We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Miris!



Rasanya hari ini adalah hari terbaik dihidup Nick, dikarenakan dia sudah mendapatkan pujaan hatinya. Mey, saat ini kelihatannya lebih terbuka dari pada sebelumnya. meskipun demikian, Mey tetaplah Mey, yang dingin dan angkuh. namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama, sampai...


Buk!


sebuah tangan kekar menghantam telak diwajahnya Nick hingga membuat bekas membiru yang cukup besar. karena keget Nick juga terjatuh kelantai marmer itu.


'sial, kenapa cepat sekali dia datang' maki Nick dalam hati. dia tahu siapa yang baru saja memukulnya dengan begitu keras, siapa lagi jika bukan Dokter Ray, atau lebih akrab disapa dengan Jonathan.


Nick berdiri dan berbalik menghadap Jonathan yang kini menggertak giginya menahan emosi yang membuncah, meronta-ronta untuk diluapkan. jika bukan ini adalah daerah kekuasaannya Felix, jangan harap Jonathan akan mengampuni Nick yang kini memasang tampang tanpa dosa.


"kau datang Jo?" tanya Nick basa-basi. ingin sekali Jonathan memukuli nya habis-habisan, tapi pria ini menahannya mengingat ini bukan lah daerah kekuasaannya. bisa mati dia jika melawan ribuan orang bawahan Felix seorang diri, apalagi kini Jonathan tau kalau Nick sebenarnya adalah bagian dari Felix, berarti otomatis Nick akan membela Felix. dalam dunia mafia, tidak ada yang namanya persaudaraan jika bertentangan dengan ketua kelompok. jika suatu kelompok mafia menganggap musuh, maka kata persaudaraan akan hilang. sungguh miris!


"sepertinya kau tidak mengindahkan ultimatum ku, kakak!" seru Jonathan penuh penekanan dikata-kata terakhir nya.


"maaf" hanya satu kata itu lagi yang dikeluarkan Nick, dia sadar dia yang salah. membawa Audrey pergi dari keluarganya sangat jauh. "maaf, aku mengaku. kau menang dan aku kalah" Nick menghela nafasnya panjang. "jadi aku meminta bantuan mu, untuk mendamaikan mereka" ucap Nick menatap Jonathan penuh harapan.


"cih, kau pikir aku mau membantu si brengsek itu!" seru Jonathan tak terima. "aku akan membawa ily pergi dari sini" ucap Jonathan mengepalkan tangannya menahan amarah yang kini kembali datang. mengingat saat dia baru saja datang, sudah disungguhi pemandangan yang tak indah, dimana Audrey yang dimarahi oleh Serena bahkan hampir saja dipukul, terlihat juga Felix yang sama sekali tidak peduli akan hal itu.


"kau ingin membahayakan nyawa ily" seru Nick menatap jengah sepupunya itu. "aku tidak mengizinkan mu"


"aku akan membawa nya pergi, dengan atau tanpa izin dari mu. kau pikir aku peduli dengan semua itu. dasar bodoh!" ucap Jonathan yang berlalu pergi dari sana meninggalkan Nick yang masih mematung disana.


"ck, ck, ck. dasar kepala batu" gumam Nick menggelengkan kepalanya pusing. Nick pun melangkah lebar untuk mencari dimana keberadaan Audrey.


Nick mengerutkan keningnya karena tidak mendapati Audrey dikamar para pelayan yang sudah menjadi kamarnya beberapa hari belakangan ini. Nick mencarinya diseluruh bangunan-bangunan belakang yang dibuat khusus untuk para pelayan. bahkan sudah hampir setengah jam berlalu dia mencari Audrey, mengingat mansion Felix sudah seperti istana. jika dikelilingi semuanya, maka tidak akan habis dalam satu hari.


"hei, kemari lah!" teriak Nick memanggil seorang penjaga yang menjaga salah satu bangunan yang ada dibelakang mansion Felix. pengawal itu langsung berlari menghampiri Nick, dan setelah sampai diapun membungkukkan badannya.


"anda memanggil saya tuan?" tanyanya yang masih membungkukkan badannya


"ya, dimana ily" tanya Nick mengedarkan pandangannya


"ily?" tanya pengawal itu, dia memang tidak tahu siapa itu ily.


"maksud ku, Audrey. dimana dia?" tanya Nick malas


"maaf tuan, saya tidak melihat orang yang anda maksud disekitar sini" jawab pengawal itu sopan.


