We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Adik ipar?



Pagi hari pun tiba, kicauan burung terdengar samar-samar, namun tak membuat gadis itu terbangun dari alam tidurnya. Terdengar bunyi terbukanya pintu kamar dan suara decitan sepatu yang menghantam lantai. dia mendekat memandangi sebentar gadis itu dan kini beralih ke jendela. dibukanya gorden lebar-lebar. cahaya sang Surya pun masuk, hingga membuat sang pemimpi itu terusik. gadis itu menggeliat pelan dan membuka matanya perlahan guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea mata nya. dilihatnya seorang pria dengan pakaian formal menatap dingin pada gadis itu, hingga membuatnya membeku.


Tak ingin lama-lama memandang gadis itu, kini Felix berlalu dan kini mendaratkan tubuh tepat di atas sofa. memandangi gadis yang kini sigap duduk dari tidur nya. sejenak memandangi gadis itu dan berakhir dengan senyum sinis seolah mendapatkan mainan baru. Audrey menyadari senyum itu, tapi tak membuat nya bergeming.


"seharusnya seorang budak lebih cepat bangun dari pada tuannya" ucap Felix menatap dingin Audrey. Audrey hanya diam, percuma menyahuti perkataan nya, kalau akan berakhir hinaan dan cacian.


"kau sudah lupa poin yang terdapat dalam surat perjanjian itu?, jika kau lupa, kau bisa meminta catatan nya pada Mike." tanya Felix yang kini duduk bersandar dan menyilang kan kaki nya.


"dan satu lagi. aku harap kau tahu batasan mu, aku membiarkan mu untuk dekat dengan adikku karena dia nyaman dengan mu. jangan mengatakan hal yang tidak-tidak padanya. bukan berarti kau dekat dengannya, aku akan memaafkan mu begitu saja. kau hanya bawahan ku sekarang, bahkan tidak berarti apa-apa." ucap Felix lagi dan beranjak dari tempat duduknya, sejenak memandangi Audrey yang kini membuang mukanya ke sembarang arah.


"camkan itu baik-baik" kata Felix untuk terakhir kalinya. setelah itu dia pergi dan menutup pintu dengan kuat, hingga membuat suara yang mengagetkan.


melihat Felix yang sudah pergi Audrey pun menatap pintu itu dengan sendu. tanpa sadar cairan bening itu menetes untuk kesekian kalinya. memang ketika Felix mengatakan dia adalah seorang budak, entah mengapa hatinya sangat sakit mendengar nya. aneh memang, bukannya dia sudah menganggap Felix sebagai musuhnya, tapi apa ini? menangis.


"bukankah kau yang berselingkuh dengan Serena dibelakang ku, tapi kenapa kau malah menyalahkan ku. kau mengatakan kata-kata yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh ku. sudah kubilang berapa kali, aku tidak ada apa-apa dengan Antonio. dia sudah ku anggap sebagai kakak bagiku. tapi kau sama sekali tak percaya dan kau bahkan lebih percaya perkataan Serena. dasar dari saling mencintai adalah kepercayaan, aku muak mendengar kata-kata itu." ucap Audrey pelan seraya mengusap air matanya yang terus saja mengalir...


"bodoh, seharusnya aku membencinya. kenapa malah menangis yang tak jelas begini" ucap Audrey lagi. dia berdiri dan membereskan tempat tidurnya. dilihatnya jam, waktu sudah menunjukkan pukul 06:35.


dia berjalan pelan kearah jendela, sejenak menenangkan diri, dia melamun tak jelas hingga suara ketukan pintu membuyarkan itu semua.


dibukanya pintu itu dan tampak lah seorang gadis keturunan Asia yang kini dengan raut wajah senangnya tersenyum manis. Audrey hanya membalas nya dengan tersenyum tipis.


"good morning adik ipar" sapa nya tersenyum dan masuk menerobos ke kamar sambil membawa paper bag. mendaratkan tubuhnya ke sofa dan membukanya. lalu mengambil isinya yang berupa dress selutut berwarna navy dan memberikan nya pada Audrey.


"apa ini?" tanya Audrey yang masih tak mengerti kemauan Elena.


"apa adik ipar buta?, ini dress untuk mu. pakailah cepat, kita akan ke kampus bersama." ucap Elena yang kini mendorong Audrey hingga ke depan pintu kamar mandi.


