
"Ehem..." Suara bariton terdengar dari ujung kamar Rasya membuat gadis itu menoleh dan menatap ke arah pintu kamarnya. Matanya berbinar, sorot bahagia jelas terlihat disana. Di ujung sana, lelaki yang telah lama ia tunggu akhirnya datang juga.
Dengan segera Rasya berlari menghambur ke pelukan pria dewasa yang terkekeh geli melihat tingkahnya.
"Miss you, Pa..." ucap Rasya dengan suara bergetar.
Lelaki yang tak lain adalah Alex, ayah Rasya pun langsung mempererat pelukannya berusaha memberikan kekuatan pada gadis yang ia cintai dengan sepenuh hati. Rasa rindu bercampur haru tersalurkan lewat pelukan mereka. Alex sedikit menepuk bahu Rasya beberapa kali mencoba menenangkan Sang anak yang tengah terisak.
"Anak Papa kok jadi cengeng gini sih, padahal kan Papa perginya ngga lama." Goda Alex diiringi kekehan kecil.
Rasya mengerucutkan bibirnya di dalam rengkuhan Sang Ayah lalu menarik-narik ujung jas lelaki itu. "Ih... Papa apaan sih, Rasya tuh ngga cengeng. Ini cuma air mata bahagia karena bisa ketemu lagi sama, Papa." Ujar Rasya membela diri.
Tawa Alex pecah mendengar ucapan putri satu-satunya itu. Ia lalu melepas pelukan mereka dan menatap wajah Sang anak yang terlihat berantakan. Tangannya terulur mengusap pipi Sang anak yang basah karena air mata.
"Iya-iya, princess nya Papa ngga cengeng iya." Ujarnya terdengar seperti mengejek membuat Rasya memberengut sebal.
"Tau ah, Papa nyebelin." Rajuknya menyilangkan tangan di depan dada.
Tawa Alex sudah sedikit mereda tak seperti tadi, ia tatap lagi wajah Sang anak yang tengah merajuk dengan muka yang sangat imut dan lucu. Kemudian ia mengusap pucuk kepala Rasya lembut setelah itu Alex langsung meraih tangan kanan Rasya, menuntunnya ke ruang tengah dimana sudah ada Gerald dan keluarganya disana.
"Wah... kau apakan anakmu itu, Lex. Wajahnya kasihan sekali..." goda Miko saat melihat mata Rasya yang sembab serta hidungnya yang terlihat sedikit memerah.
Alex mendudukkan tubuhnya diikuti Rasya sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya.
"Biasa dia minta dibelikan boneka baru jadi ya seperti ini." Canda Alex yang membuat Rasya langsung memanyunkan bibirnya tak terima.
"Papa ihhh..." ucapnya tak terima.
Semua orang yang ada disana tertawa karena melihat wajah merajuk Rasya yang terlihat seperti balita.
"Sudah Om, kasihan dia. Lihatlah bibirnya bahkan sudah seperti tokoh kartun kesukaannya." Sela Gerald di tengah tawanya.
Sontak Rasya menoleh ke arahnya dengan tatapan menusuk. "Tak usah membelaku, kau sama saja dengan mereka." Ucapnya datar yang lagi-lagi membuat penghuni rumah tertawa melihatnya.
"Kenapa kalian memajukan kepulangan kalian? Apakah masalah disana sudah selesai?" Tanya Gerald mengalihkan pembicaraan.
Ia tatap satu persatu wajah ketiga orang dewasa di hadapannya.
"A-ah itu... semua sudah selesai dengan tuntas." Jawab Miko gugup.
Gerald mengangkat sebelah alisnya melihat gelagat aneh Sang ayah.
"Apa kalian benar-benar pergi karena bisnis atau hanya untuk berlibur saja?" Selidik Gerald dengan tatapan intens nya.
"Tentu, Rald. Mana mungkin kita pergi berlibur meninggalkan kalian berdua disini sendirian." Sambar Alex dengan suara tenang.
Gerald menatap Alex menyelidik. Tak ada gelagat aneh, sikapnya juga biasa saja. Batinnya bersuara.
Ia pun mengangguk dan melanjutkan obrolan mereka.
☘☘☘
Kringgg...
Seorang lelaki paruh baya keluar menatapnya dengan alis yang saling bertautan.
