Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 27



Hari itu, Tina dikejutkan oleh kedatangan ibunya yang mendadak dan tidak mengabari dirinya sebelumnya


"Eh... Ibu!" Tina terkejut saat membuka pintu rumahnya.


"Kamu lagi ngapain? Ibu gak ganggu kamu kan?" Tanya ibunya.


"Gak sama sekali, Bu, ayo masuk, kita ngobrol di dalam" ajak Tina.


"Ibu kok gak bilang kalau mau kesini!" Kata Tina.


"Maksudnya, kalau ibu ngabarin mau kesini, biar aku bisa siapkan apa gitu buat ibu, ini aja aku baru mau masak" lanjut Tina.


"Ibu juga sebenarnya cuma kebetulan lewat aja, tadi abis ketemuan sama teman lama, dia ngajakin ketemuan di cafe yang letaknya gak jauh dari sini, jadi, ibu pikir gak ada salahnya kalau ibu main kesini" jelas ibunya. Tina mengangguk.


"Oh iya, Gita mana, Tin? Apa belum pulang sekolah? Soalnya ibu lihat diluar, mobilnya gak ada di garasi" Ibunya mencari Gita.


"Iya, Bu, dia lagi belajar kelompok sama teman-temannya, buat persiapan ujian nasional, kan bulan depan udah ujian, jadi, porsi belajarnya agak sedikit ditambahkan" jawab Tina.


"Tin, ngomong-ngomong soal Gita, emang benar yah, Yanto katanya secara gak sengaja nemuin bayi di cafe tempat dia meeting dan bawa dia kesini, terus kamu kasi nama Gita, apa itu benar?" Ibunya ingin mencari tahu kebenarannya.


"Iya, Bu, itu memang benar, mas Yanto menemukan bayi itu tepat di dekat dia memarkirkan mobilnya" Tina membenarkan.


"Tapi, ibu jangan bilang-bilang sama Gita soal ini, aku takutnya dia salah sangka nanti, aku sama mas Yanto rahasiakan itu dari dia, aku gak mau dia sedih dan menganggap dirinya sebagai anak yang tidak diinginkan oleh orang tua kandungnya" pinta Tina.


"Iya, kamu tenang aja, ibu gak akan cerita apa-apa sama Gita" jawab ibunya.


"Tapi, Tin, kamu tahu gak, siapa orang tua kandungnya Gita itu?" Tanya ibunya yang terlihat penasaran.


"Pada awalnya aku gak tahu siapa, tapi, belakangan aku akhirnya tahu kalau Gita itu anak dari Andini, mantan pacarnya mas Yanto dulu, adik-adiknya mas Yanto yang ceritakan itu sama aku" kata Tina.


"Aku sempat menyangka kalau itu anak dari hubungan gelap mas Yanto dengan Andini, tapi, setelah mendengar penjelasan Yeni, aku jadi percaya kalau itu bukan anak mas Yanto. Andini terpaksa membuangnya karena dia tidak bisa membiayainya, butiknya bangkrut dan semua harta bendanya habis dan yang lebih menyakitkan lagi keperawanannya direnggut paksa oleh orang asing dan membuatnya hancur saat itu" Tina menambahkan.


"Tapi, kamu sama Yanto kok mau sih merawat dan membesarkan anak itu, apa kamu gak malu kalau nanti orang-orang tahu kalau Gita itu anak haram, itu bisa jadi aib bagi keluarga kalian loh" ibunya merasa sedikit was-was.


"Gita itu hanyalah anak dari korban lelaki yang tidak bertanggung jawab hingga membuat Andini hamil, Gita juga tidak bisa memilih, ini semua udah takdir yang harus dihadapi" jawab Tina. Ibunya menganggukkan kepalanya, menerima jawaban dari Tina.


"Assalamualaikum!" Gita masuk dan mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam!" Tina dan ibunya menjawab salam.


"Belum lama kok, nak" jawabnya sambil mengelus lembut kepala Gita.


"Oh iya, bentar lagi kan ulang tahun aku, Bu, Nek, boleh gak kalau ulang tahun aku kali ini dirayakan dirumah nenek aja" pinta Gita.


"Ibu gak salah dengar kan, Git? Apa kamu yakin?" Tanya Tina, seolah tidak percaya.


"Yakin banget, Bu" jawab Gita meyakinkan.


