
Setelah keluar dari kamarnya sendiri dengan kesal, Felix melangkahkan kakinya menuju ruang kerja nya. ketika membuka pintu sudah terlihat Eric, Nick, Mike dan Dany sudah menunggu Felix. Felix duduk di sofa di samping Mike sementara Nick dan Eric ada di seberang. Dany hanya berdiri dibelakang Felix.
"bagaimana perkembangan nya?" tanya Felix to the poin pada Dany. Dany membungkukkan badannya memberikan sebuah berkas yang ada ditangannya.
"Tuan muda Daniel sudah menyingkirkan hampir semua penghianat itu dan beliau juga sudah berhasil membeli saham tuan Cristo yang direbut paksa tuan Joel Algerion" Jawab Dany jelas
Felix menaikan sebelah alisnya melihat Dany menghela nafasnya. "ada yang salah?" tanya Felix lagi
Dany menganggukkan kepalanya pelan. "Tiger White menyerang blood enthusiast tadi malam" Seru Dany
"sudah kuduga" Balas Felix memejamkan matanya. "siapa yang menang?" tanya Felix.
"Seri!" jawaban Dany sukses membuat keempat orang itu terkejut bukan main. karena blood enthusiast atau sering disebut B.E adalah organisasi yang dipimpin langsung oleh Jason Devian - ayah Felix yang tidak lain adalah tuan besar Devian. organisasi ini adalah organisasi mafia kejam asli benua Amerika yang dinobatkan sebagai organisasi mafia terkuat dan terbesar di dunia. kekuatan mafia mereka bukan main tapi kenapa kali ini hasilnya seri? itulah yang ada dibenak mereka.
"kau yakin Dany? bagaimana bisa B.E kalah dengan Tiger White? kau tahu kan organisasi Tiger White baru saja dibangun dua tahun yang lalu?" tanya Eric beruntun.
"Saya yakin sekali tuan Eric, bahkan tuan muda Darren juga terluka parah akibat peperangan darah tadi malam. anggota kita pun tidak sedikit yang mengalami cidera". Jawab Dany terheran-heran.
"Darren terluka?" tanya Nick membelalakkan matanya. "bagaimana seorang maniak darah terluka hanya karena Tiger White?" tanya Nick terkejut.
bagaimana tidak terkejut. Darren adalah sepupu Felix dikenal sebagai manusia tidak punya perasaan. Dia akan membunuh siapa saja yang menghalangi tujuan nya, tidak peduli dosa karena prinsip nya adalah setiap ada kehidupan pasti ada kematian.
Felix tampak berdecak kesal "dasar manusia bodoh!" maki Felix menggelengkan kepalanya heran, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghalangi adik sepupu nya itu. Seakan tidak punya telinga, dia tidak mau mendengarkan perkataan siapapun. "Kenapa dia ke Amerika? laporan terakhir yang kudapatkan, dia sedang ada di Jepang dua hari yang lalu!" seru Felix menahan kekesalan.
"Mike" panggil Felix menatap Mike yang memasang tampang datarnya. "Nanti malam bawa Elena ke Amerika!" perintah Felix.
Mike menaikan sebelah alisnya heran. "kau menyuruhku?" tanya Mike menatap jengkel kearah sahabatnya itu
"kita tidak tahu siapa yang nantinya akan diserang Tiger White setelah ini! mungkin saja mereka akan menyerang the bloodthirsty atau bisa jadi the prickly red rose!" ketus Felix. "aku tidak mau mereka mengincar Elena nantinya" jujur Felix terlihat khawatir jika saja adiknya itu diculik lagi.
"kenapa tidak kau ajari saja dia bertarung melawan musuh?" tanya Eric penasaran. dari pertama kali kali dia bertemu dengan Elena, tidak pernah sekalipun Elena berlatih seperti halnya anak seorang mafia, sifatnya yang kekanak-kanakan membuat siapa saja tidak akan menyangka dia adalah anak dari penguasa Amerika.
Felix memejamkan matanya lelah pun diikuti helaan nafas panjang frustasi. "ada alasannya Daddy tidak mau anak perempuan dikeluarga kami terjun ke dunia hitam" jawab Felix setelah beberapa menit hening. mata itu mengisyaratkan sebuah luka yang dalam, dan mereka semua melihat nya.
Mike berdehem untuk menetralkan rasa canggung diantara mereka saat ini. "baik, kami akan pergi malam ini" Ucap Mike berdiri dari duduknya. "dan kau?" tanya Mike
"akan pulang beberapa hari lagi, setelah semuanya didalam kendaliku" sambung Felix yang kini tatapan nya beralih pada Nick. "setelah ini kita bicara di markas" Ucap Felix berdiri dari duduknya dan melangkah lebar keluar dari ruangan itu diikuti oleh Mike, Nick, Eric dan Dany.
