
Beberapa orang yang duduk di ruang tunggu ICU tidak berhentinya membacakan do'a agar Tina mampu melewati masa kritisnya. Ada juga yang meneteskan air matanya, Gita salah satunya. Dia tampak begitu sedih dan diselimuti rasa bersalah pada ibunya, karena membuat ibunya marah dan mengalami hal yang tidak diinginkan seperti saat ini. Yanto menyandarkan kepala Gita di pundaknya, berusaha menenangkannya. Dokter beberapa kali keluar masuk ruang ICU tanpa berkata apapun tentang pasien. Hanya memberi isyarat untuk tetap tenang dan mendoakan yang terbaik untuk pasien.
Selang dua jam kemudian, dokter keluar lagi untuk kesekian kalinya. Semua orang yang sedari tadi menunggu, mendekati dokter dan siap mendengar yang diucapkannya.
"Dok, bagaimana keadaan ibu aku? Dia bisa diselamatkan kan! Ibu bisa sembuh kan, dok! Jawab....!" Gita tidak sabaran dan menarik jas dokter dan membuat badan dokter tersebut tertarik. Dokter memberikan isyarat agar Gita tenang dan mendengarkan terlebih dahulu penjelasannya.
"Bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian, kami dari pihak rumah sakit sudah berusaha semampu kami, tapi, kemungkinan ibu Tina untuk sembuh semakin menipis, hanya mukjizat dari Allah yang bisa menyelamatkan nyawanya" terang dokter tersebut.
"Ibu Tina meminta saya untuk memanggil pak Yanto, suaminya, beliau ingin menyampaikan sesuatu pada bapak" lanjutnya. Yanto mengikuti langkah dokter, masuk ke ruang ICU.
"Mas Yanto, kalau aku udah gak ada, tolong kamu jaga Gita baik-baik yah, meskipun dia bukan anak kandung kita, tapi, aku mau kamu tetap menyayangi dia dengan sepenuh hati" kata Tina.
"Iya, Tin, aku janji sama kamu, kamu harus kuat demi Gita, kamu pasti bisa sembuh" Yanto meneteskan air matanya. Tina menggeleng pelan. Dia seolah tahu kalau usianya ini sudah tidak lama lagi. Perlahan mata Tina tertutup, disertai dengan hentakan yang agak kuat, hilanglah sudah denyut kehidupannya dan Tina pergi untuk selamanya. Air mata Yanto mengucur deras membasahi pipinya.
"Semoga kamu tenang di alam sana" Yanto mengelus lembut kepala Tina dan mencium keningnya. Gita menyusul ayahnya ke ruang ICU. Gita diam tak bergerak. Dia hanya terisak dan pundaknya terguncang. Seolah Gita tidak percaya ibunya meninggalkannya secepat itu. Keluarga dekatnya yang lain, memeluk Gita yang terisak sedih.
"Kamu yang tabah yah, nak, kamu harus ikhlas menerimanya" katanya sambil mendekap Gita dalam pelukannya.
Prosesi pemakaman ibunya telah selesai dilakukan. Satu persatu pengantar meninggalkan area pemakaman. Namun, Gita belum mau beranjak. Dia masih jongkok disamping makam ibunya, sambil tak hentinya menangis.
"Bu, kalau aku tahu, kalau itu terakhir kalinya aku lihat ibu, aku gak akan buat ibu kesal dan menahan amarah yang ibu pendam dalam hati, hingga sekarang bisa seperti yang aku lihat ini" Gita tampak menyesal dengan yang dia lakukan pada ibunya beberapa jam yang lalu.
Prosesi pemakaman ibunya telah selesai dilakukan. Satu persatu pengantar meninggalkan areal pemakaman. Gita belum ingin beranjak. Dia masih jongkok disamping makan ibunya, sambil tak hentinya meneteskan air matanya.
"Bu, gak ada yang bantu aku lagi kala aku ngerjain tugas sekolah, gak ada lagi teman aku curhat saat aku ada masalah, gak ada lagi yang mengajariku masak, ayah gak mungkin bisa, ayah sibuk dengan pekerjaannya" Gita mencurahkan isi hatinya.
