We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Ini gawat!



Pagi harinya di kampus


"Audrey.." teriak gadis yang memanggil Audrey ketika Audrey baru tiba di kampus


Orang yang dipanggil pun menoleh ke asal suara, menghampiri Maria yang melambaikan tangannya ke arah Audrey.


Maria langsung memeluk Audrey dengan girangnya, diluar perkiraan Audrey malah melepaskan pelukan Audrey dengan kasar. Maria yang diperlakukan begitu pun heran.


"ada apa? kenapa kau melepas pelukan ku?" tanya Maria kesal


"kau masih bertanya kenapa?. apa kau sadar, sebenarnya kau lah yang membuat ku dalam masalah." seru Audrey menunjuk Maria


"apa maksudmu bicara begitu?" tanya Maria yang mulai kesal akan perkataan Audrey


"siapa Nick?" pancing Audrey menarik salah satu sudut bibirnya yang membuat Maria terkejut atas perkataan Audrey.


"ni,,ck" ucap Maria gugup


"Mike?" ucap Audrey lagi yang sudah menangkap wajah gugup nya Maria.


"a,k,u tak mengerti" kata Maria makin gugup


"alasan" umpat Audrey kesal


"jika kau melakukan hal bodoh itu lagi, hubungan persahabatan kita berakhir hari itu juga" peringatan Audrey berhasil membuat wajah Maria pucat. Audrey langsung pergi dengan rasa kecewanya, Maria yang tahu Audrey kecewa, diapun menyesali tindakan nya.


tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperlihatkan mereka. dia langsung menghampiri Maria


"Maria" panggil Eric dari arah belakang


"Eric" ucap Maria terkejut akan kedatangan Eric yang tiba-tiba tanpa mengabarinya terlebih dahulu


"apa kau baik-baik saja?" tanya Eric khawatir karena melihat ekspresi wajah Maria seperti Ingin menangis


"aku tak apa-apa" jawab Maria menepiskan senyuman nya. Eric yang melihat itu menghela nafas, dia tahu sifat Maria yang tak mau orang disekitar nya merasa khawatir padanya.


"oh ya, kau kenapa kesini?" tanya Maria heran


"aku mengantarkan adik Felix" jawab Eric menunjuk ke arah Elena yang sedang berbincang dengan teman-teman nya.


"oh, yasudah, aku masuk dulu ya. sebentar lagi dosen akan masuk" pamit Maria


"masuk lah. belajar yang rajin" ucap Eric tersenyum


"oke, bye" kata Maria sambil melambaikan tangannya kearah Eric


"bye" kata Eric


sesudah melihat punggung Maria yang hilang dalam jangkauan matanya, ia pun kembali tetapi baru saja beberapa langkah diapun berhenti karena mendapat telefon dari Mike.


*Eric:"halo"


mike:"Felix kembali"


Eric:"apaa!"


Mike:"dia meminta kita untuk berkumpul di markas sekarang juga"


Eric:"baik, aku kesana sekarang"


tuut*


telepon terputus, mendadak Eric panik


'ini gawat, jikalau Felix tahu yang sebenarnya, maka dunia akan tamat!" batin Eric tak tenang


diapun langsung buru-buru pergi menuju ke markas mereka.


sama halnya dengan Nick disana yang masih mengintai aktivitas toko kue milik Mey. diapun tak kalah kagetnya akan hal ini karena biasanya ketika Felix ingin kembali, biasanya dia mengabari paling tidak satu hari sebelum kepulangannya dan ini pulang tanpa adanya kabar membuat nya panik dan menurut informasi dari Mike, raut wajah Felix tidak bersahabat.


Kini mereka berempat sudah ada dalam satu ruangan, terasa lebih dingin dari pada sebelumnya karena Felix sudah menahan emosi nya sejak tadi, melihat itu Nick makin tak tenang, Eric mulai gugup tetapi Mike seperti biasanya datar seperti jalan raya.


"jadi kenapa kau tidak beritahu kami sebelumnya, jika kau datang hari ini" Eric memulai percakapan, meski gugup sebisa mungkin dia berbicara dengan tenang.


terlihat Felix diam tak mengubris kata-kata Eric, namun sorot matanya ingin mengatakan sesuatu.


"kenapa tak mengabari?" tanya Mike dingin. sebetulnya diapun juga takut akan hal tentang Audrey terbongkar tetapi dia menutupinya dengan mulus.


"iya benar, kenapa kau tak mengabari?" timpal Nick yang mencoba tersenyum


"terkejut?" tanya felix tersenyum menyeringai.


terlihat Mike sudah pasrah, karena dia tahu suatu saat nanti Felix pasti akan tahu semuanya.


brakk...


