Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 9 I Miss You



Ketiga sahabat yang tak lain adalah Miko, Alex, dan Nadia kini tengah menikmati malam di Hawaii. Mereka saat ini berada di sebuah cafe pinggir pantai yang menyajikan nuansa romantis dengan latar belakang pantai Hawaii yang begitu indah. Deburan ombak, semilir angin, serta iringan musik yang begitu mendayu-dayu semakin menambah nuansa romantis di cafe yang mereka datangi saat ini.


"Sayang, maukah kau berdansa denganku?" Tanya Alex pada seorang wanita yang memakai mini dress berwarna violet.


Bule dengan rambut ikal yang ditanya Alex menoleh menatap bingung lelaki di depannya.


"Sorry?" Kata bule itu tak mengerti maksud Alex.


Sepasang suami-istri sahabat Alex hanya mengamati kelakuan Ayah satu anak itu dengan kekehan kecil di bibir mereka.


"Apa kau yakin dia akan berhasil?" Bisik Nadia tepat di telinga Sang suami.


Miko mengangguk, "aku yakin dia bisa." Ucapnya mantap.


"Maukah kau berdansa denganku, honey?" Ulang Alex yang langsung mendapat tatapan tajam dari Si bule.


Tiba-tiba saja bule di depannya bertepuk tangan dua kali dan muncullah lelaki bertubuh besar menghampiri mereka berdua.


"Ada apa, Sayang?" Tanya lelaki bertubuh besar itu pada Si bule saat ia tepat berada di sampingnya. Bule itu langsung memeluk lelaki bertubuh besar itu dari samping.


"Dia menggodaku," adu Si bule dengan suara yang begitu manja.


Lelaki dengan otot besar itu langsung menatap tajam ke arah Alex, dengan perlahan ia mendekat tanpa memutus kontak mata mereka.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Si lelaki bertubuh besar dengan tatapan nyalang.


"Ti-tidak, aku hanya mengajaknya berdansa." Ujar Alex gugup.


Kedua sahabatnya itu bukannya menolong, mereka justru memegangi perut masing-masing menahan tawa menyaksikan adegan di hadapan mereka.


"Psst... psst..." Alex memanggil kedua sahabatnya yang masih mengamatinya dengan wajah merah menahan tawa.


"Sudahlah Sayang, kau tolong dia sebelum dia kenapa-napa." Bujuk Nadia pada Miko seraya mendorong tubuh suaminya menjauh.


Miko akhirnya beranjak mendekat ke arah Alex, ia berdiri di tengah-tengah Alex dan Si pria bertubuh besar tadi.


"Sorry, apa ada masalah?" Tanyanya pada lelaki bertubuh besar itu.


"Siapa kau?" Tanya pria bertubuh besar dengan garang membuat nyali Miko mendadak menciut.


"A-aku sahabatnya, maafkan dia. Dia memang agak sedikit," terang Miko seraya memiringkan telunjuk kanannya di depan dahi.


Beruntung lelaki bertubuh besar itu mau melepaskan mereka setelah mendengar penjelasan Miko.


"Pantas saja, kenapa kau tak bawa dia untuk menjalani rehabilitasi?" Saran lelaki bertubuh besar dengan tatapan yang sudah melunak.


"Dia baru saja sembuh," terang Miko lalu menarik tubuh Alex menjauh dari tempat itu.


"Maksudmu apa?" Tanya Alex dingin dengan wajah yang merah padam menahan amarah. Ia menghempaskan cekalan tangan Miko saat mereka sampai di depan Nadia.


Miko menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "A-aku hanya bergurau," ucapnya takut dengan kepala menunduk.


Di tengah perdebatan mereka, ponsel milik Alex berbunyi menandakan ada panggilan masuk.


"Siapa itu?" Tanya Miko saat Alex hendak mengangkat teleponnya.


Alex menoleh dengan wajah kesalnya, "bukan urusanmu." Ketus Alex.