"yasudah, pergilah!" usir Nick dan setelah itu melangkah masuk ke mansion Felix tanpa menghiraukan pengawal yang menatapnya dingin itu.


'lama tidak bertemu dengan mu, Nicholas!' batin pengawal itu sambil tersenyum devil.


pria yang menyamar menjadi pengawal itu kini sudah pergi dari sana.


Siapakah dia?


***


"bos!" seru pria itu menunduk ketika melihat sang atasan yang menatapnya tajam.


wanita itu melangkah masuk dan duduk dipangkuan pria bertopeng itu sambil menurunkan pistol yang ditondong oleh nya.


wanita itu mengisyaratkan untuk sang bawahan pergi dari sana, pria berperawakan tinggi itu mengerti dan langsung pergi, namun sebelum itu dia membungkukkan badannya sopan.


"kenapa kau selalu marah-marah, honey?" tanyanya dengan manja. Joel tersenyum manis melihat sang wanita pujaannya itu terlihat khawatir pada nya.


"aku sudah tidak sabar untuk menghabisi pria itu Calista" jawabnya lembut. ya, wanita yang bersama Joel adalah Calista.


"bersabarlah, pasti dia akan mati ditangan kita. aku juga sudah tidak sabar untuk menghabisi wanita sialan itu!" ucap Calista mengingat kejadian beberapa bulan lalu, saat dia dikalahkan telak oleh audrey. huh, sungguh memalukan.


"dimana kakakmu?" tanya Joel


"entahlah, mungkin melakukan drama sebelum pria pujaannya meninggal" jawab Calista tertawa sinis. Joel hanya mengangguk pertanda mengerti.


"bagaimana dengan mata-mata kita? apa mereka tertangkap?" tanya Calista bangkit dari duduknya dan melangkah lebar kearah jendela kaca tebal sambil menghidupkan rokok


"jika mereka tertangkap, aku sendiri yang akan membunuh mereka, honey!" jawab Joel menghampiri Calista dan memeluk pinggangnya dari belakang, dagu runcing itupun bersender di bahu kanan Calista.


"aku rindu padamu, honey. bagaimana dengan malam ini?" tanyanya dengan suara berat nan seksi. Joel mengecup leher Calista sambil sesekali menggigit daun telinga nya.


Calista mematikan rokoknya dan berbalik menghadap Joel sambil mengalungkan tangannya di leher laki-laki tampan itu. "dengan senang hati, honey!" ucapnya tersenyum manis. mereka pun berpangutan satu sama lain tanpa menghiraukan dimana dan kapan mereka berada.


***


Bau anyir menyeruak di indera penciuman pria tampan itu, tapi tak membuat nya mual. sudah biasa dia melakukan hal tersebut kepada mangsa-mangsa nya. Felix, melemparkan tongkat baseball nya kesembarang arah hingga membuat suara yang begitu nyaring ditempat itu. para pengawal yang melihatnya pun mengalihkan pandangannya, enggan melihat sang pemimpin yang sudah seperti orang gila yang haus darah. baju yang dikenakannya pun sudah tak pantas dipakai karena penuh dengan darah.


"bereskan mayatnya!" ucap Felix dingin pada bawahan nya. saat setelah Felix pergi, mereka pun bergegas untuk melakukan apa yang diperintahkan. Felix melangkah lebar keluar gedung kumuh itu, dan meraih handuk kecil yang diberikan Dany padanya.


sebuah kelompok kecil melakukan penjual-belian manusia dengan mengatasnamakan kelompok mafia the bloodthirsty, cih, jangan harap bisa lolos dengan mudah dari genggaman seorang Felix!


cukup mengagumkan, tanpa melibatkan satu orangpun pengawal, Felix menghabisi 15 orang dengan hanya campur tangan tongkat baseball!


keren! satu kata itu yang muncul dibenak para pengawal nya, ketika melihat bagaimana kekuatan dan ketangkasan sang pemimpin.


"sebentar lagi ada pertemuan dengan salah satu-"


"batalkan, langsung ke mansion. aku ingin melihat bagaimana kinerja budakku" potong Felix yang sudah duduk di kursi penumpang. Dany tak bisa melawan perintah sang tuan, karena perintah nya adalah harga mati bagi siapa saja.


"baik" ucap Dany.


'kita lihat, seberapa lama lagi kau bisa bertahan, audrey.' batin Felix tersenyum menyeringai.


****


🥀🥀🥀