
Setelah tiga jam pelajaran, akhirnya bel istirahat berbunyi. Semua anak berlarian menuju kantin, tapi tidak dengan Rasya. Ia memilih tetap tinggal di kelas sambil mendengarkan musik dan menulis cerita di buku catatannya yang bergambar tokoh kartun berbentuk bebek.
Dengan headphone yang menempel di telinganya, ia menggoyang-goyangkan kepalanya dengan pelan mengikuti irama lagu di dalam playlist ponselnya. Sejenak ia diam, dan menggoyangkan pena berwarna silver di tangan kanannya. Lalu membaca ulang tulisan yang telah ia tuangkan dalam kertas bergaris di buku catatan miliknya.
"Ah terlalu jelek," gumamnya lalu merobek lembar buku itu dan meremas nya sebelum akhirnya ia lempar ke dalam tempat sampah di ujung kelasnya saat ini.
Ia lalu menggoreskan kembali tinta pena yang berada digenggamannya ke atas kertas dengan kepala yang ia goyang-goyang kan.
Saat tengah larut dalam dunianya, Rasya merasakan ada tangan yang menempel di bahu kanannya membuatnya mengalihkan atensinya menatap pemilik tangan yang mengganggunya saat ini.
"Kau lagi?" Ucapnya terkejut sekaligus kesal.
"Minum ini. Kata Papa mu, kau tak boleh kekurangan cairan agar tak mudah lelah." Ucap pria yang tak lain adalah Gerald yang saat ini sedang mengulurkan sebotol air mineral di depan muka Rasya.
Rasya tak menerima minuman yang diberikan Gerald, ia justru melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda barusan.
Dengan kasar Gerald melepas headphone di kepala Rasya dan menariknya hingga terlepas dari ponselnya.
"Arghhh... kau ini, bisa tidak sehari saja tak menggangguku!" Bentak Rasya, ia kesal karena dari pagi Gerald terus saja mengusiknya.
Dengan acuhnya Gerald pergi meninggalkan Rasya dengan headphone yang masih berada di tangannya.
"Hei, kembalikan! Itu milikku!" Teriak Rasya menggema di penjuru ruang kelas yang masih sepi. Gerald hanya menggerak-gerakkan tangannya ke atas tanpa berniat memutar tubuhnya ke arah Rasya, membuat gadis itu menggebrak meja nya kesal.
"Dasar rusuh!" Ucap Rasya lagi. Dengan kesal ia memasukkan buku catatannya ke dalam tas, lalu ia berlari mencari keberadaan Gerald.
☘☘☘
"Apa kau melihat Gerald?"
"Hei, apa kau melihat Gerald?"
Pertanyaan itulah yang Rasya lontarkan kepada siapa saja yang ia temui di setiap langkahnya mencari Gerald namun orang yang di tanya olehnya hanya menggeleng tak menanggapi pertanyaan gadis itu.
Ia lalu memutuskan berjalan menuju kantin yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini, dan benar saja. Sesampainya disana, ia menemukan sosok Gerald yang duduk di pojok kantin bersama tiga temannya sedang memainkan headphone miliknya seraya tertawa dengan suara yang cukup keras.
Dengan kesal Rasya berjalan menghampiri mereka dan langsung menggebrak meja kantin tempat dimana Gerald berada.
"Dasar pengganggu! Cepat kembalikan!" Rasya berusaha merebut headphone miliknya namun dengan sigap Gerald langsung menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Kalau berani ambillah," tantang Gerald dengan wajah tengilnya.
"Kau menantangku?" Tanya Rasya dengan tatapan sengitnya.
Perdebatan mereka berdua menjadi tontonan seluruh penghuni kantin saat ini. Pemandangan seperti ini bukanlah hal yang baru bagi mereka semua karena Gerald dan Rasya memang selalu berdebat jika bertemu jadi itu semua sudah menjadi hal yang wajar bagi seluruh penghuni sekolah.
"Cepat kembalikan," desis Rasya tapi Gerald justru menggelengkan kepalanya.
"No... no... no..." ujar Gerald seraya menggerakkan telunjuk tangan kanannya ke kiri dan ke kanan.
"Cepat atau..."