☘☘☘


Rasya Pov


Ah aku bosan, hari ini Gerald pergi bersama kekasihnya sedangkan aku hanya diam di rumah sebesar ini. Jika kalian bertanya kemana pacarku? Maka jawabannya adalah, aku jomblo. Ya, silahkan tertawa sepuasnya karena itulah kenyataannya. Aku belum pernah berpacaran sekalipun. Meski banyak yang mengajakku berkencan, tapi aku menolak mereka dengan halus. Bukan karena aku sok kecantikan, tapi karena hatiku tak pernah merasakan apa-apa pada mereka yang mendekatiku. Daripada aku harus menjalani cinta dalam kebohongan, lebih baik aku menolaknya bukan? Apa salah?


Aku lalu membuka password ponselku dan mencari kontak Papa. Setelah kutemukan, dengan segera aku menekan tombol dial hingga telepon ku tersambung padanya.


"Hai sayang..." sapa orang diseberang sana yang tak lain adalah Papaku. Suara bariton nya sudah sangat aku hapal.


"Hai Papa," balasku dengan suara yang kubuat sedih.


Kudengar helaan napas dari Ayahku.


"Anak Papa kenapa?" Tanyanya dengan nada khawatir.


Aku menggeleng dengan bibir cemberut, meski kutahu Papaku tak akan melihatnya.


Hening sesaat, hingga akhirnya Papaku melanjutkan kalimatnya.


"Kamu udah di mansion kan, Sayang?" Ia bertanya lagi yang kubalas dengan deheman.


"Sepertinya Papa, Om, sama Tante akan lebih lama tinggal disini, Sayang." Ujar Ayahku dengan nada sedikit menyesal.


"Yahh... kok bisa sih, kan janjinya cuma sebentar, Papa..." Rengek ku disertai protes tak terima akan keputusan Ayahku itu.


"Iya maaf banget ya, Sayang. Perusahaan disini lagi ada masalah yang cukup serius jadi kita bertiga ngga bisa cepet-cepet pulang sebelum masalahnya tuntas. Tapi Papa janji kalau semuanya udah stabil lagi, Papa bakalan langsung pulang nemuin kamu." Kata Papaku.


Aku pun hanya bisa menghela napas sebal.


"Janji ya."


"Iya sayang, yaudah Papa lanjutin lagi ya kerjaan Papa. Anak Papa jangan lupa jaga kesehatan, jangan berantem terus sama Gerald." Nasehatnya yang kujawab anggukan kepala.


"Ngerti kan, Sayang?" Ia bertanya memastikan jawabanku. Aku hanya berdehem malas.


"Yaudah kamu jangan keluyuran ya, nurut sama Gerald. See you, honey."


Tanpa menunggu jawaban dariku, Papa langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Aku mendengus sebal menatap malas layar ponsel yang sudah berubah menjadi hitam.


"Nurut sama Gerald? Emangnya dia siapa? Dia aja lagi senang-senang, Pa." Gerutu ku pada ponsel yang masih kugenggam.


☘☘☘


Alex memandangi ponselnya sembari terkekeh, kedua sahabatnya lalu mendekat menyadari bahwa Alex telah menyudahi panggilan teleponnya.


"Siapa yang nelpon?" Tanya Nadia antusias.


Alex mendongak disertai senyuman manisnya.


"Malaikat kecilku," jawabnya singkat.


Kedua orang di hadapannya hanya ber-oh ria.


Mereka lalu beranjak menuju mansion mereka.


"Sepertinya kita akan menambah waktu liburan kita," celetuk Alex sebelum dirinya masuk ke dalam kamar miliknya yang berada di samping kamar milik Miko dan Nadia.


Sepasang suami-istri menoleh dengan tatapan tak mengerti.


"Tadi aku bilang pada Rasya, jika masalah kita disini masih lama selesainya." Ujar Alex seolah mengerti dengan tatapan kedua temannya itu. Ia langsung melangkah masuk ke dalam kamar mereka.


"Sepertinya kita bisa memberikan Gerald adik lagi," bisik Miko dengan senyuman jahilnya yang langsung dihadiahi cubitan cukup keras oleh Sang istri, membuatnya mengaduh kesakitan sembari mengelus perutnya yang terasa sakit akibat ulah istrinya itu.


"Dasar mesum... ingat umurmu sudah tua..." ucap Nadia dengan wajah yang memerah menahan malu.