"untuk ku?" tanya Audrey memastikan


"CK, tentu saja ini untuk mu. cepat lah, kak Felix sudah mengizinkan mu untuk pergi ke kampus bersama ku" jawab Elena. sebenarnya Audrey enggan pergi ke kampus, dia ingin menemui Nick dan meminta maaf padanya tapi karena terus dipaksa Elena, akhirnya Audrey menyerah dan mandi.


***


Beberapa menit berlalu akhirnya Audrey keluar juga dengan pakaian yang sudah lengkap. dia melihat kini Elena tengah duduk dengan santai sambil memakan sarapan nya. melihat Audrey yang sudah keluar dari kamar mandi, Elena langsung mengajaknya makan bersama.


mereka makan dengan tenang tidak ada suara sedikitpun, sampai suara ketukan pintu membuyarkan itu semua, kedua gadis itu melihat kini Nick sudah berdiri menatap dingin ke arah mereka berdua. Nick mendekat dan tatapan nya hanya pada Elena, tidak dengan Audrey.


"cepatlah, aku tidak punya banyak waktu" ucap Nick dingin tanpa melirik sedikit pun pada Audrey yang kini menundukkan kepalanya.


"tunggu sebentar kak, aku akan mengambil tas ku" ucap Elena yang kini beranjak dan berlari ke kamarnya.


Pandangan Audrey terpaku pada lengan Nick yang terbungkus perban, karena Nick memakai baju lengan pendek. jadi lukanya terlihat sangat jelas. Audrey berdiri dan dengan cepat meraih tangan Nick yang ingin keluar dari kamar tersebut.


menyadari tangannya digenggam seseorang, membuat pria itu berhenti, samar-samar terlihat senyum tipis di wajahnya. Nick pun membalikkan badannya dan menatap tajam Audrey. Nick yang ingin menarik tangan nya, langsung ditarik lagi oleh Audrey.


"lepaskan tanganku!" seru Nick menajamkan matanya.


"siapa yang melakukannya?" tanya Audrey tak mempedulikan kata-katanya Nick.


"bukan urusan mu!" seru Nick yang kini sudah menepis tangan Audrey kasar dan pergi dari sana. tapi lagi-lagi Audrey menahannya. Audrey memeluk Nick erat dari belakang. baju Nick pun basah karena air mata Audrey.


"maafkan aku kak" lirihnya


Nick pun membalikkan badannya dan memeluk Audrey juga.


"tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf. aku tidak bisa menjadi kakak yang berguna untuk mu" ucap nick pelan


"tidak, jangan minta maaf. akulah disini yang salah" ucap Audrey menggelengkan kepalanya berulang kali.


"sudahlah jangan menangis,, nasi sudah menjadi bubur. tidak ada lagi yang harus ditangisi. aku sekarang ada di samping mu. mari kita hadapi bersama-sama" ucap Nick yang kini melepas pelukan nya dan mengusap air mata Audrey.


"jangan marah lagi padaku" pinta Audrey memelas.


"kau adik perempuan kesayangan ku, mana mungkin aku marah lama-lama" ucap Nick tersenyum sambil mengacak-acak rambut hitam Audrey.


"aku adik perempuan kesayangan mu, karena kau tidak mempunyai adik perempuan lagi" gerutu Audrey mencubit pelan pinggang Nick.


"hahha, iya-iya. bagaimana pun aku menyayangimu" ucap Nick yang kini memeluk Audrey lagi.


"ehm.." suara deheman itu dapat melepaskan pelukan ke dua kakak beradik itu. terlihat Eric dan Mike yang kini menatap mereka berdua.


"kau mengganggu kesenanganku tuan Tanapon" gerutu Audrey menatap tajam Eric.


mendengar kata Tanapon, membuat Eric menegang.


"sudahlah jangan tegang begitu, dia saja tahu nama belakang ku. apa lagi kau" ucap Mike menepuk pundak Eric.


"bagaimana kabar bibi?" tanya Eric pada Audrey.


"hahah, iya juga ya. bagaimana anak hilang tahu kabar keluarga nya?" tanya Eric yang sengaja menyindir ketiga manusia yang kini dengan menatapnya dengan tatapan membunuh.


"kau juga anak hilang, bucin" seru Nick tidak terima.


"setidaknya aku masih sering mengunjungi orang tuaku di Thailand" ucap Eric tersenyum menyeringai.


"terserah padamu" ketus Nick, setelah itu pergi dari sana untuk menyiapkan mobil. setelah Nick pergi, Eric pun menatap Audrey seksama.


"ada apa?" tanya Audrey pada Eric.


