We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Terlambat



Pagi harinya Audrey telah bersiap-siap untuk pergi ke kampus, dia pun turun kebawah dan memulai sarapannya.


"apa anda ingin langsung pergi nona?" tanya Joshua yang mengagetkan Audrey


"astaga, kau membuatku kaget Josh. iya, aku ingin pergi" jawab Audrey mengelus dadanya


"maaf nona, jika tidak keberatan saya yang akan mengantarkan anda" kata Joshua


"ahh, bukankah kau akan kekantor hari ini?" tanya Audrey


"saya akan mengantarkan anda terlebih dahulu" jawab Joshua


"terimamakasih, tapi aku bisa pergi sendiri Josh. lagipula jarak kantor dan kampusku itu berlawanan" tolak Audrey yang tak ingin merepotkan orang lain


"baiklah nona tapi biarkan salah satu pengawal untuk mengantarkan anda. siapa tahu nanti dijalan, orang-orang itu akan kembali menyerang" ucap Joshua kecewa karena ditolak Audrey.


"baiklah, terserah kau saja" ucap Audrey meneruskan sarapannya


Joshua pergi dari sana dan menuju ke arah Felix yang kini sedang berada di teras.


"kau!" panggil Joshua


"saya tuan?" tanya Felix


"memangnya siapa lagi jika bukan kau?" tanya Joshua kesal


"maaf tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Felix


"antarkan nona AES ke kampus nya" ucap Joshua


"baik tuan" ucap Felix membungkukkan sedikit badannya.


'mengantarkanya?,, hemm menarik' batin Felix tersenyum menyeringai setelah itu dia pergi untuk mengambil mobil.


Audrey keluar dan langsung masuk ke mobil yang sudah disediakan


"maaf nona, apa anda ingin duduk di depan?" tanya salah satu pengawal yang sudah membukakan pintu mobil belakang tapi Audrey malah masuk ke depan.


"menurut mu?" tanya nya balik


pengawal itu diam, bingung harus menjawab apa.


"aku tidak suka, duduk dibelakang sendirian" ucap nya lagi karena melihat pengawal itu bingung.


"baik nona" menutup pintu dan membungkukkan badannya setelah itu pergi


Felix dari tadi mendengarkan perkataan mereka tersenyum tipis tapi tidak terlihat oleh Audrey.


'ternyata masih sama seperti dulu' batin Felix yang menatap Audrey


"melihat apa, cepatlah jalan. kau lama sekali" ketus Audrey menatap tajam ke arah Felix


"maaf nona, baik kita pergi" ucap Felix menyalakan mesin mobil dan langsung pergi ke kampus.


Dari tadi didalam mobil hening, Audrey yang terus melamun memikirkan kejadian semalam tak sadar dari tadi Felix melirik nya.


"siapa namamu?" tanya Audrey membuka percakapan


"Deven nona" jawab Felix sopan.


"apa kau anggota baru?" tanya Audrey penasaran


"benar nona, bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Felix


"kau terlihat asing tapi sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya tapi dimana ya?" tanya Audrey pada dirinya sendiri


"seperti nya anda salah orang nona" ucap Felix


"begitu ya" kata Audrey yang menertawakan dirinya sendiri, ia tak sadar kini dia memukul pelan pundak Felix.


Audrey yang sadar akan kelakuannya pun menghentikan nya.


"maaf, aku tak sengaja. aku kira kau adalah Mey" ucap Audrey tanpa menoleh kearah Felix


"tidak apa nona" jawab Felix dingin.


saat mendengar perkataan dingin Felix, entah mengapa jantung nya kembali berdetak kencang.


'kenapa aku merasa dia orang yang tak asing bagiku ya, tapi aku tak pernah kenal dengannya dan bagaimana bisa jantungku berdetak kencang. apa aku sakit ya?' batin Audrey bertanya-tanya seraya melirik Felix. Felix tahu gadis yang meliriknya itu sedang kebingungan tapi dia tidak peduli.


"sudah sampai nona" ucap Felix yang mengagetkan Audrey


"astaga kau mengagetkan ku" seru Audrey kesal


"maaf nona" ucap Felix


"yasudah, aku pergi dulu" ucap Audrey setelah itu masuk.


'dia masih belum menyadari juga' batin Felix


Saat ingin pergi tiba-tiba mobil Felix dihadang oleh Lamborghini warna kuning milik Nick.


Felix yang mengetahui itu tersenyum sinis melihat Nick yang datang mendekat dan mengetuk kaca mobilnya.


"ada apa?" tanya felix dingin tanpa melihat Nick


"bisa kita bica" ucap Nick


"seperti nya tidak ada lagi yang harus dijelaskan disini. ingat, saat ini kau masih dalam masa percobaan sebab itulah jangan ikut campur urusan ku!" seru Felix yang setelah itu menutup kaca mobilnya dan menancapkan gas mobilnya.


"Felix,," panggil Nick tapi sama sekali tak dihiraukan oleh Felix


"shit, seperti nya sudah terlambat" gumam Nick pelan yang terduduk di tanah


"Nick, ayolah. jangan menyerah begitu saja" hibur Eric yang ikut mengantar Elena


"kau salah Eric, semua sudah terlambat. sudah tak ada yang harus diharapkan lagi" lirih Nick


Eric menatap sendu ke arah nick, dia kasihan melihat Nick yang beberapa hari belakangan ini terlihat lebih diam dan acuh pada semua hal yang biasanya dia yang paling heboh, kini peduli saja tidak.


"baiklah ayo kita pulang sekarang. kondisi mu sedang tidak sehat sekarang" ucap Eric memapah tubuh itu masuk kedalam mobil.


ya, Nick memang sedang sakit sekarang karena dia tidak berselera makan dan sering melamun belakangan ini.


Sama seperti kemarin Maria yang selalu mencoba untuk meminta maaf pada Audrey.


"Audrey, aku tahu aku salah. aku minta maaf, tapi saat Eric bilang alasannya kenapa kau harus pulang ke Italia jadi aku membantunya saja. karena aku menyayangimu sebagai sahabat, aku tidak bisa melihat kau disakiti oleh orang lain.


jikalau kau akan marah seperti ini padaku, aku tidak akan membantu Eric. jadi aku mohon jangan hindari aku, aku tidak mempunyai orang lain. saat aku bertemu dengan mu pertama kali, aku merasa kau adalah orang yang baik dan benar kau adalah orang baik padaku. kau adalah sahabat pertama ku jadi aku mohon maafkan aku. jangan membenci ku" ucap Maria yang meneteskan air matanya.


Audrey yang melihat itu pun luluh dan langsung memeluk Maria.


"maafkan aku juga, karena membuat mu sedih. aku kemarin hanya terbawa emosi saja. bukan berarti aku membenci mu" ucap Audrey mengelus punggung Maria.


"maafkan aku" ucap Maria lagi


"sudahlah, aku tidak bisa marah lama-lama pada mu" ucap Audrey tersenyum


"kau memaafkan ku?" tanya Maria memastikan dan Audrey mengiyakan. seketika Maria langsung memeluk erat-erat tubuh Audrey


"hei, kau ingin aku mati!, aku tidak bisa bernafas!" seru Audrey memukul pelan punggungnya Maria. Maria yang mendengar celotehan Audrey hanya terkekeh geli.


"yasudah, ayo masuk" ajak Audrey


"ayo" ucap Maria bersemangat.