"Atau apa?" Sambar Gerald.
"Atau aku akan melakukan ini."
Tiba-tiba saja Rasya mencondongkan tubuhnya tepat di hadapan Gerald, membuat pria itu sedikit terkejut namun ia bisa mengontrol mimik wajahnya membuat rasa terkejutnya tak bisa diketahui oleh Rasya.
Saat ini wajah mereka sudah sangat dekat, baik Rasya ataupun Gerald sama-sama tak memutuskan kontak mata mereka. Tapi tanpa disadari oleh Gerald, tangan Rasya saat ini sudah berada di belakang punggung Gerald dan dengan segera ia meraih headphone nya dengan masih menatap Gerald.
"Ah sial," gumam Gerald.
Rasya mendekatkan wajahnya ke arah wajah Gerald dengan senyum yang mengembang, "thank you, Boy." Ia berucap seraya menepuk-nepuk pipi kanan Gerald.
Ketiga teman Gerald saat ini tengah menahan tawa mereka menyaksikan kejadian di hadapan mereka. Ingin tertawa tapi mereka takut Gerald akan murka.
Rasya lalu berdiri seperti semula, ia membenarkan rambutnya yang dikuncir kuda. "Kau payah," ejeknya pada Gerald lalu pergi begitu saja tanpa menggubris Gerald dan penghuni kantin lainnya.
"Dia keren sekali," bisik seorang anak laki-laki yang berada di kantin pada teman di dekatnya.
"Keren apanya? Galak gitu," ujar temannya menimpali.
☘☘☘
Saat ini Rasya telah sampai di rumahnya, satu jam yang lalu ia baru saja pulang dari sekolahnya dengan rasa lelah yang menyerang tubuhnya.
Ia melihat jam dinding yang berada di samping meja belajarnya. "Masih ada waktu satu jam lagi, aku ingin tidur." Gumamnya setelah menguap, ia lalu memutuskan memejamkan matanya sejenak sebelum pergi les piano.
"I love you, Rasya."
Seorang anak lelaki tengah berjongkok di hadapan Rasya dengan kaki kanan sebagai tumpuan nya. Di tangan kanan si lelaki itu ada satu buket bunga mawar merah. Ia menatap penuh harap pada Rasya yang sedang berdiri dengan wajah terkejut.
"Apa kau sedang menembakku?" Tanya Rasya memastikan.
Si pria tersenyum lalu mengangguk, "iya. Apa kau mau menjadi kekasihku?" Pria itu bertanya dengan lembut.
Rasya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan akibat terkejut.
"Apa kau yakin?" Tanya Rasya lagi.
Si pria mengangguk dengan senyum manisnya, "tentu, Sya. Apa kau mau?" Pria itu masih setia berjongkok menunggu jawaban Rasya.
"A-aku..."
"Tidak bisa!" Teriak seorang pria yang baru saja memasuki cafe tempat Rasya berada.
Pria yang tengah berjongkok menatap Rasya meminta penjelasan tapi Rasya hanya menggeleng tak tahu akan situasi saat ini.
Si pria yang baru masuk langsung berjalan mendekat ke arah Rasya, ia lalu berdiri di depan Rasya memberi sekat antara pria yang tengah berjongkok dengan Si gadis yang tengah bingung dengan situasi di hadapannya.
Pria yang tengah berdiri di antara Rasya dan pria tadi membalikkan badannya lalu menangkup kedua pipi Rasya.
"Sayang, kamu lupa kita udah nikah ya?" Tanya Si pria yang tiba-tiba muncul itu.
Rasya membuka mulutnya lebar kaget akan pernyataan pria aneh di depannya itu.
"Kau mimpi ya," ucap Rasya tak terima.
"Jahat," rajuk pria aneh sambil memanyunkan bibirnya.
"Siapa dia, Sya?" Akhirnya Si pria yang tengah jongkok pun berdiri dan menatap Rasya meminta penjelasan atas apa yang pria aneh itu ucapkan.
"Aku ngga kenal dia, No." Ucap Rasya acuh.
"Dobel jahatnya," ucap pria aneh dengan nada sedih.
Baru saja Rasya hendak mengeluarkan suara, ia merasakan punggungnya diguncang dengan pelan.