
"Gen, itu cewek siapa sih? Kamu tahu gak, dia siapa?" Tanya Gita.
"Namanya Hilsa, anak fakultas teknik, junior kita sih, meskipun beda fakultas" terang Gena.
"Harus diakui, dia emang cantik sih, banyak cowok yang ngejar-ngejar dia untuk jadi pacarnya, termasuk Novri salah satunya, yang jadi korban pesonanya" lanjut Gena.
"Lihat aja, aku akan pastikan kamu dan Hilsa putus secepatnya" batin Gita.
"Git, kamu kok natapnya serius gitu? Kamu gak ada niat untuk hancurkan hubungan mereka kan?" Gena bertanya dan memperhatikan raut wajah Gita.
"Git, udah deh, kamu gak usah lagi ganggu hubungan orang lain, ingat, karma itu ada, apa yang kamu perbuat itu akan ada balasannya yang bakal kamu dapatkan cepat atau lambat" Gena mencoba menasehati Gita.
"Bawel kamu, udah gak usah sok ceramahin aku, kalau kamu gak mau bantuin, mending diam aja!" Gita memelototi Gena.
"Susah kamu di kasi tahu, terserah kamu deh, aku gak mau ikut-ikutan" Gena pun beranjak pergi meninggalkan Gita.
Selang beberapa saat kemudian, Novri dan perempuan itu berjalan ke arah Gita. Gita langsung saja sembunyi sebelum Novri melihatnya. Karena buru-buru, Gita tidak sengaja menabrak salah satu dosen dan membuat buku-buku yang dibawanya terjatuh ke lantai.
"Kamu jalan tuh lihat-lihat, gimana sih!" Orang yang ditabrak Gita itu kesal padanya.
*Maaf, pak, aku benar-benar gak sengaja" Gita membantu membereskan buku-bukunya yang berserakan di lantai. Novri dan perempuan itu yang berjalan kearahnya, turut membantu. Novri melirik ke sampingnya dan membuatnya terkejut.
"Gita! Kamu ngapain disini?" Tanya Novri. Gita langsung berdiri setelah selesai membereskan buku tersebut.
"Jadi, ini pacar baru kamu? Dan karena cewek ini, kamu batalkan rencana kamu untuk melamarku!" Gita menunjuk ke arah perempuan yang bersama Novri.
"Jadi, kamu yah, mantannya Novri, halo kenalkan, aku Hilsa" perempuan itu memperkenalkan dirinya. Gita mengangguk pelan.
"Git, ini tuh gak ada hubungannya sama sekali dengan Hilsa, ini masalah kita berdua dan jangan libatkan Hilsa dalam masalah kita, karena dia tidak tahu apa-apa tentang masalah ini" Novri angkat bicara.
"Udah deh, Git, hubungan kita udah berakhir dan jangan gangguin aku, aku udah jadian sama Hilsa" lanjut Novri dan langsung beranjak pergi dari hadapan Gita.
"Ihh...! Ngeselin banget sih itu cowok! Awas aja, aku pastikan kalian berdua tidak bahagia, lihat saja nanti!" Gita mengepalkan tangannya dan membuatnya semakin geram.
Yanto dan juga Gita bersiap-siap untuk menyambut tamu istimewa yang ditunggu-tunggu. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bel berbunyi. Yanto membukakan pintu dan seseorang berdiri di hadapannya.
"Hai, Riana, akhirnya kamu datang juga, aku udah nungguin loh dari tadi" Yanto tersenyum. Riana membalas dengan senyuman.
"Oh iya, kamu datang sendirian aja? Anakmu mana, kok gak datang? Apa dia gak ikut atau gimana?" Yanto bertanya-tanya.
"Dia masih di jalan, mas, katanya sih udah dekat, bentar lagi juga nyampe kok" jelas Riana.
"Eh... Bentar, mas, ada telpon, mungkin ini Hilsa yang nelpon" Riana mengambil handphone dari dalam tasnya.
"Halo, sayang, kamu udah dimana?"
"Halo, Bu, aku udah di gerbang nih, rumahnya disebelah mana yah?"
"Oh... Gitu, ya udah kamu lurus aja sampai ujung baru belok kanan, lurus kira-kira seratus dari belokan, rumahnya disebelah kiri, ibu ada diluar kok ini"
"Oh... Iya, Bu"
"Anak kamu yang nelpon?" Tanya Yanto.
