Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 20 Pertemuan Tak Terduga



Mereka berdua kini tengah memandang danau di hadapan mereka dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Apa kau tak sekolah?" Akhirnya salah satu dari mereka membuka suara.


Gerald menggeleng singkat kembali menatap pemandangan danau lagi.


"Kau bolos, heh?" Tanya gadis disamping Gerald lagi. Kembali Gerald menggeleng dengan tatapan fokus ke depan.


"Kau sendiri, kenapa kesini? Kau tak kerja atau sekolah mungkin?" Tanya Gerald kemudian.


Kali ini Sang gadis yang menggeleng pelan diiringi tarikan napas yang berat.


"Kau sedang ada masalah?" Selidik Gerald menatap samping orang yang kini ia ajak bicara.


Si gadis menoleh dengan tatapan sendu. Kesedihan terlihat jelas di wajahnya meski ia tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Gerald lalu menepuk bahunya sendiri dengan pelan. "Bersandarlah, setidaknya kau bisa melupakan masalahmu itu sejenak di pundakku." Tutur Gerald dengan tulus.


Sang gadis pun menuruti apa yang diucapkan oleh Gerald. Hening cukup lama menyapa mereka hingga tiba-tiba terdengar ia akan tertahan dari gadis di samping Gerald saat ini.


"Kenapa semua lelaki sama saja?" Gumam Si gadis dengan suara yang cukup lirih. Jika di tempat ini keadaan sedang ramai, mungkin Gerald tak akan mendengar ucapan wanita di sampingnya.


Dengan ragu Gerald mengusap puncak kepala wanita yang terlihat sedang rapuh itu. "Kenapa di dunia ini semua wanita sama saja?" Kini giliran Gerald yang balik bertanya pada lawan bicaranya.


Si gadis menarik kepalanya menjauh dari bahu Gerald dengan sebelah alis yang terangkat, "maksudmu?"


Gerald menggeleng diiringi senyum simpul nya. "Lupakan. Jadi... maukah kau berbagi cerita denganku, Je?" Tanya Gerald.


"Tidak... kita baru saja bertemu satu kali, mana mau aku berbagi cerita denganmu. Bagaimana jika kamu itu orang jahat dan memanfaatkan situasiku saat ini."


Jessica, sosok itu kembali menatap danau di depannya dengan wajah yang penuh dengan kesedihan.


Gerald mulai mengerti apa yang kini tengah dialami oleh Jessica, gadis yang bertemu dengannya di kedai es krim waktu itu. Samar-samar sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


"Kau tahu gadis kedai, aku pun tengah merasakan apa yang kamu rasakan saat ini." Ucap Gerald yang kini sama-sama menatap keindahan alam yang tersaji di hadapannya.


"Sok tahu... memangnya kau tahu apa yang saat ini aku rasakan, huh?" Cecar Jessica dengan nada mengejek.


Gerald mengangguk mantap, "kau sedang patah hati bukan?" Tebak Gerald membuat Jessica langsung menoleh ke arahnya.


"Itu kau... lain denganku." Sanggah Jessica. Gerald menatap ke arah Jessica, membuat mereka saling beradu tatap.


"Ngapain liat-liat? Emangnya aku pacar kamu, heh." Gurau Jessica sembari meraup wajah tanpa dosa Gerald, membuat lelaki itu terkekeh menanggapi ucapan Jessica.


"Soon... Beb..." balas Gerald menimpali gurauan Jessica.


"Coba kamu ngga ada," celetuk Gerald menatap danau yang begitu tenang.


Jessica yang tak mengerti ucapan Gerald menoleh dengan tatapan bingung.


"Coba kamu ngga ada, pasti ngga bakalan ada tuh kata yang sering orang sebut dengan panggilan 'cinta'." Tutur Gerald masih fokus menatap lurus ke depan.


"Kau sedang patah hati?" Tebak Jessica.


Bukannya menjawab, Gerald justru melanjutkan kata-katanya.


"Awalnya aku rasa tak ada cinta sejati, sampai kau hadir dan merubahku yang nakal menjadi seorang lelaki yang selalu mengutamakan dirimu. Aku selalu berlalu lalang mencari penggantimu, tapi kenapa rasa ini justru semakin dalam jika aku kembali mengingat senyummu. Mungkin ini yang sering orang sebut dengan cinta buta... dan aku telah menjadi budak cinta dari seseorang yang bahkan tak pernah mau melihat besarnya cintaku padanya." Ucap Gerald dengan nada sendu. Jessica diam mendengarkan ucapan lelaki di sampingnya.


Jessica mengusap bahu Gerald pelan. Mencoba memberikan semangat lewat usapan itu. "Kenapa kau tak mengejarnya dan ungkapkan perasaanmu yang sesungguhnya tanpa harus menyakiti perasaan gadis lainnya? Mungkin alasannya tak menerima dirimu salah satunya karena kau terus bergonta-ganti pasangan. Percayalah, tak ada satu wanita pun yang ingin cintanya dibagi, begitu juga aku. Jika aku di posisi gadis itu, aku pun tak akan menerimamu." Ujar Jessica sedikit sebal.


