
Gita memikirkan tentang pernyataan perasaan Novri padanya. Sejujurnya Gita juga menyimpan perasaan yang sama. Namun, Gita masih bimbang dan tidak ingin cepat-cepat mengambil keputusan.
"Ciee.... Yang abis ketemu secret admirer, senang banget nih kelihatannya" Goda Gena.
"Jadi, siapa nih secret admirer itu, yang ngirim paket ke kamu?" Tanya Gena penasaran.
"Kamu ingat gak, aku pernah cerita soal cowok yang aku temui di acara pameran lukisan tiga tahun yang lalu?" Gita berbalik bertanya. Gena mengangguk.
"Dialah sang secret admirer itu" kata Gita.
"Haah! Serius kamu, Git! Tapi, darimana dia tahu alamat rumah kamu, padahal kamu dan cowok itu baru ketemu di pameran itu dan katamu, kalian belum saling tahu nama masing-masing" Gena keheranan.
"Katanya dia lihat alamat rumahku dari dompet aku yang tidak sengaja dia temukan di jalan, nih dia dompetku" kata Gita sambil menunjukkan dompet miliknya.
"Dompet kamu udah kembali? Terus dompet aku gak ditemuin cowok itu juga?" Tanya Gena dengan wajah merengut.
"Aku juga tadinya gak berharap dompet aku ini kembali, cuma secara gak sengaja dompet itu jatuh dari tangan orang yang ambil dompet kita berdua dan cowok itu kebetulan temukan dompet aku ini" Gita terlihat senang.
"Git, tadi ngobrol apa aja dengan cowok itu, terus nama cowok itu siapa?" Tanya Gena.
"Namanya Novri! Yah.... Kita ngobrol macam-macam, tentang lukisan dan sebagainya dan dia juga tadi ungkapkan perasaannya sama aku, dia bilang dia suka sama aku dan jujur aja, Gen, aku deg-degan waktu dia tatap mataku" Gita tersenyum semringah.
"Yang benar, Git? Terus, kamu jawab apa?" Gena terlihat makin penasaran.
"Aku belum kasi dia jawaban, aku masih butuh waktu untuk berpikir, aku gak mau buru-buru ambil keputusan dan aku ingin meyakinkan hatiku, bahwa Novri cowok yang tepat untukku" kata Gita.
...*****...
Dua Minggu berselang, Gita akhirnya memberikan jawaban atas ungkapan cinta Novri padanya. Gita mengajak Novri ketemuan di sebuah cafe.
"Ada apa kamu ngajak ketemuan disini?" Tanya Novri.
"Aku mau memberikan jawaban atas ungkapan cinta kamu ke aku dan aku mau jadi pacar kamu" kata Gita sambil tersenyum.
"Makasih yah, Git, kamu udah mau terima aku" Novri memegang kedua tangan Gita.
"Sekarang karena kita udah jadian, kamu ikut ke rumah aku" kata Novri.
"Ke rumah kamu? Untuk apa? Nov, kamu gak merencanakan sesuatu yang aneh-aneh kan?" Gita bertanya-tanya dan terlihat sedikit khawatir dalam hatinya.
"Kamu tenang aja, Git, aku gak bakal macam-macam kok, aku cuma mau kenalin kamu sama ayah dan ibu aku, itu aja kok maksud aku" jawab Novri.
"Ya udah kalau emang seperti itu, aku mau ikut" Gita pun bersedia mengikuti permintaan Novri.
Mereka berdua pun berangkat menuju rumah Novri dengan menggunakan motor.
"Aku jadi deg-degan gini, mau ketemu sama orang tuanya Novri, apa Novri punya rencana untuk cepat-cepat nikah yah, masa iya sih secepat ini, kayaknya gak mungkin deh, ya udahlah, nanti juga tahu dengan sendirinya" batin Gita. Selang empat puluh lima menit kemudian, mereka sampai di rumah Novri. Memang rumah Novri tidak sebesar rumah Gita, tapi, Gita sepertinya tidak mempermasalahkan hal itu.