Audrey mengumpat tentang semua perilaku yang tadi pagi. apalagi rasa sakit kakinya yang dipukul Felix saat malam pelariannya hingga menyebabkan salah satu kakinya patah dan mengharuskan dia untuk memakai kursi roda. tidak ada yang bisa dia kerjakan lagi. percuma keluar, pintu kamar itu di kunci dari luar, siapa lagi pelakunya kalau tidak Cana - maid yang sama sekali tidak menyukai Audrey. dan yang lebih parahnya lagi, Felix lah yang memilihnya langsung.
Tampak perempuan blasteran Asia-Eropa itu menghela nafas berat. jika saat ini kakinya tidak parah, mungkin dia bisa kabur dari balkon. terjun ke bawah atau memanjat atap.
KREAAT...
BRAKK...
Pintu kamar itu terbuka dengan paksa dan akhirnya membuat suara gaduh yang keras, pun dengan suara tiga orang wanita yang tampaknya saling bertengkar. Audrey mengangkat pandangannya yang semua ada dibuku bacaan yang baru saja dia ambil di rak buku bawah. dilihatnya ada Elena dan Maria sedang bertengkar dengan Cana, ada juga beberapa bodyguard yang ingin menghalangi Elena dan Maria untuk masuk.
Elena mendorong kasar Cana hingga hampir saja terjatuh kalau salah satu bodyguard yang menopang badannya. "Kenapa kalian sama sekali tidak mengerti! aku dan Maria ingin bertemu dengan Audrey hanya sebentar, jadi menyingkirlah!" bentak Elena menghentakkan kakinya kelantai sangking kesalnya.
Maria pun sama, perempuan Jepang ini terlihat marah besar. tidak kenal tempat, diapun dengan beraninya ingin memukul salah satu bodyguard disana. namun baru saja tangannya melayang terdengar suara bariton yang menggelegar. "Hentikan Maria!" teriak Eric kesal. dia menghampiri adik temannya dan kekasihnya itu dengan tatapan tidak terbaca. "mereka hanya menjalankan tugasnya saja! jadi jangan sesekali memukul atau membentak nya!" teriak Eric menarik tangan Maria hingga sedikit menjauhi mereka.
Cana tersenyum miring melihat salah satu petinggi bloodthirsty mendukungnya, dengan tatapan angkuh perempuan itupun berkata. "benar kata tuan Eric, jadi sebaiknya anda berdua pergi dari sini sebelum kami melaporkan nya ke tuan Felix!" ketus Cana membuat Elena ingin sekali menampar pipi pucat itu.
"Diam kau! tidak ada yang bisa melarang ku menemui sahabat ku! termasuk kau kak!" teriak Elena menunjuk jarinya kearah Eric yang menatapnya datar sambil menggenggam erat tangan Maria tidak membiarkan perempuan itu lolos meskipun berulangkali meronta.
"Jangan memancing emosi ku, Elena! kau tahukan bagaimana jika aku marah" ucap Eric dingin.
mendengar perubahan raut wajah dan kata-kata Eric yang mulai tidak bersahabat. Kontan saja mereka berdua diam membeku. Maria menarik tangan nya kasar dan pergi dari sana tanpa menoleh kebelakang meskipun Eric meneriakkan namanya dan bahkan mengancam
"menyebalkan!" maki Elena menatap Eric dan Cana bergantian dengan tatapan membunuh. "kalian berdua cocok, sama-sama menyebalkan!" seru Elena pergi dari sana mengikuti Maria sambil menghentak-hentakan kakinya kelantai.
Audrey yang melihat nya hanya menggelengkan kepalanya. "mereka mirip, bukan?" tanya Audrey pada Eric yang masuk ke kamar itu menghampiri Audrey.
Eric mengangkat bahu nya acuh. "kau tidak apa?" tanya Eric khawatir. dia sudah tahu apa yang terjadi pada Audrey dari Mike. marah? tentu saja marah, bahkan dia dan Nick hampir saja membunuh Felix karena kejadian itu. untunglah Mike dan Dany memasang badan untuk menghalangi keduanya yang ingin berbuat nekat. namun mereka belum tahu kejadian apa yang menyebabkan Audrey pergi, Mike hanya mengatakan kalau Audrey pergi karena ingin kabur.
Audrey tersenyum miris dan mengangguk sebagai jawaban yang cukup ambigu bagi Eric. Eric menghela nafas panjang sebelum melihat jam yang menggantung di dinding kamar itu. "pekerjaan ku menunggu, seperti nya aku tidak bisa lama-lama disini" ucap Eric tersenyum lebar hingga kedua matanya tenggelam
Audrey mengangguk kan kepalanya mengerti. Eric pun melangkah lebar kearah pintu dan menutup nya pelan, setelah itu terdengar suara seseorang seperti mengunci pintu itu. Audrey hanya dapat menghirup nafas dalam-dalam menahan amarah yang muncul lagi.
\*\*\*
NEXT..