Mereka pun akhirnya terbawa dalam percakapan yang begitu banyak tanpa ingat bahwa hari telah sore.


☘☘☘


Di tempat lain, Rasya tengah menikmati waktunya menonton film favoritnya dengan ditemani satu toples cookies kesukaan dirinya.


"Sya..." panggil sosok dibalik pintu kamarnya setelah mengetuk pintu beberapa kali.


"Papa boleh masuk?" Lanjutnya.


Setelah Rasya mengiyakan, Alex masuk dengan menggelengkan kepala melihat putri kesayangannya tengah makan di atas ranjang sambil menonton TV.


"Ey Princess... ngga baik makan di tempat tidur, cepat turun dan makan malam." Ujar Alex menasehati. Tanpa membantah ucapan Ayahnya, Rasya pun turun dari ranjang dan pergi ke meja makan bersama Sang ayah.


Keesokan paginya, kegaduhan terjadi di awal hari. Dimana penyebab kegaduhan itu adalah Gerald, Si badboy yang sudah kembali ke sifatnya yang dulu. Sepanjang perjalanan ia terus saja memaki dan memukul siapa pun yang menghalangi jalannya menuju ruang kelas. Sahabat-sahabatnya hanya bisa diam dan menggelengkan kepala mengekor Gerald. Mereka memilih bungkam tak ingin menjadi sasaran empuk lelaki yang mendapat predikat pentolan geng di kelompok mereka.


"Hey... mau sampai kapan kau berbuat rusuh seperti itu," cegah Gladys yang kebetulan memergoki aksi Gerald saat tengah memukul wajah lelaki berkacamata. Gerald menoleh sejenak sebelum akhirnya ia melepas dengan kasar cengkraman tangannya yang berada di kerah baju pria berkacamata.


"Pergilah," usir Gerald dingin.


Ia melangkahkan kakinya lagi tanpa memperdulikan ucapan Gladys barusan. Dengan tatapan tajam dan wajah yang dingin tanpa ekspresi ia melangkahkan kakinya menaiki tangga. Saat Gladys hendak bersuara, dengan cepat Jun memegang bahu Gladys membuat wanita itu menoleh dengan tatapan bingung. Jun hanya menggeleng, memberi isyarat agar Gladys tak melangkah lebih jauh lagi. Dengan kesal gadis itu langsung pergi meninggalkan Jun dan yang lainnya yang saat ini berjalan dengan langkah besar mengejar Gerald.


"Minggir!" Bentak Gerald saat langkahnya terhalang oleh tiga orang anak yang tengah duduk di tangga. Dengan takut ketiga anak itu langsung menyingkir seperti yang diperintahkan Gerald.


"Maafkan dia," ucap Revan sedikit berbisik pada tiga anak yang menatap takut lelaki yang terlihat mengerikan itu. Mereka mengangguk dengan pelan.


Seperti biasa, saat ini Rasya sedang sibuk dengan dunianya. Dia belum menyadari kekacauan yang terjadi di sekitarnya.


"Minggir!" Bentak Gerald lagi pada Jeffrey yang tengah berdiri dengan menyenderkan sebelah pinggangnya di ujung tangga.


Jeffrey yang berdiri memunggungi Gerald menoleh dengan tatapan tak mengerti. "Bukannya jalannya masih longgar, kenapa kau menggangguku?" Tanya Jeffrey sedikit kesal. Ia menunjuk sisi yang kosong di sampingnya mengisyaratkan Gerald agar melewati sisi yang masih lebar itu.


"Aku bilang minggir, ya minggir!" Bentak Gerald lagi dengan wajah merah padam menahan emosi.


"Hey... santai... apa kau sedang datang bulan jadi sensitif seperti ini?" Tanya Jeffrey dengan tatapan mengejek.


Tanpa Jeffrey duga, Gerald langsung melayangkan tinjunya tepat mengenai sudut bibir Jeffrey, membuat lelaki itu jatuh tersungkur tepat di hadapan Rasya.


Rasya yang tak mengetahui pertengkaran mereka pun terkejut mendapati Jeffrey yang jatuh tersungkur di depannya.


"Bangun cepat!" Tarik Gerald memaksa Jeffrey bangkit dari tempatnya.


Rasya diam menegang. Ia masih tak mengerti apa yang saat ini terjadi di depan matanya. Dengan cepat ia melepas earphone yang ada di telinganya lalu melangkah menghampiri Jeffrey yang nampak kesakitan di cengkraman Gerald.


"Gerald, lepas!" Bentak Rasya seraya menarik tangan Gerald.


"Minggir." Desis Gerald dingin tanpa menatap Rasya.


"Rald..." Rasya memanggil dengan suara yang lembut. Ia mengusap pelan lengan Gerald berharap lelaki itu mau melepas tangannya yang berada di kerah baju Jeffrey.


"Please Rald," mohon Rasya dengan suara bergetar. Dengan kasar Gerald melepas cengkraman nya seraya membantung tubuh Jeffrey ke lantai membuat lelaki itu mengaduh kesakitan. Bukannya merasa bersalah, Gerald justru pergi meninggalkan Rasya yang tengah sibuk menolong Jeffrey.