We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
MALAM KEHANCURAN!



Waktu telah menunjukkan pukul 19:2 tapi belum ada tanda-tanda keberadaan Elena ditemukan, membuat semuanya orang hampir saja mati karena kegilaan Felix. dia tak segan-segan mencambuk semua orang karena tak membawa kabar baik.


Mike saat ini mencari Elena sampai ke hutan-hutan terpencil, berharap bertemu perempuan yang dipanggil nya gadis bodoh itu. tapi bahkan sudah hampir dua hari tidak menemukan nya. Eric pun sama, sebagai seorang ahli IT, merupakan sebuah penghinaan baginya jika tidak bisa melacak keberadaan Elena.


Nick apalagi. dari semalam dia selalu mengintrogasi semua anggota kelompok mafia yang kemungkinan besar berhianat. dari sekian banyaknya anggota kelompok itu, baru setengah yang berhasil dan di cap tidak berhianat oleh Nick. perusahaan Devian kacau hingga mengharuskan Felix mengambil alih semuanya, Dany pun merasakan nya bagaimana lelahnya terus bekerja tanpa ada jeda istirahat, istirahat hanya diberikan Felix 10 menit setiap 9 jam. sungguh gila!


Tapi sebenarnya Audrey lah yang paling merasakan nya, dia sudah diyakini sebagai otak dari penculikan Elena. karena wanita kemarin mempunyai tato mawar merah berduri di punggung nya. semuanya percaya Audrey lah yang melakukan semua itu hingga membuat siapa saja benci padanya. namun tidak demikian dengan Dany , Nick dan Eric. meski Dany adalah asisten pribadi Felix, tapi dia sangat yakin pada kejujuran Audrey.


Itu sebabnya Audrey dapat bertahan hidup dengan apa yang dilakukan Dany diam-diam tanpa sepengetahuan Felix. dia memberikan makanan dan pakaian ganti pada Audrey, tapi wajahnya seperti biasa dingin dan datar saat memberikan keperluan Audrey, dan dia juga terus saja berkata untuk tidak memberitahukannya pada siapapun.


***


Tampak Felix memasuki mansion dengan jalan sempoyongan. seperti nya laki-laki itu sedang mabuk. pakaian dan tampilan nya kusut tidak seperti bisanya, pun juga bau alkohol yang sangat menyengat di indera penciuman siapa saja.


"bawa beberapa botol lagi ke kamar ku!" bentak Felix pada salah satu maid yang ingin menolongnya karena beberapa kali terjatuh ke lantai.


maid itu gemetaran menahan takut, dia yang hendak menolong Felix langsung mundur dua langkah karena menerima isyarat tangan dari Dany yang sedang berjalan menghampiri Felix.


"mari saya bantu, tuan" ucap Dany membawa tubuh Felix menaiki tangga menuju kamar nya. selama perjalanan Felix selalu saja mengoceh tak jelas membuat Dany menghela nafasnya. "anda terlalu banyak minum tuan" ucap Dany ketika mereka baru saja memasuki kamar mewah itu.


Felix langsung mendorong kasar Dany dan tertidur di ranjangnya dengan pakaian yang masih lengkap membuat Dany berinisiatif membantu Felix membuka mantel nya tapi Felix langsung menggelengkan kepalanya.


"pergi! aku tidak butuh bantuan mu karena kau sama sekali tidak becus" ketus Felix membuka matanya dan menatap tajam kearah Dany.


Dany memberhentikan langkahnya. "saya hanya ingin membuka sepatu anda tuan" ucap Dany datar karena kesal.


Felix tertawa mendengar nya. "buat dirimu berguna dengan menemukan Elena segera!" ucap Felix dingin.


"akan saya usahakan tuan" balas Dany sopan. Dany yang merasa tidak dibutuhkan lagi segera keluar tapi suara Felix seketika membuat nya mematung.


"apa kau kira aku bodoh ? hah!" bentak Felix melemparkannya lampu tidur yang terdapat di samping ranjang king size itu. "kau menghianati ku Dany dengan memberikan wanita itu makanan dan pakaian!" teriak Felix tertawa setelah nya. "apa kau kira aku tidak tahu itu" ucap Felix lagi


Dany berbalik dan menundukkan kepalanya sebentar. "saya sangat yakin tuan jika nona Audrey ti--"


"tutup mulutmu!" ucap Felix dingin. "panggilkan wanita itu dan bawakan aku lebih banyak alkohol sekarang!" perintah Felix tak membuat Dany bergeming.


"apa kau buta atau perlu aku membunuh mu sekalian dengan keluarga mu itu!" teriak Felix marah. mendengar kata keluarga membuat Dany mengalah, bagaimana pun keluarga lah yang paling pertama dibandingkan dengan semua yang dia miliki saat ini.


dengan sangat berat hati. "baik tuan" ucap Dany pergi dan menutup pintu kamar Felix dengan sedikit kasar hingga membuat suara yang sedikit nyaring.