Felix mengebrak meja dengan kuat hingga membuat Eric dan Mike terkejut, lain halnya dengan Nick, pemandangan didepannya sudah tak heran lagi karena jika mereka membahas tentang Audrey pasti dia akan murka.


pyaar....


gelas yang awalnya masih utuh kini sudah hancur berkeping-keping. Felix masih dalam emosi nya, dia menghancurkan apa yang ada disekitarnya, memukul apa yang ada disekitarnya hingga membuat seisi ruangan itu rusak parah.


"cihh, kalian semua sama saja" ucap Felix dingin yang masih emosi


"kami bisa jelaskan" kata Mike menenangkan Felix yang masih tersulut emosi


"apaa!, jelaskan?, hahaha. kau gila!" bentak Felix


"ini salahku" ucap Nick


"benar, ini salahmu,,, kau sudah berani menghia,,," kata-kata Felix terpotong


"ini salahku karena aku yang bodoh hingga membiarkan kalian berdua berhubungan, seharusnya aku menentang hubungan kalian dulu" bentak Nick yang sudah ikut emosi


"kau,," mendengar bentakan Nick tadi membuat Felix semakin murka, dia ingin maju untuk menghabisi Nick tetapi Mike dan Eric menahannya.


"jangan lakukan itu Felix" peringatan dari Eric justru membuat Eric terkena pukulan keras pada perutnya hingga membuat nya jatuh ke lantai.


"Felix,,," bentak Mike


"apa, kau ingin juga menghalangi ku untuk menghajar si penghianat ini!" seru Felix kesal


"jangan bodoh!" teriak Mike


"kau pikir apa tujuan ku sebenarnya membangun kelompok mafia ini, untuk menguasai dunia?. jikalau itu yang kau pikirkan, kau salah besar, itu hanyalah tujuan keduaku. tujuan pertama?, sebenarnya ingin membuat wanita ****** itu sengsara dan mati di tanganku" bentak Felix pada Mike


"tutup mulut busukmu!" seru Nick menunjuk jarinya ke Felix


"hahaha" bukannya takut, Felix malah tertawa sinis


"dia bukan seperti wanita yang kau pikirkan!" seru Nick kembali yang mencoba menyakinkan Felix


"hahha, jadi wanita seperti apa yang berduaan dengan laki-laki lain memeluk satu sama lain dengan mesra di hotel?" tanya felix mencekam kerah baju Nick dan mendorongnya kasar ke tembok


"dia di jebak!" jawab Nick


"omong kosong!" bantah Felix yang ingin keluar dari ruangan itu tetapi mengurungkan niatnya dan kembali menatap Nick dengan rasa benci


"ingat Nick, kau sudah mengambil sumpah untuk tetap setia padaku sebagai pimpinan kelompok mafia ini. apapun yang kulakukan akan terus kau ikuti, meskipun ini menyangkut adikmu itu. jika kau melawan perintah ku maka sesuai perjanjian nya kau harus mati ditangan ku" peringatan Felix tak main-main, memang itulah janji dan sumpah mereka, jika mereka berhianat maka mereka harus mati di tangan pimpinan tertinggi.


"Felix aku mohon percaya lah,, ily bukan wanita seperti itu" tak ada pilihan lain selain memohon


"cihh, sudah kubilang berapa kali. jangan menyebutkan nama sialan itu!" ucap Felix dingin


"Felix,," panggil Nick ketika Felix keluar dari ruangan itu, tapi Felix seakan-akan tuli akan teriakan Nick


sementara mereka berdebat Eric sudah sedikit baikan karena Mike yang membantu nya.


"maafkan aku Eric" ucap Nick yang melihat Eric kesakitan


"hei, jangan minta maaf bung. kita ini sudah seperti saudara" kata Eric


"tapi,,,"


"sudahlah, kejarlah Felix. aku curiga dia akan ke kampus dan akan membuat keributan disana" tutur Eric


"dia benar, pergi lah. Felix sudah seperti orang gila apalagi jika mereka berdua bertemu, ntah apa lagi yang akan di lakukan Felix" ucap Mike


"baiklah, aku pergi" pamit Nick pada kedua orang itu.


dia langsung menancapkan mobil nya melacak keberadaan mobil Felix.


sementara itu Felix mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi


'sebentar lagi kita akan bertemu sayang, akan kulihat bagaimana perubahan mu setelah bertahun-tahun ini. apa kau sudah berhasil meraih cita-cita mu menjadi seorang *******' batin Felix. dia tersenyum menyeringai mengigat kejadian yang baru saja dialaminya tadi.