We See Who Will Win Dear

We See Who Will Win Dear
Kelemahan Felix



Pagi hari pun datang, ketika membuka mata Audrey melihat sekelilingnya, terasa sunyi. Audrey bangkit dan melihat sekeliling,,


"apa ini tahanan?" tanya Audrey pada dirinya sendiri. bagaimana dia bisa berada disini?, tentu saja karena Nick. dia tidak tega mengganggu tidur nya, sebab itulah dia menggendong Audrey.


"sudah bangun nona?" tanya Dany yang baru saja datang, wajah nya datar seperti biasa, tetapi hari ini terlihat lebih dingin daripada sebelumnya. Audrey menatap wajah Dany, bingung. siapakah pria ini, dan dimana dia sekarang?.


seolah mengerti apa arti tatapan Audrey, Dany pun menjawab." saya adalah asisten pribadi tuan Felix, saya diperintahkan untuk membawa anda menemui tuan" ucap Dany.


Audrey diam, "dia menginginkan sesuatu dariku?" tanya Audrey memicingkan matanya.


sambil tersenyum Dany pun menjawab." ternyata anda pintar juga. kalau begitu cepat lah" jawab Dany dan setelah itu memberikan instruksi pada para pengawal yang menjaga Audrey untuk mengeluarkan Audrey.


Audrey pun dikeluarkan, tetapi sebelum itu dia di borgol dahulu. Audrey hanya tersenyum mendapatkan perlakuan begitu. melihat reaksi Audrey, Dany mengerutkan keningnya


'ada apa dengan wanita ini, kenapa dia tersenyum' batin Dany menatap tajam Audrey, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tipis.


Dany pun pergi begitu saja, karena sudah berhasil di buat kesal oleh tahanan tuannya.


sedangkan Audrey dan kedua pengawal di samping nya hanya mengikuti Dany dari belakang.


Sampai lah mereka di ruang makan, karena jika ingin ke ruang kerja Felix, harus melewati ruang makan. disana terdapat beberapa orang yang Audrey kenal. ada Nick, Mike, Eric dan jangan lupa seorang gadis keturunan Asia. dia adalah adik perempuan Felix, yaitu Elena.


Elena yang melihat siapa yang di borgol, langsung berdiri menghampiri Audrey dan para pengawal


"tunggu!" teriak Elena, sontak membuat ke empat orang itu berhenti dan menoleh ke arah suara. orang-orang yang ada di meja makan pun melihat kejadian itu.


"iya nona Elena?" tanya salah seorang pengawal yang sebelumnya telah membungkukkan badannya.


"bukankah kau primadona kampus?" tanya Elena yang tak menghiraukan pertanyaan pengawal itu.


"mungkin Anda salah orang nona" jawab Audrey dingin


"aku tidak mungkin salah, kau adalah primadona kampus. kau juga termasuk mahasiswa jenius di kampus. dan.. kau juga pacarnya kak Nick kan?" tanya Elena memicingkan matanya. seolah ada ke tidak sukaan Elena pada Audrey, Audrey pun tahu bahwa gadis didepannya ini tidak suka padanya


Sontak Nick yang minum air, akhirnya tersedak dan terbatuk-batuk. Audrey hanya menatap dingin gadis yang didepan nya, setelah itu mengalihkan pandangannya ke arah Nick.


"apa anda cemburu?" tanya Audrey tersenyum sinis. pertanyaan Audrey membuat Elena pucat. dia tidak tahu ingin menjawab apa. Mike yang melihat perubahan mimik wajah Elena, bisa membaca bahwa selama ini Elena menyimpan rasa pada Nick.


lagi-lagi Nick di buat heran dengan perkataan kedua gadis itu. "kau bisa tanyakan pada nya" ucap Audrey yang meninggalkan Elena yang masih mematung menatap kepergian Audrey.


Setelah Audrey pergi, Elena pun buru-buru pergi dari sana. karena melihat sorot tajam dari Nick.


"wah-wah, ternyata kau mempunyai pengagum rahasia" ucap Eric bertepuk tangan bangga.


"diamlah" ucap Nick.


