
"Kau tak ingin duduk?" Suara dingin itu menginterupsi sosok pemuda yang tengah berdiri di sisi Gerald dan Rasya.
Gadis yang tengah fokus dengan smartphone nya tiba-tiba mendongak, ia merasakan ada atmosfer yang berbeda di sekitar mereka.
"Duduklah, El..." titah Rasya sembari menepuk-nepuk tempat di sampingnya.
Dengan segera lelaki yang dipanggil El pun mengangguk semangat ia langsung menjatuhkan tubuhnya di dekat Rasya membuat Gerald menggeram tak terima jika ada lelaki lain duduk disamping gadis yang dijodohkan dengannya itu.
"Hei... bukankah disana juga masih kosong. Kenapa kau justru duduk disini? Menjauhlah dari sisinya." Hardik Gerald dengan tatapan membunuh.
Bukannya takut, lelaki yang menjadi lawan bicaranya justru terkekeh mendengar ucapan Gerald.
"Kau tak dengar, bukankah tadi Rasya sendiri yang menyuruhku duduk disini. Bukan begitu, Sya?" Tanya lelaki yang duduk di samping Rasya dengan polosnya Rasya mengangguk dengan masih fokus memainkan ponselnya. Dia tidak menyadari ada kilatan kebencian terpancar dari dua pasang mata yang berada di sisinya itu.
☘☘☘
Senin kembali datang, mentari baru saja menampakkan dirinya. Embun pagi masih terasa saat ini menemani Rasya yang tengah melakukan rutinitas paginya berolahraga ditemani iringan musik dari ponselnya.
Ia kini sudah kembali ke rumahnya yang dulu, tak lagi tinggal serumah dengan Gerald. Meski awalnya Ayahnya bersikeras memaksa agar ia tetap tinggal bersama lelaki yang akan dijodohkan dengannya, tapi Rasya menolak dengan berbagai macam argumen ditambah sedikit drama sehingga dirinya bisa kembali ke kediamannya yang selama ini ia tempati.
15 menit sudah ia melakukan olahraga ringan di balkon hingga akhirnya ia menyudahi aktivitasnya itu kemudian ia meraih sebotol air mineral yang sudah disiapkan sedari tadi sebelum ia melakukan kegiatan olahraganya. Dalam waktu 5 menit, air itu sudah habis tak tersisa.
Dengan tubuh lelahnya ia menyandarkan punggungnya ke tempat duduk di balkon itu sembari menghapus keringat yang membasahi area sekitar wajah dan lehernya.
"Cape sekali kelihatannya," Rasya sedikit terkejut mendengar suara bariton yang tiba-tiba saja mengagetkan nya di pagi buta seperti ini. Ia lalu menoleh dengan cepat melihat siapakah yang sudah datang pagi-pagi begini.
"Hai," dengan cengiran bodohnya Gerald menyapa Rasya sembari melambaikan tangannya penuh semangat.
"Mau apa kau kesini sepagi ini? Waow..." sarkas Rasya seraya membenarkan anak rambutnya yang sedikit berantakan.
Gerald berjalan perlahan mendekat ke arah Rasya yang kini tengah menatap langit yang mulai berubah warna.
"Aku hanya ingin." Jawab Gerald singkat.
Tak ada percakapan lagi di antara mereka hingga ketukan pintu membuat keduanya mengalihkan pandangan.
"Buka sana," titah Gerald seraya menggerakkan dagunya.
Rasya mendengus sebelum akhirnya bangkit berjalan ke arah pintu dengan menggerutu sebal. "Yang tamu siapa, yang sok bossy siapa." Ocehnya.
Tak berapa lama ia pun membuka pintu dan terlihatnya asisten rumah tangganya yang berdiri di ambang pintu dengan nampan di tangannya berisi susu coklat dengan sereal.
"Ini Non," ujarnya sembari menyodorkan nampan itu ke arah Rasya. Rasya mengangguk lalu meraihnya.
"Den Gerald mau di bikinin minuman apa, Non?" Tanyanya lagi.
Dengan segera Rasya menggeleng, "ngga usah. Dia udah kenyang katanya. Bibi lanjutin kerjaan Bibi aja lagi." Ujar Rasya sedangkan lelaki di belakang Rasya saat ini sedang memantulkan bibirnya cemberut karena sebenarnya ia belum makan apapun sebelum pergi ke rumah Rasya.