"Sekalian aku pengen tahu sih, seperti apa rumah nenek, apa sama kayak rumahku ini atau gimana" batin Gita.


"Gimana, Bu" Tina menatap ibunya.


"Boleh dong, masa gak boleh sih, malahan ibu senang" jawab ibunya, yang sepertinya tidak keberatan dengan permintaan Gita tersebut. Gita senang mendengar jawaban dari neneknya.


...*****...


Beberapa hari kemudian, pesta ulang tahun itu diselenggarakan dirumah ibunya Tina. Meskipun tidak sebesar rumahnya, tapi, cukup untuk menampung beberapa teman-teman Gita yang datang. Namun dalam hatinya, Gita merasa menyesal karena telah meminta ulang tahunnya dirumah neneknya itu. Dia menyangka kalau rumah neneknya itu juga bagus dan tidak beda jauh dengan rumahnya.


"Kalau aku tahu kalau rumah nenek kayak gini, aku gak akan mau rayakan ulang tahun aku disini, ini rumah atau apa sih, gak ada AC, rumahnya pun sumpek, kondisi rumahnya beda banget sama rumah aku, ternyata nenek orang miskin, berarti ibu berasal dari keluarga miskin dong, kok ayah mau sih dulu menikahi orang miskin, bukannya memperbaiki perekonomian malah menjadi beban, karena pasti ayah yang ngasi uang tiap bulan ke nenek, apalagi kan nenek tinggal sendirian disini" gerutu Gita dalam hati.


"Git, kamu kok mau sih rayakan ultah kamu disini? Kenapa gak dirumah kamu aja, yang lebih bagus dan lebih luas dari rumah nenek kamu ini" kata Gena.


"Gak boleh ngomong gitu, Gen, malahan bagus loh kalau Gita ngerayainnya disini, bisa ketemu neneknya juga, secara kan ini hari spesialnya Gita, jadi, dia pasti mau merayakan dengan orang-orang yang dia sayangi, termasuk neneknya juga" Marni angkat bicara.


"Tahu nih, Gena, gak baik ngomong gitu dirumah orang, kesannya kayak gak menghargai" Haikal menimpali. Marni mengangguk dan setuju dengan pernyataan Haikal. Gita hanya tersenyum dan menyimak perkataan teman-temannya itu.


"Untung aja yang aku undang, gak semua teman aku datang, kalau semua temanku datang, mau ditaruh dimana mukaku ini kalau tahu rumah nenek kayak gini kondisi, kan malu-maluin, tapi, aku berusaha untuk bersikap biasa aja, biar gak keliatan kalau aku gak suka dengan rumah nenek ini" batin Gita. Gita berusaha sebisanya dan melewati pesta ulang tahunnya, yang sebenarnya tidak seperti yang dia harapkan. Tapi, Gita tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini permintaan Gita pada ibunya, yang disetujui oleh neneknya. Yanto merasa senang karena Gita sudah berubah, yang tadinya sombong bisa berubah jadi rendah hati dan mau bersikap sederhana meskipun Yanto orang kaya. Padahal Yanto bisa saja memilih tempat dimanapun Gita mau untuk merayakan ulang tahunnya. Tapi, ini Gita memilih untuk merayakannya dirumah ibunya Tina.


"Mas, kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan kamu liatin Gita mulu, ada apa?" Tanya Tina.


"Gak, aku cuma senang aja melihat perubahannya Gita dan aku udah benar-benar yakin kalau Gita sekarang sudah menjadi lebih baik lagi pasca kejadian di sekolahnya itu, contohnya aja dia mau merayakan ultahnya dirumah ibu, itu menandakan dia bisa bersikap sederhana kan, padahal dia bisa aja kan tunjuk tempat dimanapun yang dia mau, itu suatu kemajuan yang sangat baik" Yanto tersenyum semringah.


"Aku juga awalnya kaget dengan permintaan Gita, yang ingin merayakan ultahnya dirumah ibu, takutnya nanti Gita malah gak nyaman, tapi, nyatanya dia senang-senang aja tuh, ketawa-ketawa gitu" kata Tina.


"Yah... Semoga aja, Gita tetap terus seperti ini, menjadi anak yang baik, anak yang rendah hati dan bersikap sederhana, tidak bertindak semaunya lagi dan bisa menghargai orang lain" harap Yanto. Tina hanya mengangguk sebagai jawaban.