
Tepat jam dua belas siang, Yanto dan Riana sampai di Bandara dan langsung lanjut naik taksi menuju ke hotel yang sudah dibooking jauh-jauh hari sebelumnya oleh Yanto. Namun, ada hal yang tidak disadari oleh Riana. Supir taksi yang membawa Yanto dan Riana adalah Haris, mantan suami Riana. Haris sengaja membuntuti Riana sampai ke Bali dan berniat untuk mengacaukan bulan madu Riana dan Yanto.
"Lihat aja kamu, Riana, aku gak biarkan kamu bahagia dengan suami kamu itu, aku akan lakukan segala cara untuk menghancurkan rumah tangga kamu" batin Haris yang melihat Riana dan Yanto bermesraan dari spion. Di hari sebelumnya, Haris mencari tahu tentang Yanto. Mulai dari mencari tahu dimana tempat kerjanya bahkan sampai alamat rumahnya. Disitulah Haris mengetahui tentang rencana bukan madu Riana dan Yanto.
"Pak, didepan berhenti dulu yah, aku mau ke ATM" kata Yanto. Supir taksi itu mengangguk dan berhenti tepat depan ATM. Yanto turun dan berjalan ke ATM. Saat Yanto sudah turun, Haris menoleh ke belakang dan membuka topinya. Seketika membuat Riana terkejut.
"Mas Haris! Ngapain kamu disini? Dan untuk apa kamu menyamar jadi supir taksi?" Riana terlihat panik.
"Kan sudah aku bilang, aku gak akan biarkan kamu dimiliki oleh orang lain, karena aku cinta sama kamu, Riana dan aku gak akan rela ada laki-laki lain yang miliki kamu, kamu harus jadi milik aku!" Haris menatap mata Riana dengan senyum menyeringai. Percakapan yang singkat itu terhenti, karena Yanto kembali masuk ke taksi dan perjalanan pun berlanjut menuju ke tujuan utama mereka. Riana berpikir sejenak, bagaimana caranya agar Haris tidak tahu di hotel mana dia dan Yanto menginap.
"Sayang, kita singgah makan dulu yah, udah jam makan siang ini" kata Riana.
"Iya juga yah, benar kata kamu" Yanto melihat Jam di tangannya.
"Pak di depan kita putar balik yah, ada restoran di seberang jalan, aku sama istriku mau makan siang" kata Yanto pada supir taksi tersebut.
"Baik, pak" jawabnya singkat.
"Aku yakin, Riana sengaja mengubah rutenya, agar aku tidak tahu dimana dia dan suaminya itu menginap, tapi, aku gak kehabisan akal, aku sudah menyiapkan rencana berikutnya" Haris tertawa dalam hatinya. Setelah menurunkan semua barang bawaan Riana dan Yanto, taksi itu pun beranjak pergi dari hadapan keduanya.
"Aku lega, bisa menemukan cara yang tepat supaya Haris tidak tahu di hotel mana aku dan mas Yanto menginap" batin Riana dengan perasaan lega.
"Untung aja, mas Yanto gak curiga dan gak melihat ada sesuatu yang aneh sama aku, aku bakal bingung banget sekarang kalau mas Yanto sampai memperhatikan itu, lagian kenapa harus ada mas Haris lagi sih, aku udah bosan banget lihat wajah dia" runtuk Riana.
...*****...
Riana dan Yanto bergegas menuju ke hotelnya, setelah tadi menikmati santap siangnya di restoran yang terletak tidak jauh dari tempat mereka menginap. Riana tidak menyadari kalau Haris ternyata menunggu keduanya dan membuntutinya.
"Kamu gak akan bisa lolos begitu saja dari aku, Riana, aku gak akan biarkan kamu bahagia dan gimanapun caranya, aku harus dapatkan kamu lagi" batin Haris. Sesampainya di hotel, mereka langsung menuju ke kamarnya, agar mereka bisa segera beristirahat setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan.
"Akhirnya sampai juga, lumayan letih sih, tapi, menyenangkan" Riana merebahkan badannya diatas tempat tidur.
"Oh iya, aku mau ngabarin anak-anak, kalau kita sudah sampai di Bali" Yanto mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, hendak menelpon Gita.
"Halo, ayah!" Gita menjawab video call dari Yanto.
