
Di sebuah club malam elite kini ramai terdapat pengunjung yang datang untuk mencari kesenangan semata. bunyi dentuman musik yang bahkan bisa membuat rusak pendengaran, tak membuat wanita cantik itu terusik.
Disudut ruangan nampak sosok wanita Eropa berpakaian seksi tengah minum cocktail sedang menunggu seseorang. wanita itu mengedarkan pandangannya mencari-cari seorang pria dan ketemu. kini pria itu datang dan langsung duduk di sampingnya.
"apa yang kau dapat?" tanya wanita berambut pirang itu sambil menyalakan rokoknya
"sepertinya kau akan mengadakan reuni dadakan" jawab pria untuk sambil menyerahkan beberapa potret momen dan kejadian tentang kedekatan Audrey dan Felix.
"wah-wah, ternyata dia keluar juga dari tempat persembunyiannya" ucap wanita itu tersenyum menyeringai sambil menghisap kuat rokoknya. menghembuskan asapnya dari mulut dan setelah itu minim lagi.
"bukan hanya itu" ucap pria berpakaian rapi itu, dia mengeluarkan sebuah potret lagi yang membuat wanita yang nampak seperti ****** itu tertawa sinis.
"ternyata nona Lovian juga terlibat dalam hal ini ya" ucapnya memegang potret Mey yang sedang bertengkar dengan Nick saat di toko nya memperebutkan Audrey.
"ada hal lagi yang harus ku urus" ucap pria itu bangkit dari duduknya
"tidak ingin pesan?" tanya nya menatap ke sembarang arah.
"tidak" jawabya singkat dan langsung pergi dari sana. wanita itu tersenyum smirk melihat kepergian bawahannya itu.
"aku hanya menawarkan uang untuk nya dan dengan begitu saja, dia langsung menghianati tuannya, dasar bodoh" ucap wanita itu pada seseorang yang sedari tadi menyamar menjadi pelayan disana.
"apakah dia masih berguna untuk kita?" tanya wanita yang menyamar tadi.
"tidak, bilang pada Calista untuk mengurus pria bodoh itu" jawab wanita itu sambil meninggalkan club malam. siapa saja bisa berhianat bukan, apalagi jika tawaran nya itu uang.
'kita akan bertemu lagi Felix sayang' batin wanita seksi itu ketika sudah berada didalam mobil. dia mengambil benda pipih itu dan menekan beberapa nomor, setelah tersambung diapun berbicara.
"....."
"urus keberangkatan ku malam ini ke Inggris"
Tut...
wanita itu memutuskan panggilan sepihak dan setelah itu melaju kan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
Sang Surya pun menampakkan dirinya dengan cahaya yang terang hingga mengusik seorang wanita yang kini tidur pulas, dia menggeliat pelan dan meregangkan otot-otot yang terasa kaku. ia membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke mata nya. entah siapa yang membuka gorden pun ia tidak tahu.
"hei, bangun pemalas!" panggil Audrey dengan suara keras hingga membuat wanita keturunan Jepang itu terjungkal karena sangking kagetnya.
"Audrey!" pekik Maria melengking membuat gendang telinga pecah. dia bangkit dan menghampiri Audrey dengan wajah bantal.
Audrey yang tahu adegan seperti apa yang selanjutnya terjadi, diapun lari keluar kamar.
"hei, mau lari kemana kau?" teriak Maria yang juga berlari keluar kamar tetapi ketika baru saja sampai di depan pintu, langkah kakinya terpaksa berhenti karena di depan nya ada seorang pria yang pernah membuatnya kecewa.
Setelah kejadian kemarin, Maria belum bisa melupakan tragedi yang menimpanya. setiap kali Ingat akan kejadian itu, wanita berambut pendek itu selalu menangis dalam diam. walaupun tak dipungkiri Maria kini sangat ingin berbaikan dengan Eric tapi ntah kenapa pikirannya selalu bilang tidak.
"bisa kita bicara?" tanya Eric lembut menatap dalam kedua mata bulat itu, seolah-olah memohon.
"kita sudah bicara kemarin" ucap Maria dingin yang langsung mengalihkan pandangannya ketika dia mulai tersadar.
"maaf" hanya kata-kata itu yang berulang kali Eric ucapkan sebagai rasa permintaan maafnya.
"ini hari Minggu, aku ingin istirahat" ucap Maria yang tampak murung, dia masuk ke kamar tamu dan menutup nya meninggalkan Eric yang kini menatap sendu pintu kayu itu.
memang, Felix dengan sengaja meminta Maria untuk tinggal di sini beberapa hari, karena ingin membantu sahabatnya itu untuk berbuka dengan Maria.
"baiklah" ucap Eric pelan dan setelah itu pergi juga dari sana.
