
Selang tiga puluh menit kemudian, mereka berdua pun sampai di hotel yang dimaksud. Setelah memarkirkan mobilnya, Virel dan juga Gita berjalan masuk ke hotel. Virel menggiring Gita menuju kamar pelanggannya tersebut. Gita berjalan dengan perasaan berdebar-debar dan gugup, seolah tidak tahu harus berbuat apa saat nanti bertemu dengan pria tersebut. Virel mengetuk pintu kamarnya. Pria itu membuka pintu dan tersenyum semringah saat melihat Virel datang bersama gadis yang dijanjikannya.
"Om, ini dia gadis yang aku maksud itu, dijamin om bakal puas deh" kata Virel. Pria itu mengangguk. Tanpa basa basi, pria itu memberi isyarat pada Gita untuk segera masuk.
"Ingat, tugas kamu cuma melayaninya dan turuti aja maunya dia, jangan melawan atau menolak dia sedikitpun, bikin dia puas" bisik Virel. Gita hanya mengangguk dan mengikuti setiap perkataan Virel.
"Have fun yah" Virel mengedipkan sebelah matanya, lalu beranjak keluar dari hotel dan menunggu Gita di mobil.
Di dalam kamar, Gita hanya diam saja, menunggu pria itu melakukan aksinya. Pria itu duduk disamping Gita. Pria itu mengelus lembut kepala Gita, lalu tangannya bergerak mengelus pipi Gita. Gita merasa geli, karena ini pertama kalinya dia disentuh oleh lelaki asing.
"Kamu rileks aja yah, nikmati aja" pria itu menatap Gita, sambil memperbaiki letak rambutnya. Gita hanya mengangguk pela sambil tersenyum tipis. Hanya dalam hitungan detik, pria itu sudah melucuti pakaian yang dikenakan oleh Gita dan kini tubuh Gita polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Pria itu menciumi setiap jengkal tubuh Gita, mulai dari bibirnya sampai ke lubang kenikmatannya, sambil meremas kedua dada Gita. Mendapat perlakuan seperti itu, secara refleks Gita mendesah. Gita kaget sendiri mendengar desahannya yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
"Aku kok jadi mendesah gini sih, apa ini pertanda kalau aku udah mulai menikmati penetrasi si om ini, tapi, emang nikmat banget sih" runtuk Gita. Pria itu senang mendengar ******* Gita barusan. Setelah serangkaian pemanasan yang dilakukan, kini tiba saatnya dia menggenjot tubuh Gita dengan sekali hentak. Gita berteriak, karena terasa sangat sakit. Adegan panas itu berlangsung selama kurang lebih satu jam. Selama permainan itu berlangsung, Gita hanya bisa pasrah dan mengikuti semua yang dia inginkan. Setelah semua selesai, Gita memakai kembali semua pakaiannya itu, merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Makasih yah, sayang, pelayanan kamu benar-benar bisa bikin aku puas" pria itu mencium kening Gita. Sebagai ucapan terima kasihnya atas pelayanan Gita, pria itu menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Gita.
"Loh... Kok ada lagi, om, kata udah di transfer bayarannya" Gita tampak bingung.
"Udah, anggap aja bonus, ambil aja" katanya tersenyum. Gita mengangguk sebagai ucapan terima kasih.
"Kalau gitu, aku pamit yah, om" Gita beranjak keluar dari kamar itu. Saat berjalan keluar dari hotel, seketika itu pula Gita meneteskan air matanya. Dia sangat sedih, karena mahkota yang selama ini dia jaga, direnggut oleh pria asing.
