Trouble Maker

Trouble Maker
Bab 29



Dalam perjalanannya menuju pulang kerumahnya, Gita sedang memutar otak, memikirkan cara untuk mempermalukan Marni di hadapan teman-temannya. Sementara, Gena masih berpikir dan sepertinya dia masih bingung dengan perubahan sikap Gita yang mendadak belakangan ini.


"Git, kamu kok bisa berubah jadi baik, jadi anak yang ramah gitu, gak seperti yang aku kenal, kamu itu terkesan kalem kayak si Marni itu" Gena seolah bingung dengan perubahan dari sahabatnya itu.


"Gen, aku juga sebenarnya cuma pura-pura baik aja kali, gak beneran, gak mungkinlah aku kayak gitu, itu bukan diri aku banget" Gita mengutarakan alasan kenapa dia tiba-tiba jadi baik seperti itu.


"Hah! Beneran, Git!" Gena terkejut.


"Iya, Gena Callista, beneran, ini semua aku lakukan demi untuk menjalankan rencana yang akan membuat si Marni itu malu" terang Gita.


"Aku sengaja bikin acara dirumahku itu, mengundang semua anak-anak, termasuk Haikal, hanya untuk itu dan aku yakin, Haikal bakal jauhi Marni setelah ini" lanjut Gita dengan cukup yakin.


"Apa tuh rencana kamu, Git?" Tanya Gena yang terlihat penasaran dengan rencana tersebut.


"Udah, kamu lihat aja nanti, aku jamin pasti akan seru, kamu tinggal tunggu instruksi dari aku aja, kalau aku kasi kode untuk lakukan, langsung kamu jalankan rencana itu, oke" Gita mengerling.


"Oke, Git, aku siap lakukan" Gena mengacungkan jempol.


Sejak sore, satu persatu teman sekolah Gita berdatangan. Gita menyambut mereka dengan senang hati.


"Guys, kalian kalau mau makan atau apa , langsung aja yah, semuanya sudah disiapkan kok, kalian bebas pokoknya" kata Gita pada semua teman-temannya. Mereka semua hanya mengangguk. Gita memperhatikan temannya satu persatu. Diantara mereka, Gita belum melihat ada Marni disitu.


"Marni mana sih, bisa gagal rencana aku kalau dia tidak datang, karena kan tujuan aku bikin acara ini hanya untuk itu aja" gerutu Gita dalam hati.


"Git, kamu kok disini, kenapa gak gabung sama teman-teman kamu, sayang, masa mereka udah datang kesini malah kamu cuekin, apa kata mereka nanti, sama gabung sama mereka" kata Tina saat menghampiri Gita.


"Gak enak loh, nanti kamu dikira sombong lagi sama teman-teman kamu" lanjut Tina.


"Bukannya begitu, Bu, aku cuma lagi nungguin seseorang aja" kata Gita.


"Oh... Ya udah kalau gitu, ibu kedalam dulu yah" Tina beranjak pergi. Selang beberapa menit kemudian, seseorang yang ditunggu oleh Gita itupun datang juga.


"Datang juga dia, bagus, berarti sesuai dengan rencana aku" batin Gita.


"Hei, Mar, aku kirain kamu gak datang, hampir aja aku ngambek sama kamu" kata Gita, saat menyambut kedatangan Marni.


"Maaf yah, Git, tadi sebelum kesini aku bantuin ibu aku dulu, aku anterin dia ke pasar untuk belanja keperluan untuk jualannya di kantin, makanya aku lama kesininya" terang Marni.


"Iya, gak apa-apa, yang penting kamu sekarang udah nyampe sini" kata Gita sambil tersenyum. Dalam hatinya, Gita senang dengan kedatangan Marni, yang artinya rencananya akan berjalan lancar, karena Marni adalah target utama Gita.


"Kamu lihat aja, Marni, hanya dalam hitungan jam saja, kamu akan dimusuhi sama anak-anak dan mungkin akan jauhi kamu, hahaha...!" Gita tertawa dalam hati. Gita tinggal menunggu Gena, yang masih dalam perjalanan, yang dia tugaskan untuk mengalihkan perhatian Marni, sementara Gita mengambil sesuatu di kamar ayah dan ibunya, yang nanti akan dimasukkan kedalam tas Marni dan seolah-olah Marni yang melakukannya.


Selang setengah jam kemudian, Gita melancarkan aksinya itu. Gita membawa segelas minuman dan pura-pura menabrak Marni, hingga minuman tersebut tumpah di baju Marni.


