Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 40



Sejak kejadian yang dialaminya saat jamuan makan malam dirumahnya, Gita bertekad bahwa orang lain tidak boleh lebih bahagia darinya, bahkan harus merasakan apa yang dirasakannya. Hari itu adalah hari pertama ujian nasional. Gita sedang merencanakan sesuatu. Gita sengaja datang lebih awal untuk menjalankan misinya tersebut. Gita menyelipkan selembar kertas contekan di dalam laci meja beberapa siswa.


"Rasain kalian, lihat aja nanti, kalian akan dikeluarkan dari ruangan dan dianggap gagal dalam ujian" Gita tersenyum. Selang dua puluh menit kemudian, satu persatu siswa dan siswi pun datang dan masuk ke ruangan masing-masing sesuai dengan nomor ujiannya.


Pukul 7.30 ujian dimulai. Pengawas ruangan membagikan soal pada semua peserta ujian di ruangan itu.


"Baik, anak-anak, ujian kita mulai sekarang, harap kerjakan soal dengan tenang. Jangan tergesa-gesa. Waktu ujian sembilan puluh menit" pengawas memberikan instruksi pada semua peserta ujian.


"Satu hal lagi, jika ada yang menyontek atau ada yang kedapatan membawa contekan, akan saya keluarkan dari ruangan dan dianggap gagal pada ujian hari ini" lanjutnya dengan tegas.


"Oke, sebentar lagi permainan dimulai, aku udah menyelipkan contekan pada beberapa meja" batin Gita.


Empat puluh menit telah berlalu. Gita berpikir sudah saatnya untuk memulai rencananya itu.


"Pak, aku izin ke toilet, udah kebelet" Gita mengacungkan tangannya.


"Ya sudah sana, tapi, jangan lama-lama" katanya. Gita keluar dari ruangan dan segera mencari salah satu guru. Baru saja Gita mau mencari, dia malah berpapasan dengan kepala sekolah.


"Nah... Jackpot! Ada kepala sekolah tuh, aku laporkan ke beliau aja deh" pikir Gita.


"Loh... Gita, kamu ngapain disini? Kamu gak ikut ujian?" Tanya kepala sekolah.


"Ikut kok, Bu, cuma tadi aku abis dari toilet" Gita beralasan.


"Oh iya, Bu, kebetulan ketemu ibu, aku mau laporin, kalau di ruangan aku ada yang bawa contekan dan dia simpan di laci mejanya, tadinya mau laporin ke pengawas, tapi, takut dibilang tukang ngadu" terang Gita.


"Tapi, jangan bilang kalau aku yang adukan ini ke ibu" pinta Gita.


"Iya, kamu tenang saja, sekarang juga ibu ke ruangan kamu, kamu ke ruanganmu duluan, biar tidak ketahuan kalau kamu yang adukan" katanya. Gita segera bergegas kembali ke ruangannya.


"Okey, it's a show time!" Dalam hatinya, Gita bahagia.


"Kita lihat siapa yang kena jebakanku itu" batin Gita.


Tak berapa lama berselang, kepala sekolah masuk ke ruangan.


"Anak-anak, maaf ibu menganggu kalian, tapi, ada yang memberikan laporan pada ibu, bahwa di ruangan ini, ada yang membawa contekan dan menyembunyikannya di laci meja. Ibu minta sekarang juga kalian semua rogoh laci meja masing-masing dan tunjukkan pada ibu" kepala sekolah memberikan instruksi pada semua peserta ujian. Mereka pun merogoh laci meja masing-masing. Alhasil, ada tiga orang murid yang mendapatkan kertas contekan. Kepala sekolah mengambil dari tangan ketiga siswa itu.


"Ibu tidak menyangka, kalian bertiga pelakunya, kalian bertiga bukan hanya jagoan tawuran, tapi, juga jago nyontek, untung saja ada yang melihat kalian" wajah kepala sekolah terlihat sangat marah.


"Tapi, Bu, kita gak lakuin itu, kita juga gak tabu, kalau kertas contekan itu ada di laci meja kita" bela salah satu diantara ketiga siswa tersebut.


"Sudah! Kalian bertiga sekarang keluar dari ruangan ini dan kalian dianggap gagal pada ujian hari ini, untuk yang lain lanjutkan ujian kalian" kepala sekolah beranjak keluar dari ruangan dan menggiring ketiga siswa tadi keluar bersamanya.


Tepat jam sembilan pagi, ujian pun selesai dan satu persatu siswa dan siswi meninggalkan ruangan ujian.


"Akhirnya kelar juga yah ujian hari ini" ucap Gita.


"Iya nih, Git, aku tegang banget tadi, tapi, syukurlah aku bisa jawab soalnya dengan baik" Gena merasa lega.


"Git, kok kamu biasa aja sih lihat mereka, biasanya kamu kesal gitu, apa jangan-jangan kamu udah rela Haikal sama Marni" Gena terheran-heran melihatnya.


"Udahlah, biarin aja" kata Gita tanpa ekspresi.


"Tenang aja, aku udah nyiapin rencana jitu untuk bikin mereka malu" batin Gita.


