We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Izin ( END )



*Kini Nick duduk berhadapan bersama Felix. tidak ada aura tegang seperti biasanya, yang ada hanya sebuah penyesalan yang Nick dapat baca di manik mata Felix. Nick menghela nafasnya berat, kini tatapan tajam nya menusuk ke Felix.


"Apa yang kau ingin bicarakan dengan ku ?" tanya Nick setelah sekian lama hanya hening yang ada diantara mereka.


"Aku menyerah!" Ucap Felix menyenderkan tubuhnya di sofa sambil memijit pelipisnya


"Menyerah?" tanya Nick menaikan sebelah alisnya tidak mengerti. "Menyerah karena apa?"


"Aku.. Mencintainya!"


**JEDDERR***....


Bagai disambar petir di siang bolong, Nick terkejut bukan main dengan perkataan Felix. Dimana dia dan aurey sudah menyerah, disitulah Felix mengungkapkan perasaan sesungguhnya.


Nick kembali duduk di sofa setelah beberapa detik berdiri karena kaget nya. Pria blasteran itu memicingkan matanya mencari kebohongan yang disembunyikan Felix dari nya. namun Nihil, yang ada hanyalah rasa penyesalan yang mendalam.


"Entah kenapa dan kapan? tapi rasa itu muncul kembali Nick!". Balas Felix yang tahu apa yang dipikirkan Nick


"Mingkin kau tidak akan pernah menerima nya lagi setelah semuanya, apalagi prihal Jonathan yang benar-benar membenciku... Namun, maafkan aku jika setelah ini aku akan melakukan hal yang sama dengan kemarin!"


"Aku mencintai nya dan tidak akan membiarkan nya berpaling apalagi berlari menjauhi ku! Aku cemburu dia dekat dengan yang lain, aku takut suatu saat nanti dia mencintai orang lain, aku menyesal karena telah menyakiti nya dengan kata-kata ku yang tidak pantas ini, tapi... percayalah Aku akan mati jika dia pergi untuk yang kedua kalinya."


"Awalnya aku juga menepis jauh-jauh rasa ini, namun semakin aku membenci rasa ini, semakin tersiksa yang aku rasakan seperti sekarang. Aku senang saat dia tertawa, aku bahagia saat dia melirikku sinis, aku sakit ketika dia menangis!"


BUG!


"Kenapa baru sekarang, bodoh!" Maki Nick memukul rahang Felix dengan kesal dan bahagia. "Apa kau tidak tahu bagaimana perasaan ku jika kau menghinanya ? aku ingin sekali membunuhmu saat itu juga, jika tidak mengingat kau adalah pimpinan mafia ini!" teriak Nick meneteskan air matanya sangking bahagianya.


"Harga diriku juga sudah diinjak-injak oleh Jonathan, apa kau tahu?" bentak Nick mencekam kedua sisi kemeja Felix dengan mata yang memerah


"Maaf" Hanya satu kata yang dapat diucapkan Felix.


Nick mendorong kasar Felix dan duduk di sofa menatap tajam Felix yang berdiri dengan raut wajah datar nya. "Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Nick sinis


"Izin" perkataan Felix membuat Nick mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Aku ingin membawa Audrey ke Amerika untuk memulai semuanya dari awal!" Nick menghela nafasnya mendengar perkataan Felix.


"Kau tidak sedang mempermainkan ku sekarang, kan?" tanya Nick yang masih tidak percaya.


"Aku mencintai nya dan itulah kenyataannya. Sebenarnya aku tidak peduli kau mengizinkan ku atau tidak tapi kau sebagai kakaknya, aku harus meminta izin mu walaupun tidak penting sama sekali!" Ketus Felix yang membuat Nick rasanya ingin memukul kembali Felix. Walaupun disaat begini, Felix tidak mau image nya menjadi seorang mafia yang dingin.


"Jadi kau tidak sepenuh hati meminta maaf padaku?" tanya Nick kesal.


"Soal meminta maaf aku tidak pernah berdusta! Tapi soal izin aku sebenarnya tidak perlu sama sekali!" Jawab Felix membuang muka nya kesembarang arah.


Nick hanya menggelengkan kepalanya heran, tidak ada yang bisa mengerti pria yang ada didepannya ini. "Kalau aku tidak masalah, yang penting kau tidak menyakiti nya lagi! masalah mu sekarang hanyalah pada Jonathan, jika bisa selesaikan masalah mu padanya secepatnya!. jika tidak, aku tidak bisa membela mu karena Dokter Licik itu punya seribu cara untuk menghasut keluarga kami untuk menolak mu!" Jelas Nick serius.