Setelah mendengar jawaban dari Rasya Asisten rumah tangganya pun pamit melanjutkan pekerjaannya lagi. Dengan pelan Rasya menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju balkon dengan santai.
Ia duduk dengan tenang kemudian melahap sereal yang sudah disiapkan tadi, tak memperdulikan tatapan Gerald yang saat ini seperti orang yang sedang menahan lapar karena sudah berhari-hari tidak makan.
Setelah 5 menit menghabiskan sereal nya, kini Rasya mengambil satu gelas susu coklatnya yang masih hangat, dengan segera ia menghabiskannya tanpa sisa.
Rasya mendongak dengan senyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya, dengan polos dia mengangguk menanggapi pertanyaan Gerald tadi.
Hembusan napas kasar terdengar dari Gerald, lelaki itu nampak kesal namun ia lebih memilih diam dan kembali menatap gadis di depannya.
"Katakan ada perlu apa kau kemari sepagi ini?" Tanya Rasya setelah merapikan bekas makanannya di meja.
"Tak ada, aku hanya tak ingin keduluan start oleh bocah itu," sungutnya.
Rasya menatapnya dengan alis terangkat sebelah. "Maksudmu?"
"Kau pasti tahu apa maksudku," ucap Gerald dingin.
Ia lalu membuka jaket yang sedari tadi ia kenakan. Wow, dia sudah mengenakan seragam sepagi ini? Takjub Rasya dalam hati.
Tanpa mengucapkan apapun Rasya beralih menuju ke kamar mandinya, melakukan rutinitas paginya.
Pukul 06.30 pagi mereka berdua bergegas menuju ke sekolah menggunakan sepeda motor Gerald.
"Kenapa kau tak pakai mobil saja sih, kalau tahu begini lebih baik aku berangkat sendiri saja." Gerutu Rasya dengan suara sedikit keras karena mereka kini sudah dalam perjalanan menuju sekolah.
Perjalanan mereka terhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Gerald mengitarkan pandangannya ke sekitar jalanan, tepat di samping mereka ada mobil dengan gadis cantik di kursi penumpang tengah merias dirinya di cermin yang di pegang. Gerald pun langsung bersiul ke arah wanita itu, membuat si gadis yang tengah fokus berdandan menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap Gerald dengan tatapan bertanya.
"Kau cantik," puji Gerald diiringi senyuman maut andalannya.
Di balik punggungnya, Gerald dapat mendengar tarikan napas Rasya yang terdengar seperti orang yang muak dengan apa yang ia lihat saat ini.
Sedangkan gadis di mobil itu tersenyum manis menampilkan lesung di pipinya.
"Jika seperti itu, kecantikanmu sudah tak bisa diragukan lagi." Tambah Gerald kala melihat senyuman gadis di sampingnya.
"Gombal," gumam Rasya.
Rona merah terlihat di wajah gadis tadi dengan wajah menunduk malu-malu ia tersenyum tipis.
"Kau juga tampan, dan adikmu juga terlihat cantik, eh bukan dia terlihat manis." Puji si gadis tadi saat ia mengangkat wajahnya dan kembali menatap ke arah Gerald.
Kekehan terdengar dari Gerald. Namun belum sempat ia membuka mulutnya, lampu sudah berubah menjadi hijau membuat obrolannya harus berakhir.
"See ya, cantik..." ucapnya seraya menancapkan gas tanpa mendengar ucapan gadis yang baru saja mengobrol dengannya.
☘☘☘
"See ya, cantik..." Rasya mengulang ucapan Gerald dengan wajah muak seperti ingin muntah.
Saat ini mereka telah sampai di sekolah, dan disinilah mereka tempat parkir yang belum cukup penuh dengan kendaraan siswa.
Gerald terkekeh mendengar ejekan Rasya. Ia melepas kaitan helmnya kemudian menatap Rasya yang saat ini sedang menatap ke arah gerbang sekolah.
"Kau cemburu, heh?" Goda Gerald membuat Rasya langsung menoleh dengan tatapan tak terima.
"Iuhh... pede sekali kau. Aku lebih baik cemburu pada angin daripada padamu. Dasar lelaki playboy!" Sarkas nya lalu berjalan menjauh dari Gerald.