Gita menulis sebuah surat dan mengirimnya pada Haikal dan Marni, seolah-olah mereka saling mengirimi satu sama lain. Disitu tertera ajakan ketemuan di sebuah cafe jam tujuh malam. Haikal maupun Marni tadinya tidak ingin memenuhi ajakan itu karena fokus belajar untuk ujian esok harinya. Namun, tidak ada salahnya untuk keluar sebentar, merilekskan pikiran sejenak.


Tepat jam tujuh malam, Haikal sudah sampai di tempat tersebut. Baru saja dia ingin melangkah masuk ke dalam, seseorang mencegatnya.


"Kamu Haikal kan?" Tanya seseorang tersebut.


"Kamu siapa? Darimana kamu tahu namaku?" Haikal berbalik bertanya.


"Kamu tenang aja, aku disuruh sama Marni nungguin kamu disini, kalian berdua janjian ketemuan malam ini, bukan? Makanya aku disini" jelasnya.


"Tapi, tempatnya sebenarnya bukan disini, cuma Marni ambil patokan cafe ini, biar kamu gak susah nyarinya, tapi, matamu ditutup dulu yah, soalnya Marni mau ngasi kejutan buat kamu" lanjutnya sambil memegang sehelai kain berwarna hitam. Haikal menurut saja dan membiarkan matanya ditutup. Haikal digiring oleh orang tersebut di suatu tempat dan matanya ditutup sehelai kain hitam. Haikal maupun Marni tidak tahu kalau sebenarnya mereka dibawa ke sebuah kost-an yang sudah dipersiapkan oleh Gita. Setelah itu, Gita memberi instruksi pada kedua orang yang membawa Marni dan Haikal untuk membius mereka dengan obat bius yang dibawa oleh Gita.


"Kalian bisa mereka berdua dan pastikan mereka pingsan, selwbihnya biar itu jadi urusanku" kata Gita. Kedua orang tersebut mengangguk. Kedua orang tersebut melakukan apa yang dikatakan oleh Gita tadi. Meskipun Haikal dan Marni mencoba berontak, namun, pada akhirnya mereka berdua pingsan dan kedua orang tadi langsung menggotong mereka ke kamar kost yang sudah tersedia. Setelah menyelesaikan tugasnya, kedua orang tersebut langsung beranjak pergi. Kini, tinggal Gita yang melanjutkannya seorang diri.


"Aku yakin banget, kali ini kalian berdua akan dikeluarkan dari sekolah" Gita tersenyum picik. Gita menanggalkan baju Haikal dan juga Marni, serta menyingkap rok Marni, seolah-olah mereka berhubungan badan. Gita memposisikan tubuh Marni menyamping dan wajahnya mengarah ke wajah Haikal. Tangan kiri Haikal dibawah kepala Marni sedangkan tangan kanannya diletakkan di dada Marni. Setelah semuanya siap, Gita mengambil beberapa pose, sambil sesekali merubah posisi Marni, supaya terlihat meyakinkan.


"Foto ini tampaknya sudah cukup untuk bikin mereka malu satu sekolah, aku gak sabar lihat wajahnya kepala sekolah saat melihat foto ini" Gita benar-benar merasa puas.


"Aku cetak foto ini, lalu aku tempel di mading sekolah, beres deh" pikir Gita. Setelah merasa cukup puas dengan yang dilakukannya, Gita pun segera pergi dari tempat itu sebelum ada yang melihatnya.


Keesokan paginya, Haikal dan Marni pun terbangun. Saat membuka mata perlahan, seketika mereka terkejut. Marni yang tersadar sepenuhnya secara refleks langsung bangun dan menarik baju yang tergeletak untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang tidak mengenakan apa-apa lagi.


"Haikal, kenapa kamu tidur disamping aku dan hanya pake celana pendek aja" Marni kebingungan.


"Kamu apain aku semalam? Jangan-jangan kamu udah.....!" Marni tidak sanggup meneruskan kata-katanya dan matanya berkaca-kaca.


"Jahat kamu, Haikal!" Tangsi Marni pecah seketika.


"Marni, kamu tenang dulu, jangan nangis dong, aku benar-benar gak ingat apa-apa dan aku juga gak tahu kalau aku ada disini sama kamu" terbagi Haikal, yang tampaknya bingung dengan apa yang terjadi.


"Bohong! Aku tahu kalau kamu bohong untuk menutupi kesalahan kamu, kamu nyuruh orang buat bawa aku kesini dengan mata tertutup, abis itu kamu bisa aku pake obat bius, aku gak nyangka kamu sanggup lakukan ini" Marni menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.


"Justru kamu yang nyuruh orang buat bawa aku dengan mata tertutup, abis itu aku pingsan dan gak ingat apa-apa, tahu-tahu bangun dengan keadaan seperti ini" kata Haikal.


"Ini jangan-jangan ada yang sengaja ngerjain kita, supaua kita tekat ke sekolah dan terlambat ikuti ujian" Haikal menerka.


"Udah, sekarang kamu buruan mandi deh, masih ada waktu sejam lebih, abis itu kita ke sekolah" Haikal meminta Marni untuk segera bergegas.


"Masalah seragam, gampang, nanti kita tinggal beli aja di jalan, aku yang beliin" lanjut Haikal. Marni menurut dan langsung bergegas.