di tangannya, Ya, saat ini dia sedang diimpus. tak berselang lama, dua orang maid masuk membawakan makanan dan pakaian pada Audrey, ditambah dengan buah-buahan yang segar.


mereka menunduk hormat dan tersenyum lembut. bulu kuduk Audrey berdiri melihat mereka dua orang yang ada didepannya ini. Audrey belum pernah melihat mereka berdua, tapi senyum mereka menakutkan!


"Selamat pagi nona" ucap mereka berdua serempak disertai dengan lambaikan tangan.


Salah satu dari mereka yang terlihat lebih tua itu meletakan nampan bubur dan buah-buahan itu, setelah nya pakaian yang diletakan di sisi Audrey. "Nama saya Coral, dan ini Cana" ucapnya memperkenalkan diri. "kami diminta tuan untuk melayani anda, apa yang bisa kami lakukan untuk anda, nona?" tanya maid yang bernama Coral itu sopan diselingi senyuman.


Audrey menatap datar kedua orang itu membuat mereka sedikit salah tingkah. Audrey berusaha kembali duduk, dan dengan segera Cana membantu nya, tapi tangannya ditepis kasar oleh Audrey. "tidak perlu!" ucap Audrey pelan.


Kini dia sudah duduk sempurna, Audrey melirik kearah bubur yang menurut nya menjijikkan. "bawa ini semua kembali, aku tidak butuh!" ketus Audrey pada mereka.


"tapi ini sesuai dengan perintah tuan Felix, nona" ucap Cana dengan nada tidak suka pada Audrey.


Audrey memperlihatkan senyum setannya. "mau siapapun yang menyuruhmu aku tidak peduli, bawa ini bersamamu atau berikan kepada tuan mu" Ucap Audrey membuat mereka kesal.


"anda tidak bisa seenaknya saja, kami sudah membuatnya dengan sangat susah!" Ketus Cana yang geram dengan perkataan Audrey.


"kalian pikir aku peduli? aku bilang pergi, ya pergi! dan satu lagi, jangan memohon, karena orang yang memohon itu menggelikan!" seru Audrey kesal karena kedua orang tersebut memaksanya untuk makan.


"Nona--"


"Pergilah!" seruan dari arah kamar mandi membuat perdebatan mereka berhenti. Felix menatap dingin kedua orang maid itu. "kalian tidak dengar?" tanya Felix menyentak kedua orang tersebut dari mata kekagumannya pada tubuh Felix yang kini hanya dibalut handuk di pinggangnya.


"Ba-Baik tuan" ucap Coral menundukkan kepalanya sebentar diikuti oleh Cana dan mereka pun meninggalkan Audrey yang kini tengah ketakutan menatap Felix, dengan penampilan seperti itu mengingatkan nya pada Malam kehancuran itu! dimana dia yang sangat kesakitan.


Felix tak memperdulikan itu, dia melangkah lebar dan membuka lemari nya dan memilah baju dan kejadian itu terjadi lagi didepan mata Audrey, Felix dengan santainya membuka handuknya dan berganti baju disana. Audrey segera mengalihkan pandangannya kearah lain.


'apa dia gila atau sudah kehilangan akal?' tanya Audrey dalam hati menyembunyikan ketakutan nya dengan kekesalan dan kebencian yang sangat besar.


Setelah selesai Felix mendekati Audrey dan duduk tepat didepan Audrey. mata elang itu membuat ketakutan yang semakin mendalam saja. "Kau tidak dengar apa yang mereka katakan?" tanya Felix dingin memegang pipi chubby Audrey.


Audrey makin panik karena Felix semakin mendekatkan wajahnya, "makan!" bisik Felix yang dengan sengaja menempelkan bibirnya di telinga Audrey. tangan Audrey mengepal kuat-kuat Hinga nampak putih.


Dengan sekuat tenaga Audrey mendorong Felix dengan amarah. "aku bukan binatang yang bisa kau atur!" teriak Audrey menampar pipi Felix kuat.


Felix tak bergeming juga dengan tamparan kuat itu. kini dia mengambil piring dan mengaduk-aduk bubur itu dan diambilnya dengan sendok setelah itu mengarahkan nya pada bibir Audrey.


"Makan!" ucap Felix mendorong sendok itu agak keras pada bibir Audrey. Audrey menepisnya hingga bubur yang disendok itu akhirnya jatuh. Felix tak menyerah, dia melakukan hal yang sama lagi, namun berkali-kali Audrey tetap menepisnya.


Merasa emosinya meningkatkan dan iblis-iblis terus memberontak untuk keluar. "Tidak mau makan ya?" tanya Felix tersenyum miring. "baiklah jangan salahkan aku jika aku melakukan hal buruk!" Seru Felix menyuapkan makanan itu dimulutnya dan ditarik dengan kasar tekuk Audrey dan mencium kasar bibir merekah bagaikan buah Cherry itu.


Audrey yang terkejut memukul-mukul bahu kekar itu, namun naas, kedua tangannya malah dicekam kuat oleh satu tangan. di lu*at nya dengan kasar dan mendorong isi mulut itu ke Audrey hingga perempuan itu terbatuk-batuk dan menepuk-nepuk dadanya dengan tangan yang sudah terlepas dari cekaman itu.


"kau!" teriak Audrey ingin menampar kedua kalinya, tapi tangan Felix sudah menangkap nya dan mencekam nya dengan kuat hingga memerah. "Dasar Brengsek! Baj*ngan kau Sialan! aku membencimu, sangat membenci mu!" teriak Audrey dengan tangisan keras.


Felix hanya tersenyum miring. "kau sudah melupakan perjanjian itu? kau tetaplah budakku, apapu yang terjadi!" ucap Felix santai. "Makan jika tidak aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini!" ucap Felix berdiri dan meninggalkan kamar dengan amarah akan kata-kata yang dilontarkan Audrey padanya.


Seketika tangis Audrey kembali terdengar pilu, bagai pisau yang menancap di jantung nya. hatinya hancur sudah, tidak ada lagi raut wajah bahagia, semua berganti dengan kesedihan.


****


IKUTI TERUS YAKK:)