"bagus" ucap Mike yang mendapat pelototan dari Nick


"bagus apanya?" seru Nick kesal dengan Mike.


"kita bisa memanfaatkan dia untuk membela adikmu" jawab Mike tersenyum smirk.


"maksud mu?" tanya Eric yang tidak mengerti.


"cerita kan pada Elena bahwa dia adikmu yang kau sayangi dan cerita kan juga kisah cinta Felix dan nona Audrey, dengan begitu dia akan berguna" jawab Mike


keduanya mencerna apa yang dikatakan Mike, ketika menyadari itu keduanya pun melebarkan matanya dan tersenyum penuh arti.


"kau jenius Mike" ucap Eric bangga.


"aku setuju, baiklah kita mulai" ucap Nick yang pergi ke arah kamar Elena. karena ini hari libur sebab itulah Elena tidak ke kampus.


Sementara itu...


tok..


tok..


tok..


"masuk" ketika mendengar sahutan dari dalam, maka pelan-pelan Dany membuka pintu itu.


Mereka masuk dan kini menatap Felix yang sedang memunggungi mereka, kini dia menatap keluar dari jendela.


"dia sudah disini tuan" ucap Dany. Felix pun berbalik dan menatap tajam Audrey dan setelah itu tersenyum smirk. seolah merendahkan harga diri Audrey.


"tinggal kan kami" ucap Felix dingin dan setelah itu duduk di kursi nya.


Mereka bertiga meninggalkan ruangan itu dan tersisa lah kedua orang yang saling membenci.


"tanda tangani itu" ucap Felix melempar kan sebuah map ke muka Audrey. Audrey hanya diam melihat map itu yang kini berada di pangkuan nya.


"apa kau tuli, cepat tanda tangani itu!" seru Felix


"apa kau buta, tidakkah kau lihat tanganku sedang di borgol" seru Audrey menirukan gaya bicara Felix. Felix yang kesal pun memanggil kan Dany dan orang yang dipanggil masuk dan membuka borgol Audrey. setelah itu dia keluar lagi.


"apa ini?" tanya Audrey yang kini sudah membolak-balik halaman itu.


"kau punya mata, kenapa tidak kau baca saja itu" jawab Felix


"maksudmu, aku harus mundur menjadi pimpinan kelompok mafia ku sendiri?" tanya Audrey marah.


"kalau iya, memang nya kenapa?. kau ingin marah?,,, ingin membunuh ku?,,,, atau menamparku?,,," ejek Felix tersenyum sinis.


"tidak akan" ucap Audrey yang kini berhasil membuat Felix emosi.


"pilih tanda tangani itu atau teman-teman mu mati kesakitan" seru Felix


"jangan macam-macam pada mereka brengsek!" seru Audrey menunjuk jarinya kearah Felix


"hahaha" tawa itu menggema di seluruh ruangan, mengisyaratkan tentang merendahkan seseorang.


"inilah kelemahan mu, bagaimana kau bisa menjadi penguasa Eropa. kalau kau sendiri begitu lemah" ejek Felix


"kau..." geram?, tentu saja. siapa yang tidak geram ketika direndahkan.


"apa?,,, mau membunuh ku?. silahkan kalau kau bisa" ejek Felix lagi. Audrey yang mendapat ejekan itu hanya diam tapi dari sorot matanya mengisyaratkan kebencian.


"cepat tanda tangani itu" perintah Felix. mau tidak mau Audrey akhirnya menanda tangani kertas itu. setelah menandatangani nya, Felix merampasnya kasar, setelah itu menyuruh Dany untuk mengeluarkan Audrey dari dalam ruangan itu.


Mereka pun keluar ruangan itu, tetapi sebelum memasuki ruang bawah tanah ada penyerangan. terdengar suara tembakan dan peledakan. Audrey yang mendengar itu hanya mematung, dia tahu siapa yang menyerang.


Mike dan Eric juga ikut beraksi, adu tembak pun terjadi. karena hampir semua penjaga di tugaskan untuk hal yang lain, maka penjagaan di mansion dapat dengan mudahnya di tembus.