"Tunggu bentar yah, Git, aku panggil ayah dan ibu aku dulu" Novri beranjak masuk ke dalam dan meninggalkan Gita di ruang tamu. Gita memandang berkeliling, melihat foto-foto yang terpajang di dinding ruang tamu. Tanpa sepengetahuan Gita, ada seseorang yang masuk.
"Marni!"
"Gita! Kamu kok bisa disini sih, di rumahnya mas Novri?" Tanya Marni dengan raut wajah terkejut.
"Kamu sendiri ngapain disini?" Gita berbalik bertanya.
"Ini rumah tante aku! Mas Novri itu sepupu aku!" Jawab Marni ketus.
"Hadeh.... Ini dunia kok sempit banget sih, ketemu kamu lagi, bosan aku lihatnya tahu gak!" Gita merasa sudah bosan bertemu dengan Marni lagi.
"Kamu pikir, aku senang ketemu kamu lagi? Gak! Apalagi setelah apa yang telah kamu perbuat selama ini" Marni kesal dibuatnya.
"Eh... Kalian udah saling kenal ternyata, baru juga mau dikenalin" Novri muncul dari dalam bersama kedua orang tuanya. Marni langsung menarik tangan Novri dan mengajaknya ke teras depan.
"Mas Novri kenal dia dimana?" Tanya Marni.
"Oh... Tiga tahun yang lalu, aku ketemu sama Gita di acara pameran lukisan, waktu itu emang belum saling kenal, setelah itu, secara gak sengaja temuin dompet jatuh, pas aku di perjalanan menuju kampus dan ternyata itu dompetnya Gita, ya udah aku kirim paket ke rumahnya, terus aku minta dia untuk temui aku" jelas Novri.
"Kalian berdua hanya berteman aja kan, gak lebih dari itu?" Tanya Marni penuh selidik.
"Aku sama Gita bahkan udah jadian, baru hari ini jadiannya, makanya aku bawa dia kesini, mau aku kenalin ke ayah dan ibu" jawab Novri.
"Emang kenapa sih, Mar, kamu nanya seperti itu?" Novri berbalik bertanya.
"Mas, Gita itu cewek licik, jahat dan dia akan melakukan apa saja untuk dapatkan apa yang dia mau, aku ngerasain itu, karena aku satu sekolah dengan dia, percaya sama aku, mas, jangan sampai hubungan mas Novri dan Gita itu semakin jauh, apalagi sampai nikah, mas Novri harus pikirkan lagi deh, mas" Marni mengingatkan Novri dan berusaha meyakinkannya tentang sifat asli Gita.
"Kalau mas Novri berkata aku mengada-ada, mas bis atanya ke ibuku gimana sifatnya si Gita itu, karena ibuku dulu penjaga kantin di sekolah" Marni menambahkan.
"Sepertinya Marni berkata yang sebenarnya deh, aku harus cari tahu untuk lebih yakin lagi" pikir Novri.
...*****...
Gita pulang ke rumahnya dengan keadaan kesal. Dia melempar tasnya ke tempat tidur untuk meluapkan kemarahannya. Gena yang tidur di kamar Gita, sampai terkejut tiba-tiba ada yang melempar tas.
"Ternyata kamu, Git, aku kirain siapa, aku kaget tahu gak!" Gena terbangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa sih, Git, pulang kencan bukannya senang malah marah-marah, ada apa sih?" Tanya Gena kebingungan melihatnya.
"Tadinya aku senang bisa ketemu sama Novri, diajak ke rumahnya dan dikenalkan pada kedua orang tuanya, tapi, pas dirumahnya Novri, aku malah ketemu Marni, yang ternyata itu sepupunya Novri, malah dia sempat ngobrol berdua dengan Novri, pasti dia berkata yang tidak-tidak pada Novri supaya dia benci sama aku, ngeselin banget!" Gita memukul kasurnya, karena saking kesalnya.
"Kok bisa gitu yah? Aku benar-benar gak nyangka, orang yang kamu benci selama ini, sekarang malah jadian sama sepupunya" Gena seolah tidak menyangka, apa yang dialami oleh Gita.
"Terus, gimana kelanjutan hubungan kalian?" Tanya Gena.
"Aku berharap, semoga saja Novri tidak terpengaruh dengan omongan Marni dan tidak membuatnya berubah pikiran" Gita setengah berharap.