"Yuk, masuk, kita ngobrol di dalam, aku kenalin juga sama anak aku" Yanto mempersilahkan Riana dan anaknya itu masuk.
"Oh iya, nama kamu siapa, nak?" Yanto bertanya pada gadis disamping Riana.
"Nama aku, Hilsa, om" gadis itu mengangguk.
"Kamu kuliah atau malah udah kerja?" Tanya Yanto lagi.
"Kuliah, om, di Universitas Makassar, ambil fakultas teknik" jawab Hilsa.
"Wah... Kok bisa sama yah, anak om juga kuliah disitu, cuma dia ambil fakultas sastra" kata Yanto.
"Namanya siapa, om, barangkali aku mengenalnya?" Hilsa berbalik bertanya.
"Nah... Itu dia orangnya, sini, nak, ayah kenalin sama teman ayah" Yanto menoleh ke arah tangga. Gita berjalan, menghampiri Yanto yang tengah duduk di ruang tamu bersama tamu yang dimaksudnya.
"Halo, tante, aku Gita" sapa Gita, sambil mengulurkan tangannya pada Riana.
"Halo juga, nak, nama tante, Riana" Riana menjabat tangan Gita sambil tersenyum.
"Loh...! Kamu!" Gita tampak terkejut melihatnya.
"Kamu anak om Yanto yah? Aku benar-benar gak nyangka sih, kita bisa ketemu lagi" Hilsa pun terkejut, saat tahu kalau anak Yanto itu ternyata Gita, gadis yang tadi dia temui saat di kampus.
"Jadi, ternyata kalian sudah saling kenal yah" Yanto memandang Gita dan Hilsa bergantian.
"Tapi, bagus juga sih kalau seperti itu, kalian jadi lebih mudah akrabnya" Yanto tersenyum.
"Oh iya, kita langsung makan aja kali yah, semuanya udah disiapkan di meja, ayo, mari" ajak Yanto. Mereka berempat duduk mengelilingi meja makan. Gita duduk berhadapan dengan Hilsa. Hilsa tersenyum saat Gita melihat kearahnya. Tampaknya Gita kesal melihat wajah Hilsa dan terkesan bersikap bermusuhan terhadapnya.
"Kenapa juga aku harus bertemu lagi dengan ini cewek, Ihh... Nyebelin!" Runtuk Gita. Gita tidak berbicara sepatah katapun. Dia hanya fokus pada makanannya, mendengarkan percakapan ayahnya dengan temannya tersebut, sambil sesekali memandang Hilsa.
"Sepertinya aku harus ajak dia ngobrol berdua di kamar, aku akan minta dia buat jauhi Novri, kalau perlu dengan ancaman sekalipun" batin Gita.
"Gita, kamu ajak Hilsa ke kamarmu sebentar yah, ayah sama tante Riana mau ngomong sesuatu" pinta Yanto.
"Jackpot! Kebetulan banget nih, situasi saat ini benar-benar mendukung dan memang itu yang aku inginkan" Gita senang dalam hatinya.
"Iya, yah, yuk, Sa, kita ke kamar aku" Gita berdiri dari kursinya dan menarik tangan Hilsa, beranjak menuju ke kamarnya.
"Kalau aku perhatikan, sepertinya Gita sama Hilsa akan cepat akrab nih" Yanto menerka.
"Iya, mas, aku juga berharap seperti itu" harap Riana. Gita dan Hilsa masuk ke kamar. Gita menutup pintu kamarnya rapat-rapat, agar tidak kedengaran sampai keluar obrolannya dengan Hilsa. Gita langsung pada intinya, mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
"Sa, langsung aja deh, aku mau nanya sama kamu, apa benar kamu udah jadian sama Novri? Seperti yang dia katakan tadi di kampus" Gita menatap Hilsa dengan tatapan tajam.
"Aku harap kamu jawab dengan sejujur-jujurnya, jangan ada yang kamu tutup-tutupi" lanjut Gita.
"Gita tampaknya salah paham nih, dia pasti menyangka kalau apa yang dikatakan Novri itu, sesuai dengan kenyataannya, padahal Novri lakukan itu hanya sekedar untuk menghindari Gita aja" batin Hilsa.