***
07:25 pagi, semua orang berkumpul disana. kecuali Nick yang dari tadi tak nampak batang hidungnya. Mike yang sedari tadi ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengan Nick.
"kemana Nick?" tanya Mike pada Felix yang sudah selesai sarapan. berpura-pura tak tahu, padahal dia sendiri yang membantu Nick menjalankan tugas nya.
"berburu wanita, mungkin" ucap Felix santai sambil membersihkan mulutnya menggunakan tissue.
Audrey dan Elena yang mendengar itu tersedak saat minum air dan terbatuk-batuk. sedangkan Gabriel hanya tersenyum tipis karena dia sudah tahu apa yang dilakukan kakaknya.
"santai saja makannya" ucap Gabriel tertawa kecil melihat keterkejutan Audrey yang melotot.
"benar, kak Nick mencari mangsa" jawab Gabriel pergi dari sana.
***
Kemarin 23:05 malam
Malam yang gelap dan tenang tak mengusik wanita yang kini mandi, Mey wanita keturunan China itu kini sedang melamun memikirkan sesuatu yang sedari tadi mengusik pikiran nya. tiba-tiba ada seseorang yang mengirimkan pesan pada ponsel khusus miliknya, yang isinya tentang ancaman, tidak ada pengiriman nya. ketika ia ingin menghubungi orang tersebut, namun nomor nya sudah tidak aktif lagi.
Tok..
Tok..
Tok..
"nona, apa anda baik-baik saja?" tanya salah satu maid khawatir yang menunggu Mey selesai mandi, sudah lebih dari satu jam dia berendam.
"ya, pergilah" jawab Mey dingin. setelah tidak mendengar suara maid itu lagi, akhirnya Mey bangkit dan membersihkan diri di shower dan keluar menggunakan kimono.
Mey berjalan pelan ke lemari dan membukanya, dia memilih baju dan pergi ke ruang ganti baju. ketika keluar, ntah kenapa perasaannya tidak enak. sunyi senyap, tingkat kewaspadaan Mey pun meningkat karena tiba-tiba jendela terbuka dengan sendirinya.
Mey menghampiri jendela dan menutup nya, dari cermin yang didekat jendela menampakkan bayangkan seseorang, Mey tersenyum menyeringai melihat kebodohan orang ini. apa tidak ada tempat lain untuk bersembunyi, pikirannya.
Tak..
Mey melempar sisir yang ia pegang kearah bayangan itu dan mengikat rambut nya tinggi-tinggi.
"kau ketahuan" ejek Mey duduk di jendela sambil melipat kakinya.
"wah-wah, ternyata kau pintar juga ya nona penembakan" puji seseorang yang keluar dari tempat persembunyiannya. oh tidak, ternyata dia adalah Nick yang kini tersenyum menyeringai.
"seharusnya aku membunuhnnya kemarin. cih, dasar menjengkelkan" ucap Mey pelan sambil menghela nafasnya.
"kau mengatakan sesuatu?" tanya Nick yang sebenarnya dengan dengan jelas apa yang dikatakan oleh Mey.
"kau dengar, kenapa masih bertanya saja" jawab Mey dingin dan mengeluarkan pistol dari laci samping ranjang.
Nick tersenyum sinis, Mey adalah wanita kedua yang menolak ketampanan Nick. Nick pun juga mengeluarkan pistol dari sakunya dan mengarahkan nya ke Mey. Mey menggelengkan kepalanya tak percaya.
"kau sekarang tidak ada di kandang mu bung" ucap Mey membuang pistolnya yang ternyata tidak ada peluru nya. "cih, antisipasi sebelum bahaya rupanya" ucap Mey kesal.
"hehehe, jika ingin menang kau harus pintar" ucap Nick maju dan kemudian menyerang Mey dengan pukulan-pukulan yang gesit.
Mey pun juga ikut menyerang...
Namun tiba-tiba....
Tek..
lampu padam dan Mey tidak bisa melihat apa-apa. Mey mencoba meraba-raba benda yang bisa dipakainya untuk melawan Nick, tapi semua terlambat.
Tap..
Nick memegang pundak Mey dan menutup hidungnya menggunakan kain yang sebelumnya telah di berikan obat bius. Mey mencoba melawan, tapi usahanya nihil.
Mey pingsan ditempat.
Tek..
Lampu menyala kembali dan tampak Mike yang menyalakan lampu tersenyum tipis melihat gadis yang sangat jarang dia temui.
"ayo pergi" ucap Nick yang sudah menggendong Mey seperti karung beras, mereka pun pergi dari sana sebelum terjadi apa-apa nantinya.
***
Halo semuanya 🖐️
gimana ceritanya?
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya 🤣
thanks 😘