"Halo, Git, kamu lagi dimana, rame banget ayah lihat dibelakang kamu?" Tanya Yanto.
"Aku lagi di kampus, yah, ini sekarang aku di kantin lagi makan, sambil nunggu mata kuliah berikutnya" jawab Gita.
"Terus Hilsa mana? Gak bareng kamu?" Yanto menanyakan keberadaan Hilsa.
"Aku tadi berangkatnya bareng kok, yah, nanti pulangnya juga bareng, kan satu kampus, yah, sekalian biar ada teman ngobrol juga kalau lagi di jalan" terang Gita.
"Kak, ini ada yang mau ketemu kak Gita, mau ngomong sesuatu katanya" Hilsa menghampiri Gita, bersama seseorang yang dimaksud Gita.
"Iya, duduk aja dulu, ini ayah video call, nanyain kamu" kata Gita.
"Halo, yah" Hilsa melambaikan tangan depan kamera.
"Halo juga, Hilsa!" Yanto menyapa balik Hilsa.
"Ayah sama ibu udah nyampe, sekarang lagi istirahat di hotel" kata Yanto.
"Have fun yah, kalian" Gita tersenyum semringah. Yanto hanya tersenyum.
"Ya udah, ayah cuma mau tahu aja kalian dimana, udah dulu yah, sayang, bye" Yanto memutus sambungan video call.
"Oh iya, tadi kata Hilsa, kamu mau ngomong sesuatu, mau ngomong apa emang?" Gita menatap seseorang yang duduk dihadapannya.
"Tapi, aku maunya cuma ngomong berdua aja sama kamu, Git" katanya dan memandang penuh arti pada Hilsa. Hilsa sudah paham yang dimaksudnya dan hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun, Gita menahan Hilsa dan memberi isyarat agar tetap disampingnya.
"Kalau mau ngomong, ngomong aja, Ki, gak perlu ngomong berdua juga, lagian Hilsa ini adik aku, gak apa-apa kali kalau dia dengar" kata Gita dengan tegas.
"Ya udah kalau itu mau kamu" Kian terlihat pasrah.
"Jujur aja, Git, aku udah cukup lama memendam perasaanku ini dan aku rasa ini waktu tepat untuk bilang, aku suka sama kamu, aku sayang banget sama kamu dan aku berharap kita bisa jadian" Kian mengutarakan perasaannya tersebut pada Gita.
"Kamu mau kan, terima aku jadi pacar kamu?" Tanya Kian, yang seolah menunggu jawaban Gita segera. Tanpa berpikir lama, Gita langsung memberi jawaban dengan hanya menggelengkan kepalanya, pertanda dia menolak Kian.
"Git, kenapa? Kenapa kamu gak terima cintaku?" Kian mempertanyakannya.
"Karena aku memang gak cinta sama kamu" jawab Gita dengan sedikit ketus.
"Git, aku mohon sama kamu, kasi aku kesempatan untuk jadi pacar kamu, aku janji bakal bahagiakan kamu" Kian berusaha membujuk Gita, agar Gita mau merubah keputusannya itu.
"Kalau aku sekali bilang tidak, berarti tidak! Jangan kamu coba-coba membujuk aku, karena itu tidak akan berhasil dan gak akan bisa merubah keputusanku itu" Gita menegaskan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Gita berdiri dan menarik tangan Hilsa, lalu beranjak pergi dari hadapan Kian. Tak jauh dari tempat Kian duduk, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dan merasa sedikit kasihan pada Kian saat ditolak oleh Gita dengan cara seperti tadi. Adalah Marsha, cewek yang begitu menyayangi Kian. Namun, Kian tidak bisa membalas perasaan Marsha tersebut, karena rasa sayang Kian hanya untuk Gita dan tidak bisa tergantikan di hatinya.
"Aku kasihan banget lihat Kian ditolak gitu, aku bisa merasakan gimana rasanya ditolak" Marsha merasa kasihan pada Kian.
"Andai saja kamu mau membuka hatimu untuk aku, pasti gak akan sakit kayak gitu" batin Marsha. Marsha mendekati Kian dan mencoba menghiburnya.
"Kian, aku tahu rasanya ditolak itu seperti apa" Marsha mendekat dan duduk disamping Kian, seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Kian saat ini. Kian hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataan Marsha.