"Bukankah kau..." ucapnya terhenti ketika pemuda di luar pagar mengangguk diiringi senyuman di bibirnya seolah mengerti apa yang hendak keluar dari mulut orang di balik pagar besi itu.
"Astaga... ayo masuk, kenapa tak memberi tahu dulu jika akan kemari. Bagaimana kabar orang tuamu? Sejak kapan kau pulang? Apa kamu sudah bosan tinggal di negeri orang?" Pria dewasa itu langsung memberondong remaja di hadapannya dengan begitu banyak pertanyaan. Dengan semangat ia membuka gembok dan langsung menarik remaja itu dengan antusias.
"Hahaha, Paman jangan berlebihan. Aku jadi bingung harus menjawab pertanyaan Paman yang mana dulu," gurau si anak lelaki diiringi tawa kecilnya. Ia lalu melangkah masuk ke halaman rumah yang terlihat cukup megah seraya membawa sepedanya masuk.
"Harusnya kau kabari Paman jika kau sudah tiba di kota ini. Apa kau sudah melupakan Paman mu ini, huh?" Protes lelaki paruh baya itu dengan nada kesal yang dibuat-buat.
Si remaja terkekeh menanggapi obrolan pria yang lebih tua darinya. Mereka berjalan memasuki halaman rumah itu, sampai di depan rumah yang begitu mewah Si remaja lelaki menginjak penopang sepedanya.
"Kenapa Paman membuka pintu rumahnya sendiri? Memangnya dimana satpam dan asisten rumah tangga disini?" Tanya anak remaja.
Mereka kini berjalan memasuki rumah si pria dewasa.
"Tunggu dulu... dari mana kau tahu rumah Paman yang ini?" Langkah mereka terhenti sesaat, Si lelaki di samping remaja itu menatap penuh tanya pada remaja di hadapannya.
"Rahasia itu, Paman." Jawab remaja itu santaisantai seraya melangkah maju memasuki rumah orang di belakangnya yang masih tak percaya dengan jawabannya.
"Hei... kau tak sopan sekali, ini kan rumahku kenapa kau masuk sebelum aku mendapat ijin dariku?" Ucap lelaki itu seraya mempercepat langkahnya.
Di dalam rumah, seorang gadis tengah menonton acara kartun favoritnya seraya memakan buah anggur yang ada di mangkuk putih tepat di atas tangannya.
Ia tak memperdulikan dua orang yang tengah berdebat saat memasuki rumah megah itu.
Hingga salah satu dari mereka duduk di samping kirinya dan langsung memeluknya dari samping membuat gadis itu mau tak mau menoleh karena merasa terusik.
"Ih... Papa kenapa sih, ganggu Pa." Protes gadis yang tak lain adalah Rasya.
"Itu tuh liat siapa yang datang tanpa permisi," adu Alex dengan wajah memelas. Ia menunjuk ke arah remaja laki-laki yang sedang menampilkan deretan giginya seolah tak terjadi apa-apa.
"Hyakk... kok kamu disini?" Teriak Rasya terkejut melihat orang yang berdiri dengan tampang bodohnya.
Belum sempat lelaki itu menjawab, tiba-tiba Gerald muncul dan langsung duduk di samping Rasya.
Tanpa permisi ia langsung mencium pipi kanan Rasya sedikit lama. Alex yang melihat adegan itu menutup mulutnya pura-pura kaget dengan seringai yang menghiasi wajahnya. "Sepertinya atmosfer disini sudah mulai panas, Papa pergi dulu ya sayang. Gerah banget disini," Alex berucap seraya mengipas-ngipas tubuhnya menggunakan ujung baju bagian atas.
Rasya memutar mata malas, "disini ada AC kalau Papa lupa." Ujarnya mengingatkan.
Alex tersenyum malu sambil menggaruk rambut bagian belakangnya yang tak gatal. Ia salah tingkah karena aktingnya disadari oleh Rasya.
Ia langsung mengacak rambut Rasya gemas, "yaudah Papa ke dalam dulu ya nyamperin dua orang yang lagi sibuk disana." Tunjuk Alex ke arah Nadia dan Miko yang tengah berada di kursi goyang.
Anaknya hanya berdehem menanggapi ucapan Sang ayah.
Sebelum pergi, Alex mendekat ke telinga Rasya dan berbisik, "sepertinya perang dunia akan dimulai, Sayang." Goda Alex lalu segera pergi sebelum anaknya itu meneriaki nya.
"Kau tak ingin duduk?"