"ehm, bisakah kau bilang pada Maria untuk berbicara lagi dengan ku. semenjak kau ditangkap, Maria marah pada dan bahkan mengancam akan memutuskan hubungan kami" jawab Eric


"cih, mencari kesempatan dalam kesempitan" ucap Mike yang kini sudah tak tahan dengan si raja drama. Eric tak peduli apa yang dikatakan Mike, yang dia inginkan saat ini hubungan nya dengan Maria akan berjalan lancar.


"tenanglah, aku akan berbicara pada nya" ucap Audrey tersenyum manis, menepuk pelan pundak Eric dan berlalu pergi meninggalkan Eric yang kini sedang senyum-senyum tak jelas.


Ntah apa yang di pikiran si bucin itu, orang tidak ada yang tahu. hanya dia dan Tuhan lah yang tahu:)


Sama hal nya dengan Mike, Eric pun juga mengganti nama belakang nya. nama Eric yang sebenarnya adalah Tor Fredrick Tanapon. pria ahli IT keturunan asli Thailand dan Inggris. alasannya pergi dari Inggris sama dengan Nick yaitu mencari kebebasan.


orang-orang di negara nya memanggil nya Eric, sebab itulah dia mengganti namanya dengan Eric. sedangkan Clint Federico adalah nama asli ibunya. nama ibunya yaitu Moana Clint Federico. dan nama ayahnya Sila Tanapon. itulah sekilas info tentang siapa Eric yang sebenarnya.


***


Kembali pada Audrey, Elena dan Nick yang kini sudah berangkat. hening, itulah yang terjadi di antara ketiga nya.


"ehm, adik ipar" tanpa sadar Elena mengatakan adik ipar di depan Nick. refleks dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat seraya memukuli pelan kepala nya. Audrey yang melihat itu hanya dapat menahan senyum nya. sedangkan Nick tampak terkejut mendengar Elena memanggil Audrey dengan sebutan adik ipar. bukankah Leon sudah menikah dengan amber dan sudah memiliki dua anak, tapi kenapa Elena memanggil Audrey dengan sebutan itu.


'apa Elena kenal dengan Jonathan?' tanya Nick dalam hati.


"iya kakak ipar" ucap Audrey yang meladeni Elena


"kau kenal dengan Jonathan?" tanya Nick pada Elena. Elena hanya diam, bingung mau jawab apa.


'dasar kak Nick kurang peka' batin Audrey menggelengkan kepalanya.


"lupakan, tadi aku hanya mengingat-ingat naskah dialog ku" jawab Elena gugup.


"oh" ucap Nick acuh.


Sampai turun pun Elena tetap diam, itu yang membuat Nick menatap aneh pada gadis yang ada di depannya ini.


'biasanya dia banyak omong, tapi kenapa dia sudah seperti orang bisu saja. apa yang dilakukan oleh Mike padanya sehingga prilakunya mirip dengan Mike?' tanya Nick dalam hati.


Elena sudah jauh pergi meninggalkan Nick dan audrey di mobil.


"apa ada yang salah pada nya?" tanya Nick pada Audrey.


"bukan dia yang salah, tapi kakak yang kurang peka" jawab Audrey menggelengkan kepalanya


"kakak pandai merayu wanita, tapi tidak bisa memahami hati mereka" ucap Audrey lagi yang membuat Nick semakin penasaran.


"apa maksudmu?" tanya Nick


"dia menyukai mu" jawab Audrey tersenyum tipis. Nick mencerna baik-baik kata yang diucapkan Audrey.


"aku masuk dulu, dah.." pamit Audrey berlari memasuki gerbang meninggal kan Nick yang kini masih mematung menatap kepergian Audrey.


'menyukai?' batin Nick..


seketika matanya membulat penuh tak percaya, ke narsisan Nick pun bangkit lagi..


tapi mengingat-ingat siapa Elena, membuat nyali nya menciut.


"dia adik nya Felix, bagaimana aku bisa memanfaatkan nya. bisa mati di penggal nanti aku sama kakaknya. mulai sekarang aku harus jauh-jauh dari Elena. supaya dia tidak jatuh cinta pada ku" ucap Nick dan setelah itu meninggal kan kampus dan pergi menuju markas, karena dia sudah menyusun siasat untuk membalas perbuatan Mey yang menembak lengan kirinya.


Dasar Nick gak peka!!


***


Halo semuanya 🖐️


Jangan lupa like, komen and vote nya ya


maaf, kata-katanya masih acak-acakan


mohon dukungannya:)