"Nak, ayo kita pulang, bentar lagi malam loh, ayo, nak" Yanto merengkuh pundak Gita dan membimbingnya keluar dari areal pemakaman. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Gita lebih banyak diam, bahkan makan pun dia tak mau.
...*****...
Hari demi hari, secara perlahan Gita kembali seperti biasanya, yang ceria dan mulai bisa menerima kenyataan yang dia hadapi. Ayahnya pun terlihat sangat senang melihat Gita bisa tersenyum lagi, kembali ceria seperti sediakala.
"Ini baru anak ayah, yang selalu tersenyum, ceria, ayah senang lihatnya, nak" Yanto menatap Gita sambil tersenyum.
"Iya, yah, aku sadar bahwa hidup itu harus terus berjalan, memang aku sangat sedih dengan kepergian ibu, tapi, aku gak mau larut dalam kesedihan, karena aku yakin Allah punya rencana lain dibalik ini semua dan akan digantikan dengan kebahagiaan" ucap Gita.
"Apa yang kamu katakan itu benar, nak, kesedihan dan kebahagiaan itu datang silih berganti dalam kehidupan kita" Yanto membenarkan ucapan Gita.
"Nah... Itu dia, udah datang" Gita bangkit dari duduknya.
"Kamu berangkat naik ojek online? Kamu gak mau bawa mobil?" Tanya Yanto.
"Gak yah, hari ini, aku lagi kepengen naik ojek online, ya udah, yah, aku berangkat sekolah dulu yah" Gita berpamitan pada Yanto dan beranjak pergi.
"Aku senang bisa kembali masuk sekolah lagi pasca kepergian ibu. Aku harus belajar dengan sungguh-sungguh, supaya bisa lulus dengan nilai terbaik dan membuat ibu bangga melihat aku dari sana" batin Gita.
"Duh.... Senang deh, bisa lihat kamu masuk sekolah lagi" Gena menghampiri Gita, saat melihatnya berjalan di koridor. Gita menoleh dan langsung memeluknya.
"Gena! Sumpah aku kangen banget sama kamu" Gita tersenyum bahagia.
"Ada berita apa nih, selama aku gak masuk beberapa hari ini? Apa ada berita yang hot atau apa gitu?" Gita bertanya-tanya penasaran, sambil mereka berjalan beriringan menuju kelasnya.
"Yang terbaru dan bikin heboh seantero sekolah, Haikal dan Marni jadian? Kemarin Haikal nembak si Marni saat pelajaran olahraga kemarin" jawab Gena.
"Hah! Haikal dan Marni jadian? Yang benar aja kamu, Gen" Gita seolah tidak percaya dengan yang didengarnya.
"Beneran, Git, aku lihat sendiri waktu Haikal nembak si Marni itu" Gena meyakinkan Gita.
"Tapi, masa iya sih, Haikal suka sama cewek seperti Marni itu, cewek kampungan, apa coba istimewanya dia sampai Haikal bisa suka sama si Marni itu, aku tuh tahu tipe cewek yang Haikal suka itu seperti apa" Gita tampaknya kesal, saat tahu kalau Haikal dan Marni jadian.
"Yah... Minimal itu cewek gak beda jauh aku, kalau Marni sih, jauh banget, antara langit dan bumi" lanjut Gita dengan nada sinis.
"Git, itu dia tuh si Marni, dia bawa sesuatu gitu, itu pasti mau di kasi ke Haikal" Gena menerka. Tanpa banyak basa basi, Gita dan Gena berjalan kearah Marni dan mencegat langkahnya.
"Eh... Gena, Gita" Marni berhenti saat Gena dan Gita berada tepat dihadapannya.
"Aku senang deh, Git, akhirnya bisa lihat kamu masuk sekolah lagi" Marni tersenyum.
"Udah deh, gak usah basa basi gitu!" Kata Gita dengan wajah tidak senang.
"Dengar-dengar ada yang baru jadian nih sama Haikal" Gita tersenyum sambil berjalan mengitari Marni.
"Kamu mau saingan sama aku! Kamu sadar diri dong, Marni, kamu itu cuma anak penjaga kantin, gak pantas kamu pacaran sama Haikal, karena Haikal itu cocoknya cuma sama aku" Gita menatap Marni tajam. Marni hanya terdiam saat mendengar perkataan Gita.