Trouble Maker

Trouble Maker
Eps. 21 Pergi



"Kamu yakin mau pergi, Rald?" Tanya Miko memastikan keputusan anaknya sekali lagi. Gerald mengangguk lemah dengan wajah tanpa ekspresi.


"Berikan Daddy satu alasan kenapa kamu ingin sekali pergi." Tanya Miko lagi.


"Tak ada alasan, Gerald hanya ingin mencari suasana baru." Jawab pemuda itu dengan nada tenang.


Miko nampak menghela napas berat, "lalu bagaimana dengan perjodohan kalian?"


Gerald menatap Sang ayah tepat di manik matanya. "Bukankah masih ada waktu satu tahun lagi? Jadi biarkan aku pergi hanya untuk satu tahun saja." Pinta Gerald.


Ayahnya mengangguk, "lalu sekolahmu?"


"Biar aku yang urus, aku janji akan kembali dengan nilai yang membuat kalian bangga." Ucap Gerald mantap.


Miko tak dapat lagi melarang keinginan putranya itu, ia hanya bisa mengangguk mengiyakan keinginan Sang anak.


Setelah kejadian Gerald memukuli Jeffrey, dia mendapat diskors selama satu minggu karena ulah yang ia perbuat. Rasya saat itu sangat marah padanya karena memukuli Jeffrey tanpa sebab yang membuat Jeffrey masuk rumah sakit karena tubuhnya yang lemah.


Flashback


Dengan langkah lebar Rasya berjalan mencari keberadaan Gerald dan teman-temannya. Ia berjalan menyusuri sudut demi sudut yang ada di sekolahnya hingga langkahnya membawa Rasya berada di pintu rooftop. Disana, ketiga sahabat Gerald tengah berdiri dengan wajah yang sangat kacau. Segera Gerald berjalan menghampiri mereka dengan emosi yang telah meluap-luap.


"Dimana dia?" Tanya Rasya datar.


Revan yang tadinya tertunduk mengangkat kepalanya menatap sosok yang tengah berdiri dengan wajah yang sangat mengerikan. Ia hanya menggerakan dagunya memberi tahu Rasya keberadaan Gerald saat ini. Tanpa membuang waktu lagi, Rasya membuka pintu rooftop dengan sedikit kasar. Di ujung rooftop terlihatlah sosok Gerald yang sedang berdiri memunggungi nya.


Setelah ia berdiri di belakang Gerald, Rasya langsung menarik bahu itu menghadap ke arahnya.


"Brengsek!" Teriak Rasya diiringi tamparan yang mendarat di pipi kiri Gerald.


"Dasar sialan!" Kali ini tamparan itu mendarat di pipi kanan Gerald.


Perih...


Itulah yang saat ini Gerald rasakan, bukan di pipi yang telah ditampar Rasya, tapi hatinya. Gerald merasakan hatinya sangat perih melihat gadis di hadapannya menangis dengan tatapan kebencian yang diarahkan padanya. Bahkan panas di pipinya pun tak Gerald hiraukan. Ia hanya menatap diam sosok di depannya yang tengah menangis sesenggukan.


"Kenapa kau selalu kejam padaku, Rald? Apa salahku?" omel Rasya sembari memukul dada bidang Gerald.


"Jika kau kesal padaku, luapkan saja padaku. Jangan dia, Rald... dia tak tahu apapun." Lagi hanya pukulan-pukulan yang diterima Gerald. Dia tak berniat menghentikan  aksi Rasya. Ia tetap membiarkan gadis itu meluapkan kekesalannya.


"Sudah?" Tanya Gerald datar saat Rasya telah menghentikan aksi memukulnya.


"Pergilah," usir Gerald yang kini kembali menatap jalanan di depan sana.


Rasya yang masih terengah diam belum memberikan respon apapun.


"Harusnya kau menghilang dari hidupku," ucap Rasya dengan nada dingin.


"Kau tahu? Semenjak kau hadir dihidupku, hanya kekacauan yang hadir menghampiriku. Jika saja kau tak ada, pasti hidupku akan sangat bahagia. Harusnya kau pergi jauh... sejauh yang tak bisa terjangkau oleh pandanganku bahkan oleh diriku sendiri." Rasya nampak mengatur napasnya sebelum ia melanjutkan kalimatnya lagi.