Wajah Felix tidak menampakan raut khawatir sama sekali yang ada hanya raut wajah tersenyum miring membuat Nick merinding. "Kau tenang saja, kartu AS di keluarga mu sudah ku pegang jauh-jauh hari!" Ucap Felix dengan nada angkuh.


"Siapa? apa paman Kara?" tanya Nick penasaran.


Felix menggelengkan kepalanya. "Tuan Besar Kay Smith!" ucapan Felix yang santai membuat Nick membelalakkan matanya.


"Bukan, aku menghasut kakek kalian untuk merestui hubungan ku. bahkan dialah pemeran utama dalam hal ini nantinya"


Felix gila! sungguh gila!


Berkata dengan gampangnya pada Kakek tua itu tentang cinta nya pada cucu perempuan nya. Wah-wah, jika orang lain yang ada diposisi Felix maka orang itu akan mati lebih cepat dari jadwal nya.


****


Felix tersadar dari lamunannya. ditatapnya kelopak mata Audrey yang tertidur dengan damai layaknya putri tidur. Sungguh damai hingga tidak bisa memalingkan mata Felix yang tidak jemu melihat nya.


Felix tersenyum kecil seraya mengusap-usap kepala Audrey dan menyingkirkan beberapa helaian rambut yang menutupi wajah cantik alami itu.


"Aku mencintaimu" Ucap Felix mengecup kening Audrey mesra.


"Maaf, jika selama ini kau menangis karena ku! Maaf untuk semua yang kulakukan padamu! Maaf karena akulah alasan kau kesakitan dan Maaf selama ini kau harus menanggung penderitaan hanya karena ku!" bisik Felix tersenyum kecut


"Kumohon percayalah padaku! apapun yang terjadi nanti, jangan pernah menyerah untuk tetap disisiku. jangan pergi meninggalkan ku untuk yang kedua kalinya, karena disini rasanya sangat sakit, Sayang!" Bisik Felix mengangkat tangan Audrey dan meletakkan nya di dada bidang itu, atau lebih tepatnya di hatinya


"Maaf, jika nantinya kau akan kembali merasakan sakit tapi itulah satu-satunya caraku untuk mempertahankan diri mu untuk tetap disisi ku. tidak peduli kau nanti nya membenci atau memakiku tapi kumohon jangan tinggalkan aku sendiri!" Bisik Felix menetes air matanya.


"Aku mencintaimu, sangat mencintai mu, Dewiku!" Ucap Felix mengecup kedua kelopak mata itu "Good Night Baby, Aku mencintaimu selamanya!" Ucap Felix membaringkan tubuhnya disamping Audrey dan memeluk wanita itu sambil menagis dalam diam.


Tidak sadari ternyata dapat Audrey dengar semua perkataan mesra yang keluar dari mulut Felix. Audrey hanya diam dengan hati yang gundah.


Haruskah dia kembali?


Tapi ini sudah sangat terlambat!


Apa yang harus dia lakukan setelah nya?


Dia masih mencintai Felix dan itulah kenyataannya!


Dan kenapa rasa ini sangat senang ketika prianya kembali? namun disisi lain hanya ada kebencian yang tertanam dan tidak dia sadari sama sekali!


HUH, Audrey memejamkan matanya berharap itu hanya bunga tidur dan tidak akan pernah terjadi nanti nya!


Semoga saja.


*AKU MENCINTAIMU FELIX DAN CINTA ITU JUGA BERUBAH MENJADI KEBENCIAN!


KUHARAP SEMUANYA HANYA BUNGA TIDUR YANG SETIDAKNYA MEMBUAT KU MENGENANG MASA-MASA DIAMANA KAU DAN AKU MENATAP PENUH CINTA SAMBIL TERTAWA BAHAGIA. WALAUPUN BEGITU, AKU TIDAK PERNAH BERHARAP JIKA HAL INI TERJADI SUATU SAAT NANTI!


AKU MENCINTAIMU AUDREY! MAAFKAN AKU YANG EGOIS NANTINYA! BERSIAP-SIAPLAH UNTUK MENJADI MILIKKU SEPENUHNYA! AKU AKAN MEMPERJUANGKAN CINTAKU SAMPAI KE NAFAS TERAKHIR! TIDAK PEDULI DUNIA MENOLAK, AKU AKAN TETAP BETJUANG.


SELAMAT TIDUR ,SAYANG! TERSENYUMLAH SAAT BANGUN NANTI!


***


THE END*!