"Iya, gak apa-apa, Git, ini juga kalau dibersihkan pakai air, udah hilang kok" jawab Marni santai.


"Atau gimana, kalau aku pinjamkan baju aku, kamu mau gak, daripada kamu pake baju yang basah gini, nanti masuk angin lagi" Gita menawarkan.


"Udah, gak usah, Git, makasih, tapi, aku gak mau ngerepotin" Marni menolak dengan halus tawaran Gita tersebut.


"Udah, gak usah sungkan, aku ambilkan yah, tunggu bentar" Gita sedikit memaksa, lalu beranjak menuju kamarnya dan mengambilkan baju ganti untuk Marni.


Selang beberapa saat, Gita kembali dengan membawa baju ganti.


"Nih... Mar, kamu pake baju ini yah, kayaknya sih kamu cocok sama baju ini" kata Gita, memberikan bajunya tersebut pada Marni.


"Kamu ganti baju di kamar ibu aku aja, lagian ayahku juga belum pulang, masuk aja kedalam" kata Gita. Marni mengangguk dan masuk ke kamar ibunya Gita. Saat Marni ganti baju, Gita pun beraksi, memberi kode pada Gena untuk memasukkan barang yang dipegang Gita, yaitu, jam tangan milik ayahnya dan memasukkannya ke dalam tas Marni. Gena lalu memberi kode pada Gita, bahwa tugas yang diberikan sudah dijalankan dengan baik, lalu Gita membalas dengan mengacungkan jempolnya.


"Good job, Gen, kita tinggal tunggu, saat ayah aku datang dan mencari-cari jam tangannya" bisik Gita. Gena hanya tersenyum.


"Wihh... Mar, kamu cantik loh pake baju itu" puji Gena, saat keluar dari kamar ibunya Gita.


"Iya, Mar, benar kata Gena, kamu cantik pake baju itu, cocok banget sama kamu" Gita menimpali.


Jam menunjukkan pukul delapan malam. Satu persatu teman Gita hendak pulang. Namun, dicegah oleh Yanto, ayahnya Gita.


"Anak-anak semua, aku minta kalian jangan ada yang pulang dulu, ada hal yang ingin aku tanyakan sama kalian semua" kata Yanto pada semua teman-teman Gita.


"Ada apa yah?" Tanya Gita.


"Jadi, gini, diantara kalian, ada gak yang tadi masuk ke kamarku, entah itu numpang istirahat atau ganti baju atau apa gitu" kata Yanto. Semua teman-teman Gita menggelengkan kepala.


"Tadi sih, cuma Marni aja yang masuk ke kamar ayah dan ibu, itupun cuma ganti baju aja kok, soalnya tadi bajunya Marni ketumpah minuman yang aku bawa, gak sengaja tertumpah ke bajunya Marni, jadi, aku kasi dia baju ganti" jelas Gita. Marni mengangguk untuk menegaskan pernyataan Marni.


"Emang ada apa sih, yah?" Gita terlihat penasaran


"Jadi, gini, jam tangan ayah dikamar, yang ayah taruh diatas meja rias itu hilang, jam itu maksudnya mau ayah kasi ke anak teman ayah, tapi, sekarang gak ada" jelas Yanto. Teman-teman Gita yang lain kaget mendengar perkataan ayahnya bahwa jam tangan miliknya hilang.


"Nak Marni, boleh om periksa tas kamu, bukannya bermaksud menuduh, cuma mau pastikan aja, kalau jam tangan milik om itu ada di tas kamu atau tidak" kata Yanto, yang sedikit merasa tidak enak hati pada Marni.


"Karena kata Gita, cuma kamu yang tadi masuk ke kamar om" lanjut Yanto.


"Oh... Gak apa-apa kok, om, aku gak keberatan sama sekali" jawab Marni dan menyodorkan tasnya itu pada Yanto. Yanto menggeledah tas milik Marni tersebut. Betapa terkejutnya Marni, saat melihat jam tangan itu ada didalam tasnya. Yanto pun kaget, menemukan jam tangan miliknya dalam tas Marni. Teman-temannya yang menyaksikan benar-benar tidak menyangka kalau Marni akan berbuat seperti itu.


"Kamu ternyata yang ambil jam tangan ayah aku! Dasar maling!" Gita menuding Marni. Marni menggeleng dan tidak tahu kalau jam tangan itu ada dalam tas miliknya.