"Ayah, ibu, maafin Gita, Gita gak bisa menjaga mahkota Gita ini, Gita juga tidak mau melakukan ini, tapi, Gita gak ada pilihan lain selain cara ini, demi kelangsungan hidupku dan untuk biaya kuliah Gita juga" ratap Gita dalam hati. Kini, Gita benar-benar merasa sangat kotor. Virel yang menunggu di mobil, segera menghidupkan mesin mobilnya saat melihat Gita berjalan keluar dan menghampirinya di parkiran. Setelah Gita masuk, mobil pun langsung bergegas pergi. Di perjalanan, baik Virel maupun Gita hanya saling diam. Sedari tadi, Gita hanya menangis saja dan seolah masih tidak bisa menerima apa yang dia alami malam ini. Namun, semua sudah terjadi dan tidak bisa lagi kembali seperti sediakala. Virel menoleh sekilas ke arah Gita dan melihatnya menangis.
"Kamu kenapa sih, Git, nangis mulu dari tadi?" Tanya Virel, sambil tetap fokus menyetir.
"Yang penting kan kamu dapat uang banyak dengan cara yang mudah dan cepat pula, gak perlu kerja juga kan" lanjut Virel.
"Aku gak pernah menyangka, kalau takdir aku akan seperti ini" Gita masih juga terisak.
"Gak usah terlalu drama deh, Git, nanti lama kelamaan juga kamu bakal terbiasa, malahan kamu bakal menikmati" Virel menanggapi dengan santai.
"Dulu Tante juga seperti itu, waktu pertama kali terjun ke dunia kayak gini, tapi, lama kelamaan, Tante udah gak pedulikan itu semua, rasa malu dan sebagainya, semuanya sudah hilang, seiring berjalannya waktu" Virel menceritakan, saat dulu dia bekerja seperti yang dijalani Gita saat ini.
"Ibu kamu juga kan seperti itu, bahkan sampai sekarang, karena dia udah terlanjur enak kan, cuma layani lelaki hidung belang, dapat uang deh" Virel menambahkan.
"Iya juga sih, aku lihat ibu juga kayaknya lakukan kerjaan seperti itu, karena pas datang ke kost-annya, ibu dalam keadaan gak pake apa-apa" batin Gita.
"Jadi, kamu gak usah terlalu pikirkan yang begituan, nanti juga akan berlalu dengan sendirinya" kata Virel. Hari-hari berikutnya dia menjalani pekerjaan itu, Gita merasa sedikit bisa menikmatinya dan mulai terbiasa dengan hal itu. Prinsipnya Gita sekarang adalah bisa dapat uang banyak dan semua kebutuhannya dapat terpenuhi.
"Benar juga apa yang dikatakan Tante Virel, mungkin memang sebaiknya aku nikmati kerjaan ini aja, yang penting dapat uang dan bisa penuhi semua kebutuhanku" batin Gita.
"Mungkin aku bakal bertahan dulu untuk sementara waktu, sambil ngumpulin modal, nanti kalau udah banyak, aku bakal berhenti dari pekerjaan ini dan memulai usaha dari uang itu" pikir Gita. Tak terasa sudah empat bulan ini, Gita menekuni pekerjaannya itu. Gita tidak peduli lagi, tanggapan orang tentang dirinya, toh Gita juga pikir tidak pernah merepotkan orang lain. Dari hasil kerjanya itu, Gita bisa mendapatkan uang dalam jumlah yang sangat besar. Gita terkejut melihat uang di tabungannya bisa mencapai jumlah yang tidak disangkanya. Tapi, ada rasa takut juga di dalam hatinya. Gita punya firasat kalau Virel tidaklah sebaik yang dia lihat. Gita merasa tidak aman kalau uangnya ini dia simpan sendiri. Dia takut kalau Virel berbuat yang jahat terhadapnya, misalnya mengambil semua uang di tabungannya, lalu mengusir dirinya dari rumahnya itu dan Gita akan hidup sengsara.
"Untuk lebih amannya mending aku titip uangku ini dulu, sama seseorang yang bisa aku percayai" batin Gita.
"Tapi, siapa yah kira-kira orang yang tepat dan benar-benar bisa aku percaya" Gita berpikir. Cukup lama Gita berpikir, siapa orang yang tepat menurutnya. Karena saat ini, tidak banyak orang-orang terdekatnya, yang bisa dia percayai.