Dany turun tangga dengan hati yang gundah. entah kenapa setelah melakukan perintah Felix, dia takut akan terjadi hal yang diluar perkiraan. Dany melangkah lebar kearah penjara bawah tanah. seketika pemandangan pertama yang didapat nya Audrey yang sedang melamun, belakang ini memang dia sering melamun, membuat nya sedikit khawatir.


Dany berhenti di depan Audrey. "sudah kubilang jangan kemari lagi! jika dia tahu semuanya, kau yang akan---"


"dia memang sudah tahu semuanya" tukas Dany membuka sel penjara.


Audrey terdiam sebentar mencerna kata-kata Dany, ketika sadar Audrey pun berbalik menatap Dany. "kenapa kau masuk? apa kau akan memenjarakan dirimu sendiri sebelum dipenjara kan?" tanya Audrey tertawa tak percaya.


Dany memasang wajah garang saat Audrey sudah memberhentikan tawanya. "hentikan tawa anda nona karena saya tidak jamin setelah ini anda akan bisa tertawa lagi!" seru Dany menarik tangan Audrey keluar.


"apa maksud mu?" tanya Audrey memberhentikan langkahnya dan menarik tangan nya kasar.


Dany mendesah kesal dan berbalik. "tuan Felix menyuruh anda untuk menemuinya di kamar utama" ucap Dany malas


"dia mabuk?" tebak Audrey


Dany mengangguk. Audrey menghela nafas panjang. "Malam Kehancuran Ku sudah dimulai" gumam Audrey pelan dan setelah itu pergi mendahului Dany yang mengikuti nya dari belakang.


***


KREAT....


Pintu dibuka Audrey tanpa mengetuk. menghela nafas ketika kamar itu terlihat seperti kapal pecah, pun dengan dua orang maid yang tampak ketakutan memegang alkohol yang diminta Felix tadi.


Audrey memberikan sebuah isyarat untuk dua orang maid itu, mereka pun mengangguk cepat dan kemudian pergi dengan tergesa-gesa. setelah mereka hilang dari pandangan nya, kini dia memperhatikan keadaan ruangan ini, tapi yang empunya kamar tidak ada. seperti nya dia sedang mandi terdengar suara percikan air shower.


tak ingin pikir panjang, perempuan itu pun membereskan semua kekacauan yang dibuat mantan kekasih nya itu. karena keasyikan membereskan ruangan itu dia tidak sadar Felix yang sadari tadi memperhatikan apa yang diperbuatnya.


Audrey berbalik dan terkejut melihat Felix yang telanjang dada dan hanya dibaluti handuk putih yang melingkar di pinggang nya, dan jangan lupakan handuk kecil yang digunakan nya untuk mengeringkan rambut.


Felix menatap nya datar, seperti nya pria itu tidak mabuk lagi. Felix melempar kan handuk ke muka Audrey dengan santainya dan duduk di ranjang yang sudah di bereskan tadi. "keringkan rambut ku!" perintah Felix. Audrey tak bersuara namun dia melakukan apa yang diperintahkan Felix.


Audrey mengeringkan rambut hitam legam itu dengan hati-hati, seolah-olah yang di pegang nya sekarang adalah sebuah berlian yang langka. "pijat!" ucap Felix. perempuan itu juga melakukan nya.


lamanya memijit kepala Felix hingga membuat tangan Audrey mau patah saja, seperti nya laki-laki itu sengaja. Felix akhirnya berdiri dan membuat Audrey juga turun dari ranjang tersebut juga. Felix melangkahkan kakinya kearah lemari dan membukanya mencari baju yang ingin dia pakai.


Hal yang mengejutkan terjadi. dengan santainya Felix membuka handuknya dan memakai pakaiannya didepan Audrey. gila!


sungguh gila!


Felix tersenyum sinis ketika selesai berpakaian tapi posisi Audrey masih memunggungi nya. " tak usah sok polos, kau juga pernah melakukannya dengan pria itu!" ucap Felix seakan tak suka menyebutkan kata 'pria itu' didalam kalimatnya.


Audrey berbalik dan menatap tajam Felix. "aku tidak semurahan itu!" seru Audrey marah. Audrey melangkah lebar kearah Felix dan menunjuk jarinya kearah dada Felix. "justru kau lah yang murahan, bermain dengan banyak wanita" ucap Audrey penuh penekanan. marah? jelas marah. kesucian nya dihina dengan mudahnya!


"oh ya?" tanya Felix mencekam kuat tangan Audrey yang menunjuk kepada nya. "jadi siapa wanita yang waktu itu aku temui bermesraan di hotel bersama dengan Anton?" tanya Felix tersenyum menyeringai.


"percuma saja bicara padamu karena kau memang buta!" ucap Audrey menghempaskan tangan Felix. dia berbalik dan melangkah lebar kearah pintu namun ucapan Felix sontak membuat nya bertambah besar.


"dasar wanita murahan!" ejek Felix tersenyum miring.


"kau!" teriak Audrey mencekam tangan nya sendiri. "asal kau tahu tuan Devian, seburuk-buruk nya aku. aku tidak pernah bersetubuh dengan orang lain, kau pikir aku murahan?" teriak Audrey dengan mata berkaca-kaca.