"Aku membencimu, amat sangat membencimu." Sarkas Rasya sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Gerald yang masih tak memberikan reaksi apa-apa.


☘☘☘


Gerald lebih memilih tinggal di apartemen yang keberadaannya tak di ketahui oleh siapapun. Bahkan sahabatnya pun tak mengetahui alamat apartemen yang saat ini ia tempati.


Usai membereskan barang-barang bawaannya, Gerald lebih memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia istirahat.


Kepergiannya ke Jepang hanya di ketahui oleh kedua orang tuanya. Teman-temannya yang lain pun tak ada yang ia beritahu.


Setelah 5 menit berkutat di kamar mandi, akhirnya Gerald telah kembali ke kamarnya dengan wajah yang fresh. Ia lalu meraih ponselnya, mengabari kedua orang tuanya. Setelah itu Gerald membuka akun sosial medianya dan menutup semua akun-akun nya. Tak hanya itu, saat ini Gerald bahkan memutuskan untuk mengganti nomor teleponnya.


"Maafkan aku, bukannya aku tak ingin kalian menghubungiku. Aku hanya akan membuktikan kepada kalian siapa Gerald sebenarnya." Ucapnya seraya mengaktifkan ponselnya kembali.


Malam hari di Osaka


Tak ada yang berarti di hari pertama Gerald di negeri ini. Hanya kesunyian yang setia menemaninya melewati malam yang cukup dingin ini.


Ia saat ini sedang berdiri di balkon sembari melihat pemandangan malam di Osaka.


"Apa kabarmu? Apa kamu mencariku?" Monolognya saat menatap jalanan Osaka.


Rasya Pov


Hari ini tak seperti biasanya, Papa terlihat banyak diam tidak banyak berbicara. Setiap kutanya, jawabannya pun selalu sama. Hanya masalah pekerjaan...


Entahlah, aku pun tak mengerti. Sikap Papa berubah semenjak menerima telepon dari Om Miko, apa ada sesuatu yang terjadi?


Aku yang baru pulang menjenguk Jeffrey pun tak mengerti keadaan yang terjadi. Tak ambil pusing aku hanya lebih memilih masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselku yang sedari tadi berbunyi karena ada pesan masuk.


Setelah merebahkan tubuhku di atas ranjang, aku membuka aplikasi chatting dan membuka pesan yang ternyata dari grup kelas.


Apa ini? Gerald... Gerald... dan Gerald... bukankah dia tengah diskors? Kenapa mereka bilang dia menghilang? hhh... dasar, ada-ada saja mereka.


Aku pun menggulir pesan ke bawah dan terdapat pesan dari Tante Nadia.


Segera aku buka pesan darinya. Aku langsung menutup mulutku setelah membaca isi pesan dari Tante Nadia.


Gerald pergi... dan tak tahu kapan akan kembali? Astaga... apa benar ini? Dengan spontan aku menggelengkan kepalaku mengusir pikiran-pikiran negatif yang merasuk ke dalam otak.


Tanpa kusadari, air mataku tiba-tiba jatuh membasahi pipiku.


"Astaga... kenapa aku menangis? Bukankah ini yang aku inginkan? Kenapa dadaku terasa sesak?" Gumamku memukuli dadaku yang terasa seperti dicubit dengan keras.


Tanpa membalas pesan Tante Nadia, aku langsung menutup aplikasi pesan dan melemparkan ponsel milikku ke sembarang tempat. Tanpa seijin ku, air mataku justru turun semakin deras dan kali ini bahkan menimbulkan isakan-isakan.


"Pasti ini air mata bahagia," ucapku dalam hati.


Aku pun akhirnya bangkit berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Menyalakan shower dan mengguyur sekujur tubuhku dengan air dingin berusaha mengusir air mataku yang masih saja turun deras tak mau berhenti.


Setelah mandi, aku berjalan menuju meja rias melihat penampilan diriku yang terlihat mengerikan dengan mata sembab seperti habis dipukuli.


"Ish... ini bencana. Kalau nanti Papa bertanya macam-macam gara-gara ini bagaimana? Nanti dikira aku menangisi kepergian Gerald lagi. Oh no... jangan sampai..." gerutuku seraya mengoleskan make up agar menutupi mata sembab ku.