We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Mark hilang?



"Maria!" Teriakan Eric sudah berulang kali namun pintu apartemen Maria belum juga terbuka dan lebih parahnya lagi ternyata gadis keturunan Jepang itu mengganti password apartemen nya agar Eric tidak masuk.


"Sial!" makinya ketika mendapat telefon dari bawahannya.


"Apa?"


"maaf tuan, saya ingin memberitahu hal yang penting--"


"hal apa?!"


"Tuan Mark hilang--"


"Apa?! bagaimana bisa? apa kalian bodoh!"


"kami juga tidak tahu kapan tuan, tapi setelah anda kemarin keluar dari ruangan nya, setelah itu beliau menyuruh kami untuk keluar dengan alasan ingin istirahat"


"Dasar bodoh!"


TUT...


Eric menghela nafasnya, dia memandang pintu apartemen dengan datar. "Awas saja!" gumam nya pelan dan setelah itu pergi dengan kemarahan.


***


Nick keluar dari markas dengan hati yang gundah. setelah apa yang dikatakan Felix padanya ada sedikit rasa lega, namun disisi lain rasa khawatirnya bertambah. Nick menggelengkan kepalanya mengusir rasa sakit yang menyerang kepalanya. dipandang nya benda pipih tersebut dan menapakkan nama Bucin disana- yang tidak lain adalah Eric.


"Cepat ke markas barat sekarang! Mark hilang!"


"baik"


Tut..


Nick langsung mematikan ponsel nya dan berlari memasuki mobilnya setelah itu menaiki mobil dengan kecepatan tinggi.


20 menit kemudian mobil Lamborghini Nick memasuki area pabrik lama yang sudah lama ditinggali, disana sudah ada sekitar 32 bodyguard yang menunggu Nick dan ada juga Eric yang sedari tadi tampak gelisah.


"Sudah ketemu?" tanya Nick berlari kearah Eric.


Eric menggelengkan kepalanya. "Bagaimana seseorang yang masih sakit bisa keluar dari daerah ini dengan mudah, sedangkan penjagaan kita sangat ketat!" Seru Eric menendang keras ban mobil nya.


Nick memijit pelipisnya. "aku sudah menghubungi orang-orang yang berjaga disekitar perbatasan, mereka menutup semua akses untuk keluar dari negara ini" Ucap Nick menepuk pundak Eric.


Eric memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam. "kau sudah memberi tahu yang lain?" tanya Eric.


"Sudah, Felix dan Mike sependapat pria itu tidak akan jauh-jauh dari daerah ini. dan... bisa jadi dia akan kembali ke mansion nya" Jawab Nick "Dia akan terus berusaha menyerang kita jadi tetaplah siaga apapun yang terjadi" Tutur Nick membuat Eric menganggukkan kepalanya.


dapat dilihat perubahan mimik wajah Eric mambuat Nick menyimpulkan sahabatnya mempunyai masalah. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Nick


Eric menggelengkan kepalanya dan setelah itu melihat para bodyguard nya. "Lakukan tugas kalian!" Teriak Eric. mereka semua mengangguk dan pergi dari sana menyisakan Eric dan Nick.


"tidak usah berbohong padaku, ayolah katakan apa masalahmu. ehm, apa ini tentang Maria?" tanya Nick membuat Eric menganggukkan kepalanya. "Apa yang kau lakukan lagi padanya sampai-sampai dia marah?" tanya Nick menghela nafasnya.


"Aku membentaknya karena dia dan Elena bersikeras bertemu Audrey" Jawab Eric membuat Nick teringat apa yang dikatakan Felix tadi. "Aku rasanya tidak sanggup lagi menjalin hubungan dengan nya!" Ucap Eric dengan nada memelas.


Nick pun terkejut dengan perkataan Eric. "hei, apa yang kau katakan? bukankah kau yang tergila-gila padanya?" tanya Nick kesal.


"Apa? sebenarnya apa sih maunya? kenapa dia begitu mempermainkan perasaan mu!" seru Nick kesal


"dia selalu mengaitkan antara kekayaan kami. dia bilang, wanita sepertinya tidak pantas bersanding dengan anak konglomerat seperti ku" Ucap Eric dengan hati yang hancur. "Bagaimana pemikiran nya bisa sependek itu? apa selama ini aku hanya menganggapnya seperti sampah?" tanya Eric. "Ya, aku akui yang kemarin aku salah karena kecemburuan ku saat adikmu datang tapi itu karena ketakutan ku saat melihat nya tertawa dengan pria lain. aku, aku takut dia akan berpaling dari ku" Curhat Eric sedih.