"sejelek-jelek nya perilaku ku , aku tidak pernah membunuh seseorang dengan tanganku sendiri,. tidak seperti kau, yang pekerjaan mu hanya membunuh dan membunuh!"


"dan apa kau kira kau lebih baik dari ku, begitu?" tanya Audrey tertawa sinis. "dengarkan ini baik-baik! catat di otak kosong mu itu. kau hanyalah pecundang yang datang di kehidupan ku dan menghancurkan hati ku!" teriak Audrey marah. air matanya pun sudah merembes kemana-mana.


"aku akan berdoa pada yang maha kuasa untuk tidak mempertemukan kita lagi di kehidupan selanjutnya." seru Audrey mengambil nafas dalam-dalam agar air matanya tidak meluncur lagi.


"dan sekarang kau mau apa? membunuhku atas hilangnya adikmu, begitu?" tanya Audrey melangkah cepat kearah Felix tapi sebelum itu mengambil pistol yang tergeletak di lantai.


Audrey meraih tangan Felix dan memberikan nya pistol itu dan mengarahkan nya ke kepala nya sendiri. "tambak" ucap Audrey menepis kasar air matanya.


Felix tak bergeming. wajahnya datar dan bertambah dingin, entah apa yang sedang di pikiran nya, Audrey pun tak bisa membaca nya. sedetik kemudian Felix melangkah mundur dengan tangan yang masih memegang erat pistol itu dan mengarahkan nya di kepala Audrey.


senyum iblis pun muncul dibibir nya. "kau yang menginginkan ini bukan?" tanya Felix santai. "ada ucapan terakhir yang ingin kau katakan?" tanya Felix lagi.


Audrey menghela nafasnya Sambil menutup kedua mata itu. "sampai kapanpun aku mencintainya, Tuhan" gumam Audrey pelan sepelan pelannya. "tolong jaga dia" ucap Audrey lagi sedikit keras.


mendengar kata terakhir Audrey, hati batu itu berdenyut sesak. DOR...


Audrey menegang mencari-cari rasa sakit apa yang ada ditubuh nya, namun nihil dia tidak merasakan apapun. pelan-pelan Audrey membuka matanya dan melihat Felix tidak menembak nya tapi menembak dinding.


dengan santainya Felix melemparkan pistol itu menjauhi posisinya sekarang. "kau pikir aku akan membiarkan mu mati dengan mudahnya?" tanya Felix membuka bajunya hingga tampaklah tubuh tanpa celah itu terekspos bebas.


Audrey sudah menduga ini, Felix tidak akan membiarkan nya mati dengan mudahnya. "jadi apa yang kau mau?" tanya Audrey mundur ketika Felix menghampiri Audrey dengan tatapan tak terbaca.


"kau" Jawab Felix tersenyum miring. Audrey membelalakkan matanya. sebelum dia berteriak benda kenyal itu telah bersatu dengan gerakan kasar.


MALAM KEHANCURAN pun dimulai!


*


*


*


***


*


*


*


Adu tembak pun terdengar nyaring di pabrik tua itu. Elena yang terusik pun membuka matanya dan terkejut melihat banyaknya mayat yang berserakan di depannya, pun dengan darah yang mengalir membuat bau amis yang sangat menjijikkan.


BRAKK...


Pintu di dobrak kasar oleh Nick membuat suara gaduh. seketika tangis Elena pecah, dia sudah ketakutan setengah mati didalam sini.


Nick segera berlari dan membuka ikatan tali dan penutup mulut Elena. ketika terbuka semuanya, Elena segera memeluk Nick dengan erat dengan gemetaran.


"sudah, mereka semua sudah mati" ucap Nick menepuk-nepuk punggung Elena memberikan penenangan pada adik sahabatnya itu. "jangan khawatir, kita semua sudah aman, oke" ucap Nick melepaskan pelukan Elena dan menghapus air mata Elena yang mengalir.


Mike datang dengan Eric ketika keadaannya sudah stabil. Nick segera berdiri "aku akan periksa daerah belakang, Eric periksa bom yang kita akan gunakan dan kau Mike, bawa Elena segera pergi" tutur Nick langsung pergi dari sana pun diikuti oleh Eric.


Mike melangkah pelan kearah Elena dan menggendong nya tanpa mengatakan apapun. Elena mengalungkan tangannya di leher Mike dan memeluknya erat. dia masih ketakutan terbukti tubuh nya masih gemetaran, dan Mike merasakan itu.


Sesampainya di mobil, Elena didudukkan nya di kursi belakang dan Mike duduk juga disamping Elena. "jalan" perintah Mike dingin.


"baik"


Sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan. Elena sudah tertidur pulas mungkin karena lelah menangis. Mike membuka mantel dan nya dan memakainya pada Elena guna perempuan itu tidak kedinginan. Mike pun juga tampak menggosok-gosok tangannya dan mengarahkan nya pada tangan Elena agar menghangatkan tubuh yang masih menggigil itu, pun dengan kakinya yang sudah lecet. setelah nya Mike pun memeluk perempuan itu dengan wajahnya yang datar.


****


IKUTI TERUS YAKK:)