Setelah beberapa menit, datanglah seorang yang kini Audrey kenal, dia adalah Joshua.


Joshua menghabisi musuh dengan membabi buta bahkan setelah Mike menembak lengan kiri Joshua tapi tidak membuat nya gentar.


Felix pun juga ikut keluar dari ruangan nya. ketika melihat Joshua yang kacau, membuat nya tertawa terbahak-bahak. Joshua yang melihat itu geram dan ingin menembak Felix. tapi sebuah suara menghentikan nya


'kenapa dia menghentikan nya' batin Eric


'apa yang dilakukan Felix pada nona Audrey?' batin Mike


Sedangkan Dany hanya tersenyum sinis, dia sudah mengetahui semuanya.


"kenapa anda menghentikan saya nona?" tanya Joshua geram


"kembalilah ke markas" jawab Audrey dingin


"hah?" Joshua tidak paham dengan pemikiran gadis yang ada di depannya itu. "tapi nona..." ucapan Joshua langsung dipotong


"kau tidak dengan yang ku perintah kan?" seru Audrey menatap tajam Joshua.


"kau tidak dengan apa yang di ucapkan oleh nona AES" ucap Felix tersenyum sinis.


"baiklah nona" ucap Joshua yang mengisyaratkan sesuatu lewat sorotan matanya.


'tapi apapun yang terjadi, aku akan menyelamatkan Anda nona' batin Joshua menatap Audrey dan setelah itu pergi dari sana. Audrey hanya mengangguk pelan, mengerti apa yang akan di ucapkan Joshua.


'maafkan aku Josh, kalau kita menyerangnya sekarang. maka nyawa Mey dan kak Mark akan melayang' batin Audrey


"hahahaha" tawa itu lagi, benci mendengar nya. Felix tertawa sambil bertepuk tangan.


"ternyata kau sangat hebat dalam berakting" ejek Felix meremehkan Audrey.


Audrey hanya diam, malas menanggapi. Audrey pun menghadap Felix dan berkata"terimakasih atas pujian anda, kalau tidak ada lagi. saya permisi" sambil tersenyum puas


"kau..." ucap Felix geram dan mendekati Audrey. Audrey yang melihat itu pasrah, memang inilah yang akan dihadapi nya cepat atau lambat.


"kakak!" seru Elena yang baru saja datang diikuti Nick dibelakangnya. Nick mengedipkan matanya ke arah Eric dan Mike. Eric yang melihat itu jijik dengan perbuatan Nick sementara Mike? tetap muka datar.


Felix menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Elena. Elena pun mendekati Felix sambil berkata. "kakak tidak boleh kasar pada seorang wanita" ucap Elena memelas


"tutup mulutmu dan kembali lah ke kamar mu!" seru Felix menatap tajam Elena


"kenapa kakak jadi kasar begini?, kak Daniel saja tidak pernah berbicara begitu pada ku" seru Elena


"kalau tidak mau aku berbuat begitu, jangan ikut campur urusan ku" ucap Felix yang sudah merasa kesal.


"akan ku adukan kau pada mommy" ancaman Elena berhasil membuat Felix menyerah. karena kelemahan Felix hanya terdapat pada ibunya, dengan ayahnya saja dia sama sekali tidak peduli.


"memuakan!" umpat Felix yang setelah itu pergi dari sana. Eric dan Mike kaget dengan sifat Felix, mereka tidak mengetahui apa kelemahan Felix. sedangkan Nick sudah mengetahui kelemahan nya.


Elena tersenyum puas dan setelah itu mendekati Audrey dan merangkul nya.


"ayo Audrey, ikut aku. kita ke kamar ku" ajak Elena yang langsung di hentikan Dany.


"maaf nona Elena, dia hanya seorang tahanan jadi kami akan membawa nya ke penjara bawah tanah" ucap Dany sopan.


"dia ini bukan tahanan, dia adalah temanku" ucap Elena menatap tajam Dany.


"maaf nona.." ucapan Dany di potong langsung oleh Elena.


"aku memaafkan mu. ayo Audrey" ajak Elena menarik kuat tangan Audrey yang masih di borgol.