"Dengarkan aku Eric" Ucap Nick tegas. "Berikan apapun yang dia minta dari mu dan jika dia tetap bersikeras ingin berpisah dari mu maka lepaskanlah dia, suatu saat nanti kita lihat, apakah dia bisa berdiri tanpa dirimu. kami selama ini tahu, jika bukan dirimu maka Maria tidak akan mampu untuk berdiri sendiri." Jelas Nick tegas.


"Dan aku harus ikhlas melepaskan, begitu?" tanya Eric kesal.


"kau mencintai nya, bukan? Aku tidak pernah melihat seorang Eric bisa melepaskan apa yang dia mau begitu saja." Ucap Nick tersenyum miring pun diikuti oleh Eric yang sudah memiliki rencana untuk membuat Maria tidak bisa berpaling dari nya.


"Aku mengerti, bung!" Seru Eric yang kini raut wajah terlihat senang. "Baiklah, biarkan aku pergi untuk melakukan apa yang seharusnya aku lakukan" pamit Eric membuat Nick mengangguk mengerti.


Rencana gila apa yang kali ini Eric lakukan?


***


Maria dan Elena tertawa terbahak-bahak di pinggir pantai. mereka berdua tampak bersenang-senang setelah Elena berhasil membuat Eric kesal. Awalnya Maria ingin membukakan pintu apartemen nya untuk Eric namun berkat paksaan Elena akhirnya dia urungkan dan membuat wajah kesal Eric tampak lucu.


Tawa mereka surut ketika melihat seorang pria tampan mendekati mereka, dan duduk didepan mereka. "Ha-Hai, Maria" sapa nya dengan nada yang sedikit takut.


Maria tersenyum. "Hai, Joe. sedang apa kau disini?" tanya Maria senang dengan kedatangan Joe karena menurut nya Joe itu orang yang lucu.


Joe menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terlihat salah tingkah ketika Elena memandangi nya. "Ehm.. A-aku tidak Se-ngaja melihat dua Wa-wanita cantik duduk disini" Jawab nya malu-malu.


Elena yang mendengar nya pun senang seketika ketika mendengar Joe mengatakan nya wanita cantik. "Wah-wah, siapa namamu tadi? kau sangat pandai memuji. maukah kau menjadi temanku" Tanya Elena memegang tangan Joe membuat pria berwatak seperti anak-anak itu tersenyum senang.


"Tentu saja! Kau bisa memanggilku Joe dan namamu--"


"Elena Alexa Devian. panggil aku Elena" Jawab Elena cepat. Joe mengangguk paham dan kini tatapannya menatap Maria.


"Ehm, Di-dimana Audrey?" tanya Joe hati-hati


Maria menghela nafasnya. "Dia sakit jadi aku bersama Elena sekarang" Jawab Maria dengan nada sedih.


Joe terlihat terkejut dan kemudian panik. "Di-dia sakit? bagaimana bi-bisa, apa kau bisa menghantarkan ku un-untuk menemu-i nya?" tanya Joe menarik-narik tangan putih Maria.


Maria menepuk pelan tangan Joe dan mengisyaratkan nya untuk duduk kembali. "Ada sedikit masalah, kamipun dilarang menemui nya jadi tidak ada gunanya kau mau menemui Audrey" Tutur Maria menenangkan kepanikan Joe.


Joe menghela nafasnya berat. "A-aku ingin menemuinya" Cicit Joe sedih.


"Sudahlah dari pada sedih terus lebih baik kita ke taman bermain sekarang? bagaimana?" Tawar Elena tersenyum senang. Maria dan Joe saling pandang sebelum mengangguk dan tersenyum senang.


"Ehm, tapi Elena. bodyguard mu menjaga kita dan juga kau belum sembuh". Ucap Maria menunjuk kearah sekitar 7 bodyguard yang mengawasi mereka dari jauh


"Tenanglah, aku hanya akan memakan cemilan di sana dan kalian yang bermain, bagaimana!" tawar Elena membayangkan banyaknya makanan manis disana.


"Oke, ayo kita pergi" Teriak Maria mengandeng tangan Elena dan Joe.


***


NEXT ..