"saya hanya tahanan nona Elena, jadi lepaskan saya" ucap Audrey dingin.


"tidak ada pembantahan" perintah Elena.


"tapi nona.." lagi-lagi ucapan Dany dipotong.


"biar aku yang mengawasi mereka" ucap Mike dingin dan langsung mengikuti Elena dan Audrey.


"baiklah" ucap Dany pasrah.


Ketika ingin menutup pintu kamar nya, tiba-tiba sebuah tangan kekar menghentikan nya. Elena pun menoleh dan tiba-tiba merasa kesal. karena dari pertama kali bertemu dengan orang ini, entah kenapa dia selalu kesal.


"kenapa kau disini?" tanya Elena


"saya hanya memastikan tahanan Felix tidak membuat keributan" ucap Mike yang langsung masuk tanpa izin.


"hei, siapa yang mengizinkan mu?" protes Elena. mendengar ucapan Elena, Mike hanya diam dan menatap dingin gadis itu. Elena yang mendapat tatapan itu, hanya diam membeku dan mengalah, membiarkan laki-laki itu disana mengawasi mereka.


"huh, percuma saja bicara padamu!" seru Elena yang lalu mendekati Audrey yang masih diam mematung menatap dingin kedua manusia didepannya.


"sudah selesai bertengkar nya?" tanya Audrey


"sudahlah, jangan hiraukan dia. anggap saja dia tidak ada" ucap Elena melirik sebentar Mike setelah itu mengalihkan pandangan ke arah Audrey.


'sialan' umpat Mike dalam hati, merasa jengkel terhadap gadis didepannya. sementara Audrey hanya diam.


"ayo, kita kan sejurusan jadi agar tidak canggung bagaimana jika kota membahas tentang materi yang ada di kampus" ajak Elena bersemangat dan mengeluarkan seluruh buku yang dia punya.


Audrey menatap banyaknya buku, masih baru. seperti nya gadis didepannya itu tidak suka membaca tapi kenapa dia sangat bersemangat belajar?.


Elena yang tidak sengaja melihat tangan Audrey yang masih di borgol, seketika mengalihkan pandangannya ke arah Mike. Mike yang melihat itupun bertanya.


"apa!" ketus Mike


"CK, bagaimana kami ingin belajar jika tangan Audrey saja di borgol" ucap Elena


"akan ku ambil kan kuncinya" ucap Mike keluar dari kamar Elena dan mencari keberadaan Dany.


"bagus, akhirnya kau berguna juga" ucap Elena pelan, dia tidak berani mengejek Mike.


Sementara itu..


"apa saja yang kau ceritakan pada nona Elena?" tanya Eric yang kini mereka sudah berada di markas.


"seperti yang aku dan ily alami, tapi dengan sedikit dramatis dan itu membuat nya hampir menangis" jawab Nick yang mengingat bagaimana setelah dia menceritakan itu, Elena hampir menangis dan Nick langsung memeluk nya.


"hahha, kau sangat jahat Nick" Eric tertawa kecil membayangkan bagaimana ekspresi Elena.


"kita perlu menjadi sedikit jahat untuk mencapai tujuan" ucap Nick enteng


"kau sangat jahat bukan sedikit jahat. kau lupa, sudah berapa nyawa yang melayang akibat aksimu?. apalagi setelah Felix pulang, kau bahkan menjadikan mereka menjadi santapan lezat macan-macan itu" ucap Eric yang mengingat bagaimana cara Nick melampiaskan amarahnya dengan cara membunuh penghianat-penghianat itu.


"lupakan itu dan terimalah nasibmu kini menjadi duda" ucap Nick yang kini tertawa terbahak-bahak.


"menyebalkan" ucap Eric yang langsung mendahului Nick.


"hei tunggu" teriak Nick di sela-sela tawarnya.


Memang, setelah mengetahui Audrey di tangkap oleh Felix. Maria marah besar kepada Eric, dia marah karena terlibat dalam penculikan Audrey. dari situ lah, Maria mengancam untuk memutuskan hubungan nya dengan Eric. itu membuat Eric frustasi dan dia bertekad untuk membebaskan Audrey dari Felix..